GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Jumpa Lagi


__ADS_3

Bagas membawa Mawar ke toko jual peralatan kantoran. Di sana Mawar bebas memilih semua benda yang dia anggap perlu. Seharusnya kantor yang sediakan peralatan tersebut bukan pegawai rogoh kantong beli untuk kantor.


Berhubung Naura agak ilfil pada Mawar maka dengan sengaja tidak sediakan semua kebutuhan kantoran. Bagas bukan tak tahu Naura tak suka pada Mawar. Perkenalan pertama saja Naura sudah kibar bendera perang.


Dasar Mawar orang sederhana tidak berpikir negatif. Semua perlakuan Naura dia anggap sebagai sikap seorang senior didik junior. Mawar masih harus banyak belajar untuk jadi karyawan kantoran.


John tak sabar ingin cepat pulang mengulang pelajaran bersama Mawar. Anak itu ketagihan dipuji oleh guru dan dikagumi murid lain. Si anak bengal akhirnya sukses menjadi pusat perhatian guru. John mendadak jadi murid pintar. Guru tak tahu kalau di rumah John tersimpan seorang guru berpotensi.


Bagas mengantar Mawar dan John pulang. Laki itu juga langsung pulang ke rumahnya. Bagas masih ada janji dengan teman untuk hang out bersama. Untuk ini Bagas belum berniat ajak Mawar ke tempat yang sarat dengan Minang keras serta bau asap rokok. Itu bukan dunia Mawar.


Tempat Mawar di taman penuh bunga aneka warna. Ada pondok bertebaran bahasa cinta janjikan kenyamanan. Bagas akan bangun tempat begitu untuk bikin Mawar betah.


Ternyata di rumah ada tamu. Bu Alya datang bersama dua bocah Riyan. Mereka sengaja datang untuk bertemu dengan Mawar. Bu Alya punya harapan menyatukan Riyan dengan Mawar lagi.


Gara-gara Ayumi pernikahan Riyan dan Mawar berantakan. Ini bukan salah Ayumi sepenuhnya. Riyan juga punya salah gampang terpengaruh oleh hasutan Ayumi.


Begitu buka pintu Mawar melihat kedua anak kakaknya dan Bu Alya. Mawar senang jumpa lagi dengan kedua bocah itu. Cuma sayang sekarang status Mawar bukan mama mereka lagi.


Anak-anak belum tahu kalau Riyan dan Mawar sudah pisah. Tak ada yang ingin racuni pikiran kedua anak kecil itu. Hanya orang jahat akan merusak pikiran anak-anak itu.


"Mama..." seru Arsy tak bisa tahan diri untuk tidak berlari ke arah Mawar. Anak itu memeluk Mawar saking rindunya.


"Sayang...apa kabar?" Mawar membalas pelukan Arsy tak kalah rindu.


"Mama kenapa lama datang? Datang juga tidak pulang ke rumah Arsy. Kenapa tinggal di rumah mas John?" Arsy todong Mawar dengan pertanyaan beruntun.


Mawar menelan ludah agak bingung jawab. Salah jawab malah menyakiti perasaan anak kecil. Mawar harus bijak menangani kejiwaan anak kecil.


John mendesah kurang suka Arsy mulai protes Mawar berada di rumah dia. Naga-naga kehilangan Mawar sudah terbang di depan mata. John tak rela guru terbaiknya diserobot anak kecil. Namun John tidak omong apa-apa biarkan kedua anak omnya lepaskan rindu pada Mawar.


"Iky? Tak mau peluk Mak bit?" tanya Mawar pada Rizky yang masih mematung. Ntah apa yang terlintas di benak anak itu sampai terbengong tidak hampiri Mawar.


"Isshhh kok Mak Bit lagi? Kan mama kita." protes Arsy tak paham keadaan.


Mawar tertawa kecil, "Maaf lupa! Ayok Iky sayang...sini!"


