GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Mawar Marah


__ADS_3

Mawar bergegas tinggalkan orang dalam mobil yang dia anggap ada penyakit jiwa. Memangnya Mawar sudah tak laku sampai harus menikah tanpa persetujuan diri sendiri.


Mawar melangkah di pinggir jalan mencari kenderaan lain untuk pulang ke rumah Indy. Mawar menyesal telah berjanji pada Bivendra untuk tetap ada walau apapun terjadi. Untuk Bivendra dia tak bisa mundur lagi. Mawar akan tetap jadi orang memberi semangat pada Bivendra dengan cara lain.


Joko tersadar Mawar telah turun dari mobilnya. Mobil di belakang tak henti bunyikan klakson agar mobil Joko maju ke depan. Joko terpaksa majukan mobil ke arah Mawar yang menunggu taksi untuk antar dia. Mawar sangat sedih merasa terhina oleh Joko sehingga tak mau melirik Joko sekilas mata.


Joko pinggirkan mobil persis di samping Mawar. Mobil berhenti lantas Joko turun dari mobil hampiri Mawar dengan muka seram. Joko belum pernah dibantah jadi agak kesal ada orang berani melawannya.


Mawar menatap ke arah lain melihat kalau ada taksi kosong bisa antar dia. Mawar mungkin lupa taksi sekarang harus dipesan secara online. Tidak gampang temukan taksi gelap pada jaman ini.


"Masuk ke mobil!" kata Joko kaku. Kaku kayak batangan baja murni.


Mawar tidak jawab juga tidak open. Sedikitpun Mawar tidak tertarik pada tawaran Joko. Kalau tak ada taksi Mawar akan pilih pulang jalan kaki kendatipun harus berjalan selama seminggu baru tiba.


"Dengar nona! Jangan uji kesabaran aku! Aku tak punya waktu ladeni cewek ngambekan."


Mawar malah angkat kaki dari hadapan Joko sebagai tanda protes sikap arogan Joko. Pantas Bivendra tertekan. Papi gila serta calon mami kejam. Di mana kebahagiaan anak itu?


Mawar agak kaget tiba-tiba Joko menyambar tubuhnya tanpa permisi. Dengan enteng Joko angkat Mawar masuk ke dalam mobil tanpa peduli gadis ini berontak. Orang lalu lalang perhatikan adegan konyol ini dengan senyum. Pagi-pagi sudah disodorkan kisah seperti dalam sinetron.


Sang cowok bopong cewek ngambek ala bridal masuk ke dalam mobil. Bahkan ada yang berfoto jadikan kejadian ini sebagai bahan medsos.


Mawar menutup wajah saking malu digendong lelaki bukan muhrim. Ini adalah musibah terbesar dalam hidup Mawar. Berada di pelukan lelaki bukan suami sah menjadi pantangan serta haram.


Joko memasang safety belt Mawar lalu segera masuk ke pintu sebelah lagi dan kunci pintu secara otomatis dengan sentral lock. Mawar tak bisa keluar lagi.


Joko jalankan mobil dengan wajah tak berubah. Tetap kaku tak peduli perasaan Mawar.


"Kau gila...aku bisa pulang sendiri!" desis Mawar marah hampir menetes air mata. Mawar semakin merasa terhina oleh perlakuan Joko. Sungguh laki kanibal. Tak punya hati nurani.


"Aku antar kamu! Kamu tak boleh resign."


"Aku belum teken kontrak kerja jadi aku tak mau kerja sama orang gila." ucap Mawar dengan nada tinggi. Jarang sekali Mawar semarah ini. Biasa Mawar tetap kontrol diri agar tidak ngamuk sembarangan. Nyatanya Joko sukses pancing amarah Mawar.


Joko tertegun dengar suara Mawar meninggi serta agak parau seperti menahan tangis. Mawar benar-benar merasa terhina oleh perlakuan tak senonoh Joko. Laki ini tak tahu bedakan yang mana barang halal dan haram. Mawar adalah makhluk haram bagi Joko karena mereka tak ada ikatan pernikahan.


