
Bagas sebenarnya kesal pada Riyan terbawa emosi usir seorang wanita lembut. Harusnya Riyan kaji dulu laporan Ayumi tentang Mawar. Tanpa pikir panjang dia talak wanita muda yang tampak lemah.
Mobil Bagas melaju meninggalkan rumah Riyan. Baru beberapa puluh meter ban mobil Bagas bergulir mata laki ini menangkap sosok ringkih terduduk dipinggir jalan dengan koper masih di samping. Wajahnya pucat pasi seperti menahan sakit. Tangan gadis itu memegang perut dalam posisi badan terbungkuk.
Bagas segera pinggirkan mobil ke tepi jalan. Laki ini keluar dari mobil hampiri Mawar yang duduk tak berdaya menahan sakit perut.
"Mawar?" Bagas menangkap tubuh Mawar yang terkulai begitu lihat Bagas. Gadis ini jatuh pingsan di pinggir jalan. Untunglah Bahas datang tepat waktu. Kalau tak jumpa Bagas ntah bagaimana nasib Mawar.
Tanpa pikir panjang Bagas bolong Mawar masuk ke dalam mobil. Setelah itu Bagas masukkan koper Mawar ke belakang bagasi mobil. Laki ini larikan mobil ke rumah sakit beri pertolongan pada Mawar. Bagas yakin Mawar tidak sedang bersandiwara.
Muka gadis ini pucat pasi. Bibirnya juga tidak dialiri darah membiru. Kalau ini tak mungkin direkayasa. Seluruh tubuh Mawar juga dingin.
Bagas bawa Mawar ke rumah sakit terdekat untuk cari tahu penyebab cewek ini jatuh pingsan. Mawar segera ditangani oleh dokter di IGD.
Anak gadis itu diinfus agar mendapat pertolongan pertama. Beberapa macam obat dialirkan melalui selang infus karena gadis itu tak sadar diri tak bisa minum obat.
Mawar dibiarkan istirahat sebentar sampai obat bekerja dengan sempurna.
Bagas hampiri dokter yang tangani Mawar mau tahu wanita itu sakit apa. Stress ditalak Riyan atau ada penyebab lain.
Dokter perempuan itu tersenyum tatkala Bagas berinisiatif tanya penyakit Mawar. Kasihan gadis ini bila menderita satu penyakit kronis.
Bagas duduk di hadapan dokter itu menanti penjelasan sang dokter bertampang ramah itu.
"Apa penyakitnya berbahaya dok?"
"Tidak berbahaya tapi akan berulang setiap bulan sampai dia menikah nanti. Sakit perut berlebihan itu sering terjadi pada anak gadis yang menstruasi. Seiring dia menikah nanti rasa sakit itu akan hilang. Maaf bahasa kasarnya selaput darah nona ini mungkin terlalu kecil lubangnya maka mens nya terhambat keluar. Biasa sudah menikah nanti rasa sakit akan perlahan berkurang."
Bagas terpana dengar Mawar masih anak gadis. Artinya anak ini belum sempat bermalam pengantin dengan Riyan. Apes banget Riyan tak bisa rasakan gadis tulen. Belum apa-apa sudah ditalak.
Bagas tertawa dalam hati Riyan telah mengantar seorang gadis baik padanya. Dia tak perlu pasang kamera pemantau cari calon isteri lagi. Riyan telah berbaik hati antar Mawar padanya.
"Ini tidak berbahaya kan dok?"
"Tidak cuma kasihan penderita rasa sakit. Ini namanya dysmenorrhea. Kelak dia akan hilang sendiri."
"Semoga begitu! Apa perlu dirawat inap?"
"Oh tidak perlu! Nanti setelah sadar boleh pulang kok. Aku akan memberi obat. Kalau sakitnya masih berlanjut kita harus periksa lebih intensif. Untuk sekarang cukup bantuan obat saja!"
"Terima kasih dok!"
"Itu sudah tugas kami. Oya...kalau dia pacarmu kusarankan cepat nikahi agar deritanya cepat berlalu."
"Segera Bu dokter!"
