
Yang paling lega tentu saja Joko. Laki ini takut Mawar akan angkat kaki di karenakan kejadian tragis yang menimpanya. Kalaupun Mawar pergi Joko tidak dapat menahannya. Mawar punya hak pergi karena perbuatan ini datang dari pihak Joko.
untunglah mawar telah berjanji pada Bivendra untuk tidak meninggalkan anaknya. Bivendra menjadi dewa penyelamat Joko. Joko bisa mendapatkan mawar karena pertolongan Bivendra. Kalau mengandalkan kemampuan Joko belum tentu dapat merebut hati gadis mulia itu.
Bivendra mengikuti permintaan membersihkan wajah dari sisa tangis. Bivendra sangat takut Mawar tak mau menjadi Maminya lagi setelah dijahatin oleh Erni.
Setelah Joko datang, muncul pula Riyan beserta pasukannya. Riyan datang bersama kedua anaknya dan Bu Alya. Mereka bawa bunga dan buahan.
Mawar menangkap gelagat yang bakal ganggu pikirannya. Dua kubu pasti akan saling serang. Arsy dan Bivendra pasti akan saling klaim Mawar itu milik mereka. Kepala Mawar pasti akan pusing tujuh keliling.
"Mama..." seru Arsy bermaksud naik ke ranjang tempat Mawar dirawat. Riyan cepat-cepat menarik anak itu agar jangan memanjat ke atas karena takut kena luka di perut Mawar.
Arsy sudah sangat rindu pada Mawar karena sudah lama tak jumpa mamanya itu. Arsy tak sabar ingin memeluk wanita yang dia anggap sebagai pengganti mamanya yang sudah meninggal.
Riyan terpaksa menggendong Arsy agar tidak menambah luka di perut Mawar. Gerakkan anak-anak siapa bisa tebak.
"Arsy mau cium mama!" kata Arsy berontak mau duduk di samping Mawar.
Riyan bijak tidak inginkan Arsy turun melainkan tetap gendong Arsy dekatkan ke wajah Mawar supaya si kecil bisa mendaratkan bibirnya ke pipi Mawar.
Arsy puas telah menciumi orang yang telah mengukir rasa kasih sayang dalam dadanya. Rizky malu-malu kucing menyalami Mawar. Anak laki ini lebih kalem tahu mama mereka dalam kondisi tidak baik.
Mawar mengelus kepala Rizky dengan lembut karena mawar juga rindu kepada Arsy dan Rizky. Kedua anak itu tetap mendapat tempat di hati Mawar.
Bivendra pasang muka judes lihat maminya dikuasai oleh dua bocah lain. Bivendra ingin Mawar hanya miliknya seorang. Tak boleh dibagi pada siapapun.
Mawar terjepit antara dua kubu inginkan dia sebagai Ibu mereka. Ini yang membingungkan Mawar. Mawar menyayangi semua anak-anak tetapi tidak bisa menjatuhkan pilihan pada salah satu keluarga. Mawar sudah terlanjur janji pada Bivendra untuk menjadi Ibu sambungnya lalu bagaimana pula nasib Arsy dan Rizky.
Jujur Mawar tak utamakan cinta seperti wanita lain. Mawar yakin seiring waktu rasa sayang dan cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Saling mencintai dari awal belum tentu menjamin akhirnya akan bahagia. Contoh Ayah dan ibunya saling jatuh cinta tetapi berakhir dengan tragis. Pak Hari berselingkuh dengan mantan pacarnya dulu.
"Ayo sayang! Duduk yang manis!" Pinta Mawar kepada Arsy yang sibuk ingin naik ke atas ranjang. Mawar bukannya menolak kehadiran Arsy namun hanya ingin menjaga lukanya biar cepat sembuh.
"Tapi kenapa Mama bisa sakit?"
"Mama tak sengaja jatuh kena pisau. Makanya Arsy tidak boleh main dengan pisau karena itu berbahaya. Coba Arsy nengok keadaan Mama yang terluka! Perutnya dijahit."