"Kau marah?" tanya Joko mulai timbul rasa iba lihat Mawar mendung tebal nyaris hujan.


"Pak...aku ini manusia walau miskin. Jadi hargai aku. Kumohon turunkan aku di sini saja sebelum aku makin kesal." ujar Mawar dengan suara tersendat.


"Aku lelaki tak mungkin biarkan makhluk lemah seperti kalian keliaran di jalan. Aku antar kamu." Joko tetap kekeuh mau antar Mawar tanpa menyadari kesalahan yang dia perbuat. Laki ini sudah lama hidup di atas jadi tak tahu lihat ke bawah.


Mawar tidak mau jawab lagi cuma dalam hati menangis sedih. Mengapa dia selalu dipermainkan oleh nasib buruk. Kapan dia akan bahagia layak gadis umumnya. Berbagai cobaan beruntun hampiri dia sampai dia mulai goyah pada diri sendiri. Rasa percaya diri terkikis demi sedikit.


Joko juga diam mulai sadar dia telah lakukan kesalahan pada Mawar. Laki ini tidak memaksa Mawar lagi selain mendesah semoga amarah gadis ini cepat mereda. Joko tak tahu cara perlakukan seorang wanita dengan baik karena selama ini dia jarang dekat dengan wanita dan wanita juga memujanya. Apa yang dia bilang semua dituruti oleh wanita membuat dia tak hargai wanita.


Begitu sampai di rumah Indy, Mawar bergegas turun tanpa beri salam pada Joko. Hati Mawar terlanjur sedih pada Joko.


Joko menatap punggung Mawar yang masuk ke dalam rumah tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. Joko bengong tak tahu harus gimana hadapi gadis muda ngambekan. Seumur hidup belum ada orang marah padanya bahkan Bivendra. Semua patuh dan ikuti semua arahan dia.


Joko menghela nafas menjalankan mobil meninggalkan rumah Indy. Tempat Mawar menumpang selama ini.


Mawar tak menemukan siapapun di rumah. Mungkin John sudah berangkat ke sekolah sedangkan Indy ke tempat kerjanya. Mawar tidak mencari Bik Tun karena pingin tenangkan diri di dalam kamar. Sumpah mati Mawar merasa sangat terhina oleh perlakuan Joko. Sudah Riyan begitu muncul pula laki tak hargai dia. Pikir Mawar barang mainan bisa dipermak sesuka hati.

__ADS_1


Mawar tak ingin kembali ke kantor Joko lagi. Mawar mencoba tidur sesaat untuk penuhi janji pada Arsy. Mawar sudah janji untuk jenguk anak kakaknya itu. Janji pada anak kecil tetap harus ditepati.


Mawar memejamkan mata hendak lupakan kejadian tak mengena. Semalam dia juga kurang tidur karena jaga Arsy. Ini kesempatan istirahat.


Joko kembali ke kantor dengan wajah murung. Wajah yang sudah kayak es batu kini jadi wajah baja kaku. Joko bingung harus gimana dapatkan perhatian Mawar lagi. Mawar dengan segala kelembutan telah lelehkan hati Bivendra. Andai gadis itu tak mau kembali artinya dia hancurkan kebahagiaan anaknya.


Anwar yang menyambut Joko rasakan suasana horor pagi ini. Bos sudah datang terlambat pakai topeng malaikat maut pula. Siapa begitu iseng senggol bos manusia es itu.


"Selamat pagi pak!" sapa Anwar segera menyambut tas kerja Joko. Joko hanya tajamkan mata tanpa buka mulut.


Anwar sudah biasa hadapi sifat bosnya tak iba hati walau tak mendapatkan respon. Keduanya berjalan beriringan sampai ke ruang kerja Joko. Anwar meletakkan tas kerja Joko lalu berdiri rapi menanti instruksi Joko.


Joko bukannya beri tugas malah melamun menopang dagu dengan kedua tangan. matanya kosong menatap ke pintu seperti menanti seseorang datang. Orang yang takkan pernah datang lagi. Joko yakin Mawar orangnya keras walau tampak lah gemulai. Orang yang tampak lemah yang harus diwaspadai karena dalamnya bisa sekeras Waja.


