
"Mawar???" Bu Hanif memaksa diri untuk segera bangun walau pinggang terasa mau copot. Ini akibat terlalu semangat mengurus pesta Mawar. Semua mau dia borong sendiri. Masih untung ada Marwah membantu selesaikan sebagian tugas.
"Mak Tuo kurang sehat?" Mawar menyentuh kening Bu Hanif takut Mak Tuo nya demam.
"Salahkan saja tulang tua ini sudah tak berguna! Ayo duduk sini!" Mak Tuo menepuk pinggir ranjangnya minta Mawar duduk di sampingnya. Bu Hanif bangga pada Mawar yang mendapatkan suami idaman.
Mawar menempatkan pantatnya di samping Bu Hanif tanpa rasa segan. Dia juga pernah tidur di situ sewaktu ibunya meninggal.
"Malam ini kita meuduk Pakat. Besok malam kita berinai. Lusanya mandi. Setelah itu langsung pesta. Mak Tuo tidak adakan kenduri kecil lagi karena terlalu banyak buang waktu. Kau setuju?"
"Setuju saja Mak Tuo. Mawar ikut saja!"
"Joko akan turun dari rumah Muji karena diantar ke sini. Ayahmu minta turun dari rumahnya tapi ibumu menolak. Semua hantaran sudah dibeli oleh Kakak kamu. Semua kamu gunakan uang dari Joko."
"Aku terima saja! Itu kan hanya tradisi kita. Yang penting Mak Tuo doakan semoga pernikahan kami langgeng."
Mak Tuo setuju dengan kalimat Mawar. Sehebat apapun pestanya kalau tidak dilandasi dengan kebahagiaan semuanya tidak berarti.
"Joko gimana? Apa baik orangnya?"
"Baik sekali. Sangat beda dengan bawaan dia. Dasar dia orang hangat cuma ada kisah sedih merampas kebahagiaan dia."
Bu Hanif angguk sok tahu padahal tak tahu apa-apa. Mawar juga tak bermaksud buka aib mendiang isteri Joko. Itu masa lalu Joko. Siapapun tak berhak hakimi masa lalu.
"Uangnya masih banyak. Mak Tuo kembalikan pada Joko?"
"Tak usah...Mak Tuo ajak pak Tuo laksanakan haji kecil saja. Ajak ayah dan ibu kalau cukup uangnya. Semua itu untuk kalian. Joko sudah ikhlas uang itu habis untuk pesta."
Bu Hanif tak sangka Joko dan Mawar punya niat sangat suci berikan sisa pada mereka untuk umroh.
Siapa tak ingin singgah di rumah Allah? Seluruh umat Islam sedunia berharap bisa berkunjung ke rumah Allah walaupun hanya sekali.
"Benarkah? Ya Allah. Murahkan rezeki anak aku ini. Mak Tuo akan bilang ke pak Tuo kamu. Apakah Mak Tuo boleh ajak kak Marwah kamu?"
"Terserah Mak Tuo kalau ada lebih. Insyaallah semua berkah. Joko berencana naik haji tahun depan."
"Tunggu waktu giliran saja sampai bertahun-tahun."
"Kata Joko ONH plus."
"Oh.. Alhamdulillah! Semoga tujuan Joko tercapai! Berkah bagimu mendapat suami sebaik Joko. Lupakan kenangan buruk ya! Buka lembaran baru yang indah."
"Amin..."
Acara dimulai dari meuduk Pakat pada malam Jumat. Besoknya diadakan acara boh gaca (berinai) bagi linto dan dara baro. Sebelum di hiasi Inai kedua mempelai di Peusijuek (tepung tawar) oleh orang-orang tua kampung. Menurut adat jaman berinai sampai tiga malam. Seiring waktu tradisi itu menyusut tinggal satu malam. Selanjutnya acara peumano (siraman) linto dan dara baro diiringi dendang para wanita. Berhubung Joko tidak ada sanak keluarga di Aceh maka acara pemandian pengantin digabung dengan Mawar.
Mawar dan Joko ikuti setiap tahap prosesi adat tanpa protes. Ini akan jadi kenangan bagi Joko laksana adat nikah ikuti adat isteri. Semua melelahkan namun Joko bahagia.
