GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Arsy Sakit


__ADS_3

Mawar berharap perjalanan ke rumah sakit segera berakhir. Berduaan dengan Riyan hanya menambah rasa kesal di hati Mawar. Tapi Mawar berusaha lupakan kisah lama yang tak manis. Manis hanya beberapa hari selanjutnya sepet seperti buah salak mengkal.


"Arsy rindu padamu!" Riyan buka suara akhiri keheningan dalam mobil.


"Aku minta maaf lupa telah janji padanya untuk ajak tidur bersama. Aku agak sibuk karena sudah kerja."


"Betah di kantor Bagas?" Riyan menoleh ke samping intip wajah Mawar di keremangan malam. Gadis itu tetap cantik walau tampak siluet akibat gelap.


"Aku sudah tak kerja di kantor Bagas. Aku kurang betah di sana."


Riyan tertawa kecil ntah senang atau sudah tahu Mawar tak betah di sana.


"Naura?" tebak Riyan sangat tepat. Tampaknya Riyan tahu betul hubungan Bagas dan Naura. Sekali tebak langsung kena.


"Kok tahu?"


"Bukan cuma kamu tak betah. Asal ada pegawai wanita dekat dengan Bagas pasti dihancurkan Naura. Dia sangat terobsesi pada Bagas. Lalu kau kerja di mana?"


"Kerja di kantor pak Joko. Aku betah di sana karena rekan semua baik."


Riyan terdiam dengar nama besar Joko sudah masuk dalam hidup Mawar. Riyan kenal baik siapa Joko si es beku tak suka wanita.


"Kau lamar kerja di sana?"


"Tidak...pak Joko yang rekrut aku! Aku bekerja di bagian keuangan. Hitung menghitung juga."


Riyan mengatup bibir erat tak mampu berkata-kata karena Joko sudah turun gunung rekrut pegawai wanita secara pribadi. Wanita itu pasti ada kelebihan baru bisa menarik perhatian Joko.


"Kenapa tak kerja di kantorku saja? Di sana ada lowongan untukmu juga."


"Terima kasih. Aku sudah betah di tempat sekarang. Dan lagi tak baik aku kerja di kantor mantan suami. Nanti orang berpikir aku akan merayumu."


"Biarlah orang berpikir apa! Merayu juga tak salah."


"Mungkin bapak salah menafsir hubungan aku dengan anak-anak. Aku murni sayang mereka walau tidak jodoh jadi mama mereka. Gimanapun mereka anak kak Yenni."


"Tak bisakah kau beri aku peluang untuk perbaiki diri?"


"Silahkan bapak perbaiki diri! Kelak percayalah pada pasangan sendiri! Jangan mudah terhasut omongan orang lain!"


"Aku maksud kamu.."


"Aku??? Mungkin aku lebih senang hidup tenang tanpa perlu ingat hubungan percintaan yang penuh konflik." kata Mawar pesimis pada hubungan wanita dan pria. Riyan telah beri edukasi buruk pada Mawar tentang berumah tangga. Mawar tak punya nyali memulai hubungan baru dengan lelaki manapun.


"Ini semua salah aku! Andai aku mau dengar omongan kamu semua tidak akan begini."


"Tak perlu disesali. Yang berlalu biar berlalu. Kita jadikan pelajaran saja. Carilah wanita yang cocok dengan bapak dan anak bapak!"


"Aku mau pegang amanah dari Yenni."


Untuk kalimat ini Mawar tak bisa berkutik. Tak ada jawaban untuk kalimat ini. Riyan sendiri hancurkan amanah dari Yenni. Semua telah berantakan. Tak ada sela perbaiki kesalahan itu.


Mawar pilih diam dari pada ngoceh menjurus ke arah bersatu lagi. Mawar belum siap jalin hubungan cinta lagi. Mawar trauma pada cinta yang belum tentu tulus.


Mereka tiba di rumah sakit yang sangat mewah di mata Mawar. Rumah sakit di tempat tinggal dia adalah rumah sakit pemerintah yang standar. Mana sebagus begini. Di sini kesannya seperti hotel cuma pegawainya berseragam perawat dan dokter.