"Anwar..."


"Ya pak?" sahut Anwar cepat setelah bertapa dalam kebisuan beberapa saat.


"Ada temanku bercerita kalau tak sengaja dia sakiti hati seorang cewek. Apa yang harus dia lakukan?" tanya Joko persis orang culun.


"Teman bapak itu cewek atau cowok?"


"Ya cowok...kalau cewek artinya pertengkaran sesama wanita. Ceweknya ngambek tak peduli pada cowoknya lagi. Temanku itu bingung tak tahu harus bagaimana."


Anwar manggut-manggut sok tahu. Dalam hati Anwar yakin teman yang dimaksud Joko tak lain dia sendiri. Cuma Joko malu akui kesalahan maka gunakan bahasa karangan sendiri.


"Tergantung kesalahan apa? Biasa cewek itu paling gampang dirayu asal tahu kesukaannya. Tinggal kasih kesukaannya. Aman."


Anwar pingin tertawa terpingkal tapi ditahan. Bosnya kena batu kali ini. Masih ada cewek tak bisa dia taklukkan gunakan ketampanan serta harta berlimpah. Ceweknya pasti luar biasa.


"Kurasa itu akan sulit buat teman bapak. Biasa cewek suka berlian, emas dan kartu kredit. Mungkin bapak bisa gunakan salah satu cara ini."


"Kurasa yang ini tak suka. Dia begitu berprinsip tak open pada nama besar." gumam Joko seolah sangat kenal Mawar.


"Oh gitu! Jawabannya bunga segar! Tak ada cewek tak suka dikasih bunga indah. Terutama mawar merah lambang kasih sayang dan cinta."


"Bunga mawar ya? Kurasa itu tepat tapi apa kita tidak malu tunduk pada cewek hanya kasih bunga?"


"Ini bukan masalah tunduk tapi tunjukkan niat baik kita. Di antara cinta mana ada kalah menang? Demi cinta orang bersedia daki gunung serta seberangi lautan. Semua ini kita lakukan untuk orang tercinta." ujar Anwar melankolis seolah dia seorang pujangga cinta. Prakteknya dia jomblo ngenes tak ketemu pasangan akibat kelewat lama bersekutu dengan bongkahan es.


"Kau pernah pacaran?" tanya Joko ragu. Anwar sendiri belum punya pacar di usia cukup tinggi. Mengapa bisa beri ulasan seperti seorang ahli percintaan.


Anwar meringis malu sebab dia sendiri belum pernah punya pacar tetap. Pacaran juga selalu gagal karena sering terapkan gaya Joko yang dingin.


"Aku baca buku dan nonton tv. Katanya wanita itu identik dengan bunga."


"Bunga bank atau bunga dari kebun?" Joko berpikir lebih realistis tentang keinginan wanita sekarang. Lebih banyak yang suka bunga bank ketimbang buket bunga.


"Tergantung wanita teman bapak itu! Pengerat atau memang kupu-kupu manis pencinta bunga sejati. Kusarankan pada teman bapak untuk beli bunga lalu samperin cewek itu dan minta maaf kalau memang salah."


"Minta maaf? Apa harus?"


"Harus banget...itu paling penting. Itu puncak tujuan. Percayalah! Wanita berhati bersih macam Mawar pasti akan terima pernyataan maaf tulus." Anwar mendekap mulut keceplosan sebut nama Mawar. Joko tidak bilang bermasalah dengan Mawar tapi Anwar tebak itu yang bikin Joko uringan.

__ADS_1


"Apa aku ada bilang Mawar? Aku bilang cewek teman aku!" bentak Joko jengah bisa terbaca oleh Anwar.


"Oh... iya...cewek teman bapak maksudku! Bapak kasih saran itu saja padanya!"


Joko angguk setuju saran Anwar. Joko tak punya pilihan lain yang lebih baik minta Mawar kembali kerja. Ini untuk Bivendra juga untuk kantor. Kinerja kerja Mawar sangat baik dan teliti. Sayang orang bertalenta tidak terpakai.


