
Mawar tersenyum memberi kesejukan pada semua yang hadir di situ. Ayumi dan Dahlia lega Mawar tidak segera terima pinangan Riyan. Dalam beberapa hari ini apa saja bisa terjadi. Mereka akan main cantik raih simpati Riyan jika perlu main kotor tak jadi masalah. Yang penting tujuan terakhir adalah Riyan.
"Mawar akan segera beri jawaban secepatnya. Maafkan Mawar bila mengecewakan semuanya!" Mawar merangkap tangan ke dada minta maaf beri jawaban tak sesuai harapan Riyan.
"Ala kau ini! Tak usah sok-sokan ulur waktu. Takut ketahuan belang sama bang Riyan?"
"Belang apa kak? Aku bukan manusia sempurna tapi tahu ke mana harus melangkah. Terserah kakak mau omong apa yang penting Allah Maha Tahu." Mawar menyahut lembut tidak terpancing emosi untuk tidak menambah buruk muka keluarga mereka.
Riyan makin suka pada Mawar. Bayangan buruk tentang Mawar perlahan mulai terkikis. Cerita Dahlia tentang Mawar sangat jauh dari fakta sesungguhnya. Hati Riyan mantap pilih Mawar sebab wanita muda itu telah tunjukkan bahwa dia bukan orang serampangan memberi keputusan untuk menentukan masa depan.
"Nggak sok kamu Mawar! Bang Riyan akan segera tahu belang kamu." ucap Dahlia keluarkan nada sinis seolah Mawar adalah kotoran tak boleh diperlihatkan di tempat umum.
Mawar bukannya marah malah tersenyum kecil. Kelakuan Dahlia tidak mengherankan Mawar lagi. Semua yang ada pada Mawar selalu buruk di mata janda itu. Kapan Mawar ada benarnya?
"Baguslah kalau Bang Riyan tahu aku ada belang. Kalau aku jadi isterinya tak bisa tertular karena ciri khas aku ada belang." sahut Mawar bikin Dahlia mau muntah darah. Niat ingin tunjukkan sisi buruk Mawar malah bikin Riyan baper termakan omongan Mawar seakan isyaratkan akan terima lamaran Riyan.
Tak ada yang mau tanggapi omongan Dahlia tentang Mawar. Semua tahu hanya Tiara dan anaknya tak suka pada Mawar. Mereka iri pada Mawar yang lebih menonjol di banding mereka yang nilai prestasi jauh di bawah standard.
"Baiklah! Kita kasih waktu pada Mawar untuk berpikir menerima lamaran Nak Riyan atau tidak. Untuk malam ini kita cukup sampai sekian. Kalau sudah ada keputusan kita duduk pakat bersama lagi." kata Pak Tuo Hanif sudah pertemuan keluarga. Memang belum hasilkan final namun paling tidak sudah ada gambaran Riyan laksanakan wasiat Yenni.
"Pak Tuo kalau Mawar masih ragu biarlah aku yang beri keputusan. Aku siap kok menikah besok. Bang Riyan tak perlu menunggu lagi." ujar Dahlia belum menyerah pada keputusan Riyan pilih Mawar. Maju tak gentar pantang menyerah. Andai semangat ini digunakan pada masa penjajahan mungkin Indonesia lebih cepat merdeka dari penjajah. Sayang Dahlia lahir di abad negara kita sudah merdeka dan tumbuh jadi macan Asia.
Riyan mendesah kurang sedap oleh sikap memaksa Dahlia. Wanita ini sungguh tak ngerti arti penolakan. Mungkin dalam kamus bahasa Dahlia tak ada kata ditolak maka dia tak paham makna kata itu.
"Dahlia ..Mawar bukan menolak tapi masih ingin memikirkan pinangan nak Riyan. Menikah itu bukan permainan. Itu hanya terjadi sekali seumur hidup. Jadi hormati hak Mawar untuk menimbang. Kita tunggu saja. Kami juga mau pamitan. Tugas kami menjaga wasiat Yenni sudah selesai dan tinggal pelaksanaan saja." Pak Tuo bangkit dari tempat duduk pamitan pada keluarga adiknya. Lama di situ darah tinggi pak Hanif lebih cepat kumat dibuat oleh tingkah memalukan Dahlia. Untunglah Ayumi tidak ikutan gila seperti kakaknya.