Mawar merentangkan tangan menyambut tubuh kecil Rizky. Lajang kecil bergerak dekati Mawar lalu tenggelam dalam pelukan Mawar berganti posisi dengan Arsy. Mawar mengelus kepala Rizky penuh rasa rindu. Kedua anak ini pernah jadi anaknya walau cuma dua Minggu. Mawar sudah cukup senang.


Bu Alya bisa lihat ketulusan Mawar pada cucunya. Gadis itu tetap sayang pada cucunya walau Riyan telah ceraikan dia. Tak ada yang berubah dalam diri Mawar. Dia tetap Mawar penuh cinta kasih.


"Gimana sekolahnya sayang?"


"Baik ma...kita pulang ke rumah ya! Iky teringat terus pada mama kenapa tidak datang-datang padahal janji cuma dua Minggu. Ini sudah berbulan." kata Rizky menggugat Mawar tidak tepat janji.


"Maafkan mama ya sayang! Mama ada sedikit pekerjaan. Ini sudah datang! Ayok kita duduk!" Mawar menggandeng Arsy dan Rizky ke ruang tamu.

__ADS_1


Mawar melepaskan Arsy dan Rizky begitu lihat sosok perempuan duduk anggun di sofa. Mawar menyalami mantan mertuanya itu. Mawar tidak berharap banyak selain penghormatan pada orang tua. Tidak menjadi isteri Riyan bukan berarti Mawar harus musuhi keluarga Riyan.


"Maaf Bu...sudah lama tunggu ya?"


"Ach tidak... anak-anak ingin jumpa kamu maka aku bawa mereka main di sini. Kau tidak terganggu bukan?"


"Kenapa terganggu? Mawar malah senang jumpa mereka. Mawar sangat rindu tapi tak berani ke sana. Mawar malah terima kasih ibu sudah antar mereka ke sini."


"Kamu diterima di rumah setiap saat. Pintu rumah terbuka untukmu. Datang saja!"


"Insyaallah kalau ada waktu. Mulai besok Mawar sudah bekerja di kantor mas Bagas. Jadi mungkin akan sibuk." sahut Mawar manis punya alasan tidak ke rumah Riyan. Rumah itu bawa kenangan buruk pada Mawar. Baru pertama kali masuk sudah beri kesan buruk. Bagaimana mungkin Mawar punya nyali datang ke situ lagi.


Bu Alya bukan tak tahu kalau Mawar hanya cari alasan untuk tidak injak rumah Riyan. Siapapun akan begitu bila kesan pertama dapat nilai jelek. Bu Alya tidak bisa salahkan Mawar.


John masih berdiri di sudut menanti kelanjutan kisah Mawar dan kedua anak Riyan. John jarang bergaul dengan kedua anak kecil itu jadi kurang kenal sifat kedua saudara sepupunya.


Mawar duduk di sofa diapit oleh kedua anak Riyan kiri kanan. Arsy bersandar manja pada Mawar seakan Mawar adalah mutlak miliknya. Rizky lebih kalem duduk manis di samping Mawar tidak manja.


"Gimana kak Ayumi? Apa dia sayang pada anak-anak?" tanya Mawar tak bisa lupakan kejahatan kakaknya. Tapi semua berpulang pada Riyan. Riyan pilih percaya pada Ayumi ya itu haknya.


Bu Alya menghela nafas ingat kejahatan Ayumi fitnah Mawar. Wanita itu sudah keterlaluan karang cerita berlebihan.


"Ayumi sudah pulang Aceh." kata Bu Alya dingin. Rasanya ingin hapus nama Ayumi dari ingatan. Nama itu bawa dampak sangat besar dalam hidup anaknya.


"Oh...pak Riyan juga ke sana?" tanya Mawar ringan seperti tidak pernah bermasalah dengan kedua orang itu.


"Ayumi telah diusir oleh Riyan. Ayumi ketahuan fitnah kamu bekerja sama dengan Husin cuci otak Riyan. Riyan langsung minta Husin bawa dia pulang ke Aceh."


Cerita Bu Alya membuat Mawar melongo. Dari awal Mawar sudah tahu ini semua ulah kakaknya. Kalau tidak tak mungkin Riyan turun tangan kejam kepada Mawar. Tapi semua telah berlalu. Mawar marah juga takkan kembalikan cerita semula.


