
Dasar rezeki Riyan. Dia sudah bertekad tak usik Mawar namun justru ada tangan lain bantu dia temui wanita yang telah merebut separuh hidupnya.
Riyan mana mau lepaskan kesempatan berdekatan dengan Mawar. Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Tidak berapa lama Riyan tiba dengan gagah dampingi Mawar jumpa klien. Laki ini pasang wajah datar agar jangan dibilang cari kesempatan padahal dalam hati memang iya bersyukur bisa pelototi wajah cantik itu.
Riyan langsung menuju ke ruang kerja Mawar karena memang sudah akrab dengan lingkungan tempat kerja Indy. Sekarang jadi tempat kerja Mawar.
Riyan mengetuk pintu masuk ruang kerja Mawar perlahan. Riyan ubah sikap biar Mawar tak anggap datang mengemis perhatian. Riyan harus ubah strategi cari perhatian Mawar. Tidak memaksa tapi harus dapat.
"Assalamualaikum..." sapa Riyan setelah ketuk pintu. Riyan tak menunggu ijin dari sang pemilik ruang.
"Waalaikumsalam..." Riyan mendapat balasan khas suara Mawar. Merdu mendayu di kuping.
Riyan masuk jaga sikap tidak pecicilan. Di mata Riyan gadis di depannya makin cantik di pagi ini. Pipinya bersemu merah ntah hasil blush on atau memang alami. Pokoknya pagi ini Mawar telah mencuri hati Riyan.
"Kau ada masalah kata Bagas. Masalah apa?" Riyan duduk di depan Mawar tanpa ijin dari gadis ini.
Minta ijin pasti akan terlambat masalah. Takutnya Mawar keberatan Riyan muncul lagi di sekitarnya.
Mawar kelihatan gugup harus jumpa Riyan lagi. Padahal Mawar baru saja rasakan kedamaian tanpa perlu ingat kejadian memilukan.
Takdir berkata lain dia harus jumpa dengan laki itu lagi. Mawar tak bisa ngelak karena keadaan hadirkan Riyan.
"Kata Yuli ada klien mau jumpa. Aku belum pernah jumpa klien jadi agak takut."
"Oh cuma itu...apa klien ini klien lama mbak Indy?"
"Itu harus tanya Yuli dulu. Aku tak ngerti!"
"Baiklah! Biar aku jumpai mereka. Aku yang akan nego dengan mereka. Suruh Yuli kasih data padaku."
"Iya pak!" sahut Mawar makin gugup. Rasa gugup itu mengalir begitu saja tanpa diminta. Sungguh mati Mawar tak ingin tampak bodoh di depan Riyan. Dia harus kuat walau dalam hati berantakan.
Mawar memanggil Yuli untuk diskusi dengan Riyan. Biarlah masalah ini jadi tanggung jawab Yuli dan Riyan. Toh mereka lebih pengalaman dari pada Mawar.
Mawar diam saja beri waktu pada Riyan dan Yuli untuk diskusi. Tampaknya Riyan tahu banyak tentang bisnis Indy. Terbukti tak perlu waktu panjang dia telah paham.
Mawar merasa kehadiran dia di kantor tak banyak membantu. Seharusnya Indy percaya pada Yuli kelola perusahaan ini. Yuli cukup setia tak mungkin jual Indy. Tapi Mawar takkan khianati Indy tinggalkan kantor tanpa ijin wanita baik hati itu.
Riyan duduk di kursi tak jauh dari Mawar pelajari kontrak yang telah dibuat oleh Yuli. Ternyata perjanjian ini telah dibuat semasa masih ada Indy. Semua syarat dan ketentuan telah dituangkan dalam perjanjian.
Mawar seperti orang bodoh tak ngerti apa-apa soal ini. Tugas ini sangat jauh dari keahlian Mawar.
Tak berapa lama Yuli datang bersama dua lelaki dewasa. Salah satu lelaki itu sangat dikenal oleh dan familiar. Tak urung Mawar salting lihat kehadiran Joko di antara kedua pria itu. Wajah Joko tenang menghanyutkan tak ada gelagat mau mengatakan sesuatu pada Mawar.