"Sakit ya ma?" Arsy perlihatkan wajah sedih.
"Tidak sakit asal Arsy tidak nakal. Arsy harus patuh sama papa dan rajin belajar ya! dan Juga harus patuh sama oma. Iya kan?"
"Iya ma! Arsy berjanji tidak akan nakal dan akan rajin belajar supaya mama bangga punya Arsy."
"Mama selalu bangga pada Arsy dan Rizky juga Kak Bivendra. Kalian semua anak-anak yang baik. Nah sekarang kalian boleh pulang dan cepat tidur! Anak kecil tidak boleh terlalu lama berada di rumah sakit."
"Tapi Arsy masih rindu pada mama. Kalau mama pulang dari rumah sakit langsung pulang ke rumah Arsy ya! Kita main bersama lagi seperti dulu."
Yang satu ini Mawar tidak berani berjanji karena takut terikat pada janji sendiri. Mawar takut tak bisa membayar janji ini karena tidak mungkin dia pulang ke rumah Riyan. Mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa selain hubungan mantan istri.
__ADS_1
Riyan dapat merasakan kegalauan Mawar pada permintaan Arsy. Riyan tak boleh menjatuhkan Mawar di saat dia sedang terpuruk. Hari-hari kelabu Mawar berasal dari Riyan yang tak tahu diri ini.
"Sayang... Mama kan sedang sakit. Biarlah Mama istirahat dulu di rumah sakit sampai sembuh total!" bujuk Riyan tak enak hati karena menarik mawar masuk ke dalam suasana tidak menyenangkan.
"Arsy kan bilang kalau mama sudah sembuh. Arsy akan menunggu Mama sampai sembuh."
Yang ini Riyan tidak membantah lagi. Terlalu menekan Arsy juga tidak baik. Biarlah waktu yang menjawab semuanya.
"Mawar..cepat sembuh ya! Ibu doakan semoga kamu cepat sehat lagi." Bu Alya menyumbang doa agar Mawar cepat pulih kembali.
"Terima kasih Bu."
"Kami pamitan dulu ya! Anak-anak memang tak baik lama berada di rumah sakit. Kalau ada waktu senggang kami akan balik ke sini lagi." Bu Alya pamitan karena merasa tak enak pada Joko yang menatap mereka dengan wajah kurang senang. Bu Alya harus sadar diri bahwa anaknya telah membawa derita panjang buat Mawar.
"Aduh Oma.. kita baru saja datang mengapa harus segera pulang?" kata Rizky tak mau disuruh angkat kaki dari rumah sakit. Rizky masih ingin dekat dengan Mawar.
"Iya Bu.. Biarkan anak-anak main sebentar lagi. Mereka mungkin kangen pada Mama mereka." Joko buka suara merasa tak enak hati karena Riyan sekeluarga barusan datang sudah harus pergi.
"Apa tidak menganggu waktu istirahat Mawar?" tanya Bu Alya masih agak segan.
"Kurasa tidak..biarkan mereka ngobrol!" Joko sok bijak.
Padahal di dalam hati Joko sangat berharap Ryan segera pergi. Joko tidak memasalahkan kehadiran anak-anak Riyan tetapi kehadiran Riyan yang mengganggu pikiran Joko.
Arsy dan Rizky berseru riang bisa ngobrol lebih lama dengan Mawar. ketiganya ngobrol panjang lebar termasuk kenangan bersama di tepi pantai sewaktu liburan di kampung.
Joko dan Riyan juga saling membisu tidak mengeluarkan kalimat.
Keduanya persis musuh berperang dalam kebisuan. Kalau sudah begini Mawar yang menjadi dilema karena tidak tahu harus melangkah ke arah yang mana. Mawar boleh mengabaikan Joko dan Riyan tetapi Mawar tak boleh cuekin kedua anak Riyan dan Bivendra.
