
Joko melarikan mobilnya sepanjang mungkin menerobos semua kemacetan. Joko sudah tidak peduli caci maki dari pengemudi lain yang merasa terganggu oleh tindakan ceroboh Joko.
Bivendra dan Mawar ditempatkan di jok belakang sementara Joko menjadi sopir membawa Mawar ke rumah sakit.
Pikiran Joko makin kacau melihat anaknya menangis tersedu-sedu melihat kondisi Mawar yang makin melemah. Mawar yang masih dalam kondisi sadar mengelus tangan Bivendra agar tenang. Sebelah tangan mawar memegang perutnya yang terluka oleh tusukan Erni.
Joko makin mengagumi ketabahan Mawar tidak cengeng menangisi kondisinya yang buruk. Ingin rasanya Joko mencekik Erni yang telah berbuat semena-mena pada Mawar.
"Biven jangan nangis nak! Mami tidak apa." bujuk mawar menenangkan Bivendra padahal kondisinya sendiri sedang tidak bagus.
"Mawar ku mohon jangan banyak bicara! Kamu harus tetap sadar. Rumah sakit sudah tidak jauh lagi."
"Iya pak..." sahut Mawar makin pelan. Suara Mawar lemah sekali.
Joko hidupkan lampu sein kiri kanan untuk menandakan adanya emergency. Kalau pengemudi yang lain yang mengerti pasti akan mengalah memberi kesempatan kepada mobil Joko yang pasti sedang dalam keadaan darurat.
Dengan susah payah akhirnya Joko mengantar Mawar ke rumah sakit. Lelaki ini segera menurunkan Mawar sambil berteriak-teriak kepada petugas di rumah sakit.
Untunglah teriakan Joko mendapat tanggapan baik dari pihak rumah sakit. beberapa orang langsung mendorong brankar untuk menyambut kehadiran Mawar.
Perawat itu langsung mengerti keadaan darurat karena pakaian Mawar telah basah oleh cucuran darah.
"Maaf sus! Istri saya ditusuk oleh perempuan gila. Kumohon lakukan tindakan secepatnya." seru Joko tidak bisa mengontrol perasaan. Rasa panik dan rasa kesal bercampur aduk di dalam hati lelaki ini.
"Bapak tenang saja! Kami akan melakukan yang terbaik. Silahkan bapak mendaftar agar kami lebih mudah lakukan tindakan!"
"Iya..." Joko berlari kecil ke bagian administrasi untuk mendaftar pasien bernama Mawar. Lelaki ini nyaris melupakan anaknya Bivendra ikut ke rumah sakit. Untunglah Bivendra paham keadaan darurat tak banyak tingkah cari tempat duduk. Anak ini duduk manis menanti tindakan selanjutnya.
Setelah selesai daftar Joko baru teringat kalau Bivendra ada di rumah sakit. Lelaki ini mencari anak perempuannya. Tubuh besar Joko langsung tercetak di retina mata Bivendra. Bukan Joko yang menemukan Bivendra justru anaknya yang menemukan papinya.
"Papi...Endra di sini!"
Mata Joko mencari-cari di mana keberadaan anaknya. Mata Joko menampak sesosok bayangan kurus berjalan ke arahnya dengan tenang. Bivendra tampak telah tumbuh lebih dewasa sejak diurus oleh Mawar. Tak ada orang lebih cocok jadi isterinya selain Mawar.
"Papi...gimana mami?"
"Belum tahu nak! Ayok kita duduk di sana tunggu kabar!" Joko menarik tangan Bivendra cari tempat duduk sambil menunggu kabar Mawar.
"Apa Papi tidak mau kabari saudara mami tentang kondisi mami?"
Joko seperti di palu kuat bagian kepala baru sadar anaknya bijak teringat pada keluarga Mawar. Mereka berhak tahu kondisi Mawar. Apapun cerita Joko harus siap terima konsekuensi dari kejadian ini.
"Kau benar nak! Papi hampir lupa keluarga mami ada di sini!"
Bivendra menempatkan pantat kecilnya di bangku aluminium khusus untuk pengunjung rumah sakit. Joko bergerak keluarkan ponsel hubungi keluarga Mawar. Tapi sayang Joko tak punya nomor kontak keluarga itu.
Kepala Joko jadi pusing ingat bagaimana cara hubungi keluarga Mawar. Lama berpikir akhirnya Joko hubungi Anwar untuk langsung jemput keluarga itu datang ke rumah sakit. Tak ada jalan lebih efisien beritahu mereka kondisi Mawar.
"Halo.. Anwar! Kamu ke hotel jemput keluarga Mawar ke rumah sakit."
