GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Janji Pada Arsy


__ADS_3

Mawar beri senyum damai tahu lajang itu kurang senang Mawar telat pulang. Tak biasanya Mawar pulang jelang magrib. Biasanya sebelum senja Mawar sudah di rumah. John sudah terbiasa dengan keberadaan Mawar di rumah merasa kehilangan gadis ini pulang lewat dari jadwal biasa.


"Kenapa manyun? Hilang gantengnya lho!" olok Mawar seraya merangkul pundak John penuh kasih sayang.


"Biarin...anak gadis kok pulang sudah senja." sungut John persis kakek marahi cucu cewek.


Mawar mengajak si lajang masuk rumah redakan amarah anak itu. Membujuk John tidak susah. Cukup bermanis mulut saja dia akan bingkem.


"Lihat kakak bawa apa?" Mawar angsurkan kantong plastik kepada John.


John masih jual mahal tak mau memandang apa yang dibawa Mawar. John melengos dengan sombong menuju ke ruang keluarga tinggalkan Mawar sendirian di ruang tamu. Kelihatannya anak ini benaran ngambek berat. Tak biasanya dia manyun lama.


Mawar tersenyum tak habis akal. Gadis ini membuka plastik berisi cemilan lalu pilih satu jenis makanan kesukaan John berupa snack gorengan. Bila dicicipi akan timbulkan suara kriuk menggoda selera.


Mawar sengaja makan Snack kesukaan John timbulkan suara kriuk panjang.


"Hmmm...enaknya!" Mawar meniru suara anak kecil di film kartun kanak-kanak si anak kembar botak dikenal Upin Ipin.


Ikan makan umpan. John terpancing melirik ke arah Mawar. Makin dilirik Mawar makin buat gaya menikmati Snack seolah makanan itu sangat lezat.


"Wah...mau habis!" seru Mawar pura-pura kecewa padahal masih banyak.


John terloncat pikir Mawar sikat habis semua Snack. Tanpa permisi si lajang rebut bungkusan makanan dari tangan Mawar. Lajang bawa semuanya ke ruang tamu mencari yang paling enak.


Mawar tersenyum senang John mau makan makanan yang dia beli. Untuk sementara John telah aman. Waktunya dia pergi mandi sebelum laksanakan sholat magrib.


"John sayang...kau sudah mandi?" tanya Mawar sebelum masuk kamar. Mawar berdiri di pintu kamar menanti si lajang menjawab.


"Sudah kak! Oya nilai sejarah aku sudah keluar. Tebak berapa?"


"Ehm.. tujuh?" Mawar tebak asalan.


"Ya ampun...kok pandang rendah amat pada John. Nilai aku paling tinggi di kelas. Kata guru aku bisa jadi ranking kelas kalau nilaiku bagus terus."


"Wow...kakak salah ya! Ralat...sembilan!"


"Sembilan setengah. Cuma salah sedikit menuju ke sepuluh. Salah tahun satu angka saja perang Paregreg."


"Ini sudah nilai sempurna. Besok ada ulangan apa?"


"Bukan ulangan tapi pr fisika. Kakak bisa?"


"Insyaallah...kakak mandi dulu ya! Nanti kita sholat bersama. John mau belajar ngaji? Kakak bisa ajar."


"Kita belajar fisika dulu. Ngaji ntar hari minggu saja ya! Sekarang John fokus pada pelajaran."


"Ok...tunggu ya!"


Mawar segera tinggalkan John. Tak urung Mawar bangga pada kemauan John mengejar ketinggalan pelajaran. Kemauan John patut di beri jempol. Anak itu makin hari makin rajin belajar mengoreksi prestasi yang buruk dulu.


Indy belum pulang walau malam makin tua. Ke mana wanita karir itu? Mawar kuatir juga takut terjadi sesuatu pada Indy. Mawar dilema mau cari Indy. Kalau Mawar telepon dipikir terlalu ikut campur kehidupan pribadi Indy. Tidak dicari takut terjadi sesuatu pada wanita itu. Mawar dibuat serba salah.


Jalan satunya adalah cari John teleponi Indy tanya keberadaan Indy.