Seminggu telah berlalu sejak Mawar dioperasi di rumah sakit. Mawar berangsur pulih sudah boleh check out dari rumah sakit. Joko yang menjemput Mawar secara pribadi dari rumah sakit menuju ke rumah Indy.
Joko tetap pekerjakan seorang perawat untuk merawat Mawar walau Mawar menolaknya. Mawar bukan tidak terima niat baik Joko melainkan tidak enak tinggal di rumah orang membawa perawat. Seolah-olah Mawar seorang ratu yang harus dilayani.
Joko tak bisa bersikeras karena menyadari apa yang dikatakan oleh Mawar adalah satu kebenaran. Kalau Mawar tinggal di rumah sendiri bolehlah berbuat sesuka hati. Tetapi ini Mawar masih menumpang pada orang lain.
Pada hari kepulangan Mawar dari rumah sakit keluarga Mawar datang ke rumah Indy untuk melihat kondisi Mawar. Dahlia dan Ayumi makin iri kepada Mawar yang mendapat segala kemudahan. Kedua orang itu tidak sadar bahwa orang yang baik akan selalu jumpa dengan orang berbudi luhur. Seperti Mawar selalu dijahatin oleh mereka tetapi kemudahan lebih banyak daripada mereka.
Seharusnya Dahlia dan Ayumi sadar bahwa orang jahat akan mendapat ganjaran setimpal. Yang baik akan terima pahala.
Tak usah cari contoh jauh-jauh. Contohnya ada di depan mata. Seperti Mawar yang selalu jadi objek derita, tapi Mawar mendapat balasan baik. Dua lelaki tajir dan tampan mengejarnya. Bahkan anak-anak mereka juga ikut menyukai Mawar. Bukankah ini satu karunia?
Kini keluarga Mawar dan Joko duduk bersama di ruang tamu Indy. Mawar sudah sehat waktunya bicarakan langkah selanjutnya hubungan rumit Joko dan Mawar. Diteruskan atau ditunda untuk sementara waktu.
Mawar tak punya pendapat karena teringat pada Bivendra. Maunya Mawar memang pulang ke kampung untuk menenangkan diri tetapi Mawar juga tidak bisa mengabaikan perasaan seorang anak kecil.
Pak Hanif menatap Joko dalam-dalam meminta lelaki itu mengeluarkan pendapat untuk langkah selanjutnya. Pak Hari memang tidak bisa mengatakan apapun lagi karena tekanan dari Bu Tiara. Maunya Bu Tiara memang menjodohkan Dahlia dengan Joko karena Joko lebih kaya daripada Riyan. Cuma sayang Joko tidak pernah tertarik kepada Dahlia.
__ADS_1
Joko bukannya tidak tahu keluarga Mawar menuntut satu ketegasan Joko. Di saat ini Joko harus berani mengambil sikap tetap melanjutkan rencana pernikahan mereka. Yang penting dilaksanakan akad nikah karena Joko tidak mau ambil risiko Mawar diculik oleh Riyan.
"Nak Joko...bagaimana lanjutan rencana kalian?" tanya Pak Hanif.
Joko dengan gagah memandangi Pak Hanif tidak gentar walaupun ada sejuta kerikil bakal bertebaran di jalannya.
"Insyaallah kita lanjut! Semua persyaratan mahar telah aku sediakan. Sekarang secara resmi aku meminang Mawar untuk menjadi istri aku dengan mahar yang telah aku janjikan."
Pak Hanif dan Pak Hari saling berpandangan lalu mengangguk. Ketegasan Joko awal dari kepercayaan kedua orang tua Mawar.
"Kami terima. Kami juga tidak bisa lama di sini karena harus segera pulang untuk mengurus pernikahan Ayumi. Kapan rencana nak Joko menghalalkan Mawar?"
"Segalanya sudah ku persiapkan tetapi karena terjadi musibah maka ditunda. Bagaimana kalau kita laksanakan lusa di masjid terdekat? Untuk selanjutnya aku serahkan kepada kalian selaku wali dari Mawar."
