GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Janji Mawar


__ADS_3

Menjelang sore Mawar baru mulai mengerang tanda akan segera sadar. Di dalam ruangan perawatan itu hanya tinggal Joko Bivendra dan Riyan. Keluarga mawar yang lain sudah pulang ke hotel atas permintaan Joko. Joko tak ingin memberatkan mereka yang sudah berumur untuk menjaga calon istrinya. Pak Hanif dan keluarganya mesti beristirahat mengingat faktor usia.


Joko dan Riyan bergerak cepat hampiri Mawar. Joko berdiri di sebelah kanan sementara Riyan berdiri di sebelah kiri. Keduanya berharap menjadi orang yang pertama dilihat oleh Mawar begitu siuman dari pengaruh obat bius.


Gadis ini membuka mata dengan perlahan-lahan melirik kiri kanan melihat siapa yang berada di sampingnya.


"Pak Joko.." lirih Mawar pelan. Suaranya belum keluar jelas akibat pengaruh obat bius.


"Ya sayang...mana yang tak enak?" tanya Joko dekatkan wajah ke wajah Mawar. Joko sengaja memanggil Mawar dengan sebutan sayang untuk memancing rasa cemburu Riyan.


Benar saja apa yang dipikirkan Joko. Wajah Riyan kontan cemberut dengar panggilan sayang Joko. Hati Riyan bagai disayat oleh sembilu. Perih dan menyesak.


"Aku haus..."


"Tunggu ya! Aku cari perawat dulu." kata Joko lembut bikin orang dengar akan meleleh. Biasanya suara Joko dingin seperti es batu baru dari kulkas. Kini berubah hangat.


Riyan saja pangling dengan sikap hangat Joko pada Mawar. Angin apa bertiup membuat Joko mengubah sifat.


Joko melangkah pergi. Kini kesempatan datang pada Riyan untuk ngobrol dengan Mawar.


Mawar menoleh ke arah Riyan munculkan senyum tipis.


"Gimana Mawar? Abang kuatir sekali dengar kamu ditusuk oleh perempuan gila."


"Tak apa lagi pak! Bapak dengar dari siapa aku dirawat?"


"Ayumi chat aku kasih tahu kamu terluka oleh pacar Joko. Sudah Abang bilang Joko bukan lelaki bisa dipercaya. Wanita itu berani berbuat gitu padamu tentu karena ada sebab musabab. Dia marah kamu dekat dengan Joko. Dia itu simpanan Joko?"


"Bukan...dia itu kakak ipar Joko yang terlalu berharap. Joko sudah jelaskan semuanya cuma perempuan itu tak terima."


Riyan tetap tak percaya pada Joko. Riyan anggap Mawar terlalu polos sikapi hubungan Joko dan perempuan mengerikan itu. Kalau antara mereka tak ada apa-apa tak mungkin perempuan itu nekat ingin habisi Mawar.


"Abang tetap harap kamu kaji ulang hubungan dengan Joko. Dia bukan lelaki tepat untukmu. Lebih baik kamu pulang kampung dulu. Pikir matang-matang baru ambil keputusan."


Mawar angguk kecil iyakan kata Riyan. Mawar memang ingin tenangkan diri dari semuanya. Berada di ibukota terlalu banyak kejadian menimpa dirinya. Sudah begini Mawar merasa tak malu lagi pulang kampung. Mungkin sudah takdirnya harus menjalani kehidupan yang demikian rumit.


Kalau mereka memang berjodoh pasti akan berjumpa lagi. Biarlah Mawar pulang ke kampung mencari jati diri dan berpikir ulang apa yang telah terjadi. Mawar bukannya ingin membatalkan lamaran Joko tapi ingin menenangkan diri serta Istiqomah agar bisa berpikir lebih tenang.


Riyan lega Mawar kembali patuh padanya. Jalan menuju Roma masih terbuka bagi Riyan. Riyan akan menerobos semua rintangan untuk mencapai ke Mawar.


Joko datang lagi dengan perawat dan dokter. Dokter datang memeriksa pasien yang baru sadar.


Joko dan Riyan diharapkan keluar selama dokter memeriksa Mawar. Kedua lelaki itu bukan muhrim jadi tak boleh melihat tubuh Mawar walau hanya bagian perut.


Dokter puas dengan perkembangan Mawar. Tampaknya semua berjalan sesuai harapan. Tak ada bahaya asal Mawar ikuti semua anjuran dokter.


Joko dan Riyan kembali masuk setelah dokter pergi. Keduanya tentu saja saling lomba cari simpatik Mawar. Sebenarnya mawar tidak suka pada keadaan demikian. Gadis ini menjadi jengah diperebutkan oleh dua lelaki dewasa.


"Oya mana Biven?" Mawar teringat pada anak Joko.


"Endra sudah pulang duluan diantar oleh Anwar. Endra sangat berharap kamu segera pulih. Dan aku minta maaf ya atas kelakuan Erni. Aku tidak sangka dia sangat nekat."