Pada hari H pesta besaran dilaksanakan sampai menutup jalan kampung. Tenda didirikan menutup bahu jalan namun tak ada yang protes karena para tetangga anggap itu juga pesta mereka.
Apalagi Bu Hanif tidak pelit berbagi pada tetangga dalam hal konsumsi makanan. Semua yang datang bantu berhak mendapatkan jatah daging untuk dibawa pulang. Pokoknya semua berpesta dengan hati riang.
Bu Hari tidak datang karena tidak senang pesta besar itu gagal jatuh ke tangannya. Dia yang menolak permintaan Joko adakan pesta di rumahnya. Sekarang pesta sukses dia iri hati. Orang satu kampung tidak heran lagi pada kelakuan Bu Hari. Wanita paling busuk di kampung. Tak ada yang open pada Bu Hari. Bahkan Dahlia dan Ayumi tak ambil pusing dengan tingkah ibu mereka. Kedua kakak Mawar larut dalam pesta Mawar.
Gelak tawa, canda riang warnai pesta ini. Mawar menjadi pengantin paling cantik di kampung ini. Tak ada yang tak iri pada nasib baik Mawar. Anak yang selalu kena aniaya akhirnya menemukan kebahagiaan dia.
Lewat tengah hari rombong linto baro datang bergabung dengan dara baro untuk sukseskan pesta. Rombongan diketuai Keuchik setempat jadi wakil keluarga Joko naik ke tempat dara baro.
Mawar selaku pengantin perempuan menanti kehadiran pengantin pria di rumah. Rombongan Joko membawa peunewoe ( aneka ragam hantaran) untuk dara baro berupa perlengkapan ibadah, pakaian, sepatu, tas, alat kosmetik serta perlengkapan mandi. Di samping itu juga ada kue tradisional Aceh berupa Bhoi (bolu ikan), meusekat (beras ketan di masak dengan gula), dodoi (dodol), keukarah (kue rambut) serta beberapa jenis kue lain terbungkus dalam bungkusan khusus. Semua hantaran di susun di atas talam ditutupi dengan dalueng (sejenis penutup berbentuk kerucut khas Aceh). Ini adalah tradisi adat lama. Sekarang jaman telah bergeser ganti dengan kotak-kotak indah dibungkus dengan kertas transparan. Sudah lebih moderen.
Namun Bu Hanif sengaja pertahankan tradisi lama agar Joko bisa saksikan pernikahan Aceh yang sesungguhnya.
Joko di Peusijuk oleh keluarga pak Hanif sebelum jumpa dengan pengantin wanita di pelaminan. Joko tampak sangat gagah dalam pakaian adat Aceh serba hitam. Rentjong senjata khas Aceh terselip di pinggang menanda dia pengantin dari Aceh.
Para wanita yang lihat Joko kontan terbangkan angan berharap suatu hari dapat pria seperti Joko. Memangnya ada berapa Joko di dunia ini?
__ADS_1
Setelah lewati beberapa prosesi akhirnya Joko disandingkan dengan Mawar di pelaminan yang indah.
Pelaminan khas Aceh.
Pasangan raja ratu sehari tampak gagah tampan dan cantik jelita. Semua tak siakan kesempatan ini ambil foto pasangan teranyar tahun ini di kampung.
Anwar sangat terharu lihat bosnya tampak bahagia. Bosnya yang dingin membeku kini telah mencair berkat pemanas dari seorang wanita berhati mulia. Semoga kehadiran Mawar bawa angin sejuk bagi Joko. Surganya yang pernah hilang telah ditemukan kembali.
Anwar tak kuasa menahan air mata saksikan lelaki yang pernah terluka mendapat ganti sepuluh kali lebih baik dari yang terdahulu.
Anwar tak malu bila diejek cengeng oleh orang yang melihatnya menyusut air mata. Punya air mata kebahagiaan adalah karunia Tuhan.
Anwar tak sadar seseorang perhatikan tingkah Anwar yang dianggap lelaki cengeng. Wanita merasa Anwar lucu bisa menangis demi bos. Wanita ini kan tahu jatuh bangun Joko dalam percintaan.