Di lain pihak Riyan memaki dalam hati lihat cara Joko dekati Mawar. Riyan tak tahu ini murni kontrak kerja dengan Indy atau ada motif tersembunyi oleh pengusaha itu. Cara Joko cukup luar biasa untuk jumpa Mawar.
Riyan rasa Joko juga dapat penolakan dari Mawar maka gunakan teknik lain dekati Mawar. Sungguh teknik mutakhir kejar cewek incaran.
Riyan wakili Mawar melayani Joko dan rekannya untuk berbisnis. Riyan sengaja tak libatkan Mawar dalam pembicaraan supaya Joko tak ada kesempatan ngobrol dengan Mawar.
"Silahkan bapak-bapak! Kita bicara di ruang sebelah!" Yuli persilahkan para tamu ke ruang rapat merangkap ruang pertemuan dengan klien.
__ADS_1
Riyan dan Mawar ikuti permintaan Yuli pindah ke ruang sebelah. Yuli tentu lebih ngerti aturan kantor ini dari mereka berdua yang orang baru.
Joko dan rekannya berjalan bersama Yuli sedang sari belakang menyusul Mawar dan Riyan. Keduanya agak canggung berjalan beriringan walaupun hanya untuk bertugas. Mawar cukup risih berada di antara dua kutub saling berhadapan. Kemarin kedua lelaki itu saling berseteru kini harus bahas bisnis berdua. Inilah namanya musuh terindah.
Mawar jadi pemirsa yang baik dengar Yuli, Riyan dan Joko Bagas kerja sama. Semua berpacu pada ketentuan yang sudah dibuat oleh Indy. Cuma penanggung jawab adalah Mawar. Mawar yang harus tanda tangan perjanjian ini.
Mawar segan teken takut jadi kambing hitam kelak. Kalau terjadi sesuatu kesalahan dia yang harus menjadi orang paling dicari.
Mawar menatap Riyan berkali-kali minta pendapat. Mawar percaya Riyan takkan jerumuskan dia dalam kesulitan.
Riyan mengangguk tanda ijinkan Mawar tanda tangani berkas perjanjian. Riyan juga ikut teken perkuat kerja sama agar tidak menjadi tanggung jawab Mawar seorang diri.
Joko samasekali tidak keberatan percayakan kontrak pada Mawar. Laki ini percaya pada Mawar seratus persen. Walau baru bersama beberapa waktu Joko sudah tahu kalau Mawar bukan cewek mata duitan. Dia tawarkan hidup mewah tak digubris gadis ini. Gadis ini pilih jalan berkerikil lalui hari-hari ketimbang ulurkan tangan jadi pengemis.
Selesai teken meneken keempat orang ini saling bersalaman tanda kerja sama telah dimulai. Mawar mulai berpikir apa untuk selanjutnya dia masih harus temui semua klien Indy. Satu saja bikin jantungnya mau copot. Itu untung ada Riyan dan Joko jadi penawar rasa takut.
Joko dan rekannya tidak segera pergi dari kantor Indy. Kedua orang ini masih ingin. Beramah tamah dengan pemimpin baru perusahaan meubel ini.
Riyan dapat membaca pikiran Joko hendak dekati Mawar dengan berbagai alasan yang menurutnya tak masuk akal. Biasanya siap teken kontrak klien akan tinggalkan kantor rekanan. Yang ini malah duduk bak tamu maha Agung di ruang kerja Indy.
Mawar tak kalah gelisah tamunya tak juga angkat kaki dari kantor. Hendak buka mulut minta kliennya pergi tapi itu bukan gaya orang beradab.
Paling menekan perasaan tak perlihatkan reaksi apapun. Mawar harus bersabar demi Indy. Mengusir klien sama saja mengusir rezeki Indy.
Mawar hanya bisa mengandalkan kata sabar. Riyan lebih parah makan hati sekalian jantung. Keduanya sakit kena tembakan bom dari Joko. Laki itu memang nekat mencuri perhatian Mawar.
