
"Hei ini punya anak aku! Suka-suka aku dong!" balas Bu Tiara bikin sebal semua para ibu. Selama ini anggap Mawar seperti sampah. Giliran lihat banyak kado sudah akui Mawar anaknya. Dasar emak mata duitan.
"Ya sudah kalau ibu suka tinggal pilih saja. Ibu-ibu juga boleh pilih. Kalian semua ibu bagiku." ujar Mawar bikin Bu Hanif menahan nafas. Sudah begini para ibu pasti tidak segan mengambil apa yang mereka inginkan. Bu Hanif berencana dia yang bagi buat para tetangga biar adil. Masih ada beberapa ibu tidak hadir maka Bu Hanif harus sisihkan untuk mereka.
"Hei Mawar...suami kamu ada bawa gelang pesanan ibu?" Bu Tiara teringat gelang yang dijanjikan Joko. Gelang mahal model punyaan Bu Hanif.
"Ada Bu...ada di rumah! Belum sempat kuberikan karena kita sibuk. Nanti aku ambilkan!" ujar Mawar lembut seperti biasanya.
"Ambil sekarang! Ibu mau lihat apa sama dengan punyaan Mak Tuo kamu. Harganya tiga ratus juta lebih." pinta Bu Tiara lebih mirip perintah.
"Tapi Bu..."
"Jangan pakai tapi! Sekarang juga ambilkan!" ujar Bu Tiara dengan sewot Mawar masih ingin membantah.
Mawar menghela nafas tak berdaya hadapi ibu egois macam Bu Tiara. Wanita muda ini segera bangkit tinggalkan kelompok ibu-ibu yang sibuk dengan kado.
"Maaf ibu-ibu! Kalian boleh pilih yang kalian inginkan tapi kita harus ingat ini hak Mawar. Dan lagi masih banyak saudara yang harus kita bagi. Jadi kumohon ada pengertian." kata Marwah sepergi Mawar. Marwah ketar ketir lihat para ibu-ibu mulai kumpulkan barang sampai puluhan macam seakan mereka paling berhak.
"Marwah benar! Mawar ijinkan kita ambil bukan berarti kita boleh ambil sesuka hati. Masih banyak saudara harus kita antar kadonya." timpal Bu Hanif menyurutkan semangat juang para ibu pilih barang mahal.
"Kalian boleh pilih satu saja! Kan masih ada saudara jauh tak bisa ikut acara buka kado. Kita harus ingat mereka." tegas Bu Tiara wakili Bu Hanif hajar ibu-ibu yang lupa daratan.
Terdengar gumaman tak puas dari mulut para ibu. Rencana meraup untung jadi buntung. Alasan keluarga Mawar bukan tak masuk akal. Memang masih banyak saudara tak hadir karena jarak rumah agak jauh.
Masing-masing pilih satu macam barang berharga bisa dibawa pulang. Tak ada jalan lain selain ikuti permintaan tuan rumah.
Mawar datang lagi membawa satu kotak berlapis kain baru warna biru dongker. Kotaknya saja sangat indah apalagi isi dalamnya. Semua yang ada di situ sangat penasaran apa isi kotak warna biru dongker itu.
Mawar menyerahkan kotak itu pada Bu Tiara dengan sopan. Bu Tiara dengan tidak sabaran merampas kotak itu lantas membukanya di depan para ibu-ibu.
Seuntai gelang emas putih bertatah berlian berkilauan menyilaukan mata para ibu-ibu. Semua tak dapat menyembunyikan rasa kagum pada perhiasan yang diberikan oleh Mawar kepada Bu Tiara.
"Ya ampun indahnya! Lebih indah dari punya Mak Tuo." seru Bu Tiara bahagia sekali. Hati puas sekali bisa kalahkan Bu Hanif.
"Sudah puas toh? Makanya jangan selalu cela Mawar. Mawar demikian sayang padamu tapi kamu selalu sirik." ujar Bu Hanif mengetuk pintu hati Bu Tiara agar lihat siapa sesungguhnya Mawar. Sudah disakiti Mawar masih baik pada Bu Tiara.