Sang dokter tertawa acung jempol pada janji Bagas. Dokter ini tak tahu kalau gadis ini baru saja menyandang gelar janda tapi masih perawan suci. Berkah bagi Bagas jumpa Mawar.
Bagas sengaja tak mau kabari Riyan soal Mawar biar laki itu makan tuh Ayumi si pendusta. Bagas akan bawa Mawar jauh dari Riyan.
Satu jam kemudian Mawar sadar terheran mengapa dia ada di rumah sakit. Gadis ini segera bangkit dari brankar rumah sakit cari tahu siapa bawa dia ke rumah sakit. Samar-samar Mawar ingat lihat bayangan besar hampiri dia lalu semua jadi hitam.
Bagas melihat Mawar siuman segera hampiri si gadis. Mata Mawar menangkap sosok yang ada di rumah Riyan berada di depan mata.
"Sudah sadar?" tanya Bagas tersenyum kecil agar Mawar tidak terbebani.
"Bapak yang antar aku ke sini? Terima kasih pak!"
Bagas goyang tangan tidak terima ucapan terimakasih kasih gadis ini. Kalaupun orang itu bukan Mawar Bagas tetap akan ulurkan tangan antar ke rumah sakit. Pas pula orang itu Mawar mantan isteri saudara Bagas.
"Kau sudah enakan?"
"Sudah pak!"
__ADS_1
"Apa aku banyak uban di kepala?" Bagas menundukkan kepala ke muka Mawar supaya gadis itu melihat berapa banyak rambut putih di kepala.
"Tidak ada ubannya Pak! Ada apa?" tanya Mawar dengan lugunya.
"Tak ada uban kok dipanggil bapak! Panggil mas saja ya! Mas Bagas.. Ok?"
"Tapi aku..."
"Aku apa? Perutnya masih sakit?" Bagas melirik ke arah perut Mawar secara sengaja biar gadis ini tahu Bagas ngerti masalah penyakitnya.
Mawar malu-malu kucing Bagas tahu apa penyebab dia sakit perut. Sebagai wanita ini merupakan keharusan setiap bulan yang tak dapat dihindari kecuali sedang hamil. Menstruasi akan berhenti sampai lahiran.
"Maaf merepotkan! Aku akan bayar biaya rumah sakit pak eh maksudku mas Bagas."
"Anak baik...gitu dong panggil mas biar tidak tampak bau tanah. Soal biaya tak perlu bayar lagi. Itu tak seberapa. Sekarang kau mau nginap di mana? Apa punya saudara di Kota ini?"
Mawar menggeleng kuat. Sebenarnya Mawar juga bingung cari tempat tinggal untuk sementara. Pulang kampung hanya bikin malu keluarga. Baru dua minggu dinikahi sudah dicerai. Mawar bukan Dahlia si muka tembok. Mawar punya rasa malu.
"Mas bantu cari hotel ya! Aku akan nginap sambil cari kost."
"Itu gampang! Kau bisa tinggal di rumah aku!"
"Tidak terima kasih mas! Aku tak mau merepotkan mas dan juga bikin bang Riyan salah sangka. Walau kami sudah cerai aku masih harus jaga nama baik bang Riyan. Aku cari hotel kecil saja!"
"Nanti kita pikir bersama. Ayok kita pergi kalau kau sudah sehat. Ini bukan tempat asyik buat ngobrol. Kita cari tempat lain untuk bicara ya!"
"Terima kasih mas! Aku tak ingin merepotkan mas dengan beban aku." Mawar turun dari brankar dibantu oleh Bagas. Mawar agak jengah disentuh lelaki bukan muhrim. Mawar tetap harus jaga nama baik Riyan karena mereka belum bercerai secara hukum.
Bagas menebus obat untuk Mawar lalu lunaskan semua biaya perawatan Mawar. Lelaki ini tidak tega lihat gadis secantik Mawar terlantar akibat suami menggila. Tiada badai tiada angin talak Mawar.