Wanita ini bergerak dekati Anwar yang sedang menatap pasangan raja ratu sehari dalam-dalam.
"Hhhmmm...terharu ya!"
Anwar menyusut sisa air mata bahagianya dengan ujung lengan baju. Irmina mencibiri laki ini seperti anak kecil.
"Baru lulus TK ya dek? Sedih amat ditinggal majikan?"
Anwar manyun diejek oleh Irmina yang mulai dekat sejak diperkenalkan oleh Mawar. Di mata Anwar Irmina jauh lebih intelek dari Dahlia. Anwar mungkin lupa Irmina seorang guru. Pendidikan Irmina tentu lebih tinggi dari Dahlia.
"Kau tak ngerti kehidupan bos aku itu. Hidupnya hancur karena wanita."
"Dan sekarang karena wanita dia temukan kehidupan penuh warna. Jatuh bangun pria memang karena wanita. Bang Anwar mengapa tidak segera menyusul bos biar ada tempat berbagi."
Anwar tersipu malu ditodong pertanyaan sangat pribadi. Lama ikut Joko sampai lupa cara mencintai wanita.
"Aku sudah tua. Siapa yang mau?" Anwar merendah diri.
"Lalu kenapa dek Ir tidak segera cari ganti suami? Tak baik lho seorang wanita terlalu lama melajang. Waktu berjalan terus akan jatuh senja."
"Ntahlah! Belum ketemu yang cocok. Tapi aku yakin suatu hari orang itu akan datang."
"Gimana kalau sudah datang tapi tak kau sadari?"
"Aku tak melihatnya."
Anwar mengutuk kebodohan Irmina. Dia sudah usaha beri kode tapi signal Irmina lemot tak bisa isi kode. Anwar harus pasang antena lebih tinggi agar capai wilayah Irmina.
"Kau akan melihatnya. Lihatlah dengan hati jangan gunakan mata!" ujar Anwar sok puitis.
Irmina berpikir keras makna omongan lelaki dari kota ini. Apa yang diharapkan lelaki ini. Sedang merayunya? Irmina cepat-cepat buang pikiran buruk tentang Anwar. Irmina masih ragu pada lelaki kota. Jangan dibawa ke kota lalu dicampakkan ke tong sampah.
"Aku hanya bisa berdoa saja!"
"Semoga doamu terkabul. Oya.. setelah aku pulang ke kota boleh hubungi kamu?"
"Tentu saja! Aku suka berteman."
Anwar anggap omongan sebagai isyarat bersedia menjalin hubungan tak pasti dengan Anwar. Mereka baru kenalan wajar masih ada keraguan di hati masing-masing. Anwar akan telusuri kisi hati Irmina agar bisa lihat langsung isi hati wanita itu.
Perlahan tapi pasti. Anwar akan tunggu hari itu tiba.
Acara pesta berlanjut hingga sore. Untuk acara malam diadakan doa bersama sekaligus pembubaran panitia pesta secara adat kampung dipimpin oleh tuha Peut kampung. Pembubaran acara pesta menandakan acara telah berjalan sukses tanpa gangguan.
Para pemuda kampung dan para orang tua berkumpul baca doa untuk kebahagiaan kedua pengantin.
Joko dan Mawar sudah pulang istirahat di rumah gubuk Mawar. Kamar pengantin yang indah sama sekali tidak digunakan oleh Mawar dan Joko. Mawar relakan kar itu jadi kamar Bivendra dan kedua anak Marwah.
Mawar lebih nyaman berada di rumahnya walaupun kecil. Mereka juga sudah jadi pengantin basi.
__ADS_1
Kini kedua pasangan bahagia itu telah bersatu dalam peraduan di ranjang Mawar yang tak mewah.
Joko memeluk Mawar erat-erat bersyukur semuanya berjalan lancar. Kini Mawar utuh jadi isterinya. Joko tak perlu ragu lagi kalau Mawar akan pergi darinya. Di kening Mawar sudah ada stempel nama Joko.
"Sayang...sudah tidur?" tanya Joko lembut sambil mengecup rambut Mawar tanpa kerudung.
"Hampir...hubby tak capek hari ini?"
