GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Tawaran Kerja


__ADS_3

Sedang asyik Mawar membaca terbawa uraian menarik tiba-tiba ponsel pintar Mawar berdering. Ada panggilan masuk tanpa tercantum nama. Hanya ada nomor baru yang tak dikenal Mawar.


Mawar mengangkat walau ada keraguan. Siapa yang teleponi dia saat begini.


"Halo assalamualaikum!" sapa Mawar sesopan mungkin agar orang di sana ngerti bahwa yang diteleponi bukan orang kurang kerjaan.


"Waalaikumsalam. Nona Mawar?"


"Betul saya...anda ada perlu sama saya?"


"Perlu juga...kudengar nona butuh pekerjaan! Di sini aku ada lowongan kerja jadi bendahara keuangan. Apa nona tertarik?"


"Maaf pak! Dari mana bapak tahu aku butuh pekerjaan? Dan bapak siapa?"


"Aku tahu dari kantor Bagas. Dan aku ini asisten pak Joko."


"Pak Joko? Oya aku ingat! Pak Joko yang akan kerja sama dengan mas Bagas. Aku ini lulusan Mifa matematika. Apa cocok kerja di bagian itu?"


"Ya ampun nona! Jadi bendahara kerja ya hitung menghitung. Nona tunggu di situ saja. Nanti aku akan datang jemput nona datang ke kantor untuk wawancara. Aku kasih waktu setengah jam." telepon ditutup tanpa persetujuan Mawar.


Mawar melongo. Ini paksaan kerja namanya. Mawar belum jawab ba bi bu sudah disuruh tunggu. Mawar harus minta ijin pada Indy dan Bagas dulu sebelum melangkah pergi. Mawar harus tahu diri tidak tidak melangkahi hak Bagas dan Indy sebagai penyelamat Mawar. Pusing kepala Mawar jumpa orang lebih kanibal dari Naura.


Mawar angkat telepon hubungi Indy kasih tahu ada orang mau ajak dia kerja di kantor pak Joko. Mawar ingin dengar pendapat Indy tentang Joko. Mereka pasti kenal Joko. Mawar yakin Joko bukan orang biasa kalau dilihat dari penampilan laki itu.


Untung telepon cepat tersambung tak bikin hati Mawar dag dig dug.


"Assalamualaikum mbak!"


"Waalaikumsalam.. ada apa sayang? Kesepian ya?"


"Sedikit. Begini mbak! Tadi ada orang ngaku asisten pak Joko ajak aku kerja di kantornya. Aku kok jadi takut."


"Joko? Si es beku itu? Boleh coba! Dia itu orangnya keras dan disiplin. Mbak mau lihat berapa lama kau bertahan di sana."


"Gimana kalau penipuan? Kok dia bisa tahu aku butuh pekerjaan."


Indy tertawa renyah Mawar meragukan kredibilitas Joko. Di dunia bisnis siapa tak kenal Joko di tangan besi. Bisa kerjasama dengan laki itu merupakan karunia cuma banyak yang tak tahan gaya militer dia.


"Mbak ijinkan kamu coba!"


"Tapi aku tak enak sama mas Bagas."


"Alah dia itu terlalu takut pada Naura. Tapi percayalah kalau antara Naura dan Bagas tidak ada apa-apanya. Dari dulu Bagas tidak pernah menyukai Naura tetapi karena mereka memiliki kontrak di dalam perusahaan maka Bagas harus bersabar hadapi Naura."


"Iya mbak...aku tetap harus ijin dari mas Bagas dulu. Aku tak boleh tinggalkan mas Bagas yang begitu baik padaku!"


Semua orang akan baik padamu suara hati Indy. Tapi Indy tak ungkap di bibir karena takut Mawar besar kepala.


"Iya...kasih tahu baik-baik. Kalau dia tak ijin bilang kamu coba dulu. Ok?"


"Iya mbak. Terima kasih ya!"


"Sama-sama. Jaga John ya!"


"Iya mbak! John itu anak baik dan pintar. Aku sayang padanya kok!"


