
Joko setuju dengan niat Mawar tidak lama di kampung. Joko tidak keberatan asal Mawar senang. Masa pengantin semua manis. Buah pare yang pahit bila disuguhkan kepada pasangan pengantin baru pasti bilang manis rasanya. Inilah yang dinamakan the power of love.
Pesawat Joko sudah stand by untuk mengangkut keluarga Mawar kembali ke kampung. Pesawat superjet Joko cukup mewah dilihat dari luar walaupun tidak sebesar pesawat komersial yang mengangkut lebih banyak penumpang.
Joko segera mengatur keluarga istrinya untuk segera naik ke dalam pesawat dan tinggal landas menuju ke kampung. Mereka telah dijadwalkan terbang jam sekian maka harus dipatuhi karena landasan bukan hanya milik mereka.
Mawar dan Joko kembali ke rumah setelah keluarganya berangkat. Mawar bisa bayangkan betapa pusingnya pak Hari dengar omelan Bu Tiara mengenai pernikahan Ayumi dan tentang perhiasan yang terlewat kan. Di dunia ini masih ada manusia demikian picik.
Sepanjang jalan menuju ke rumah diwarnai aksi tapa bisu. Mawar masih memikirkan nasib ayahnya. Sungguh kasihan ayahnya mendapat istri yang tidak mempunyai perasaan. Tapi itu semua permintaan tubuh ayahnya sendiri. Menikahi mantan pacarnya dengan alasan ibunya Mawar tidak bisa memberinya anak. Padahal pak Hari putus dengan mutiara gara-gara tidak tahan dengan sikapnya yang terlalu angkuh dan dominan. Sudah tahu penyakit masih juga dicari, sekarang rasakan sendiri bagaimana jahatnya kuman penyakit yang telah menggerogoti seluruh tubuh Pak Hari.
"Kok melamun sayang?" Joko memecahkan kebisuan. Joko yang baru saja menemukan kebahagiaan tidak tahan bertapa bisu.
"Aku memikirkan ayah! Ayah pasti sedang dilanda kebingungan menghadapi tuntutan Bu Tiara."
"Sayang...ayah dan Bu Tiara sudah hidup puluhan tahun. Ayahmu pasti sudah menghafal sifat ibumu itu jadi tidak ada yang perlu kamu pikirkan."
"Kadang kulihat di mata Ayah mengandung kesedihan tetapi beliau tidak pernah mengungkapnya karena menyesal telah menikah dengan Bu Tiara. Ayah pernah dimusuhi seluruh kerabat di kampung karena menikahi Bu Tiara."
"Sayang... mereka sudah berumur. Baik buruknya bu Tiara sudah menjadi bagian dari hidup Ayah kamu. Kamu tidak perlu terlalu memikirkan hal itu. Percayalah suatu saat semuanya akan menjadi lebih baik!"
Mawar berusaha percaya omongan Joko. Semoga apa yang dikatakan Joko akan jadi kebenaran.
"Terima kasih Hubby!"
"Kau ingin pergi jalan?"
"Tak usah. Sebentar lagi Biven pulang! Aku harus siapkan makan siang untuknya. Aku ini kan mami Biven."
"Ok...isteri tersayang. Kita pulang. Jatah untuk papinya ada kan?" olok Joko menjurus ke arah pikiran nakal.
Tangan Mawar terulur ke pinggang Joko. Laki itu dapat bonus cubitan kecil di pinggang membuatnya bergelinjang.
"Wah makin tak sabar mau pulang! Ada sesuatu tak sabar ingin lepas landas."
Mawar paham gurauan Joko ketingkat 21 tahun ke atas. Biasa. Pengantin baru otaknya kesitu melulu. Kalau bisa seharian penuh berada dalam kamar. Joko akan rajin tanam benih agar tumbuh Joko junior.