"Rumah sakit? Siapa sakit?"
"Mawar...Erni telah menusuk Mawar dengan pisau dapur. Sekarang sedang ditangani. Kau gunakan mobil kantor biar bisa sekali angkut mereka. Lalu kau urus Erni. Coba lihat dia sudah diamankan belum!"
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim. Erni...sudah gila apa?"
"Aku juga tak sangka dia begitu nekat!"
"Maaf pak! Aku tak tahu aku pantas bicara atau tidak?"
"Bicara apa? Apanya tak pantas?"
"Erni itu pernah minta Bibik di rumah masukkan obat perangsang namun ditolak Bibik. Bibik takut lapor pada bapak maka dia cuma lapor padaku. Dari dulu dia obsesi mau gantiin mami Endra."
"Kenapa tidak bilang dari dulu biar aku bisa berjaga-jaga. Kalau kau cerita maka aku takkan pertemukan Mawar dan Erni."
"Maafkan aku pak! Aku kira Erni sudah insyaf maka tak buka cerita ini lagi. Dia itu psikopat."
"Sudahlah! Kita berdoa saja semoga Mawar selamat. Kau segera jemput orang tua Mawar."
"Segera...sekali lagi maaf pak!"
"Ya sudah!" Joko menutup ponsel lalu menyimpannya.
Joko menenangkan diri duduk di samping Bivendra menunggu kabar dari ruang tindakan. Joko diam anaknya juga diam. Keduanya tenggelam dalam alam pikiran masing-masing. Keduanya pasti sedang berdoa semoga wanita sebaik Mawar mendapat perlindungan dari Allah.
"Keluarga pasien Mawar..." seru seorang perawat mencari orang bertanggung jawab pada pasien Mawar.
Joko segera lebarkan langkah mendekati perawat yang mencari keluarga Mawar.
"Saya sus!" Joko majukan diri sebagai orang yang bertanggung jawab pada hidup Mawar.
"Begini pak! Luka di perut isteri bapak tidak dalam namun telah lukai usus maka kita harus lakukan operasi untuk benahi usus yang terluka. Apa bapak ijinkan?"
"Baiklah! Kami butuh tanda tangan bapak sebagai tanda setuju. Dan silahkan lakukan deposito biaya operasi."
"Baik...tak masalah. Oya sus! Gimana keadaan isteri aku?"
"Untuk sementara aman karena pendarahan telah berhasil kita atasi. Kami harap kejadian ini tak terulang lagi. Kali ini isteri bapak beruntung. Kali depan belum tentu beruntung." kata perawat itu agak judes tak tahu masalah. Dalam pikiran mereka pasti berkaitan dengan Joko.
"Jamin takkan terjadi lagi. Ada salah paham isteri aku dengan seorang perempuan."
"Oh...masalah pelakor toh! Ngerti deh! Kami akan persiapkan meja operasi. Permisi."
Joko bengong dengan kejudesan perawat itu. Tiada badai tiada angin musuhi Joko. Perawat itu berbuat seolah Joko yang salah.
Perempuan tetap bela perempuan teraniaya. Di mata perawat itu Mawar pasti korban perselingkuhan Joko dengan wanita lain.
Joko mengurut dada walau tak sakit. Cuma terasa sedih dengan kondisi Mawar sampai harus dioperasi. Semua ini salah Joko tidak peka pada Erni. Sedikitpun Joko tak sangka Erni punya harapan lain padanya.
Joko hanya hormat pada Erni sebagai kakak ipar. Perhatian Joko juga perhatian pada anggota keluarga.
Mawar dibawa ke ruang operasi untuk jahit di mana ususnya terkena tusukan Erni. Joko dan Bivendra pindah ke tempat di mana Mawar jalani operasi.
Kedua anak bapak itu menunggu dengan sabar di dekat pintu ruang operasi. Hanya doa bertalu-talu bergema dalam hati keduanya.
Tak lama kemudian rombongan Pak Hanif tiba di tempat Mawar dioperasi diantar oleh Anwar. Wajah pak Hanif dan Pak Hari paling cemas sedangkan Bu Tiara beri kesan senang Mawar kena musibah. Orang berhati limbah. Bau busuk.
__ADS_1
Joko menyongsong keluarga calon mertua dengan menyesal. Belum apa-apa Joko sudah minta maaf sebelum diminta penjelasan.
"Maaf...aku minta maaf telah menyebabkan Mawar terluka."
"Apa yang terjadi? Mengapa Mawar dilukai?" tanya pak Hanif menyelidiki Joko.
