
Mawar tak tahu dada Riyan bergemuruh seperti ombak memecah di tepi pantai. Berkali-kali menghantam bibir jantung Riyan. Riyan sakit hati plus sedih. Wanita yang dia harapkan dampingi dia di sisa hidup telah dipinang orang tanpa sepengetahuan Riyan.
"Mawar...apa kau sudah pikir akibat dari kecerobohan menerima pinangan orang baru di kenal? Dia itu orang asing buat kita." Riyan masih berharap ada keajaiban mengetuk hati Mawar batalkan rencana nikah.
Mawar menghela nafas tak tahu harus omong apa. Dia memang mengenal Joko sangat singkat namun laki itu telah menunjukkan kesan bertanggung jawab apa yang dia lakukan. Berani dan gagah.
"Doakan saja pak! Aku takkan lupakan Arsy dan Rizky. Setiap saat mereka boleh datang ke tempat aku nanti."
"Bukan itu Mawar.. Joko bukan pilihan terbaik! Kalau kau tak mau kembali padaku tak apa tapi kenalin dulu siapa laki itu. Joko memang kaya tapi kita tak tahu kehidupan pribadinya."
"Pak...aku sudah pernah kecewa sekali. Aku sangat kenal orang itu tapi akhirnya aku kecewa. Mungkin tanpa kenal siapa laki itu hidupku akan lebih baik. Aku lelah asyik dijadikan target oleh keluarga aku! Mungkin dengan menikahi Joko aku takkan dijadikan obyek balas dendam lagi."
Riyan terdiam. Penderitaan Mawar sebagian dari kecerobohan dirinya. Andai dia tidak langsung percaya pada si Husien mungkin detik ini dialah lelaki paling bahagia di dunia ini.
Nasi telah menjadi bubur. Mau diulang masak tetap saja tak bisa balik ke nasi. Riyan telah melepaskan kesempatan menjadi pria bahagia.
"Maafkan aku! Aku janji akan bahagiakan kamu bila bersedia kembali padaku. Biar aku yang bicara pada Joko. Kita ke rumah Joko sekarang." ajak Riyan penuh semangat. Dia harus berjuang kendati pun banyak rintangan. Pak Hanif belum tentu terima Riyan lagi namun Riyan tetap tak ingin lepaskan moments penting ini.
"Tidak perlu pak! Tak ada yang berubah. Semua tetap akan berjalan sesuai rencana. Bapak cukup doakan semoga kali ini aku telah benar." Mawar tak mau mengubah kesepakatan dengan Joko. Sekarang tinggal jumpa Kakak ipar Joko untuk minta doa restu.
Riyan memukul pegangan stiur dengan hati remuk. Mawar terlalu teguh pada pendirian tak mau beri kesempatan pada Riyan untuk masuk dalam hidupnya lagi. Gadis ini seratus persen patah arang pada Riyan maka tak terbersit kembali pada laki itu.
"Kenapa keras kepala Mawar? Joko itu bukan orang gampang dihadapi. Licik serta kejam. Kami sebagai sesama rekan bisnis kenal orang itu."
"Mungkin Allah telah tunjukkan jalan bagiku kenal lelaki itu. Sekarang kita ke kantor?" Mawar mengharap Riyan lanjutkan perjalanan. Mobil sudah cukup lama berhenti di pinggir jalan.
Riyan tak punya pilihan lain selain ikuti permintaan Mawar. Mawar akan semakin menjauh bila telah jadi isteri Joko. Riyan tak punya kesempatan dekati wanita muda itu lagi.
Mobil melaju tanpa perbincangan antara dua orang ini. Riyan dipenuhi rasa kesal dan marah pada Joko sedangkan Mawar di ombang ambing oleh keraguan. Kata Riyan sedikit banyak ciptakan keraguan di hati Mawar. Perkataan Riyan tidak salah karena Mawar mengenal Joko sangat singkat. Apa Mawar berani ambil resiko masuk ke dalam kehidupan orang baru dikenal.
Riyan mengantar Mawar sampai ke kantor Indy. Hari akhir pekan tak banyak kegiatan di kantor. Paling juga setengah hari pada bubar. Tak ada kegiatan penting karena bos sesungguhnya tidak ada. Hanya menyelesaikan pengiriman yang telah ditentukan Indy.
