
Lama Mawar menanti akhirnya si lajang turun dari atas dengan pakaian rumahan. Anak ini tampak dah lebih segar dan ganteng. John adalah paduan antara bule dan lokal sehingga wajahnya sangat ganteng diwarnai mata hampir mirip dengan mata mawar dan kulit putih bersih.
"Ok siap cantik...masak apa hari ini? Jangan katakan ayam goreng ataupun daging-daging merah yang membosankan itu!" ujar John merasa sudah sangat muak masih makan menu full daging merah.
Mawar tersenyum menenangkan lajang ini bahwa masakan ini sangat sederhana tapi lezat. Mawar telah meminta panggang ikan dengan bumbu kelapa giling serta daun rempah-rempah wangi. Ini ikan panggang ciri khas Aceh selain gulai asam pedas dan mie Aceh yang terkenal lezat.
"Ayo kita makan! Kau pasti suka." Mawar mengajak John ke ruang makan. Si lajang ikut dari belakang penasaran dengan lauk yang disediakan oleh Mawar. Kini John lebih senang berada di rumah ketimbang harus keliaran bersama teman-teman di jalanan.
Di meja tersedia acar timun dan ikan nila dibakar dengan bumbu pedas warna kuning keemasan. Ada sedikit hitam karena dibakar di atas api. Baunya harum menggugah selera. Mawar juga sediakan sop ikan karang dimasak dengan beberapa jenis rempah. Bawang goreng dan daun sop menambah keharuman masakan dari kampung Mawar.
John angguk-angguk senang dapat menu baru dari biasanya yang kebanyakan didominasi oleh ayam dan daging-daging merah. Kini Mawar mengganti menu John dengan ikan yang lebih menyehatkan.
Mawar mengambilkan nasi untuk John baru isi piring sendiri dengan nasi. Semua tingkah Mawar tercatat dalam benak John. Gadis ini adalah gadis yang telah dipersiapkan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik.
Siapapun yang mendapatkan mawar sebagai istri adalah karunia tidak terhingga. Andai John seumuran dengan Mawar tentu akan berlomba merebut cinta gadis ini. Cuma sayang John masih seorang anak kecil yang belum boleh mengenal cinta antara laki dan perempuan.
"Woi kok melamun! Ayok makan!" Kata Mawar kagetkan anak lajang itu.
"Eh iya...tunggu! Aku mau berbagi moments makan ikan bakar enak."
John keluarkan ponsel merekam kegiatan dia makan siang dengan celoteh khas anak muda yang lucu menggelitik perut.
"Hy guys... siang ini aku mendapat jatah makan siang luar biasa. Menu ini disediakan oleh kakak aku yang cantiknya kayak bidadari. Kalau di antara kalian ada yang tertarik pada kakak aku silakan chatting. Jamin akan dipungut biaya. Ini kakak aku yang cantik jelita." John arahkan layar ponsel ke arah wajah Mawar yang agak malu dilibatkan dalam pergaulan kalangan remaja. Mawar mana kenal medsos posting semua kegiatan orang yang suka berbagi di media. Ponsel Mawar cuma ada aplikasi wa untuk chatting dan telepon. Segala medsos atau yang lain dia tak punya. Gadis model Mawar apa yang mau dipamerkan?
John makan sambil celoteh. Setiap gerakan John isyaratkan dia menyukai masakan ala Mawar. Mawar tak tahu itu hanya untuk membuat konten atau memang anak lajang itu menyukai masakan orang kampung. Yang penting John makan dengan penuh selera.
Di sela-sela kedua orang ini sedang makan tiba-tiba muncul sosok lain datang hampiri meja makan. Orang ini tidak malu-malu ikut numpang duduk di atas kursi meja makan. Mata orang ini jelalatan periksa menu di atas meja. Mata itu mau lihat apa ada makanan yang sesuai dengan seleranya.
Mawar beri senyum pada Bagas perlihatkan dua lesung pipi di wajahnya. Ini yang bikin Bagas gemas pada gadis ini. Sudah cantik memiliki segala kelebihan lagi cuma sayang nasibnya kurang cantik.
"Mas Bagas...tumben masuk tak bersuara?" tanya Mawar pelan.
"Om Bagas kan sebangsa demit. Datang tak diundang pergi tak diantar. Ngapain datang siang gini? Kantor masih ada segudang pekerjaan. Ayo balik sono!" John terganggu oleh kehadiran adik mamanya itu.
Bagas tak open mulut si lajang yang belum kena sambel pedas. Bagas malas ladeni John bertengkar siang ini. Dia datang numpang makan sekalian mau ajak Mawar ke kantor lihat lingkungan kerjanya.
"Ambilkan piring ya Mawar!" pinta Bagas menatap lurus tembus ke bola mata Mawar. Bagas sengaja buat begini untuk menarik perhatian Mawar. Gadis pemalu seperti Mawar tak perlu ditunggu gerakan curi perhatian cowok. Mawar lebih suka sembunyi dalam rasa malu.