"Mbak tahu. Mbak masih ada kerja. Jumpa di rumah nanti. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam.."


Indy mulai tertular religi dari Mawar. Hidup bersama gadis pencinta agama mau tak mau Indy harus ikut arus. Ini juga demi kebaikan untuk John. Kalau saja John bisa ikut jejak Mawar menjadi seorang anak soleh maka berbahagialah Indy.

__ADS_1


Kini giliran Mawar meneleponi Bagas kasih kabar bahwa Joko mengajak Mawar kerja di kantor Joko. Mawar belum tahu bagaimana reaksi Bagas. Apa laki itu akan ijinkan Mawar berkiprah di perusahaan lain?


Mawar tetap telepon walau apapun resikonya. Kalaupun Bagas menolak Mawar akan patuh demi menjaga perasaan laki itu.


"Halo assalammualaikum.."


"Waalaikumsalam..Mawar?"


"Iya mas..maaf ganggu ya!"


"Oh tidak ganggu.. ada apa? Mau ke kantor?"


"Bukan itu mas..tadi ada orang telepon bilang dari kantor pak Joko. Katanya dia mau rekrut aku kerja di kantornya sebagai bendahara keuangan. Mawar ingin minta ijin dari mas Bagas dulu!"


Bagas terdiam tak mampu jawab. Dari mana cepat sekali bocor rahasia Mawar akan keluar dari kantor Bagas. Rasanya Bagas belum kasih tahu orang lain kalau kalau Mawar akan resign. Otak Bagas langsung bisa tebak siapa yang sebar informasi ini kalau bukan Naura.


"Mawar..kau juga bisa jadi bendahara di kantor mas Bagas. Mengapa harus pergi jauh ke kantor orang."


"Mas..Mawar ingin berdikari tidak bergantung pada mas dan mbak Indy. Beri Mawar kesempatan tunjuk diri mampu berdiri di kaki sendiri."


Bagas merasa dadanya sesak biarkan Mawar bekerja di tempat orang lain. Terutama kerja pada Joko si es beku. Bagas tidak kuatir Mawar bakal suka pada Joko namun Bagas kuatir Mawar betah kerja di sana. Kapan dia bisa ajak Mawar resign kalau sudah betah.


"Kau coba saja. Di sini mas tetap butuh kamu. Mas tahu kamu pergi dari kantor karena Naura. Mas bukan orang bodoh tak tahu masalah. Mas tak bisa keras padanya karena dia punya saham di perusahaan mas."


"Mas tak usah kuatir. Aku akan berusaha menjadi karyawan baik."


Ini yang paling tak ingin Bagas dengar dari mulut kecil Mawar. Menjadi karyawan baik di perusahaan orang sama saja betah di sana. Bagas maunya Mawar bilang mau bekerja di kantor tahan semua perlakuan Naura.


"Jangan betah! Mas selalu berharap kamu ada dekat mas."


"Idihhh nih mas..mas kan bisa datang setiap saat ke rumah mbak Indy. Emang aku mau ke mana? Kan hanya beda tempat kerja. Ok deh! Aku bersiap dulu ya! Dan lagi belum tentu diterima."


"Ya mas.. assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam.." di seberang sana Bagas menarik nafas kesal pada Naura telah jauhkan Mawar dari dirinya. Naura memang seperti monster memangsa setiap orang yang dekat dengan Bagas.


Bagas yakin Mawar akan diterima di tempat kerja Joko. Kalau Joko sudah rekomendasi orang itu siapa berani menolak orang yang direkom oleh Joko. Es beku yang terkenal pelit suara.


Sementara itu Mawar persiapkan diri sebaik mungkin agar tampak elegan di depan Joko. Diterima atau tidak bukan jadi masalah yang penting Mawar telah berusaha tampil dengan baik.


Gadis secantik Mawar tidak perlu berdandan dengan menor karena kecantikannya telah terpancar dari aura kebaikan di wajah. Mawar tetap kenakan busana muslim dengan kerudung warna hitam karena pakaiannya berwarna putih keabuan. Pokoknya sedap dipandang mata.