Esoknya Joko mulai masuk kantor seperti biasa. Tak ada tanda-tanda Joko baru saja menikah lagi. Duda karatan tidak jaman lagi sok anak muda cuti sampai sebulan hanya untuk menikah.
Semua berjalan normal tidak ada yang diistimewakan. Cuma sekarang di rumah ada yang menunggu Joko pulang kerja. Sudah ada teman di kala sepi menyergap di malam hari.
Joko harus menyelesaikan tugas sebelum ke Aceh. Joko benar-benar fokus bekerja untuk bisa tinggalkan kantor dengan tenang.
Di tengah keasyikan Joko bekerja pintu ruang kerjanya diketok dari luar. Siapa lagi yang datang kalau bukan Anwar. Setiap orang yang ingin masuk ke ruangan Joko tetap harus ada izin dari Anwar.
"Masuk!"
Tepat pikiran Joko, asistennya masuk bersama dengan seorang lelaki yang sangat dikenal Joko.
Kini Joko tak anggap Riyan sebagai rival lagi karena dia telah mendapat apa yang dia inginkan.
"Riyan? Tumben?" Joko perlihatkan sambutan baik. Joko sengaja menyambut Riyan dengan baik karena lelaki itu tidak mengusiknya selama menjalani pernikahan dengan Mawar.
"Maaf aku lancang datang ke kantormu!"
__ADS_1
"Ach tidak. Ayok duduk! Ada yang bisa kubantu?"
Riyan tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Joko. Riyan merasa sudah tidak ada guna memusuhi Joko karena lelaki itu telah memenangkan hati Mawar. Riyan cuma tetap menyesal telah lewatkan gadis sebaik Mawar.
Joko pindah dari kursi ikut duduk dekat Riyan di sofa kulit. Riyan berusaha tenang walau tak bisa sembunyikan rasa kecewa.
"Selamat ya atas pernikahan kamu!" Riyan menyalami Joko.
"Terima kasih."
Anwar segera meninggalkan kedua lelaki itu setelah lihat semua kondusif. Semula awal takut Riyan datang membuat keributan di kantor. Ternyata itu hanya dugaan kosong Anwar terbukti Riyan datang dengan baik-baik.
"Ada rencana pesta?"
"Ada...Mak Tuo Mawar minta pesta di kampung Mawar. Kau bisa datang?"
"Apa aku masih punya muka datang ke kampung Mawar? Aku telah membawa duka di dalam hati Mawar. Kuharap kau bisa menyayangi Mawar sepenuh hati. Aku bodoh telah lewatkan seorang wanita baik. Perlakukan dia dengan baik karena Mawar adalah seorang wanita mulia."
"Aku akan mengingatnya. Terima kasih atas perhatian kamu kepada kami. Mawar sudah minta ijin padaku untuk biarkan anak-anak kamu datang ke rumah. Aku persilahkan mereka datang setiap saat."
"Terima kasih Joko! Aku datang ke sini tanpa berniat jahat. Kalau kamu pulang ke kampung Mawar berhati-hatilah dengan kedua saudara Mawar dan ibu tirinya. Mereka orang licik yang menghalalkan segala cara untuk menghancurkan hidup Mawar. Aku pernah terperdaya maka aku ingatkan kamu."
Joko berterima kasih pada kebesaran jiwa Riyan. Lelaki itu tak malu akui kesalahan.
"Percayalah! Aku akan menjaga Mawar dengan sepenuh hati. Soal kelakuan keluarga Mawar aku sudah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Aku akan ingat apa yang kamu katakan."
Riyan manggut dengan hati hancur. Namun Riyan adalah seorang lelaki ksatria pantang patah semangat walaupun ditinggal nikah oleh Mawar.
"Baiklah! Aku harus segera ke kantor dan ke tempat Mbak Indy karena untuk sementara ini aku yang kelola kantor itu." Riyan merasa tak ada keperluan di kantor Joko lagi. Apa yang perlu dia sampaikan telah disampaikan. Kini hanya tersisa doa untuk Mawar hidup bahagia selamanya.