Bagas dan Mawar meninggalkan rumah sakit menuju ke mobil Bagas. Bagas dengan senang hati bantu Mawar walau gadis ini cacat di mata Riyan. Sejauh ini Bagas tak temukan titik noda Mawar. Setan mana bisikin Riyan berbuat kejam pada Mawar.
Keduanya berada dalam mobil tanpa tujuan pasti. Bagas tak tahu harus antar Mawar ke mana. Antar ke hotel Bahas makin kuatir. Seorang gadis muda nginap sendirian di hotel kecil biasa akan bawa dampak negatif. Orang pasti berpikiran buruk pada cewek nginap di hotel melati.
"Kita ke rumah aku ya! Di sana ada mamaku. Dan aku jarang di rumah karena tinggal dekat kantor. Kau bisa temani mama aku." ujar Bagas melirik gadis ini dari samping.
"Kau seorang diri di sini. Aku mana mungkin biarkan kamu keliaran sendiri tanpa saudara. Atau kau tinggal bersama kakak aku. Dia itu janda beranak satu. Dia tinggal berdua dengan anaknya. Mantan suaminya orang bule tak mau diajak pulang Indonesia sedangkan mbak Indy pilih pisah baik-baik. Lucunya mereka masih sering saling kontak beri kabar. Gimana?"
Mawar tampak ragu untuk beri jawaban. Niat Bagas memang baik cuma Mawar segan berurusan dengan keluarga mantan suami. Nanti dipikir Mawar cari kesempatan curi perhatian Riyan lagi.
"Aku pilih kost saja!"
"Kalau gitu kost di rumah mbak Indy! Jamin suka. Ok kita ke kantor mbak Indy dulu ya! Jam gini mbak masih di kantor."
"Memangnya mbak Indy apa kerjanya?"
"Dia itu eksportir perabotan dari bahan kayu jati. Pelanggannya manca negara."
Mawar angguk-angguk salut pada kehebatan kakak Bagas. Bisa berkiprah di luar negeri bukan hal gampang. Harus punya jaringan luas baru bisa tembus pasaran luar negeri.
"Aku tak bisa bayar banyak. Aku juga harus cari kerja agar ada pemasukan."
"Kau sarjana?"
"Iya lulusan UGM fakultas MIPA departemen matematika."
"Wow..hebat! Jadi di kampung sana kerjanya apa?"
"Jadi guru kontrak." sahut Mawar malu-malu kucing.
"Gimana kalau aku tawar kerja di kantor aku? Aku butuh seorang sekretaris bisa bantu aku hitung menghitung."
"Memangnya sekretaris mas di mana?"
__ADS_1
"Ada...tapi kau bisa jadi asisten aku bantu tangani semua catatan kerja aku!"
"Aku merebut kerja orang dong!"
"Tidak... sekretaris aku tetap kerja seperti biasa dan kamu kerjakan bagian kamu. Kau bawa ijazah kamu?"
"Bawa mas!"
"Bagus...sudah dapat tempat tinggal dan dapat kerja. Beres toh!" Jawab Bagas ringan seakan dia yang paling berhak atur hidup Mawar. Bagas tak butuh jawaban Mawar nyatakan iya apa tidak. Bagas anggap saja Mawar setuju semua rancangan dia pada Mawar.
Mobil melaju menembus kemacetan kota yang tak pernah usai. Makin dibuat jalan lebar makin hebat macetnya terutama jam kantor.
Mawar tak tahu harus bagaimana menolak niat baik Bagas. Mawar bukannya tak tahu terima kasih tapi tak enak pada Riyan. Mereka baru saja pisah kini Mawar sudah dekat dengan saudara Riyan. Gelar perempuan ****** akan tersemat di namanya.
"Mas...kurasa ini bukan ide bagus! Nanti bang Riyan akan pikir aku goda mas."
"Terserah dia mau pikir apa! Yang penting kita jujur tidak macam-macam." Bagas membelokkan mobil ke satu kantor tidak terlalu besar. Hanya dia pintu ruko tiga tingkat. Depan ruko terpapang besar papan nama perusahaan kakak Bagas yakni Jaya Furniture.