"Mungkin ini sudah takdir kami. Biarlah semua berlalu Bu! Pak Riyan pasti akan dapat jodoh lebih baik dan setia. Kita doa bersama." ujar Mawar tak ingin mengulang kisah sedih dia dan Riyan. Yang telah terjadi jadi pelajaran saja.


"Kau mau maafkan Riyan?"


"Dari awal Mawar sudah maafkan pak Riyan! Tak ada guna simpan benci dalam hati. Itu tak bisa merubah yang telah terjadi. Tak usah cerita yang buruk. Ibu dan anak-anak makan di sini ya! Mawar akan siapkan makan malam." Mawar bangkit tinggalkan Bu Alya dan anak-anak.


Mawar sengaja menghindar ke belakang untuk menata hatinya agar tenang. Gimanapun Mawar sedikit terguncang dengar Ayumi bersekongkol dengan orang lain fitnah dia. Celakanya Riyan mudah terhasut oleh Ayumi. Ini pertanda dari awal Riyan tak percaya padanya. Riyan lebih percaya pada Ayumi. Mawar juga tak bisa berbuat apa-apa.


Mawar merasa tak ada guna menoleh ke belakang. Yang penting sekarang adalah Mawar menata hidupnya untuk hari depan. Mawar tak boleh meratapi nasibnya yang telah berantakan gara-gara kelicikan Ayumi dan kepicikan Riyan.


Mawar habiskan waktu di dapur untuk bantu Bik Tun masak untuk makan malam. Mawar ingin menjamu Bu Alya dan anak-anak makan bersama.


Mawar buang jauh harapan untuk kembali bersama Riyan. Mawar memang sudah memaafkan lelaki itu tetapi tidak akan merendahkan diri kembali kepada orang yang tidak menginginkannya. Lebih baik melajang seumur hidup daripada dipandang rendah oleh seorang lelaki.


Mawar tak tahu kalau di ruang depan sudah ramai karena Indy sudah pulang ditambah kehadiran Riyan datang menjemput mama dan anak-anak. Riyan sengaja datang untuk jumpa Mawar hendak minta maaf atas segalanya.

__ADS_1


Bik Tun bertugas hidangkan makanan sedang Mawar pergi mandi setelah memasak. Seluruh tubuh bau aroma bumbu dapur terutama bau bawang yang sudah dihilangkan.


Mawar tetap tampil dengan busana muslim dengan kerudung instan dari bahan karet. Di rumah lebih nyaman gunakan jilbab instan karena gampang dikenakan. Cuma kalau hendak keluar rumah barulah Mawar kenakan jilbab yang sedikit lebih ribet. Dipasang gunakan jarum pentul.


Mawar tertegun tatkala lihat lelaki yang pernah menjadi suaminya duduk bersama dengan keluarga Indy di ruang keluarga. Mereka nampaknya sangat gembira ngobrol dengan serunya.


Mawar ingin sekali pergi meninggalkan ruang ini tetapi merasa tidak sopan. Untuk saat ini Mawar belum siap berinteraksi dengan Riyan. Mau bicara pun terasa kaku jadi apa yang akan diobrolkan.


Mata Indy sangat jeli melihat bayangan Mawar segera melambai pada gadis ini agar ikut bergabung. Apa Indy tidak mengetahui bagaimana kacaunya perasaan mawar saat berjumpa dengan Riyan. Indy melambai berkali-kali minta agar Mawar segera merapat. Mau tak mau Mawar tebalkan perasaan menarik bibir membentuk seolah senyum tipis. Mawar harus pandai mengontrol perasaan agar tidak tampak bodoh di depan Riyan.


"Sudah pulang mbak! Sebentar lagi kita makan!" Mawar pura-pura tak lihat Riyan.


Riyan bukannya tak tahu kalau mantan istrinya itu enggan melihat wajahnya. Itu bukan salah Mawar sedikitpun melainkan hasil kebodohan Riyan sendiri.