Tepat dugaan Bagas, gadis itu menunduk dengan pipi bersemu merah. Bagas menikmati moments gadis muda malu-malu kucing yang mulai langka. Cewek kini ada yang lebih berani dari cowok. Menggoda cowok asal suka.
"Dasar kucing liar! Datang ke rumah orang minta makan lalu curi harta tuan rumah. Maunya ku bantai kucing kurang ajar ini." omel John tak suka omnya usilin Mawar.
Bagas anggap omelan John angin lalu. Dari dulu lidah John memang tajam kayaknya mamanya. Ngatain orang sesuka hati.
__ADS_1
Mawar tidak keberatan Bagas numpang makan di tempat Indy. Bagas memang jarang datang ke rumah kakaknya bila tak perlu. Siapa mau diajak bicara di sini. Bik Tun kupingnya bermasalah. John si cabe rawit sedangkan Indy sibuk pagi siang malam. Datang ke sini cuma lihat rumah gersang tak ada daya tarik.
Kini beda total. Sudah pemandangan indah di rumah ini. Lukisan satu sosok lembut wakili keindahan makhluk terindah di dunia ini.
Mawar menyediakan alat makan untuk Bagas tanpa banyak bicara. Sikapnya penuh keibuan sudah cocok dipinang untuk jadi ibu rumah tangga. Bagas akan beraksi bila masa Iddah Mawar selesai. Persetan dengan penyesalan Riyan. Makan tuh si gosong.
"Wah enak..." puji Bagas suka pada resep baru dari Mawar.
John mencibir anggap Bagas lebay cari perhatian Mawar. Untuk sementara John tak suka ada orang usik keberadaan Mawar di sampingnya. Mawar harus curahkan perhatian khusus pada John doang.
"Kalau enak makan sekalian sama tulang ikannya. Kucing liar kan suka tulang ikan." sindir John.
"Dasar kucing bengal. Berisik tak henti." balas Bagas terusik oleh sindiran John. Dari tadi anak ini asyik serang dia. Kurang kerjaan apa.
"Sudah...sesama kucing tak baik bertengkar di meja makan. Ayo habisin dulu nasinya! Ntar berantem di halaman saja!" lerai Mawar lembut bikin kedua cowok beda generasi terdiam. Ternyata Mawar bisa juga bercanda. Candaan ringan tak bikin sakit hati.
John dan Bagas lanjut makan tanpa bersuara lagi. Mulut tak bicara namun sinar mata saling mengancam. Dari pancaran mata muncul bayangan pedang samurai saling menusuk serta sarung tinju saling hajar. Perkelahian ini cuma terjadi di otak kedua laki ini.
Akhirnya acara makan siang berakhir. Bagas pindah duduk ke ruang tamu diikuti John. John belum puas bila Bagas belum ditendang dari rumahnya. John rencana mau belajar pelajaran sejarah agar dapat nilai bagus. John ketagihan dipuji guru karena nilai bagus. Semua mata memandang kagum padanya. John ingin tiap hari orang kagum padanya karena prestasi bagus.
"Hei bule kesasar...aku mau ajak kak Mawar kamu ke kantor! Kau bisa ditinggal sendirian?"
John kontan berkacak pinggang persis emak kalah arisan. John tak mau Mawar tercinta terkontaminasi aura buruk om Bagas nya. Reputasi Bagas memang tidak buruk namun sangat terkenal sebagai bujang idola di kalangan perempuan sosialita.
Bagas ingin sekali hantam kepala anak ini. Ada saja tingkah anak itu bikin kesal orang. Satu hari tak berulah John takkan bisa tidur tenang.
Bagas merentangkan tangan sepanjang sofa perhatikan anak kakaknya yang masih menjaga dirinya yang mau ajak Mawar pergi.
John berdiri bersidekap tangan di dada menantang Bagas. Anak ini tunggu apa yang mau dilakukan oleh Bagas pada Mawar. Pokoknya John takkan serahkan Mawar pada omnya begitu gampang.
Mawar datang bawa segelas air jeruk segar diperas dari buah jeruk asli. Bukan hasil jeruk dari botol pabrikan.
"Ayo diminum mas!" Mawar meletakkan gelas persis di depan Bagas.
Bagas tersenyum senang manggut tanda terima kasih telah disuguhi minuman segar sebagai penghilang haus.
Mata John mengerling penuh ancaman pada omnya yang dia anggap pengacau di rumah.
"Bersiap kita akan pergi ke kantor! Besok kamu mulai kerja. Aku mau kamu mengenal lingkungan kerjamu sebelum masuk kantor."
"Iya mas tapi minta ijin dulu sama mbak Indy ya! Kita tak boleh pergi gitu saja!" Mawar teringat dia tinggal di rumah orang tak enak pergi sesuka hati. Harus ada ijin dari tuan rumah Mawar baru berani pergi.
"Mbak takkan larang kok! Dia malah senang kamu punya kegiatan ketimbang asyik dengar rengekan tuyul bandel." ujar Bagas mengerling John. John kontan majukan bibir jengkel dikatain tuyul. Apa ada tuyul blasteran yang ganteng?
__ADS_1
"Mawar telepon Mbak Indy dulu ya! Ponselnya di kamar pula." Mawar putar badan balik masuk ke kamarnya yang berdampingan dengan kamar Indy.