Sebulan kemudian Joko membawa Mawar, Bivendra dan Anwar terbang ke kampung halaman Mawar untuk laksanakan resepsi pernikahan mereka.
Mawar dan Joko tak tahu bagaimana resepsi mereka karena percaya sepenuhnya pada Bu Hanif. Mawar tidak terlalu memikirkan seberapa hebat acara nikahnya. Bagi Mawar yang penting sah di mata Allah dan hukum.
Mawar cs dijemput oleh anak pak Hanif yang lelaki si Muji. Muji bangga bukan main punya adik ipar kaya raya. Pestanya saja hampir satu kecamatan kena undangan. Semua teman Mawar turut diundang jadi saksi kebahagiaan Mawar.
Mawar pilih pulang ke gubuk deritanya sebelum jalani prosesi adat yang ribet. Mawar juga mau perlihatkan pada Joko tempat tinggalnya selama bertahun-tahun. Hanya rumah kecil tanpa banyak fasilitas.
Bivendra melongo lihat rumah mungil Mawar. Anak itu terbiasa tinggal di kamar super luas dan mewah. Kini disuguhkan rumah mungil bikin anak ini bertanya apa ini rumah atau mainan boneka.
Lama sekali Bivendra melongo. Joko lebih paham keadaan langsung mencolek anaknya masuk ke rumah kecil itu.
"Assalamualaikum!" sapa Mawar menginjak kaki ke dalam rumah. Ada rasa haru bisa kembali ke rumah tempat dia dibesarkan. Sejuta kenangan terpahat di rumah ini. Suka maupun duka telah bercampur di dalam rumah ini.
"Waalaikumsalam.." Mawar menyahut setelah berada di dalam.
Bivendra masih meneliti sekeliling rumah maminya. Anak ini takjub kalau mami yang dia kagumi tinggal di rumah sekecil ini. Kamar mandi Bivendra di rumah mungkin hampir seluas rumah Mawar.
"Sayang...heran ya rumah mami cuma seupil?"
Bivendra mengangguk jujur.
"Ini gubuk derita mami kamu. Kita harus bersyukur pada Tuhan telah beri Endra mami baik walau tinggal di tempat sederhana." Joko memberi pengertian kepada anaknya untuk memahami kesederhanaan Mawar.
__ADS_1
"Iya papi betul! Nanti malam kita tidur di sini." ujar Bivendra yakin untuk coba menetap di tempat mungil ini.
"Nah itu baru anak papi. Ayo bawa koper kamu ke kamar!" perintah Joko pada anaknya.
"Jangan! Biar mami saja. Endra boleh pergi main di rumah nenek. Di sana ada Salsabila dan Sryn."
Bivendra menggeleng masih segan bergaul karena tak kenal. Disuruh pergi langsung gabung betapa canggung.
"Endra tak kenal mereka kok!"
"Nanti mami antar ke sana! Di sana lagi rame. Endra bisa lihat orang pada sibuk. Oya hubby! Anwar mau nginap di mana?"
Joko hampir melupakan asisten setianya. Dari tadi bayangan orang itu tak tampak. Apa mungkin Anwar tertinggal di bandara?
"Ntah ke mana orang itu? Biar kucari dia."
"Biar aku hubby! Hubby kan belum kenal daerah ini. Nanti malah nyasar ke rumah janda kembang. Sini banyak janda bahenol lho!" gurau Mawar ditanggapi tawa derai Joko. Ada kemajuan Mawar tunjukkan sedikit rasa cemburu.
Joko kira hati Mawar tak terisi oleh nama Joko. Mereka menikah karena Bivendra. Gurauan ini membangkitkan rasa bahagia di hati Joko.