Mawar bergegas menunggu di depan rumah tak sabar telah dapat kerja lain. Mawar butuh pekerjaan untuk menopang hidup untuk hari depan. Uang jajan semakin menipis membuat Mawar sudah harus memikirkan masa depan.


Sebuah mobil mewah warna putih bersih berhenti di depan rumah Indy. Mawar yang tak tahu jenis mobil tak begitu antusias cari tahu jenis mobil itu. Baginya bisa antar dia ke tempat kerja sudah bagus. Mau harga seribu perak atau milyaran bukan urusan Mawar. Berapapun harga mobil itu bukan milik Mawar.


Seorang lelaki berumur kisaran empat puluhan turun dari mobil memberi senyum sopan pada Mawar.


"Nona Mawar?" tanya laki itu tetap beri senyum pasta gigi. Tidak terlalu manis karena ada gigi agak kuning.


"Iya saya..." sahut Mawar gugup.


"Saya Anwar...asisten pak Joko merangkap pengawal pribadi. Ayo kita berangkat ke kantor. Nona sudah ditunggu pak Joko."


"Oh...apa bapak yakin aku bisa kerja di tempat pak Joko?"


Anwar tertawa tak berani berspekulasi. Dia hanya bawahan tak punya hak untuk menentukan siapa yang bisa bekerja di sana. Yang paling berhak adalah Pak Joko sendiri. Dia sudah mengundang mawar berarti Pak Joko mempunyai perhitungan sendiri.


"Lebih baik kita jumpa pak Joko dulu! Untuk selanjutnya biar Pak Joko yang tentukan. Mari nona Mawar! Kita segera berangkat." Anwar berjalan ke arah mobil membuka pintu mobil untuk Mawar. Sikapnya sopan menyenangkan hati Mawar. Rasa takut Mawar meluntur sedikit.


Dengan mengucap basmallah Mawar tundukkan badan masuk ke dalam mobil yang menyebar harum segar. Tidak bau apek seperti taksi online.

__ADS_1


Pikiran Mawar makin tenang kena wewangian aroma terapi berupa bau mints segar. Dengan keharuman ini Mawar merasa berada di kampung yang udaranya jauh lebih segar dari kota besar.


Anwar melirik wajah cantik Mawar salut masih ada gadis pergi tanpa berdandan menor. Banyak wanita berhijab tapi sayang dengan setumpuk alat kosmetik menumpuk di wajah.


Selera bosnya sungguh berubah. Biasa Joko suka lihat gadis sensual merangsang otak tapi kini cari yang tertutup rapat. Jujur Anwar suka pada penampilan Mawar.


"Nona lulusan universitas mana?" tanya Anwar membuka pembicaraan.


"Oh.." Mawar tersentak diajak ngobrol secara tiba-tiba."Aku lulusan UGM. Sebelum ke sini aku bekerja sebagai guru kontrak mengajar anak SMA."


"Apa muridnya tidak merasa seumuran sama gurunya?" gurau Anwar membuat Mawar malu-malu kucing. Secara tak langsung Anwar puji Mawar awet.


"Aku sudah tua lho!" Mawar tetap merendah walau dalam hati tetap senang. Wanita mana tak senang dipuji lelaki walau cuma basa basi.


"Ya aku sudah nampak kau tua. Anak kecil sok tua." canda Anwar.


"Ach pak Anwar pintar gombal! Oya bolehkah aku tahu tentang pak Joko?"


"Pak Joko ya? Dulu sebelum isterinya meninggal dia itu tidak seperti ini. Orangnya periang dan penyayang. Sejak kematian isterinya segalanya berubah.Dia jadi kasar dan kejam. Pak Joko mempunyai seorang anak perempuan bernama Bivendra dipanggil Endra. Anak itu berumur sembilan tahun. Anaknya manis cuma sayang pendiam sekali. Susah diajak omong. Kalau orang tidak tahu pikir dia bisu. Kusarankan jangan membantah bila pak Joko sudah beri perintah."


"Pak...tidak semua pemimpin itu benar. Kalau perintah yang dia beri itu menyimpan gimana?"