Riyan tak masuk ke kantor Indy lagi karena dia juga ada pekerjaan di kantor. Cuma Riyan belum puas bicara dengan Mawar. Riyan akan ajak Mawar makan siang bersama untuk lanjutkan rencana konyol Mawar jadi isteri Joko.
Mawar ditinggalkan Riyan segera naik ke lantai atas lihat apa yang bisa dia lakukan untuk bantu Yuli atasi semua tugas yang tersisa. Sebodoh apapun Mawar tak mungkin tak paham apa yang sudah diajar Riyan. Dasarnya Mawar pintar maka tidak susah resapi ajaran Riyan.
Yuli menyambut Mawar dengan sedikit kurang senang karena Mawar pergi tanpa peduli pada tugas. Kemarin Mawar pergi secara terburu-buru sampai lupa tugas.
Mawar tahu diri duluan menyapa Yuli sebelum dihakimi gadis itu.
"Maafkan aku ya Yuli! Kemarin aku pergi secara tergesa-gesa. Ada sedikit masalah keluarga."
Yuli menyipitkan mata melirik Mawar dengan ekor mata. Masih ada rasa kurang senang walau Mawar telah minta secara terbuka.
"Penting tugas atau keluarga?"
"Sama pentingnya! Kedua orang tua aku datang dari kampung maka aku tidak bisa mengabaikan mereka."
__ADS_1
Yuli melunak dengar alasan Mawar cukup bisa diterima secara logika. Semua anak pasti akan utamakan orang tua sendiri. Mawar juga begitu.
"Ok..aku terima! Hari ini kita cuma selesaikan kontrak dengan pak Joko. Kulihat kamu cukup kenal laki tajir itu. Bahkan sepertinya dia berseteru dengan pak Riyan. Karena kamu?"
Mawar agak jengah dianggap jadi pemicu perseteruan Riyan dan Joko. Padahal dalam faktanya memang Mawar menjadi rebutan antara dua lelaki itu. Di sini Mawar tak mungkin mengatakan hal sesungguhnya karena bukanlah satu hal yang baik.
"Mana mungkin.. ayok kita mulai kerja kita! Ntar makin molor." Mawar berusaha mengalihkan pembicaraan. Lebih baik mereka bicara masalah pekerjaan daripada bergunjing tentang kedua laki yang sedang berseteru itu.
"Aku mencium ada bau bau duel maut merebut setangkai Mawar cantik."
"Omong apa itu?" Mawar tetap mengelak kejadian yang sesungguhnya.
"Ok... aku terpaksa percaya walaupun sejujurnya aku tidak percaya." ucap Yuli mencolek dagu Mawar dengan gaya genit. Lantas Yuli ajak Mawar mulai selesaikan tugas mereka untuk menyambut weekend hari ini.
Kisaran pukul sebelas masuk telepon dari seseorang ke ponsel Mawar. Yuli kepo intip siapa ganggu pekerjaan mereka. Mawar meringis malu melihat di layar tercantum nama siapa.
"Sudah kuduga.. masih ngeles." tuduh Yuli ngambek Mawar tak mau jujur.
"Ini masalah pekerjaan kita! Kamu boleh angkat kok! Mungkin kamu lebih leluasa bicara karena kamu lebih ngerti." Mawar berbesar hati memberikan ponselnya pada Yuli.
Yuli bukannya menerima malah mencibir. Anak kecil saja akan menolak bila disuruh angkat telepon tak ada hubungan dengan dirinya.
"Ogah...angkat saja! Emang aku ini makelar cinta?"
Mawar tersenyum lembut tak marah dicueki Yuli. Wanita itu hanya bercanda goda Mawar. Mawar tahu itu kok.
"Kalau gitu aku angkat ya!"
Mawar menggeser layar ponsel di bagian bulatan hijau.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam.. kok lama angkatnya?"
"Tadi ada kerja dikit. Ada apa pak?"
"Pak??? Hubby tahu.."
Mawar mana berani kumandangkan panggilan itu di bawah tatapan mata Yuli. Yuli bisa tertawa sampai ngompol bila Mawar memanggil Joko begitu mesra di depan gadis itu.
"Iya...ada yang penting?"
"Kamu selalu penting. Siang nanti aku jemput kamu ya! Kita jumpa kakak ipar di rumah. Dia akan datang ke rumah. Kita bisa bicara lebih santai di rumah. Ada Bivendra lagi."