Entah pengaruh hadiah atau memang hati Bu Tiara terketuk mendengar kata-kata Bu Hanif, wanita tua itu memandangi mawar dengan pandangan sendu.
"Terimakasih nak!" muncul juga ucapan yang tak pernah terucap selama ini.
"Sama-sama Bu! Nanti kalau ada model baru Mawar akan minta Joko kirim buat ibu lagi. Semoga ibu senang."
"Ayok bantu ibu pakaikan!" Bu Tiara menyerahkan gelang pada Mawar untuk dilingkarkan ke tangannya.
Dengan senang hati Mawar melaksanakan permintaan Bu Tiara. Baru kali ini Mawar dekat sekali dengan Bu Tiara yang selama ini menolaknya. Tak urung hati Mawar bergetar merasa mendapat setitik cahaya terang yang selama ini menyelimuti kekelaman hatinya.
Mereka yang melihat terbersit rasa haru juga kagum pada hadiah Mawar pada Bu Tiara. Sebentar lagi satu kampung akan tersiar kalau Bu Tiara dapat gelang ratusan juta.
Badai telah lelah mengamuk. Udara telah bertiup perlahan menyejukkan hati. Mawar yang paling bahagia karena Bu Tiara sedikit berbaikan walaupun harus disogok emas permata.
Sore hari Mawar mengajak Joko ziarah ke makam ibu kandungnya. Mawar tak tahu kehadirannya kali ini kapan baru bisa kembali ke kota kecil ini lagi. Mawar minta doa restu dari ibunya agar lindungi dia mendapatkan kebahagiaan di sisi Joko. Ibu Mawar di surga pasti bahagia melihat anaknya mendapat kebahagiaan walau bukan dari lelaki pilihan Yenni. Yenni pasti akan maklum jalan cerita hidup Mawar. Bukan Mawar yang menolak Riyan melainkan Riyan yang mencampakkan Mawar.
Keesokan harinya Mawar dan Joko serta Bivendra di antar ke bandara untuk bertolak kembali ke kota. Anwar sang asisten sebenarnya berat tinggalkan kota kecil penuh kehangatan itu. Anwar menemukan wanita di sini baik dan peramah. Bayangan hatinya tertinggal di kota ini walau bentuknya terbawa ke kota. Anwar punya dua kandidat untuk dibawa pulang ke kota kelak yakni Irmina dan Dahlia. Sekarang mereka berteman dulu saling mengisi klik sampai klop.
Seluruh keluarga besar Mawar mengantar sampai ke bandara termasuk si licik Bu Tiara. Kena tempelan berlian kontan berubah ramah. Berlian lain pasti akan menyusul bila dia tetap ramah pada Mawar. Rasa sayang berhias kepalsuan. Ntah kapan Bu Tiara baru akan berubah punya hati benar-benar tulus.
__ADS_1
Mawar tak mau memikirkan perubahan Bu Tiara. Dia sudah harus fokus pada keluarga yang baru terbangun. Selamat tinggal masa lalu. Hari cerah sudah menanti Mawar.
Setahun kemudian. Mawar merasa perutnya agak mulas serasa mau buang air besar. Pinggang serasa mau patah kena hantaman godam super raksasa. Seluruh badan mau patah-patah akibat rasa melilit di perut.
Mawar tak tega bangunkan Joko yang tertidur lelap. Jam digital di dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Sekeliling sangat sepi karena semua penghuni rumah sudah terbuai oleh mimpi.
Rasa lilit makin menjadi sampai Mawar keluar keringat dingin. Wanita ini tak tahan lagi segera bangunkan Joko. Mawar sudah tak peduli Joko akan kurang senang tidurnya diganggu oleh Mawar.
"Hubby.." panggil Mawar menahan rasa sakit di perut.
"Ehm.." Joko membuka mata sekilas lantas tutup lagi.
"Hubby..perutku sakit!" lirih Mawar tetap pelan.