Sama halnya dengan Mawar. Riyan juga bersabar dengan hati membara. Jika bukan ingat ini kantor Indy rasa ingin ajak Joko duel secara jantan.
Joko dan rekannya tidak banyak cakap hanya melihat isi kontrak lebih detail. Susah teken kontrak baru pelajari isi berkas. Bukankah ini pekerjaan sia-sia?
"Secara keseluruhan semua ok. Kuberi waktu satu Minggu pengiriman barang." kata Joko wibawa pada Mawar. Seluruh retina mata Joko hanya hanya ada Mawar. Yang lain hanya tai mata tak usah dipedulikan.
"Pak...gimana kalau kami minta sepuluh hari karena bahan masih dalam perjalanan dari pabrik di Jawa sana." tukas Yuli sebelum Mawar iyakan. Mawar mana tahu kendala di lapangan. Dia orang baru mana tahu paketan stok di lapangan.
Joko bukannya menatap Yuli melainkan Mawar. Laki ini berharap Mawar mengatakan sesuatu karena dari tadi gadis ini hanya diam menunggu hasil keputusan Riyan dan Yuli.
"Apa barangnya belum ada stok?" tanya Mawar pada Yuli.
"Ada tapi terkendala pengangkutan. Kalau tak ada halangan dalam dua hari ini akan tiba. Kita harus cek barang dulu pastikan dalam kondisi siap dikirim. Baru nanti packing yang bagus. Ini akan makan waktu." jelas Yuli untuk buka wawasan Mawar terhadap pekerjaan mereka.
"Oh gitu ya! Pak Joko sudah dengar kendala kami. Lebih baik kami jujur dari pada berbohong. Kuharap pak Joko beri toleransi."
Joko mengangguk iyakan permintaan Mawar. Apa yang tidak untuk Mawar. Apa yang tidak untuk Mawar sang mami Bivendra.
"Baik lah mami Bivendra! Aku beri toleransi untukmu. Gimana kalau kita pergi makan siang bersama untuk lanjutkan kesuksesan kerja sama kita." Joko mengundang semua yang ada di ruangan. Bukan hanya pada Mawar tapi berlaku juga untuk Yuli dan Riyan.
Mawar agak segan menjawab karena ini bukan untuk pribadi dia melainkan anggota dalam ruangan. Sedangkan rekan bisnis Joko satunya bungkam seperti orang bisu. Mawar curiga jangan-jangan rekanan Joko tuna wicara. Dari tadi tak ada sepatah katapun keluar dari mulut laki itu. Hanya teken jadi andalannya.
"Baik pak! Untuk rayakan kerja sama kita." Yuli yang menyahut harap ada durian runtuh jatuh ke pahanya. Sakit tapi tetap dapat makanan lezat.
Riyan ingin sekali cekik Yuli yang sok pintar terima undangan Joko. Riyan hendak tolak namun terlambat. Mulut runcing Yuli lebih sigap jawab undangan. Riyan kalah total dari wanita.
"Bagus...aku tunggu di sini saja. Waktu makan siang juga tak lama lagi. Kuharap nona Mawar tidak keberatan."
__ADS_1
"Silahkan pak! Asal tak ganggu jadwal kerja bapak saja."
"Tidak ganggu...kamu lanjut saja kerja! Jangan peduli aku!" Joko berkata manis seakan kehadirannya tak jadi perusak pandangan mata.
Riyan merasa nafas terputus kehilangan oksigen murni. Cara Joko dekati Mawar sungguh canggih. Tepat sasaran.
Yuli segera keluar sediakan minuman untuk kedua tamu mereka. Andai Yuli pandai ilmu pelet ingin rasanya pelet Joko jatuh cinta padanya. Sayang itu hanya ada di angan. Tak keburu cari dukun pelet lagi.
"Bivendra tagih janji kamu akan ajak dia liburan." kata Joko bahas perihal lain setelah Yuli pergi.