__ADS_1


Sepanjang jalan rumah sakit sangat bersih dan dingin karena AC bersuhu sangat rendah. Mawar agak menggigil karena lupa bawa baju dingin. Saking terburu sampai lupa malam telah merangkak jauh.


Riyan tahu gadis yang berjalan di belakangnya kedinginan. Tapi dia mana berani lakukan hal tak terpuji. Paling nanti minta Mawar gunakan jaket dia untuk menahan hawa dingin.


Arsy ditempatkan di ruang khusus anak-anak yang kelas VIP. Anak orang kaya mana mungkin ditempatkan di sal umum yang campur aduk segala jenis penyakit.


Riyan mengetok pintu sebelum masuk ke dalam untuk hormati orang di dalam walaupun itu kamar rawat Arsy.


Selesai ketok Riyan menggeser pintu kamar agar tubuhnya bisa pindah ke dalam. Mawar ikut dari belakang melihat di dalam siapa yang jaga Arsy. Ternyata di dalam ada Bu Alya sedang terngantuk di tempat duduk tersedia. Arsy berada di atas brankar terpasang selang infus untuk beri cairan pada tubuh mungil itu.


Hati Mawar terenyuh lihat tubuh mungil itu tak berdaya melawan penyakit. Ada rasa bersalah menyelinap dalam rongga dada Mawar telah ingkar janji.


"Bu..gimana Arsy?" tanya Mawar setengah berbisik. Bu Alya tersentak dengar suara lembut sedang bicara padanya.


"Nak Mawar...Arsy hanya sebut kamu! Dia rindu sekali padamu!" Bu Alya secepat kilat meraih tangan Mawar katakan hal sesungguhnya.


"Aku minta maaf ya! Aku sungguh menyesal telah buat Arsy demam."


"Itu bukan salahmu! Arsy memang agak lemah dari bayi. Imun tubuhnya tidak bagus. Dia pasti senang kamu datang. Ayo peluk dia biar dia tahu kamu sudah datang." Bu Alya menarik tangan Mawar dekati brankar tempat Arsy berbaring. Gadis kecil itu menutup mata rapat-rapat tak beri respon pada lingkungan.


Mawar menyentuh kening Arsy cek suhu tubuh anak itu. Memang agak hangat walaupun AC dalam ruangan cukup dingin. Anak itu tak rasakan dingin akibat suhu tubuh tinggi.


"Sayang...cepat sembuh! Ini mama datang!" bisik Mawar lembut di kuping Arsy. Mawar berharap Arsy mendengar apa yang dia katakan.


Bu Alya dan Riyan saling tukar pandangan lihat Mawar mengaku mama Arsy. Maunya memang itu yang terjadi untuk selamanya. Hanya Mawar yang ada di hati anak-anak Riyan maka Riyan wajib perjuangkan Mawar. Maju terus pantang mundur.


Tangan Arsy bergerak sedikit tanda si kecil beri reaksi bisikan Mawar. Nafas yang tadinya agak berburu perlahan turun tenang. Pipi yang semula yang memerah perlahan menurun. Benar apa kata dokter kalau demam anak ini dipicu oleh rasa rindu sangat mendalam. Arsy sangat rindu pada Mawar.


Kehadiran Mawar telah merangsang pikiran Arsy bahwa orang yang ditunggu sudah ada di samping. Mawar terus genggam jemari Arsy untuk beri kekuatan supaya cepat sehat.


Riyan menarik kursi berikan pada Mawar untuk hilangkan rasa penat terlalu lama berdiri. Riyan bukan tak tahu mantan isterinya itu telah capek berdiri.


Mawar sangat berterima kasih atas pengertian Riyan pada kesusahan dia. Maunya Riyan yang gantiin Mawar menenangkan Arsy. Cuma sayang Atau hanya kangen pada Mawar bukan pada Riyan. Mau tak mau Mawar yang harus berkorban demi anak kecil.