"Pas lagi mau pesta. Sekalian saja pasang dia cewek lagi. Eh ngak deh! Tiga biar kiri kanan berdiri dua cewek. Aku jadi raja maha hebat punya banyak bini." kata Joko ikuti canda Mawar.
Bivendra memeluk tangan kontan marah pada Joko yang pingin poligami secara dadakan. Bivendra takkan maafkan Joko bila berani duakan Mawar. Bivendra mau jadi malaikat pelindung Mawar.
"Papi berani? Percayalah! Endra bawa kabur Mami berikan mami pada papinya Arsy. Mami ini kan milik Endra. Endra yang atur jalan mami."
Joko surprise anaknya lebih pilih Mawar ketimbang dirinya yang merupakan ayah kandung.
"Hei...apaan kamu? Buang pikiran buruk kamu! Mami kamu hanya punya papi. Anak kecil sok tahu."
"Papi pikir Endra masih kecil? Endra sudah kelas empat lho! Sudah dewasa. Sudah bisa lindungi mami Endra." Bivendra menantang Joko demi menjaga maminya.
Mawar tertawa kecil lihat keduanya berseteru karena dia. Mawar tahu ini bukan hal sesungguhnya. Namun cara Bivendra lindungi dia buat hati Mawar meleleh.
"Sudah...jangan ribut! Mami harus cari Om Anwar! Nanti dia pula diculik janda. Papi bakal kehilangan asisten jempolan. Ayo Biven ikut mami!" Mawar mengajak Bivendra meninggalkan Joko sendirian di rumah.
Bivendra tentu saja dengan senang hati ikut sang mami lihat lingkungan barunya. Bisa kenalan dengan teman baru juga tahu kehidupan sederhana orang kampung.
Tinggallah Joko sendirian di rumah Mawar. Dari sini Joko bisa melihat kalau Mawar hidup sangat sederhana. Tak ada barang mewah di rumah itu. Semuanya serba pas-pasan.
Di ruang tamu yang mungil terpajang foto Mawar semasa kecil dengan kedua orang tuanya. Ternyata dari kecil Mawar sudah cantik. Matanya warna kelabu warisan dari sang ibu.
Mawar cantik bukan hasil oplasan. Asli pemberian Tuhan. Tuhan itu maha adil, di balik kesengsaraan Mawar diberi kelebihan yakni wajah rupawan dan akhlak bernilai plus.
Joko makin yakin takkan keluar dari rel. Jika berbuat sering resikonya kehilangan Mawar bahkan juga Bivendra.
Umur Joko juga jauh lebih tua dari Mawar. Mawar masih segar dan muda. Mudah baginya cari ganti Joko. Bahaya lain adalah Riyan siap menikung Joko.
Mawar mencari Anwar di rumah pak Tuo Hanif. Mawar menduga asisten Joko itu berada di rumah pak tuo nya yang ramai oleh tetangga membantu Bu Hanif persiapkan pesta. Hari ini diadakan Meuduk Pakat yang artinya duduk Pakat kampung. Seluruh sanak keluarga dan teman-teman diundang berpakat rencana nikah Joko dan Mawar.
Di acara ini tamu akan bawa gula bagi lelaki sedangkan kue bagi perempuan. Tamu akan disuguhi kue dan minuman kopi dan teh sesuai selera. Biasa acara dimulai pukul empat sore hingga malam.
Di rumah Bu Hanif sudah ramai oleh saudara dari sebelah pak Hanif dan Bu Hanif serta para tetangga. Mereka datang membantu secara suka rela. Saling membahu sukseskan pesta besar ukuran kampung.
__ADS_1
Pak Hanif sediakan lima ekor kerbau dan dua puluh ekor kambing untuk sembelih. Belum lagi ayam potong untuk digoreng jadi menu buat mereka yang tak suka pedas. Gulai Aceh terkenal rasa pedasnya maka harus sediakan juga makanan non pedas bagi yang tak mampu adaptasi dengan cabe.