
Mawar mengutuk dalam hati mengapa Indy urus Riyan kawani dia bukan Bagas. Mawar merasa lebih nyaman bersama Bagas walau harus intip reaksi wajah Naura. Naura dan Bagas belum menikah jadi Mawar tak ganggu rumah tangga orang lain.
Riyan dengan pedenya antar Mawar sampai ke kantor Indy yang tak seberapa besar. Beberapa karyawan sudah tahu kalau Mawar ini saudara Indy ditugaskan kawal perusahaan selama Indy ke Jerman. Mereka auto hormat pada Mawar sebagaimana mereka hormat pada Indy.
Seorang wanita muda seumuran Mawar ditugaskan beritahu semua kegiatan berkenaan dengan perusahaan kecil Indy. Dasar Mawar otaknya encer tidak sulit cerna semua arahan sekretaris Indy.
Riyan seperti parasit tak mau pergi dari kantor Indy. Ada jantung cadangan berada di tempat Indy maka Riyan mau gunakan kesempatan ini coba adu nasib. Siapa tahu sukses curi jantung hati yang pernah terlepas dari dada.
Mawar sungguh tak nyaman Riyan duduk di kantor Indy bak pengawal pribadi Mawar. Sekretaris Indy hanya senyam senyum lihat Riyan tak henti menatap gadis pengganti Indy. Orang idiot saja tahu kalau Riyan di situ karena ada gila manis.
"Pak Riyan...apa di kantor tak ada pekerjaan?" tegur Mawar sudah tak tahan dari risih.
"Oh...tidak ..semua sudah dihandle baik." sahut Riyan cepat.
"Ngapain bapak di sini? Harusnya bapak di kantor sana."
"Aku cuma terlanjur janji pada mbak Indy akan bantu kamu di perusahaan. Tak baik lho ingkar janji." jawab Riyan sok berhati malaikat.
Mawar gusar tapi tak bisa melawan. Indy memang sudah bilang kalau Bagas dan Riyan akan bantu dia di kantor. Semula Mawar mengira pasti Bagas yang muncul. Dugaan Mawar meleset jauh. Yang muncul mantan suami tak punya pendirian.
Ponsel sederhana Mawar menjerit suarakan nada tetesan air hujan. Nada panggilan sangat sederhana tanpa embel-embel lagu top.
Mawar segera angkat ponsel tanpa curiga. Di situ tertera nama pak Joko papinya Bivendra.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam... kau di mana? Aku jemput katanya kau sudah berangkat kerja. Kok sampai sekarang tidak datang?"
"Oh maaf pak! Bukankah sudah kubilang mau resign? Aku bantu mbak Indy di kantornya. Mbak sudah ke Jerman jenguk mantan suami sakit."
"Apa aku sudah ijin kamu resign? Begitu Indy pulang kau harus balik kerja. Siang nanti aku jemput kamu makan siang."
"Tidak perlu pak! Aku bisa cari makan di sekitar kantor. Tak enak merepotkan bapak."
Riyan ngomel dalam hati siapa berani ajak mantan isterinya makan siang. Orang ini pasti dekat dengan Mawar baru berani utarakan niat ajak gadis ini keluar makan siang.
"Tidak repot...lagian aku juga akan makan. Kau tunggu di sana. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.."
Joko tak beri kesempatan pada Mawar untuk menolak ajakannya. Laki itu terlalu diktator tak jaga perasaan orang lain.
Mawar meletakkan ponsel dengan lemas di atas meja kerja Indy. Lagi-lagi dia terjebak dalam posisi sulit. Riyan ada di samping pasti takkan ijin Mawar pergi dengan lelaki lain walau hanya sekedar makan siang.
"Siapa? Kok akrab betul?" tanya Riyan dengan nada tajam.
"Pak Joko...ngajak makan siang."
"Kamu ini kok gampang terima ajakan orang asing?"