"Begini pak Tuo!" Joko menceritakan kronologi kejadian tanpa menyembunyikan apapun dari keluarga Mawar.
Bu Tiara mengulum senyum senang orang yang paling dia benci tertimpa musibah. Putri-putrinya tak mendapat suami idaman maka Mawar juga tak boleh dapat suami baik. Inilah contoh manusia hatinya penuh belatung.
Sejahatnya Dahlia dan Ayumi mereka tak tega lihat Mawar tertimpa cobaan sangat berat. Ini menyangkut hidup mati Mawar. Mereka hanya suka lihat Mawar menderita tapi bukan dengan pertaruhkan nyawa Mawar.
"Ya Allah...kenapa kakak iparnya sangat jahat? Mawar kan tak tahu apa-apa." ujar Bu Hanif geram pada Erni.
"Aku minta maaf." hanya itu yang bisa dikatakan Joko. Dia samasekali tak tahu harus omong apa lagi selain minta maaf.
"Lalu gimana kondisi Mawar?"
"Sedang dioperasi! Ususnya terluka sedikit maka harus dijahit. Tapi masa bahaya sudah berlalu."
Anwar hanya bisa menyaksikan adegan demi adegan berlangsung dalam keluarga besar Mawar. Anwar agak tertarik pada Dahlia yang tampak terdiam setelah lihat adik tirinya dapat musibah tidak kecil. Nyatanya tidak gampang jadi isteri orang kaya. Ada saja cobaan hampiri Mawar. Salah satunya dari dirinya padahal Mawar itu orangnya baik dan lembut. Injak semut saja takkan mati.
"Ssssttt dek..sini!" Anwar beri kode pada Dahlia untuk ngobrol di tempat lain.
Dahlia menunjuk dada tak sangka ada yang mau ngobrol dengannya. Dia tampak gelap di antara orang-orang kota yang tampak lebih cerah dan bersih.
"Ada apa bang?" tanya Dahlia pelan.
"Apa orang tuamu tak marah pada Pak Joko?" tanya Anwar lebih mirip bisikan.
"Kurang tahu bang! Kami saja kaget kejadian ini terlalu mendadak. Rencananya kita kan mau liburan ke villa Joko."
"Erni itu sudah lama incar bos aku tapi bos hanya anggap dia saudara. Bos aku itu orangnya sulit adaptasi dengan wanita. Tak semua wanita bisa dekat dengannya. Itulah adik kalian yang dekat semenjak isterinya meninggal."
"Gitu ya? Dia pasti cari wanita sempurna ya?"
"Bukan sempurna tapi orang yang bisa pahami dia dan Endra. Mawar bisa...pak Joko itu orangnya baik cuma susah dekat wanita. Orangnya kaku tak pandai merayu. Ngomong apa adanya."
"Apa Mawar bisa bahagia hidup dengan tiang bendera? Kaku lurus ke atas." gumam Dahlia hilang selera mau dekati Joko. Apa sih enaknya hidup bersama tiang listrik tanpa kehidupan. Bisa meranggas kerontang asyik menatap tiang tanpa jiwa.
"Gitulah! Nona Dahlia kapan mau pulang ke kampung?"
"Terserah ayah saja! Aku sih kapan saja boleh."
"Oh...kalau ada waktu mau kuajak pergi jalan ke tempat rekreasi?"
"Ke mana?" tanya Dahlia antusias. Daripada bengong di hotel kan lebih baik pergi lihat tempat bermain yang belum pernah dia kunjungi.
"Boleh..."
"Nanti malam aku jemput ya! Ijin dulu sama orang tua ya! Kita tetap harus jaga sopan santun walau sudah berumur. Hormati orang lebih tua."
Dahlia merasa tersindir oleh Anwar padahal laki itu tidak bermaksud gitu. Anwar kan tidak tahu akal nakal Dahlia. Selalu bikin masalah dengan Mawar. Berkali jebak Riyan agar bisa jadi isteri laki itu. Terakhir mau jadi ikutan jadi isteri Joko pula. Dahlia membangun mimpi terlalu tinggi tak sesuai ekspektasi.
__ADS_1
Anwar dan Dahlia ngobrol panjang lebar ntah bahas apa. Pokoknya keduanya cukup nyambung. Anwar belum tahu belang Dahlia maka bisa respek pada janda genit itu.
Kini semua diam seribu bahasa. Semua berdiam diri menanti hasil operasi Mawar. Pak Hari baru takut kehilangan Mawar. Anak dari mendiang isterinya. Ada rasa sesal abaikan Mawar demi jaga perasaan Bu Tiara. Mawar selalu di samping kan.