"Pak...Erni sangat mencintaimu! Dia rela masuk penjara demi bapak. Aku hargai perasaan Erni." kata Mawar meluruskan mata ke arah Joko. Mawar memang belu pulih seratus persen namun pikiran Mawar waras seratus persen. Gadis ini bisa melihat betapa cintanya Erni pada Joko.

__ADS_1


"Mawar...itu bukan cinta tapi egois. Aku tak pernah beri signal cinta selain kewajiban terhadap isteri Abang aku. Aku merasa turut bertanggung jawab atas pengkhianatan abang aku. Erni telah salah paham perhatian aku."


Riyan diam saja menyimak percakapan antara Joko dan Mawar. Riyan memang tak boleh ikut campur dalam urusan ini. Riyan tidak tahu apa yang terjadi. Namun Riyan sedikit banyak mulai paham hubungan Joko dan Erni.


"Pak...kita jeda dulu ya! Beri waktu pada diri kita introspeksi apa yang telah terjadi. Aku mau pulang kampung dulu dukung kak Ayumi menikah dengan Husien. Ya sekaligus istirahat!"


"Aku akan tunggu kamu sehat baru kita bahas lagi rencana nikah kita. Kau bukan ingin membatalkan rencana baik kita bukan?"


Mawar tersenyum menggeleng. Bagaimana mungkin Mawar tega membatalkan lamaran Joko. Itu semua bukan salah Joko melainkan nasibnya yang selalu sial.


"Tentu tidak.."


"Terima kasih...aku pulang dulu ya! Nanti malam aku akan datang. Untuk sementara ada perawat khusus rawat kamu. Sebentar lagi dia akan datang!"


"Iya pak! Terima kasih ya!"


"Aku yang harus mengucapkan terima kasih atas pengertian kamu. Kamu tidak memusuhi aku itu sudah sangat menenangkan jiwa aku."


Riyan merasa perutnya mual mendengar gombalan Joko. Riyan sedikitpun tidak pernah menyangka Joko akan hangat seperti air panas baru mendidih.


"Memangnya aku ini obat penenang?"


"Lebih dari itu! Kamu baik-baik ya! Aku akan hubungi Indy kasih kabar kamu tak bisa masuk kantor lagi. Indy pasti akan paham kok!"


"Terimakasih..."


Joko menepuk punggung tangan Mawar dengan lembut. Joko tidak berani berbuat lebih selain menyentuh punggung tangan Mawar. Joko sangat mengetahui Mawar itu sangat menghargai kesopanan sebagai seorang umat muslim.


"Assalamualaikum..." Joko memberi salam lalu keluar dari ruang rawat Mawar tanpa menoleh ke arah Riyan. Joko tetap menganggap Riyan sebagai rival paling berat bersaing mendapatkan Mawar.


Kini Mawar tinggal berduaan dengan Riyan. Riyan tak ingin meninggalkan Mawar sendirian sebelum perawat yang merawat Mawar masuk ke ruangan rawat Mawar.


"Bapak tak ingin pulang?" tanya Mawar melihat Riyan duduk termenung sendirian. Wajah lelaki itu kurang sedap dipandang. Mawar anggap Riyan sedang kelelahan tak berpikir jauh kalau laki ini cemburu pada Joko. Antara Mawar dan Riyan sudah usai. Tak ada kisah baru lagi.


"Aku tunggu perawat yang merawat kamu datang. Mawar ..Abang setuju kamu pulang kampung. Tak usah pikir yang bukan-bukan. Abang selalu ada untuk kamu. Ingat itu!"


"Tak ada yang perlu kupikirkan pak! Aku hanya ingin segarkan pikiran di kampung. Paling tebalkan kuping. Bapak kan tahu sifat orang kampung suka bergunjing baik itu buruk maupun baik."


"Aku juga minta maaf telah membuat kamu berada di dalam suasana berburuk. Aku tak ingin kambing hitamkan siapapun. Tetap aku yang salah tidak mempunyai pendirian." Riyan mengungkit kejadian yang menimpa pernikahan mereka. Riyan telah memberi pil pahit kepada Mawar. Sangat pahit sampai Riyan sendiri tidak mampu membayangkan seberapa deritanya Mawar menelan pil itu.


"Sudahlah Pak! Untuk apa mengungkit masa lalu? Semuanya sudah berlalu."


"Tapi aku kehilangan kamu." desah Riyan dengan suara parau menyesali perbuatan Ayumi menjerumuskannya ke dalam jurang penderitaan.


Dalam hal ini Mawar tidak bisa berbuat banyak karena faktanya Riyan memang telah menceraikannya.


"Tak usah dibuka lagi pak! Bapak pulang dan istirahat! Bapak kelihatan kurang sehat juga."


Riyan angguk memang berniat segera pulang untuk bersih-bersih dan balik lagi menemani Mawar di rumah sakit. Hati Riyan tidak tenang jika tidak melihat kondisi Mawar secara langsung.