"Memangnya aku ada iyakan ajakannya? Dianya saja yang tak mau tahu." sahut Mawar gugup ditekan Riyan. Mawar memang salah tidak tolak langsung. Tapi Joko tak beri kesempatan pada Mawar untuk menolak.
__ADS_1
"Biar aku yang hadapi laki tak tahu malu itu. Mbak Indy sudah amanah kan kamu padaku jadi aku yang berhak jaga kamu."
Mawar ingin katakan kalimat agak keras namun gadis ini menelan kembali kalimat itu. Bertutur kata tak sopan bukan gaya Mawar. Gadis ini diam saja biarkan Riyan lakukan apa yang dia mau. Toh tak ada ruginya buat Mawar. Mawar malah beruntung telah ada yang bantu singkirkan para cowok tirani.
Waktu bergulir pas tengah hari. Matahari berada pas di atas kepala setiap insan di bumi. Tak perlu lihat jam tangan sang mentari telah beritahu ini sudah tengah hari.
Mawar melupakan janji Joko akan jemput dia saking asyik belajar berbisnis. Ternyata berbisnis punya seni sendiri. Kita harus cerdik siasati pasaran. Cari peluang tepat bekerja sama dengan klien.
Sekretaris Indy datang bawa berita ada orang sedang tunggu Mawar di lantai bawah. Riyan yang berdiri bagai dapat wangsit telah tahu siapa yang menunggu Mawar. Indera keenam Riyan terlah terasah deteksi siapa tamu Mawar.
"Biar aku yang turun!" Riyan tak ijin kan Mawar jumpa Joko. Harga Riyan sebagai lelaki terusik oleh kehadiran Joko. Mawar adalah keluarga isterinya wajar bila Riyan lebih pantas berada di samping Mawar.
Mawar angkat tangan serahkan semua pada Riyan. Dia memang tak tertarik masuk dalam kehidupan Joko. Laki model Joko tak terima kekalahan punya.
Riyan turun ke lantai dasar jumpa tamu Mawar. Yuli sekretaris Indy cukup heran ada dua lelaki tampan datang untuk Mawar. Mawar berpenampilan sederhana tertutup aurat. Bagi hidung belang penampilan Mawar takkan menarik tapi bagi orang yang hargai nilai agama pasti anggap Mawar wakili wanita Soleha. Yuli harus akui Mawar sangat cantik perpaduan timur dengan barat.
Mawar dan Yuli tersentak dengar suara ribut-ribut di depan ruang kerja Indy. Kedua wanita muda tak menunda segera lihat apa yang sedang terjadi di luar sana. Mawar duluan keluar dibanding Yuli. Yuli mengintip dari balik punggung Mawar saksikan pemandangan tak lazim. Dua lelaki dewasa berseteru saking berhadapan bak anjing liar hendak berantem. Kedua tak ada yang mau mengalah siap adu fisik. Keduanya sama tinggi cuma Joko lebih tegap dan kokoh. Riyan bukan lawan Joko.
"Stop...kalian anak TK rebut mainan? Ini kantor bapak-bapak terhormat. Silahkan kalian keluar dari sini! Jangan bikin malu diri sendiri!" kata Mawar dengan kesal tapi nadanya tetap rendah.
Yuli menghela nafas sedih. Cara Mawar ungkap rasa marah sangat luar biasa. Marah tapi suara lembut mendayu. Harimau saja tak terpengaruh dibentak Mawar. Apalagi dua piramid besar sedang adu kegagahan.
Keduanya melirik Mawar secara serentak lalu kembali saling adu mata. Kelihatannya seruan Mawar tidak terpengaruh buat kedua lelaki itu.
"Ya Allah...kalian ini sudah tua! Bukan anak kecil. Ingat umur bapak. Kalau kalian tak pergi biar aku yang pergi." Mawar berkata dengan ketus masuk ke ruangan ambil tas dan ponsel.
Gadis muda ini tinggalkan dua lelaki sedang ambil ancang saling menyerang. Mawar sangat malu pada rekan kerja lain karena baru hari pertama datang sudah bikin heboh. Ada dua laki berseteru karena dia. Bagi orang lain mungkin bangga jadi piala diperebutkan tapi bagi Mawar itu musibah.