"Baik..."
"Jangan ke mana-mana sebelum aku datang. Setengah jam lagi aku sampai."
__ADS_1
"Iya.." sahut Mawar singkat. Mawar tak berani bicara banyak takut Yuli salah sangka lagi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mawar meletakkan ponsel di atas meja kerja pura-pura tak ada kejadian. Yuli memeluk tangan dengan kepo nya selidiki percakapan antara Mawar dan Joko.
"Bahas kerja?" ejek Yuli sinis.
"Ngak...pak Joko ngajak makan siang!"
"Oh...makan siang sambil bahas kerja ya? Ada rencana bahas mahar?"
Mawar agak kaget Yuli bisa omong gitu. Apa Yuli sudah tahu rencana Joko menikahinya? Padahal ini sangat mendadak belum tersiar keluar. Bahkan Riyan saja baru tahu. Apa Yuli seorang peramal?
"Isshhh omong apa itu?" elak Mawar masih masa bodoh.
"Omongin Pak Joko jatuh cinta padamu! Kau tahu ngak? Pak Joko itu terkenal bersih dari skandal. Tak ada wanita bisa dekat dengannya dalam jarak satu meter. Kau mau coba dekati dia?"
Mawar makin galau disekak oleh Yuli. Yuli bicara seakan menendang Mawar masuk ke gawang Joko. Yuli mau lihat kemampuan gadis alim tundukkan lelaki yang konon katanya sudah impoten gara ditinggal isteri.
"Sudah Yul...dosa gunjing orang lain!"
"Aku kok merasa ada yang aneh! Pak Joko kok aktif hubungi kamu?"
"Yaelah nona! Bukankah dia sedang kerja sama dengan kita?"
"Ok.. anggap saja itu betul. Jujur aku sangat berharap suatu hari aku bisa meluluhkan hati sekeras baja itu. Siapa tak ingin menjadi nyonya Joko yang terkenal kaya itu?"
"Amin.." Mawar tak sabar sudahi bahas soal Joko.
Joko demikian terkenal di kalangan wanita sampai Yuli pun mengetahui kepribadian lelaki itu. Artinya banyak wanita mencari data pribadi tentang Joko. Apakah Mawar menjadi wanita beruntung yang berhasil masuk ke dalam kehidupan Joko? Mawar sendiri tidak mempunyai jawaban untuk hal ini. Mawar hanya menyerahkan semuanya kepada yang maha kuasa.
Joko sendiri langsung jemput Mawar ke kantor Indy. Lelaki itu datang tanpa didampingi oleh Anwar. Ini artinya bukan dalam ranah pekerjaan karena asisten Joko itu tidak ikut.
Mawar pamitan pada Yuli karena memang waktu kantor telah usai pada weekend. Kantor dibuka setengah hari bila weekend. kini Mawar bebas bepergian dengan siapa saja. Kebetulan yang menjemput Mawar adalah Joko lelaki yang bakal menjadi suaminya.
Tanpa minta persetujuan Mawar Joko langsung menjalankan mobil menuju ke rumahnya di mana telah menunggu seseorang. Mawar tidak melihat kehadiran Bivendra diantara mereka. Siapa yang telah menjemput gadis cilik itu?
"Biven mana?"
"Sudah duluan pulang dijemput Anwar. hari ini sekolah Bivendra lebih cepat bubar. Dia sudah ada di rumah."
Mawar hanya bisa membentuk bulatan di bibir. Hati mawar tenang mendengar anak itu telah selamat sampai ke rumah. Pertanyaan sederhana ini membuat Joko makin yakin Mawar memang menyayangi anaknya. Mawar tidak hanya memikirkan mereka saja melainkan memikirkan anaknya. Sosok wanita demikianlah yang sedang dicari oleh Joko.
Tanpa banyak kendala keduanya tiba di rumah Joko Yang Maha besar. Mawar sudah beberapa kali datang ke rumah itu sehingga tidak asing lagi dengan rumah Joko. Tanpa perlu dituntun Mawar sudah bisa masuk duluan ke dalam rumah.
__ADS_1
Sementara Joko memarkirkan mobil di tempat semestinya. Mawar duluan masuk karena pintunya telah terbuka lebar.
"Assalamualaikum..."