Inilah yang disukai Bagas dari Mawar. Tahu bagaimana menempatkan diri. Riyan sudah gila ceraikan wanita ini demi seorang wanita tak kenal adab.
Mawar kembali dengan wajah cerah. Gadis ini juga telah ganti baju dengan busana lebih bagus. Kepalanya tertutup hijab pashmina lebih gelap dari warna baju. Lipstik tipis nangkring di bibir tipis itu.
John acung jempol suka pada penampilan Mawar. Cari isteri harus model begini baru senang dunia akhirat. Coba kalau John duluan lahir dari pada Bagas pasti akan kejar Mawar sampai dapat.
"Mbak Indy sudah setuju aku pergi ke kantor." lapor Mawar riang bisa bekerja lagi walau sudah beda bidang. Asal ada kemauan belajar pasti bisa. Mawar yakin bisa bekerja baik asal ada pengarahan dari senior.
"Aku ikut...kakak harus hati-hati sama kucing nakal. Suka curi makan."
Mawar hanya tersenyum tidak terlalu tanggapi ocehan John. Anak itu kapan seriusnya? Tiap hari canda melulu.
Bagas malas tanggapi anak bandel kakaknya. Laki ini minum jus orange buatan Mawar. Rasanya manis sekali walau ada sedikit pahit. Sepahit apapun tetap rasanya manis karena yang buat nona manis.
Bagas minum hingga tandas untuk hargai Mawar. Lain pula pemikiran John lihat gelas omnya telah bersih. Haus amat apa nih orang. Sekali minum kandas semua.
"Wah...ada orang kaya kekurangan duit beli minuman! Disuguhi langsung ludes. Makanya kalau ada duit ditabung beli makan minum. Ini asyik bayarin para emak-emak belajar di butik. Bangkrut kan?" John sengaja buka kartu omnya biar Mawar ilfil.
Tangan Bagas makin gatal pingin jitak kepala bocah tengil ini. Tak bosan John jatuhkan harga dia. Dari tadi John nyeletuk bikin Bagas naik tensi darah.
Mawar menggeleng melarang John mengeluarkan kata-kata yang tidak sedap. Mengacu pada sifat Mawar yang sangat lembut tentu kurang suka juga mendengar John berkata yang tidak tidak kepada omnya sendiri. Seorang anak tetap harus menghormati orang tua.
John melengos kurang senang Mawar bela Bagas. Padahal Mawar bukan bela Bagas namun mau John hormati mereka yang lebih tua. Dimana-mana memang begitu hukumnya.
Bagas duluan berjalan keluar di susul Mawar dan John. John duluan masuk duduk di samping Bagas tak ijinkan Mawar duduk di sisi Bagas. Ada semacam rasa cemburu pada omnya itu. Selama ini Mawar hanya perhatian padanya kini perhatian Mawar harus dibagi. John tidak rela itu.
Mobil melaju menuju ke kantor Bagas di pusat kota. Perusahaan Bagas tidak sebesar Riyan tapi perusahaannya sedang berkembang punya masa depan cerah. Suatu saat pasti akan segede perusahaan Riyan asal Bagas yakin.
Hati Mawar agak kecut bayangkan akan berada di lingkungan baru. Mawar yang dasarnya orangnya pemalu apa bisa adaptasi dengan persaingan di dalam perusahaan. Setiap karyawan tentu ingin tampil beda menarik perhatian bos.
Sepanjang jalan tak ada yang bicara. Masing-masing tenggelam dalam pemikiran. Yang paling sibuk adalah John. Dia harus pikir cara Mawar tidak kerja di kantor Bagas. Kalau Mawar pergi kerja siapa akan temani dia di rumah. Siapa akan bantu dia belajar agar dapat pujian.
Sesampai di kantor Bagas membawa Mawar dan John ke ruang tempat Mawar akan meniti Karir baru. Di sini Mawar tak perlu berhadapan dengan para murid yang punya aneka akal.
Sepanjang jalan menuju ke lantai atas Bagas mendapat sapaan dari para karyawan kantor. Mereka memandang heran kehadiran seorang gadis berhijab di samping Bagas. Belum pernah dalam sejarah ada gadis tertutup berdiri di samping Bagas. Mungkin baru kali ini Bagas bawa cewek lain dari yang lain.
Mawar agak jengah ditatap puluhan pasang mata. Punggung Mawar seperti sedang ditusuk jutaan duri tajam. Panas walau tak sakit.
Akhirnya mereka sampai di lantai teratas tempat kerja Bagas. Suasana tempat kerja Bagas sangat nyaman dan tenang. Tidak seperti di lantai bawah yang agak bising karena sarat karyawan.
Kehadiran mereka disambut oleh seorang wanita cantik dan sintal. Tubuhnya terbalut busana ketat yang harganya pasti mengosongkan kantong. Wanita itu menatap tajam ke arah Mawar seperti menaksir gadis ini mampu tidak emban tugas dari Bagas.
__ADS_1
Mawar hanya tersenyum tipis sebagai salam perkenalan.