Mawar terpaksa naik ke lantai dua cari di lajang diskusi soal Indy. Mawar tak mungkin tak peduli pada Indy. Ini sudah pukul sembilan malam. Seharusnya Mawar sudah pulang.


Mawar mengetuk pintu kamar John sambil nguping apa lajang itu sudah tidur.


"John... sudah tidur?" tanya Mawar dari balik pintu.

__ADS_1


"Belum kak... masuklah!" pinta John terdengar meminta Mawar masuk.


Mawar membuka pintu kamar John hati-hati. Satu gerakkan pintu terbuka lebar. Mawar melihat John sedang baca buku di atas tempat tidur. Kelihatannya anak ini bersiap hendak tidur.


"Ada apa kak?" tanya John meletakkan buku di atas pahanya.


"Telepon mama kamu di mana dia! Jam segini belum pulang. Kakak kuatir."


John menarik nafas berat seakan Indy itu adalah sumber penyakitnya.


"Mama selalu gitu kak! Tinggalkan John sendirian di rumah sampai tengah malam. Bukan hanya hari ini dia pulang telat. Sudah sering gini!"


"Tapi sejak kakak di sini dia pulang cepat. Ayoklah sayang! Telepon biar kakak tenang!" rayu Mawar supaya hati John tergerak peduli pada Indy.


Anak ini sudah terbiasa ditinggal sampai larut malam jadi tak heran lagi Indy pulang telat.


"Baiklah!" John mengalah karena lihat wajah Mawar tak tenang alias gelisah. John tak tega saksikan Mawar dirundung kegelisahan.


Lajang itu ambil ponselnya di atas meja lalu tekan nomor kontak mamanya. John letakkan ponselnya di atas buku aktifkan loudspeaker agar Mawar bisa ikut dengar pembicaraan dengan Indy.


Lama berdering tapi tak diangkat. John klik sekali lagi terdengar panggilan belum terjawab. John melihat kearah Mawar seolah mau bilang yang bersangkutan tak angkat telepon.


Hubungan terputus karena tak diangkat. John tak mau telepon lagi karena jengkel sang mama tak mau angkat telepon padahal tahu itu nomor ponsel John.


"Kita coba lagi John! Mungkin tadi mama tak dengar." Mawar kasih semangat pada Joh. ulangi panggilan. Begini Mawar maki kuatir.


John mengalah manggil ponsel Indy sekali lagi. Untung kali ini dijawab.


"Halo sayang mama.. ada apa nak?"


"Sudah jam berapa ma? Kok belum pulang? Kami di sini kuatir lho!"


"Sebentar lagi pulang. Mama lagi urus pengiriman barang biar selesai. Mama kan mau ke Jerman jumpa papa kamu. Sebelum berangkat mama harus selesaikan tugas. Satu jam lagi mama pulang. Kau cepat tidur ya! Oya kak Mawar ada di rumah kan?"


"Iya sayang. Terima kasih sudah kuatir mama. Kau anak baik. Cepat tidur!"


"Mama cepat pulang." John tak lupa ingatkan Indy untuk segera pulang ke rumah. Kehidupan Indy agak kacau tanpa ada yang ngawasin. Sejak pisah dengan papa John semua berubah. Indy gila kerja seakan hidup ini hanya butuh kerja. Yang lain tak butuh lagi termasuk John.


Mawar lega mendengar Indy dalam keadaan baik saja. Mawar telah menemukan jawaban dari rasa gelisah. Mawar memang tak ada hubungan darah dengan Indy dan John namun kasih sayang dari kedua orang membuat Mawar merasa punya saudara kandung. Yang satu darah saja belum tentu sebaik itu. Contoh Tiara dan kedua anaknya. Seumur hidup Mawar hidup di bawah tekanan mereka. Punya ayah bukannya membela malah ikutan kurang suka pada Mawar seolah Mawar itu benalu. Walau benalu Mawar juga punya hak bahagia.


"Selesai baca kau tidur ya! Besok kan harus ke sekolah. Pelajaran fisika semalam kau sudah ngerti kan?"