"Aku pesan bunga mawar warna pink atau merah?" tanya Anwar hati-hati takut kena semprot lagi.


"Pink saja!" sahut Joko tanpa sadar kejebak pertanyaan Anwar.


Anwar ingin sekali buang rasa geli dalam perut. Jelas cewek itu Mawar namun Joko masih jaga gengsi menampik perihal sesungguhnya.


Anwar cepat-cepat kabur sebelum Joko sadar kelepasan buka rahasia sesungguhnya. Bosnya pasti akan ngamuk lagi ketahuan Anwar sok pintar analisa kejadian sebenarnya.


Joko baru sadar Anwar sukses permainkan dia. Anwar pintar sekali tebak kalau kejadian ini terjadi pada Joko dan Mawar.


Joko menarik bibir sedikit merasa konyol. Joko merasa kembali ke puluhan tahun lalu saat pertama kali pacaran. Ntah berapa wanita lalu lalang dalam hidupnya sampai menikahi maminya Bivendra. Sayang endingnya menyedihkan.


Sebelum siang Mawar berangkat ke rumah sakit untuk bayar janji pada Arsy. Mawar memesan taksi online ke tempat Arsy dirawat.


Mawar tetap berpakaian santun tanpa tinggalkan hijab walau sudah berada di kota. Di manapun berada Mawar takkan tinggalkan busana lambang orang Islam.


Mawar tiba di rumah sakit langsung cari kamar rawat Arsy. Ini waktunya Arsy makan siang. Mawar sengaja pilih waktu makan siang agar bisa menyuapi gadis kecil itu. Anak kecil kalau sakit biasa susah makan. Harus dibujuk baru timbul selera.


Mawar mengetok pintu kamar rawat Arsy kendatipun cuma kamar anak kecil. Tata Krama tetap harus ada.


Riyan yang buka pintu untuk Mawar. Keduanya saling menatap di depan pintu kamar. Riyan makin tersentuh lihat Mawar teguh pegang janji pada anaknya.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.. ayo masuk! Arsy sudah tunggu kamu dari tadi." Riyan tahu diri pindah tubuhnya dari pintu karena halangi Mawar masuk dalam.


Mawar masuk sambil tersenyum lebar supaya Arsy semangat. Arsy duduk di atas tempat tidur tepuk tangan kegirangan melihat Mawar datang. Wajah anak ini sudah ceria tanpa guratan derita lagi.


"Mama..."


"Anak mama sudah sembuh?" Mawar mengecup kening Arsy penuh kasih sayang.


"Sudah...nanti boleh pulang! Tapi harus makan dulu. Arsy mau makan sama mama." seru Arsy semangat.


"Ok..kita makan." Mawar mengambil nampan berisi aneka makanan bergizi dari rumah sakit. Ada ikan, sayuran serta buahan. Ahli gizi rumah sakit pasti bisa prediksi makanan yang cocok untuk anak kurang sehat.


Arsy makan dengan senang hati dibawah asuhan Mawar. Riyan duduk di sofa perhatikan kelembutan Mawar pada anaknya. Begitu tulus tanpa harap imbalan. Riyan bersedia berikan imbalan apa saja asal Mawar mau berada di samping keluarganya.


Namun sayang Mawar justru tidak mau masuk ke dalam hidupnya lagi. Gadis itu pilih hindari Riyan walau tetap peduli pada anak-anak. Mawar lakukan ini pasti karena anaknya itu keponakan dia.


"Wah nasinya enak ma!" kata Arsy kesenangan padahal nasinya sama saja dengan nasi semalam. Apa karena Mawar yang suap maka terasa sangat lezat.


"Makan yang banyak. Mama yakin Arsy pasti cepat sembuh."


"Sudah sembuh." kata Arsy yakin sudah sehat.


Royan surprise Arsy mau banyak ngobrol dengan Mawar. Biasa Arsy paling irit bicara. Bicara bila perlu saja.

__ADS_1


__ADS_2