"Terima kasih bang! Semoga dalam berapa hari ini ada keputusan." Pak Hari sama seperti yang lain hanya bisa menanti keputusan Mawar.
Mawar ikutan bangkit ingin pulang ke rumahnya. Mawar gerah berada di lingkungan tak ramah ini. Semua tampangnya seperti monster dari hutan lindung. Mengerikan.
Rizky dan Arsy menarik ujung baju Mawar tak rela Mak Bit mereka pergi dari mereka. Mereka sangat takut pada Dahlia si monster pemakan anak kecil.
Mawar menurunkan badan sejajar dengan kedua anak itu. Riyan lihat dengan mata kepala sendiri anaknya lengket pada Mawar. Itu sudah bisa jadi kunci pembuka hati Riyan pilih Mawar.
"Sayang...ini sudah malam! Waktunya kita tidur biar besok ada semangat baru aktifitas. Bukankah besok kita akan tangkap kepiting lagi?" bujuk Mawar lembut menyusup ke dalam kalbu.
"Tapi kami mau tidur sama Mak Bit."
__ADS_1
"Besok malam tidur sama Mak Bit. Malam ini Mak Bit tak bisa temani kalian karena ada pekerjaan harus Mak Bit selesaikan. Mak Bit harus periksa pr kakak-kakak di sekolah. Besok kita piknik. Rizky dan Arsy mau Mak Bit bikinkan apa?"
"Ubi pakai gula yang kayak tadi. Enak banget lho! Gurih!" jawab Arsy yang irit bicara. Arsy susah diajak ngobrol kalau orang itu tak kena di hati. Riyan senang kedua anaknya cepat adaptasi dengan ibu sambung mereka. Ke depan Riyan tak kesandung kurang harmonisnya hubungan anak dengan ibu sambung.
"Cuma ubi dipamerin! Sini sayang! Tante punya makanan yang lebih enak. Ada es krim rasa coklat dari swalayan dan ayam goreng yang sangat lezat. Ayo ikut Tante tidur bareng papa kalian!" ajak Dahlia maniskan suara agar kedua anak Riyan mau patuh padanya.
Dahlia lupa kalau kedua anak itu berasal dari kota sudah muak dengan makanan yang ditawarkan oleh Dahlia. Justru makanan yang dibuat oleh mawar tidak pernah mereka makan di Kota maka menjadi primadona bagi kedua anak itu.
"Sudah bosan Tante! Bukankah Tante bilang mau hajar kami kalau tidak patuh? Kami tak mau makan makanan nenek sihir." ulas Arsy monyongkan bibir ke depan.
Riyan terkesiap dengar belum apa-apa Dahlia sudah berani ancam anaknya. Bagaimana ke depan bila wanita itu menjadi ibu sambung anaknya. Bisa mati satu persatu.
"Aduh Arsy! Mulutnya lucu! Tante hanya canda. Mana mungkin Tante hajar kamu yang manis. Sini dong! Ayok sama Tante!" Dahlia malu bukan main tak sangka Arsy buka kartu di depan orang ramai.
Ayumi tersenyum senang langkah Dahlia untuk menuju ke Riyan makin menyempit. Dia masih punya kesempatan meraih Riyan ke pelukan. Sekarang main cantik saja. Mawar tampaknya tidak begitu antusias menjadi isteri Riyan. Ayumi tak salahkan Mawar karena Mawar memang masih muda dan cantik. Kesempatannya mencari pasangan setimpal masih berada di depan mata.
Riyan semakin tak nyaman dengar Dahlia ajak anak-anak tidur bareng dengan Riyan. Royan kuatir Dahlia lakukan trik kotor untuk maju menjadi calon ibu sambung anaknya.