Mawar mengangkat mata kelabunya lurus ke arah Joko. Ternyata Bivendra tak lupa janji Mawar bawa dia pergi main. Janji pada anak kecil paling rawan. Anak itu bisa krisis kepercayaan bila Mawar ingkar janji. Gimanapun Mawar harus tepat janji.
"Iya...hari Minggu ini."
"Bagus...aku percaya kamu akan jadi mami baik untuk Bivendra."
Riyan kok merasa jadi kambing congek jaga dua manusia beda jenis saling ikat janji. Dia yang tolol atau Joko terlalu pintar kuasai Mawar gunakan anak sebagai perisai.
"Dek Mawar jangan lupa janji pada Arsy juga!" ucap Riyan ingatkan Mawar pada Arsy.
Mawar kebingungan harus tepat pada anak yang mana? Keduanya butuh Mawar untuk jadi ibu mereka.
Mawar makin gundah tak tahu harus terapkan pola yang mana? Bawa Arsy atau Bivendra. Kini kendala bukan pada kedua anak itu melainkan pada kedua lelaki angkuh ini. Bila Mawar ajak kedua anak kedua laki itu pasti ikut. Ntar bukan dapat liburan menyenangkan melainkan perseteruan bikin malu.
"Gini saja! Hari Minggu bapak antar Biven ke rumah. Biar kami main di rumah saja begitu juga Arsy dan Rizky. Mereka akan gabung main di rumah. Ok?" Mawar ambil jalan tengah gabungkan ketiga anak itu di rumah Indy. Mawar akan jaga mereka selama hari Minggu.
Paling nanti Mawar bikin makanan ringan sehat untuk menyenangkan ketiga anak itu. Mawar ingat Arsy dan Rizky doyan ubi masakan Mawar. Mungkin Bivendra akan suka juga.
Joko dan Riyan saling memandang tak sangka Mawar bijak tak pilih kasih. Dia bersedia jaga ketiga anak itu sekaligus. Untuk bayar janji sekalian perkenalkan Arsy pada Bivendra. Semoga mereka bisa bergaul akrab.
Secara diam-diam Joko mengepal tinju geram pada Riyan merusak liburan mereka. Joko sudah bayangkan liburan ke luar kota bersama Mawar dan anaknya. Muncul pula pengacau kondang antara mereka. Sungguh manusia reseh.
Riyan juga sama jengkel pada Joko. Kalau tak ada Joko mungkin Mawar akan datang ke tempatnya main dengan Arsy.
Harapan kedua laki ini berantakan. Sama-sama menelan buah kekecewaan. Mawar pasti tak ijinkan keduanya masuk rumah berhubung tak ada Indy. Gadis sopan macam Mawar tentu akan jaga harkat tak didatangi laki tanpa tuan rumah.
Ponsel Riyan tiba-tiba berbunyi. Laki ini aktifkan layar setelah lihat panggilan masuk.
"Assalamualaikum ma!"
"Waalaikumsalam.. kamu segera pulang. Ayah dan Ibu Mawar datang sini."
"Ayah Mawar? Ada apa?" seru Riyan kaget orang tua Mawar datang dari kampung lagi. Mau bikin kekacauan apalagi.
"Aduh..kamu pulang saja! Kalau ada Mawar ajak sekalian. Mama bingung."
"Cuma mereka berdua?"
"Ramai...ada pak Hanif dan istrinya serta kedua kakak Mawar. Mama tak sanggup dengar ocehan ibu Mawar. Pusing mama!"
"Pak Tuo Mawar juga datang? Kok mendadak? Baiklah! Aku akan bawa Mawar pulang ke rumah. Mama jangan banyak bicara biar aku yang tangani kedua kakak Mawar. Pak Hanif itu orang baik. Dia itu bela Mawar. Mama sabar ya! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..."
__ADS_1
Riyan menyimpan ponsel berdiri dekati Mawar dengan wajah tegang. Riyan susah rasakan bakal ada persoalan akan dia hadapi bila keluarga besar Mawar sudah datang. Riyan kuatir kehadiran kedua kakak Mawar.