Joko dan Riyan melongo ditinggal pergi oleh Mawar. Keduanya berencana ajak Mawar makan siang justru berakhir nol. Sama-sama dapat zonk.
"Gara kamu Mawar kabur!" seru Riyan emosi.
"Gara kamu sok berkuasa. Mawar itu gadis merdeka. Dia mau pergi dengan siapa terserah dia. Memangnya kamu ini siapa Mawar?" Joko menunjuk dada Riyan dengan sengit.
Riyan menepis tangan Joko kasar tak suka dipandang rendah. Gimanapun dia adalah mantan suami Mawar. Masih punya hak jaga gadis itu.
"Lalu apa hak kamu larang aku dekati Mawar? Dia itu Mak Bit anak-anak aku."
Joko angguk-angguk sok paham. Mawar sudah cerita sekilas tentang panggilan Mak Bit itu. Mawar adalah adik dari mendiang isteri Riyan.
"Mawar hanya Mak Bit anakmu tapi Mawar adalah mami dari anakku. Tak percaya? Tanya saja sama Mawar. Sekarang jangan halangi aku ajak Mawar makan siang pak Riyan terhormat!" Joko mendorong Riyan menjauh agar jangan halangi jalannya mencari Mawar.
Joko melangkah pergi dengan gagah. Tinggal Riyan terpaku tak percaya Mawar itu mami dari anak Joko. Kalau anak Joko panggil Mawar mami artinya mereka akan menikah.
Itu tidak boleh terjadi karena Riyan dan anak-anak masih membutuhkan Mawar. Sampai kapanpun Riyan akan memperjuangkan Mawar agar kembali ke pelukannya. Tempat Mawar ada di dalam rengkuhan Riyan.
Riyan tiba-tiba teringat kalau Mawar sudah tak ada di ruangan. Laki ini segera mengejar Mawar agar jangan kepincut sama duda keren itu. Dua duren kejar seorang janda kembang. Pertarungan pasti akan sengit karena sama-sama punya kuku runcing.
Mawar pergi dari kantor Indy sambil ngomel sepanjang jalan. Gadis ini sudah tak peduli teriknya sang Surya membakar kulit yang terbalut baju gamis. Kalau Mawar dompol wajah dengan berlapis bedak mungkin sudah pada luntur akibat cucuran keringat.
Mawar terus berjalan tak tahu mau ke mana. Yang penting jauhi kedua laki berakal anak kecil itu. Mawar merasa dirinya tak boleh akrab dengan seorang lelaki. Selalu saja bawa masalah. Tidak Riyan, Bagas dam sekarang tambah Joko. Semuanya hanya menambah kemelut dalam hidup Mawar.
__ADS_1
Pingin pulang kampung merasa malu karena baru di nikahi sudah dicerai. Mau tarok di mana muka Mawar dicerai dalam bulan itu juga.
Pikiran Mawar jadi kacau agak linglung. Di tambah panasnya cuaca buat kepala Mawar naik pitam. Kepalanya berdenyut mau pingsan rasanya.
Mawar tak sanggup jalan lagi terduduk di lantai trotoar. Mawar sudah pasrah tak tahu harus bagaimana lagi. Ke manapun dia pergi selalu dirundung masalah.
Mawar menutup mata biarkan semua terjadi sesuai yang digariskan Tuhan. Tuhan pasti tidak akan tinggalkan umatnya yang tawakal. Mawar sedang diuji kesabaran hadapi cobaan. Sampai di mana kepercayaan anak ini pada Tuhannya.
Mawar merasa tubuhnya terasa ringan. Ada sepasang tangan menggendong dirinya ke pelukan hangat. Mawar memejamkan tak ingin tahu siapa yang gendong dia. Dia butuh ketenangan.
Mawar diletakkan dalam mobil ber AC dingin. Ada tangan kokoh bantu dia pasang safety belt tanpa minta ijin.