"Maaf ya kalau boleh saya ingin minta izin menginap di rumah Pak Tuo saja. Rasanya tidak etis aku berada di sini sementara belum ada isteri aku. Orang pasti akan berpikiran negatif." Riyan beranikan diri beri usul demi ketenangan bersama.
"Aduh bang! Untuk pikir orang lain. Ini keluarga kita. Tidur sini saja! Pak Tuo pulang saja. Bang Riyan bisa tidur bersama kami."
"Assalamualaikum.." Mawar pamit setelah mengelus kepala Rizky dan Arsy. Mawar pergi dengan langkah ringan.
Riyan telah menunjukkan sisi baik paham kehidupan orang Aceh yang kental dengan nilai agama. Mawar menemukan Budi baik Riyan akan jadi pertimbangan Mawar menerima atau menolak lamaran Riyan.
"Pak Tuo rasa permintaan nak Riyan. sangat masuk akal. Nak Riyan akan melamar salah satu dari Putri di rumah ini maka dia merasa pantas berada di sini. Pak Tuo setuju nak Riyan tidur di rumah Pak Tuo. Ayok berkemas pindah di rumah Pak Tuo!" Pak Hanif menangkap gelagat tak baik dari Dahlia. Dahlia itu seperti seorang psikopat tak punya akal sehat.
Makin dia bertingkah murahan makin Riyan ilfil. Seorang lelaki pasti memilih yang terbaik untuk dijadikan teman berbagi. Bukan orang mengandalkan kuku runcing paksa orang ikuti kehendak hati.
Riyan segera masuk ke kamar ambil beberapa barang untuk tidur di tempat Pak Hanif. Ini langkah terbaik untuk hindari gunjingan orang.
Dahlia tampak kesal bukan main, mangsa di tangan lepas lagi. Dahlia sudah berencana goda Riyan dalam kamar dengan segala kesintalan tubuhnya. Lelaki mana sanggup tahan dari godaan perempuan bertubuh aduhai. Mana lagi Riyan sudah lama menduda pasti takkan mampu bendung gelora asmara.
Merasa plannya buyar oleh pak Hanif, Dahlia makin benci pada Abang ayahnya itu. Dasar tua Bangka tak tahu kebutuhan anak muda. Janda ketemu duda merupakan takdir dari Tuhan. Tuhan saja sudah antar Riyan pada Dahlia mengapa justru pak Hanif si usil buat angan Dahlia berantakan.
Rizky dan Arsy senang banget tak perlu lihat tampang nenek sihir lagi. Mereka sudah ketakutan bila harus tidur dengan wanita kejam macam Dahlia. Calon ibu tiri kejam. Keduanya lebih suka pada Mawar yang pintar merayu.
__ADS_1
Mawar seorang guru pasti jiwanya dipenuhi kasih sayang. Mengayomi murid memberi kasih sayang sebagai seorang ibu di sekolah. Mawar ibu buat murid di sekolah, di rumah ada ibu lain yang melahirkan para murid.
Dahlia hanya bisa menatap nanar kepergian Riyan dan kedua anaknya ke rumah pak Hanif yang letaknya tak jauh dari rumah pak Hari. Cukup jalan kaki menuju ke rumah pak Hanif yang lebih gede dari rumah pak Hari. Pak Hanif punya dua anak yakni Marwah dan Muji. Marwah sudah menikah memiliki dua anak dan tinggal bersama pak Hanif. Dalam adat Aceh anak perempuan yang sudah menikah pulang ke rumah orang tua bersama suami. Mereka akan tinggal di situ sampai sang suami mampu beli rumah atau tidak sama sekali. Pendek kata adat Aceh lelaki ikut isteri.
Kelak kalau suami mampu silahkan pindah bawa isteri ke mana suka asal ada tanggung jawab. Adat Aceh tak jauh beda dengan adat orang Padang.
Hari pertama Riyan di kota dijuluki Breuh Sigupai (beras sigupai) berakhir baik walau sempat diwarnai rasa kurang enak dari sikap memaksa Dahlia.