"Apa Mawar sudah mampu ikuti akad nikah? Dia kan baru sembuh? Ibu sarankan kau nikahi Dahlia dulu. Kalau Mawar sudah sehat seratus persen baru kau nikahi. Ibu yakin Mawar tidak keberatan." timpal Bu Tiara masih belum menyerah.
"Terima kasih Bu! Cukup Mawar saja menjadi istri aku." tolak Joko secara halus.
Bu Tiara tak berdaya mendengar keteguhan Joko untuk tidak mengambil istri kedua. Di dunia ini ada berapa lelaki seperti Joko? Sudah tampan dan kaya setia pula.
"Bu...jangan paksa nak Joko lagi! Dan kau Mawar ada yang ingin kamu katakan?" tanya pak Hari minta pendapat Mawar. Yang jalani pernikahan adalah Mawar maka Mawar berhak kemukakan pendapat.
"Terserah ayah dan pak Tuo." Mawar terlalu lemah untuk berdebat. Di pikiran Mawar hanya ada Bivendra dan kedua anak Riyan. Mawar mengasihi ketiga anak itu namun Mawar tak bisa menikah dengan dua lelaki sekaligus.
"Baiklah! Kita ikuti saran nak Joko. Semoga tak ada rintangan lagi. Soal resepsi kita laksanakan di kampung untuk bersihkan nama baik Mawar." ucap Pak Hanif.
"Setuju...kita pilih hari baik untuk laksanakan pesta di kampung kalian." ujar Joko girang jalannya telah terbuka menuju Mawar halal.
Bu Tiara memaki dalam hati anaknya tidak laku di kota besar. Celakanya Ayumi harus menikah dengan pengangguran. Ayumi tak ada jalan mundur karena terlanjur hamil anak Husien.
"Pesta Mawar tak boleh di rumah kita. Ayumi kan mau pesta juga. Pesta saja di gubuk Mawar." ketus Bu Tiara si ratu sirik.
"Tak apa...resepsi Mawar di rumah kami saja. Toh di rumah sudah lama tak ada keramaian sejak Marwah menikah. Tak masalah nak Joko. Pesta tetap lanjut!" tukas Bu Hanif jawab kesirikan Bu Tiara.
Mata Bu Tiara melotot segede jengkol. Rencananya ingin permalukan anak tirinya namun tidak berjalan mulus. Ada Dewi penyelamat angkat harkat Mawar.
"Tak usah besar. Cukup undang orang sekitar saja. Berpesta bukan untuk huru-hara melainkan sebagai jalinan tali silaturahmi sesama keluarga." kata Mawar merasa tak enak pada Joko.
"Aku serahkan pada Mak Tuo saja. Aku akan kucurkan dana satu milyar untuk acara pesta. Uang itu akan kutransfer ke rekening Mak Tuo." kata Joko santai seakan uang segitu tak ada artinya.
Bu Tiara tergugu telah lewatkan satu kesempatan jadi ibu tajir. Pesta di kampung mana mungkin habiskan dana segitu besar. Siap pesta sisanya pasti sangat banyak. Rezeki Bu Hanif yang baik hati.
"Terima kasih nak! Mak Tuo akan gunakan uang itu sebaik mungkin. Kita adakan pesta adat secara lengkap. Nak Joko mau kenalan busana pengantin Aceh bukan?"
"Tentu saja. Bukankah itu tradisi dari sebelah calon istri aku? Aku setuju saja."
"Baik...Mak Tuo akan jahit baju pengantin terindah untuk kalian." ujar mak Tuo dengan riang gembira. Di rumahnya bakal ada pesta mewah. Satu kebanggaan adakan pesta mewah di kampung. Sembelih kerbau dan kambing sebagai menu utama.
__ADS_1
Tinggallah Bu Tiara nelangsa ingat nasib kedua anaknya. Tak dapat suami impian malah tercampak kan.