"Alhamdulillah sudah ngerti cuma tinggal hafal rumusannya saja. Adik kakak kan pintar."


Mawar mengangguk iyakan perkataan John. Masa John adalah masa paling rentan terjerumus dalam hal negatif. Memberi edukasi pada anak seumuran itu harus super hati-hati karena mereka masanya meniru. Semoga saja John selalu berada di jalan benar.


"Kakak tidur ya! Selamat malam."


"Malam kak! Selalu mimpi indah ya!"


"Terima kasih." Mawar keluar dari kamar John menutup pintu perlahan.


Mawar turun ke lantai dasar menuju ke kamar. Dunia yang Mawar hadapi hanya seputar masalah anak-anak. John, Arsy, Rizky dan Bivendra. Ini yang menyita perhatian Mawar. Soal lain Mawar tak begitu masukkan dalam hati.


Mawar tidur dengan tenang menyongsong esok penuh harapan. Mawar merasa betah bekerja di tempat Joko. Teman rekan yang ramah jadi point pertama Mawar betah di sana. Tidak seperti kantor Bagas dipenuhi tekanan Naura.


Mawar bersihkan wajah dari kotoran sebelum tidur lalu olesi cream pelembab untuk jaga elastisitas kulit. Walau tidak make up Mawar tetap harus rawat modal seorang wanita. Semua berawal dari raut wajah. Jumpa pertama dengan seseorang tentu saja wajah jadi cerminan sosok manusia itu. Segalanya tertera di sana.


Langkah selanjutnya adalah menyongsong mimpi. Semoga mimpi buruk segera berlalu berganti mimpi indah sesuai harapan John. Mawar juga berharap mimpinya tidak seburuk dulu.

__ADS_1


Ntah berapa lama Mawar tertidur tiba-tiba ponselnya berbunyi. Antara sadar dan tidak sadar Mawar meraih benda ajaib itu. Dengan ogahan gadis ini menempelkan benda itu ke kuping.


"Assalamualaikum.." sapa Mawar dengan suara masih ngantuk. Mawar jawab tanpa lihat siapa yang telepon tengah malam begini.


"Waalaikumsalam.. maaf ganggu dek! Ini bang Riyan. Aku ada di depan rumah mbak Indy."


Mata Mawar seketika menyala begitu orang di seberang menyebut jati diri. Rasa ngantuk Mawar kena usir berganti rasa kaget. Ada apa Riyan mencarinya malam buta begini. Apa mau laki itu. Sudah gila apa?


"Astaga pak! Ada apa ganggu tidur orang?" ketus Mawar tak senang. Senang sekali ganggu hidup orang.


"Maaf...Abang tak punya pilihan lain selain cari kamu. Arsy demam tinggi, sekarang di rumah sakit. Dia asyik sebut kamu."


Keheningan menyeruak karena Mawar merasa lidahnya kelu untuk berkata. Dia telah melupakan janji pada Arsy untuk tidur bersama. Kesibukan masuk kerja membuat Mawar nyaris cuci nama Arsy dari ingatan.


"Gimana dia sekarang?"


"Masih dirawat...apa kau mau bantu jenguk dia sebentar? Aku minta maaf bila telah ganggu tidurmu!"


"Baiklah! Tunggu di sana! Aku bersiap." Mawar tak menolak karena ini menyangkut nyawa seorang anak. Mawar bukan bermasalah dengan anak Riyan melainkan dengan laki itu. Tak pantas memusuhi anak kecil tak tahu apa-apa.


Mawar segera berdandan rapi baru mencari Indy untuk minta ijin pergi menjenguk Arsy. Kesehatan Arsy tidak sebagus Rizky maka dia mudah drop.


Mawar mengetuk pintu kamar Indy perlahan takut timbulkan kegaduhan di tengah malam begini.


"Mbak..." panggil Mawar lirih. Gadis ini menunggu jawaban dari balik pintu.


"Ya???" terdengar sahutan dari dalam.


"Aku mau minta ijin ke rumah sakit. Arsy demam."


"Tunggu..."