Riyan memilih tinggal ditempat Pak Hanif untuk hindari Dahlia juga gunjingan orang. Tujuan Riyan datang jelas meminang salah satu adik Yenni. Sekarang tinggal tunggu waktu laksanakan amanah wasiat Yenni.
Udara pagi yang sangat segar jauh dari polusi mengisi rongga dada Riyan. Udara kota ini masih bersih karena kenderaan tidak sebanyak di kota besar.
Riyan mengisi rongga paru-paru dengan udara segar sebanyaknya bersihkan sisa polusi dari kota. Pantas orang kampung jauh dari penyakit. Udara yang mereka hirup berbau dedaunan sedangkan di kota udara terkena pencemaran tingkat dewa.
Riyan berjalan keluar rumah memanjakan mata dengan kesibukan para tetangga mulai jalankan aktifitas. Ada yang berpakaian seragam ASN, ada yang swasta pergi kerja sesuai bidang masing-masing. Beberapa anak kecil sudah rapi hendak pergi sekolah. Di kota sudah siap ujian naik kelas sedangkan di sini masih ada kegiatan belajar.
Riyan tersenyum melihat semua orang menyibukkan diri mencari sasaran tersendiri. Serba santai tidak terburu-buru karena sini tak ada kata macet. Lalu lintas selalu lancar bebas hambatan.
"Lagi lihat apa?" tegur pak Hanif melihat Riyan termenung sendirian di pinggir pagar rumah.
"Ach pak Tuo...lihat pola hidup orang sini! Sepertinya orang sini selalu bahagia." Riyan berpindah ke dalam duduk di bangku teras rumah pak Hanif.
Pak Hanif tertawa perlihatkan gigi yang mulai tanggal satu persatu di makan usia. Riyan melihat kesederhanaan dan wajah lugu orang kampung. Mereka selalu positif thinking anggap semua tetangga itu saudara.
"Nak Riyan mau minum kopi? Kopi sini murni kopi tanpa campuran karena digonseng sendiri oleh Mak Tuo kamu!"
"Boleh...asal tidak merepotkan!"
Pak Hanif goyang tangan menolak omongan Riyan terlalu banyak rasa sungkan. Mereka sudah satu keluarga untuk apa segan sana sini.
"Bu...kopi satu lagi untuk nak Riyan!" teriak Pak Hanif ntah didengar isterinya atau tidak. Yang penting teriak ala tarzan.
Riyan tertunduk malu pagi-pagi sudah merepotkan keluarga pak Tuo Yenni. Padahal pak Tuo senang Riyan mau nginap di rumahnya. Makin ramai main menyenangkan bagi orang kampung. Rasa keluarga makin kental.
"Pak Tuo minta maaf atas sikap Dahlia. Anak itu terlalu dimanja maka semena-mena. Mertua kamu terlalu takut pada isterinya maka jarang menegur kesalahan anak."
"Aku tahu kok pak Tuo! Kenapa Mawar tinggal sendirian?"
__ADS_1
Pak Tuo berubah muram ditanya pertanyaan paling sulit dijawab. Ini sama saja mengorek kisah lama tentang orang tua Mawar.
"Sejak ibunya meninggal hidup Mawar sangat menderita. Ibu tirinya selalu anggap Mawar pembawa sial karena setelah Mawar lahir kehidupan adikku sedikit terguncang. Padahal bukan karena Mawar melainkan Tiara ingin menguasai seluruh aset keluarga adikku. Satu persatu harta pindah ke sebelah Tiara sampai kandas. Ibunya Mawar bekerja keras dengan mertuamu dan berhasil bangkit. Tapi sayang dia meninggal di saat Mawar masih sekolah. Dari situ hidup Mawar bagai berdiri di atas duri. Tiap hari kena marah dan dipukuli oleh Ibunya sampai akhirnya aku ambil anak itu tinggal bersama kami. Dia betul anak baik dan sopan. Pintar dan rajin. Akhirnya dia dapat beasiswa kuliah di UGM berkat prestasi di sekolah."