"Sakit? Ya Tuhan..." Joko meloncat bangun melihat isterinya bermandi keringat menahan sakit.
"Iya hubby...kita ke rumah sakit?"
"Aku ganti baju dulu. Kau duduk saja!" Joko meloncat segera bersiap bawa Mawar ke rumah sakit. Tas berisi perlengkapan bayi sudah Joko siapkan jauh hari. Joko mau jadi ayah siaga bagi anak yang bakal lahir dari rahim Mawar.
Selama ini Mawar hidup bahagia bersama Joko dan Bivendra. Tak lama berselang Mawar hamil anak pertama sedangkan anak kedua buat Joko.
Dan kini waktunya Mawar melahirkan bayi mereka. Joko telah berjaga sampai hari lahiran. Semua perlengkapan telah dipersiapkan menyambut sosok baru penghuni bumi.
Joko membangunkan Bibik agar jaga Bivendra. Joko tak mungkin ajak anak itu ke rumah sakit menunggu mami tercintanya melahirkan. Joko dan Mawar saja ke rumah sakit.
Mawar berusaha tidak cengeng berteriak seperti ibu muda lain. Kodrat wanita memang harus melahirkan memberi keturunan pada keluarga. Mawar tak bisa menyalahi kodrat.
Joko gugup bukan main melihat Mawar gelisah. Wanita menahan rasa mules dan sakit tanpa keluarkan sepatah katapun. Hanya raut wajah kusut seperti orang sangat menderita. Kalau Joko punya sayap ingin rasanya Joko kembangkan sayap terbangkan Mawar ke rumah sakit.
Masih untung jalan bebas macet sehingga mobil meluncur tanpa hambatan. Rasanya rumah sakit itu jauh sekali padahal jaraknya tak begitu jauh. Joko membuat keadaan jadi panik.
Rumah sakit dalam kondisi sepi karena banyak aktifitas telah berhenti. Hanya satu dua perawat menunggu pasien didepan ruang tindakan.
Joko hentikan mobil persis didepan pintu masuk rumah sakit. Lelaki ini segera turun memanggil petugas medis untuk bantu Mawar.
Dua perawat wanita bertindak cepat membantu Mawar turun dari mobil. Mawar di tempatkan di kursi roda langsung di bawa masuk ke tindakan pertama.
"Isteri aku mau lahiran!" ujar Joko seperti orang bodoh.
"Iya pak! Bapak ke bagian pendaftaran saja!"
"Sudah terdaftar dari bulan kemarin."
"Oh gitu ya pak! Biar aku telepon dokternya." sahut perawat itu ramah karena Mawar adalah pasien tetap rumah sakit ini.
Ternyata jauh hari Joko sudah persiapkan segalanya. Joko sendiri lupa bagaimana isteri pertamanya melahirkan. Rasanya Joko tidak sepanik ini. Dulu rasanya sangat gampang.
Mawar telah didorong ke ruang melahirkan oleh perawat atas instruksi dokter. Tampaknya Mawar memang akan segera lahiran. Joko hanya ikut dari belakang seperti seekor kerbau dicocok hidung. Ke mana Mawar di bawa di situ Joko berada.
Joko tak diijinkan masuk sebelum dokternya datang. Para perawat hanya ikuti arahan dokter.
"Sus...isteri aku bagaimana?" buru Joko karena Mawar telah di telan pintu ruang melahirkan.
"Sabar ya pak! Nampaknya memang mau lahiran. Cuma kita tunggu dokter. Beliau sedang berangkat ke sini. Bapak duduk saja di bangku sana." Perawat itu menunjuk bangku tanpa penghuni. Tak ada orang lain selain Joko calon papi dari bayi di perut Mawar.
__ADS_1
Joko tidak tenang walau sudah disuruh duduk. Bangku-bangku itu seperti ada duri tak nyaman di duduki. Masih enakan berdiri mondar mandir tunggu kabar.
Dokter yang selama ini merawat Mawar datang walaupun di tengah malam buta. Demikian lah pengabdian seorang dokter. Tak kenal waktu tetap harus tangani pasien.