Mawar tidur di samping Arsy tanpa melepaskan genggaman tangan. Gadis ini tidur berbantal tepi brankar Arsy sebab tak ingin ganggu tidur anak itu. Riyan dan ibunya tidur di sofa menanti fajar menjelang.


Keheningan membalut ruang rawat Arsy karena semua penghuni bergelut dalam mimpi. Ntah mimpi indah atau mimpi buruk.


Menjelang subuh Arsy mengeluarkan suara erangan kecil. Gadis mungil ini membuka mata melihat sekeliling ruang rumah sakit. Mata tajamnya menangkap sosok yang sangat dia rindukan tertidur pulas di sampingnya. Ada rasa hangat mengalir di hati anak ini. Orang yang dia rindukan berada dalam posisi sangat dekat.


Tanpa sadar tangan mungil Arsy mengelus kepala Mawar gunakan tangan kiri. Tangan kanan Arsy masih berada dalam genggaman tangan Mawar. Arsy tak berniat lepaskan genggaman itu. Kalau bisa mereka saling menggenggam seumur hidup.


Mawar tersentak terasa sesuatu menjalar di kepalanya. Perlahan Mawar mengangkat kepala menatap lurus ke Arsy yang duluan bangun. Mawar mengembangkan senyum dibalas senyum tak kalah manis dari dara kecil ini.


"Hai sayang... sudah enakan?" tanya Mawar seraya berdiri agar bisa lebih dekat dengan si Arsy.


Arsy mengangguk. Gadis ini senang bukan main jumpa wanita yang dia anggap pengganti mamanya. Semua beban pikiran gadis ini memudar bersama kehadiran Mawar.


"Arsy mau ke kamar mandi ma?" pinta Arsy manja.


Mawar tentu saja tidak menolak permintaan si kecil laksanakan panggilan alam. Dengan dengan hati Mawar bantu Arsy ke kamar mandi sambil bawa botol berisi cairan infus.


Di kamar mandi cukup bersih Mawar bantu Arsy buang hajat dan cuci muka agar lebih segar. Sekilas dilihat Arsy seperti tak pernah sakit. Gadis irit bicara ini tak henti tatap wajah Mawar seolah takut wajah itu hilang secara mendadak. Bisa bersama Mawar lagi seperti mimpi bagi Arsy.


Mawar bukannya tidak tahu diperhatikan oleh Arsy secara mendalam. Jujur Mawar tak tega lukai perasaan gadis cilik ini dengan fakta yang ada. Faktanya Mawar tak mungkin tinggal bersama Arsy karena dia bukan siapa-siapa Riyan lagi. Mereka telah bercerai secara sah.

__ADS_1


Mawar membawa Arsy kembali ke tempat tidur sambil menyeka wajah si kecil dengan tisu. Arsy diam saja diurus oleh Mawar. Perlakuan lembut dari Mawar membuat anak ini makin jatuh cinta pada mantan papanya.


"Arsy lapar nggak?" tanya Mawar lembut ekspresikan betapa pentingnya Arsy bagi Mawar.


"Lapar ma...mengapa mana tidak mau tinggal bersama Arsy? Bukankah satu keluarga harus tetap bersama?"


Mawar menelan ludah pahit sedih mendengar pertanyaan Arsy. Mawar tak tahu harus bagaimana jelaskan hubungan rumit dengan Riyan. Mereka sudah cerai maka tak mungkin bersatu lagi.


"Sayang...mama kan sudah kerja. Mama harus cari uang banyak supaya kita bisa liburan nanti. Arsy belajar yang rajin supaya dapat nilai bagus. Mama akan beri hadiah bila nilai Arsy bagus. Bukankah tahun depan Arsy sudah masuk SD?" Mawar hanya bisa beri janji sederhana untuk memicu semangat Arsy. Kalau sekedar berlibur mungkin Mawar akan sanggup penuhi.


Mata Arsy kontan berbinar dengar janji Mawar. Dalam benak Arsy tentu sudah tercetak liburan keluarga yang menyenangkan.