Perlahan Mawar buka mata melihat rahang keras seorang cowok dari samping. Laki itu menoleh sekejap pada Mawar lalu tersenyum sangat kaku.
"Maafkan aku!" itu kalimat pertama dari mulut Riyan.
Mawar memejamkan mata tak ingin lihat lelaki yang telah bawa banyak bencana buatnya. Kapan laki ini akan menghilang dari hidup Mawar. Mawar tak sabar tunggu hati itu tiba.
"Kembalikan aku ke kantor!"
"Baik tapi kita makan dulu! Kau sangat pucat."
"Aku tak berselera makan pak Riyan. Bisakah bapak bebaskan aku? Jangan ganggu hidup aku lagi! Antara kita sudah tak mungkin kembali."
"Kau belum maafkan aku?"
"Aku sudah maafkan bapak tapi bukan berarti aku harus kembali ke pangkuan bapak. Bapak silahkan nikahi Kak Ayumi maupun kak Dahlia. Mereka lebih cocok menjadi isteri bapak. Aku ini hanya seorang guru kontrak tak punya apa-apa."
Riyan belum jalankan mobil tak sangka hati Mawar sekeras ini. Apa karena adanya Joko yang jauh lebih kaya?
"Karena Joko?"
"Bukan karena siapa pun. Aku dan pak Joko tak ada hubungan apapun. Cuma anaknya kebetulan dekat denganku. Itu tak wakili apapun. Tak usah bawa orang tak bersalah." tukas Mawar tetap sabar. Ini ujian berat bagi Mawar kalahkan ego Riyan.
"Kau tak beri kesempatan pada aku?"
"Aku tak tahu...jodoh di tangan Tuhan! Untuk sementara aku tidak tertarik pada siapapun. Aku masih ingin menata hati dan pikiran."
"Artinya aku masih punya kesempatan kejar kamu! Aku takkan mundur sampai kau terima aku seperti dulu."
Mawar malas jawab. Tak ada guna berbalas pantun. Waktu yang akan jawab semuanya. Kini dia hanya punya tanggung jawab pada Indy selesaikan permintaan wanita berbudi baik itu.
"Aku mau ke kantor mbak Indy. Bapak langsung pulang jaga Arsy. Jangan ganggu aku lagi!"
"Aku akan bimbing kamu sampai ngerti kelola perusahaan baru aku akan berhenti. Ini permintaan kakak aku! Dua hari lagi ada klien mau pesan barang dalam partai besar. Aku ngerti sedikit karena pernah kerjasama dengan mbak Indy. Kau tak bisa tolak aku!"
Perkataan Riyan masuk akal. Indy memang sudah amanah pada Mawar kelola perusahaan bersama Bagas dan Riyan. Mawar tak bisa menolak perintah Indy yang satu ini.
Riyan gunakan kesempatan ini majukan ke restoran tak jauh dari tempat mereka berhenti. Mawar harus isi perut dengan makanan agar tidak jatuh pingsan. Riyan tahu Mawar punya riwayat mudah pingsan maka harus dirawat baik.
Kali ini Mawar tak berontak ikut keinginan Riyan isi perut. Dia memang sudah sangat lapar karena tak sarapan dengan baik. Hanya makan sepotong roti dan segelas teh manis. Bergerak dua kali hilang sudah energi dihasilkan oleh sepotong roti.
__ADS_1
Riyan bertindak sebagai tuan rumah baik jamu Mawar di tempat lumayan bagus. Mereka berdua tampak seperti pasangan serasi. Satu cantik alim dan satunya tampan. Kalau orang tak tahu pasti mengira mereka memang pasangan suami isteri.
Riyan memberi daftar menu pada Mawar setelah mereka dapat tempat strategis untuk mengisi perut. Mawar kurang berselera setelah alami hal tak menyenangkan di kantor. Mawar tak tahu di mata pegawai Indy gimana sosok Mawar. Alim tapi pembawa bencana.