Bagas memarkirkan mobil persis di depan ruko berlantai tiga itu. Laki itu turun dari mobil berdiri di pinggir pintu mobil menunggu Mawar turun dari mobil.
Kaki Mawar terasa berat untuk turun. Kakak Bagas bisa saja salah sangka pikir Mawar gunakan Bahasa cari keuntungan pribadi. Belum lama lepas dari Riyan sudah nempel pada Bagas. Mawar bukan perempuan aji mumpung.
Bagas memutar membuka pintu mobil buat Mawar agar turun. Laki ini persilahkan Mawar turun layak cowok gentle undang kekasih turun dari mobil.
Mawar makin jengah diusilin oleh Bagas. Sifat Bagas dan Riyan hampir sama yakni peramah. Cuma ntah kenapa Riyan mendadak berubah jadi setan hakimi Mawar tanpa dakwaan. Mawar sendiri tak tahu apa salahnya.
"Ayok Mawar! Busungkan dada kalau mau maju!"
"Iya mas!"
Bagas tersenyum beri Mawar semangat agar tidak terpengaruh oleh kebodohan Riyan. Gadis secantik Mawar dijatuhi talak merupakan perbuatan paling bodoh.
Bagas tak sempat ingat kebodohan Riyan lagi. Dia harus kenalkan Mawar pada kakaknya. Semoga Indy siap bangun mental Mawar yang sekarang pasti remuk.
Keduanya naik ke lantai tiga tanpa lift. Mereka nain tangga manual sampai ke lantai atas di mana kakaknya berkantor. Bagas sedikit ngos-ngosan sedang Mawar masih tenang. Tak ada tampak kelelahan di wajah gadis ini selain agak suram.
Bagas mengetok salah satu pintu dari kaca tebal. Bagas beri senyum pada Mawar agar jangan gugup. Laki ini mana berani berbuat lancang pada gadis berhijab ini. Busana tertutup tak beri kesempatan mata nakal cowok intip isi dalam di balik busana muslim itu.
"Masuk!" terdengar jawaban dari dalam.
Bagas mendorong pintu menyembul setengah badan ke ruang kerja Indy.
"Ganggu?"
"Kalau kubilang ganggu kau mau pergi?"
Mawar mendengar suara bernada kocak dari dalam. Orangnya pasti supel baru punya nada bicara periang.
Bagas pindah seluruh badan ke dalam ruang sekalian beri kode pada Mawar ikut masuk. Dengan ragu-ragu Mawar ikut jejak Bagas masuk ke dalam.
Seorang wanita bertampang cantik dengan make up lumayan kental melongo lihat Bagas bawa seorang cewek muda nan cantik. Siapa gadis bertampang bule lokal ini.
"Mbak...kenalkan ini Mawar!"
Indy berdiri tegak begitu dengar nama Mawar. Bukankah adik sepupunya baru saja menikah seorang gadis bernama Mawar juga. Apa nama Mawar sedang ngetren di mana-mana terdengar nama itu.
"Saya Mawar mbak!" Mawar merapatkan kedua tangan di dada sebagai tanda salam pada Indy.
"Oh iya ..ayo duduk! Angin apa bawa kalian ke sini?" Indy kembali duduk di belakang meja masih perhatikan wajah Mawar yang secantik namanya.
"Gini lho mbak! Mawar mau cari kost maka aku rekom dia kost di rumah mbak." Bagas jelaskan maksud kedatangan mereka.
"Rumah aku buka kostan? Kayaknya nggak deh!" Indy belum ngerti pangkal cerita kontan tolak terima Mawar kost di rumahnya. Indy orangnya supel mana mau direpotkan orang lain numpang tinggal di rumahnya.
__ADS_1
"Mbak...Mawar baru datang dari kampung. Dia kuterima kerja di kantor aku. Tinggal cari tempat tinggal. Anak mbak kan sering kesepian ditinggal mbak. Mawar bisa dijadikan teman. Mawar ini anak baik kok!" Bagas lontarkan tatapan mengancam kalau Indy berani tolak lagi.
Indy bisa baca kekesalan Bagas padanya.