"Iya ma...Arsy akan sehat dan rajin belajar!"


"Mama terima janji Arsy. Oya..nanti mama kan harus kerja! Jadi sebentar lagi mama harus masuk kantor. Arsy tidak keberatan di tinggal mama sebentar kan? Sore nanti mama akan datang temani Arsy di sini. Ok?"


Kali ini Arsy agak keberatan ditinggal Mawar. Mereka baru saja jumpa harus pisah lagi. Wajah yang semula ceria kembali muram. Mendung kelabu kembali bergelayut di wajah mungil itu.


"Sayang...mama kan harus cari uang untuk liburan. Masa Arsy tak senang mama cari rezeki untuk kita. Harusnya Arsy dukung mama biar kita kaya."


"Papa banyak uang kok! Tak perlu mama heboh cari uang."


"Beda dong! Itu uang perusahaan papa. Kita tak boleh ganggu yang itu. Nanti pegawai papa tak bisa gajian dong! Kan kasihan anak-anak pegawai tak bisa makan. Iya kan?"


Arsy manggut terima alasan Mawar. Mawar sudah duga Arsy hatinya baik ikut rasakan kesusahan orang. Yang penting Mawar sudah berikan masukan baik pada Arsy.


Mendidik anak kecil harusnya gunakan bahasa lisan lembut tanpa paksaan. Mereka pasti terima diberi pengertian selama itu tidak menjurus ke hal negatif.


"Tapi mama janji temani Arsy selepas kerja ya!"


"Janji." Mawar keluarkan jari kelingking untuk ikat janji pada Arsy.


Arsy tertawa senang diajak ikat janji setia. Jari kelingking si mungil saling bertautan dengan jari Mawar. Keduanya telah saling ikat janji.


Tawa Arsy mengusik tidur Riyan dan omanya. Kedua orang ini buka mata dengar tawa renyah di pagi buta. Tawa itu bikin adem kuping Riyan. Sudah berapa lama dia tak dengar Arsy tertawa begitu lepas.


Tawa anak itu hilang bersamaan kepergian Yenni. Tak ada orang mampu kembalikan keceriaan Arsy selain Mawar.


Apa yang harus dilakukan Riyan untuk pertahankan tawa Arsy. Mengikat Mawar di sisi selamanya baru Arsy bisa kembali ceria.


Riyan menguap merentangkan tangan melemaskan otot kaku akibat tidur tidak nyaman. Tidak nyaman namun cukup pulas. Arsy sudah bangun saja dia tak tahu sampai tawa detail gadis itu bangunkan dia.


"Sudah bangun nak?" tegur Riyan hampiri anaknya cari tahu kondisi kekinian Arsy.


"Sudah dari tadi. Arsy mau pulang. Di sini tak enak." Arsy langsung katakan isi hati minta pulang karena merasa sudah sehat.


"Besok kita pulang ya! Kita dengar dulu kata pak dokter. Kita yakin dulu Arsy sudah sehat. Ok?" Riyan membujuk anaknya bersabar menanti vonis dokter.


Mereka bisa pulang bila Arsy sudah fit seratus persen. Riyan tak mau amb resiko sakit Arsy kumat bila telah berada di rumah.


"Iya pa..." Arsy sahut manis karena ada Mawar di situ. Bersama Mawar semua terasa manis.


Mawar pamitan ijin laksanakan sholat tatkala azan subuh berkumandang memanggil para umat melaksanakan sholat subuh.


Riyan dan Bu Alya agak malu lihat betapa taat Mawar pada agama. Kalau mereka sholatnya masih bolong-bolong. Belum punya tekad jadi muslim sejati.

__ADS_1


Beda dengan Mawar yang sudah kenyang dijejali ilmu agama dari kecil. Kehidupan orang Aceh sarat dengan keyakinan beragama. Maka itu Mawar terdidik baik oleh keluarga pak Hanif yang juga umat taat melaksanakan keyakinan agama.


__ADS_2