Pintu kamar Indy terkuak memunculkan wanita dengan muka bantal berpakaian piyama tidur. Muka Indy berantakan tidak secantik bila dirias make up. Ada garis kusam tergurat di situ. Usia memang tak dapat bohongi orang.


"Itu Pak Riyan sudah datang jemput. Dia ada di depan." ujar Mawar begitu Indy keluar.


Indy dan Mawar berjalan keluar melihat Riyan di luar. Indy penasaran apa betul anak Riyan sakit atau lagu Riyan cari perhatian Mawar.


Begitu pintu terbuka serangkum angin dingin menerpa wajah kedua wanita ini. Memang benar Riyan berada di depan rumah Indy bersandar di pintu mobil menunggu pintu rumah Indy terbuka.


Laki ini segera berjalan maju ke tempat Mawar dan Indy berada. Gerakan Riyan tergesa-gesa menunjukkan betapa dia sangat berharap Mawar bersedia ikut dengannya ke rumah sakit.


"Selamat malam mbak! Maaf aku ganggu! Aku mau jemput dek Mawar ke rumah sakit. Arsy demam tinggi dari pagi tadi. Dia mencari Mawar."


Indy mendengus meremehkan argumentasi Riyan. Satu trik pintar gunakan anak untuk meraih Mawar kembali ke pelukan. Indy lebih setuju Mawar bersama Bagas ketimbang Riyan gampang dihasut. Dosa terbesar Riyan adalah ceraikan isteri tanpa dengar pembelaan Mawar. Mawar berhak tahu apa salahnya sampai dicerai tanpa tahu apa dosanya.


"Main sandiwara?" sindir Indy tak percaya Arsy separah itu. Bisa saja itu akalan Riyan.


Riyan menggoyang kedua tangan sekencang mungkin bela diri. Riyan takut Mawar terhasut Indy tak jadi jenguk Arsy di rumah sakit. Pengharapan Riyan hanya pada Mawar untuk menenangkan Arsy. Dokter sudah bilang sakit Arsy karena rindu seseorang karena dalam demam dia selalu memanggil mama. Sekarang siapa lagi mama Arsy kalau bukan Mawar.


"Astaghfirullahaladzim mbak! Arsy sakit kok dijadikan moments debat. Ayo mbak ikut sekalian biar tahu gimana parahnya demam Arsy!" ujar Riyan sedikit kesal Indy tega berpikiran negatif. Tidak terpikir sedikitpun di otak Riyan gunakan anak sebagai tameng.


Indy tertegun lihat reaksi Riyan. Riyan bukan orang pintar bersandiwara demi cinta. Hidupnya lempang tanpa gelombang. Kehidupan tenang itu berakhir sejak meninggalnya Yenni.


"Iya maaf! Pergilah Mawar! Jangan mau digombal sama insan tak punya pegangan ya!" Indy sengaja berkata ironis untuk skak Riyan agar tahu Mawar sudah ada pelindung.


"Mbak ada saja. Aku pergi ya! Assalamualaikum.." Mawar sendiri tak sabar ingin jumpa Arsy. Mawar akan merasa sangat bersalah bila Arsy sakit karena rindu padanya. Dia yang salah telah ingkar janji. Janji pada anak kecil adalah hutang paling mengerikan. Apapun cara harus dibayar karena dalam otak anak kecil akan selalu ingat janji orang tua.


Orang tua acap kali berjanji pada anak kecil lalu anggap itu hanya sekedar janji pemanis bibir. Tidak dipenuhi juga tak apa. Ini kesalahan sangat besar. Si anak akan hilang rasa percaya pada orang tua dan timbulkan dendam karena tak dianggap.

__ADS_1


Akhirnya Mawar dan Riyan berada dalam satu mobil berangkat ke rumah sakit. Ini pertama kali Mawar berduaan dengan Riyan sejak datang ke kota. Suasana agak canggung karena Mawar memang tak berhasrat bina hubungan apapun dengan Riyan lagi.


Mawar membeku tak berani bergerak takut ganggu konsentrasi Riyan nyetir. Jalan sudah sangat sepi nyaris tak ada kenderaan lewat. Hanya ada lampu jalan dilewati satu persatu sebagai penerang.


__ADS_2