"Kau sudah ke kantor Bagas?" tanya Indy tanpa peduli pada Riyan. Tampak sekali Indy ingin memanasi Riyan yang dia anggap laki tolol.


"Sudah mbak! Besok mulai kerja." sahut Mawar seraya duduk di samping Arsy. Arsy kontan nempel pada Mawar belum puas salurkan rasa rindu. Riyan menyaksikan tingkah anaknya dengan hati sesal. Andai dia punya otak waras mungkin sekarang dia laki paling bahagia. Punya isteri muda dan cantik luar dalam.


"John tak setuju kak Mawar kerja di kantor om Bagas. Itu nenek sihir belum apa-apa sudah bully kak Mawar." seru John besar suara langsung unjuk dia tak suka kakaknya dibully orang.


"Maksudmu Naura? Apa tujuannya?" Indy masih belum percaya Naura yang anggun tega bully anak baru.


"Cemburu pamornya direbut kakak aku. Pokoknya mama harus tekan nenek sihir tak boleh jahatin kak Mawar. Dan lagi aku mau magang di kantor om. Pulang sekolah aku langsung ke sana kawal kak Mawar." John menepuk dada mau jadi pelindung Mawar.


Ryan lagi menunduk malu tak bisa melindungi Mawar. Seorang anak kecil yang belum mengerti apa-apa telah menunjukkan sikap seorang ksatria melindungi gadis lemah. Riyan justru berbuat jahat kepada Mawar yang sangat baik.


"Tenang...mama akan beri les tambahan buat Naura. Mama setuju kamu langsung ke kantor om Bagas selepas sekolah. Di sana kamu bisa belajar lebih banyak. No problem. Besok mama yang akan antar kak Mawar kamu kerja di hari pertama." Indy sahut santai yakin bisa kunci mulut runcing Naura.


Yang iya Naura takut Mawar rebut Bagas dari tangannya. Satu kantor tahu kalau Naura tergila-gila pada Bagas. Sementara Bagas hanya anggap Naura rekan kerja. Naura tak cocok dijadikan ratu di rumah. Wanita itu terlalu tinggi untuk didudukkan sebagai ibu rumah tangga. Tidak ngerti apa-apa dalam hal mengurus keluarga.


"Dek Mawar bisa kerja di kantor aku kalau tak nyaman di tempat Bagas. Kebetulan di bagian bendahara kekurangan pegawai." nimbrung Riyan ingin berbaik hati memberi Mawar posisi di kantornya.


"Tak usah pak! Mawar akan coba dulu di kantor mas Bagas."


Dada Riyan terasa sesak Mawar memanggilnya dengan sebutan pak sedang pada Bagas ada panggilan manis yakni mas. Mawar telah bentang jurang pemisah antara mereka. Jelas ingin ungkap Mawar tak ingin berada di lingkungan Riyan.


"Iya coba dulu! Kalah tidak suka masih ada kantor aku! Kalian ngobrol dulu. Aku pergi mandi sebentar." Indy melirik Riyan tajam seperti mengancam adik sepupunya untuk tidak ganggu Mawar lagi.


"Aku juga mau mandi!" John berlari kencang naik ke wilayah jajahannya di lantai dua.


Kini tinggal keluarga inti Riyan. Kalau Riyan dan Mawar tidak bercerai sudah pas satu keluarga duduk bersama. Sayang Mawar hanya mantan.


Suasana agak canggung sepeninggal Indy dan John. Mawar enggan buka mulut karena tak ingin bahas apapun dengan Riyan.


"Ayok anak-anak kita ke belakang cuci tangan sebelum makan. Bukankah tadi kalian main di taman?" Bu Alya sengaja ajak kedua cucunya berlalu dari hadapan Mawar. Bu Alya ingin beri kesempatan pada Riyan mengaku dosa pada mantan isterinya.

__ADS_1


Bu Alya sangat berharap Mawar mau memaafkan Riyan dan kembali bersatu. Anak-anak Riyan memerlukan mawar untuk mendapat kasih sayang seorang ibu. Mawar adalah wanita yang cocok buat anak-anak Riyan.


__ADS_2