Harapan Riyan terealisasi karena perawat yang dibayar Joko telah datang. Perawat itu tidak memakai seragam dinas karena dia tidak sedang piket. Dia merawat Mawar karena permintaan secara pribadi.


"Hai...aku Purnama.. aku datang untuk merawat nona Mawar." sapa perawat itu hangat. Dari gaya bicaranya saja sudah bikin orang merasa akrab.

__ADS_1


"Aku Mawar pasien anda. Jangan galak-galak ya sus!"


"Tenang nona! Aku ini bukan singa lulusan sirkus...aku ini kucing persian yang imut." perawat itu berkata sambil cek semua peralatan kesehatan di tubuh Mawar.


Mawar tertawa mendapat teman ngobrol lucu. Riyan merasa tersisih oleh kehadiran perawat Mawar. Tapi Riyan juga lega melihat perawat itu peramah. Yang merawat orangnya ramah maka pasiennya akan lebih cepat sembuh.


"Mawar...Abang pulang dulu ya! Nanti abang balik lagi."


"Tak usah repot pak! Aku sudah punya teman kok! Jaga saja Arsy dan Rizky di rumah. Perhatikan pelajaran mereka. Coba tanya kalau ada PR!"


Inilah yang bikin hati Riyan makin kesal pada Ayumi. Hanya mawar yang selalu perhatian kepada kedua anaknya. Mengapa justru dia gelap mata menceraikan Mawar.


"Iya...Abang akan usahakan datang. Kau istirahat ya!"


"Ya pak!"


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Riyan segera pergi dengan langkah loyo. Akankah Mawar semakin menjauh setelah berbagai kejadian. Riyan ingin sekali Mawar bisa menerima dirinya lagi. Ataukah ini hanya angan kosong semata. Apapun adanya Riyan tidak akan pernah mundur.


Seusai makan makan Mawar diberi obat penenang agar tidur nyenyak malam ini. Sewaktu Joko dan Riyan datang Mawar sudah tertidur pulas. Keduanya harus gigit jari karena tidak mendapat apa-apa di malam ini.


Terpaksalah mereka pulang karena tidak diizinkan nginap di ruangan Mawar. Cukup perawat saja yang temani Mawar di ruangan.


Pagi sekali Joko sudah sampai di rumah sakit untuk menjenguk calon istrinya. Joko datang bersama anaknya yang bersikeras ingin melihat kondisi Mawar dengan mata kepala sendiri. Kebetulan hari ini hari Minggu sehingga Bivendra tidak perlu ke sekolah.


Rencana ingin liburan bersama di villa jadi berantakan gara-gara kejadian ini. Siapapun tidak ingin peristiwa ini terjadi. Namun siapa bisa melawan takdir.


Bivendra senang sekali jumpa Mawar dalam kondisi cukup baik. Bivendra ingin memeluk Mawar tapi takut kena luka wanita itu. Bivendra hanya bisa menggenggam tangan Mawar erat-erat takut kehilangan calon ibu sambungnya.


Mawar sangat terharu pada kasih sayang dari anak itu. Apa Mawar tega meninggalkan Bivendra hidup dalam kesepian seperti dulu.


Mata Bivendra berkaca-kaca melihat Mawar terbaring lemah di atas tempat tidur.


"Mami masih sakit?"


Mawar tersenyum, "Mami sudah sehat begitu jumpa anak Mami. Lho kok nangis?"


Tangisan Bivendra meledak begitu Mawar mengeluarkan suara. Bivendra tak percaya Mawar bisa pulih seperti sedia kala.


Kemarin saja nafas Bivendra hampir berhenti melihat ibu sambungnya bersimbah darah. Masih untung mereka bisa jumpa dalam kondisi sehat.


"Mami tahu ngak Endra mau mati rasanya lihat mami keluar banyak darah. Mami janji tak boleh tinggalkan Endra ya!"


Hati Mawar teriris merasa pedih karena melihat kesedihan Bivendra. Rencana ingin pulang ke kampung perlahan menyurut dari hati Mawar. Mawar sangat tidak tega meninggalkan anak ini kembali terpuruk seperti dulu.


"Isshhh anak mami cengeng! Hapus air matanya. Mami sedang sakit mau ke mana?"


"Endra takut mami pergi jauh! Mami adalah harta Endra paling berharga." kata Bivendra masih mengalir air mata.


Joko tak kalah terharu lihat anak ibu ini saling menumpahkan perhatian. Purnama sang perawat ikut terbawa suasana haru. Sungguh kasih sayang indah antara anak ibu.

__ADS_1


"Mami janji tidak pergi. Ayo cuci muka!"


Bivendra menciumi tangan Mawar dengar janji Mawar. Hati anak ini jadi lega Mawar telah umbar janji. Bivendra percaya Mawar orang setia pada janji.


__ADS_2