Anwar mengetuk stiur bingung jawab pertanyaan Mawar. Apa yang dikatakan Mawar tidak salah juga. Gimana kalau Joko beri perintah di luar nalar sehat. Tak mungkinlah Mawar mau patuh apa lagi gadis ini muslim taat. Mana mau disuruh lakukan hal tak sesuai agama.


"Pak Joko bukan orang tak punya akal. Dia bisa bedakan yang baik dan buruk. Yang kubilang masalah pekerjaan. Untuk masuk ke dalam kehidupan pribadinya kurasa tak mungkin. Dia menutup diri dari wanita sejak isterinya pergi."


"Kita hanya bicara soal pekerjaan pak Anwar! Kita tak boleh ghibah ungkit ranah pribadi majikan."


"Maaf nona! Aku terlalu semangat promosi bos kita."


Mawar tertawa kecil. Ngapain promosi bos kepada Mawar. Memangnya Mawar mau beli bos untuk dipakai sebagai keperluan sehari-hari.


"Aku cuma perlu tahu sifat bos. Yang lain tak ada hubungan dengan aku! Kalau kerja yang penting gaji tidak molor." canda Mawar membuat Anwar terkekeh. Mawar tampak lembut alim bisa juga melucu. Pikir gadis berhijab selalu kaku tak bisa bergaul.


"Tenang...soal gaji on time. Kalau kau diwawancara bagian HRD tak usah terlalu akrab. Mereka itu tertular penyakit bos. Kaku seperti batang kayu terutama Bu Ika. Orangnya tegas susah diajak ketawa. Sariawan tiap hari."


"Wah...apa kantor para zombie?"


"Nggak juga...yang dekat bos saja yang kaku."


"Pak Anwar tidak kaku malah lucu."


"Itu kau tak tahu. Di depan bos aku harus sok cool. Biar imbang sama sifat bos."


"Apa pak Anwar tidak lelah pura-pura dingin padahal di dalam hangat. Kalau aku tak bisa gitu karena itu bertolak belakang dengan sifat asli kita." Mawar sangat tak setuju Anwar harus pura-pura dingin demi jaga perasaan pak Joko.


"Demi sesuap nasi nona cantik! Nah itu gedung kantor pak Joko."


Mata indah Mawar dipaksa memandangi gedung pencakar langit yang tingginya berkali lipat dari gedung kantor Bagas. Gedung kantor Bagas saja sudah dianggap Mawar sangat elite sekarang disuguhi kantor jauh lebih bonafide. Gedung bernuansa biru kena terpaan cahaya mentari. Seluruh gedung terbalut kaca warna biru muda. Sangat indah berkilauan bak lembaran permata pipih. Mawar tak habis kagum pada arsitek yang design gedung ini. Pasti seorang insinyur bertalenta tinggi.


"Wah indah sekali."


"Lebih indah dilihat malam karena setiap lembar kaca akan hidup seperti lampu neon tipis." Anwar memasukkan mobil ke pelataran parkir dengan sigap. Keahlian Anwar menyetir mobil tak usah diragukan. Mawar merasa nyaman disupiri Anwar. Mobil melaju stabil tanpa goncangan. Mawar duga ini akibat latihan supiri bos maka dia hati-hati.


Anwar mengajak Mawar masuk ke dalam kantor. Baru langkah pertama masuk Mawar merasa nyaman karena disambut udara sejuk dari pendingin ruangan. Seluruh ruangan bau mints sangat kental.


Mawar rasa ini karena bos mereka pencinta bau segar. Anwar bawa Mawar lewati pegawai resepsionis yang mengangguk sopan pada Anwar. Anwar tangan kanan bos pasti disegani semua pegawai. Satu kata Anwar bisa merubah nasib mereka.


Anwar ajak Mawar masuk ke lift pribadi big bos. Lift hanya boleh digunakan oleh Anwar dan Joko. Yang lain pakai lift reguler.


Mawar mendapat kehormatan numpang naik ke atas pakai lift pribadi Joko. Belum kerja saja Mawar sudah mendapat lirikan tajam dari beberapa pegawai.

__ADS_1


__ADS_2