"Tidak ..kerjanya cuma duduk doang dari mana capeknya? Kapan kita balik?"
"Lusa...Biven tak boleh terlalu lama tinggalkan pelajaran."
"Baiklah! Besok aku akan minta Anwar atur jadwal penerbangan kita. Kulihat banyak foto kamu di rumah ini! Aku mau kamu bawa ke rumah. Kamu sudah punya rumah di kota maka barang pribadimu harus dibawa."
"Hubby ijinkan aku bawa barang rongsokan?"
"Huusss siapa bilang rongsokan. Itu kenangan. Bawa saja semua barang yang kau anggap pribadi. Ntah kapan kamu akan balik sini lagi jadi lebih baik pindahkan ke rumah kita."
Mawar menyusupkan kepala ke dada bidang Joko. Di situ tempat paling nyaman bagi Mawar. Mawar merasa sangat membutuhkan Joko untuk tuntun dia meniti hari demi hari.
"Terima kasih...aku wanita paling bahagia punya suami pengertian. Hubby harus bimbing aku untuk menjadi lebih baik."
"Kamu juga harus tegur hubby bila berjalan di arah salah. Di antara kita jangan ada dusta ya! Saling terbuka baru bisa selesaikan masalah."
"Iya hubby...Oya..aku ada satu permintaan pada hubby sebelum pulang ke kota."
"Minta apa? Jangan bilang mau tinggal di sini sementara waktu. Itu pasti no!"
"Isshhh...belum omong sudah pikiran buruk! Gini lho! Uang dari hubby lebih banyak. Mak Tuo mau pulangkan uang itu lalu kubilang gunakan uang itu untuk umroh. Ajak ayah dan ibu."
"Cuma itu? Terserah kamu saja! Hubby tidak ikut campur. Yang penting semua bahagia."
"Terima kasih Hubby!"
"Sekarang tidurlah! Gunakan satu hari lagi dengan baik. Selanjutnya kamu akan jarang pulang sini."
"Iya hubby."
Joko menarik tubuh mungil Mawar makin merapat pada tubuhnya. Malam ini Joko tak ingin mengusik Mawar dengan gairah gilanya. Wanita itu tampak sangat lelah akibat ikut prosesi pernikahan cukup ribet. Syukurlah semua sudah berakhir.
Kicauan burung menyemarakkan pagi subuh. Burung pagi berkicau bangunkan umat yang ingin laksanakan ibadah subuh.
Mawar terbangun duduk di atas ranjang mengingat semua kejadian di dalam hidupnya. Berawal dari kegagalan menjadi isteri Riyan kini menjadi isteri dari lelaki lain. Siapa sangka Mawar akan menjadi ibu ganti dari anak tak masuk hitungan. Rencana jadi pengantin ganti tikar malah jadi pengantin ibu pengganti. Inilah misteri hidup.
Mawar melirik lelaki yang menjadi teman tidurnya selama sebulan ini. Sosok lelaki baik walau kadang dingin. Di balik wajah dinginnya Joko janjikan kehangatan yang hanya bisa dirasakan oleh Mawar.
Perlahan Mawar menurunkan kepala mengecup pipi dari lelaki sangar ini. Bau keharuman maskulin masih tercium hidung Mawar walau baru bangun tidur.
"Hubby...bangun! Waktunya sholat!" bisik Mawar lembut di kuping Joko.
Joko membuka mata melihat satu sosok bidadari turun dari kahyangan nyasar di tempat tidurnya.
"Kau cantik!" rayu Joko menyenangkan Mawar. Wanita manapun pasti akan bahagia dipuji oleh suami sendiri.
"Ngak ada uang receh!"
"Ngak perlu uang receh cukup sun pipi."
"Bangun...malu dilihat orang. Mentang pengantin baru telat bangun. Hubby ke mesjid ya!"
"Apa ngak dingin keluar sepagi gini?"
"Kan bisa pakai jaket. Nanti kita pergi lihat pantai sebelum bertolak pulang ke kota. Bivendra pasti senang diajak main di pantai sini. Pantainya bersih tak banyak kotoran."
"Apa boleh? Kata orang pengantin baru pantang main ke laut. Rawan bencana."
__ADS_1