"Ach pak Joko.. sudah lama?" dokter itu menyalami Joko.
"Baru juga dok! Perut Mawar mendadak sakit. Mungkin saatnya lahiran." kata Joko jelas sekali gugup.
"Tenang pak! Aku akan periksa sudah bukaan berapa?"
"Buka apa?" tanya Joko persis orang bloon.
"Pintu melahirkan. Bapak tunggu disini saja! Aku akan periksa. Nanti kalau sudah bisa aku akan ajak pak Joko masuk untuk beri semangat pada isteri bapak! Sabar ya!" Dokter perempuan itu meninggalkan Joko.
Joko hanya bisa manggut seperti anak kecil diminta duduk manis.
Dalam hati Joko berdoa semoga Mawar mendapat kekuatan melahirkan secara normal. Joko sudah siapkan skenario terburuk bila harus operasi caesar. Apapun akan dia lakukan agar istri dan anaknya selamat.
Di tengah rasa galau tiba-tiba Joko dipanggil oleh seorang perawat untuk masuk ke dalam ruang bersalin. Joko menyeret langkah mengikuti perawat itu masuk ke dalam ruang tempat istrinya akan segera melahirkan penerus keluarga Joko.
Mawar tampak sedikit senang melihat orang yang dia sayangi telah datang. Dari tadi kan Mawar mengharap Joko masuk untuk memberinya kekuatan. Sayang dokter belum izinkan Joko masuk karena belum waktunya.
"Pegang lah tangan isteri bapak! Pembukaan sudah sempurna. Tak lama lagi isteri bapak akan segera melahirkan."
Joko ikuti instruksi dokter menggenggam tangan Mawar beri spirit. Joko beri senyuman agar Mawar merasa tenang.
"Kau pasti bisa sayang!" bisik Joko lembut di kuping Mawar.
"Aku bisa..."
"Bagus...kita berjuang bersama!"
Bu dokter beri aba-aba pada Mawar untuk mengejan.
"Ambil nafas lalu keluarkan! Lakukan berkali-kali. Ayok sekarang!"
Mawar kerahkan seluruh tenaga memaksa bayinya muncul untuk ikut meramaikan kehidupan di alam fana ini.
Satu kali gagal. Bu dokter biarkan Mawar istirahat sejenak lalu diminta mengejan lagi.
Melihat Mawar demikian sulit melahirkan Joko jadi kasihan. Ternyata tidak gampang menjadi wanita. Harus bertanggung jawab beri keturunan pada suami dan menahan sakit waktu melahirkan.
Setelah alami proses menyakitkan ini wanita mendapat kebahagiaan merupakan karunia. Yang celaka setelah lewati masa sulit ini suami ketahuan selingkuh. Dunia wanita itu kontan kiamat. Rasa sakit melahirkan makin sakit ditambah perselingkuhan suami. Joko bersumpah akan jauhi hal menyakiti Mawar. Cukup Mawar seorang dalam hidup Joko.
"Ayo...sedikit lagi! Kepalanya sudah nampak! Ayo..." Bu Dokter terusan beri semangat pada Mawar.
Mawar kerahkan tenaga terakhir dorong si jabang bayi hirup udara penuh polusi. Tangisan kencang sang bayi memecahkan ketegangan dalam ruang bersalin.
Mawar melahirkan seorang bayi lelaki. Joko terharu sampai meneteskan air mata. Air mata bahagia. Akhirnya keluarga Joko telah lengkap. Punya putri dan seorang putra baru lahir.
"Terima kasih sayang." Joko mengecup kening dan bibir Mawar.
Wajah Mawar sangat pucat karena berjuang memberi keturunan pada Joko. Anak lelaki dambaan Joko telah terlahir ke dunia.
"Wah...anaknya sehat dan panjang. Empat kilo dan panjang 53 Senti. Anak sehat. Selamat pak Joko. Anda telah memiliki seorang putra. Silahkan bapak tunggu di luar karena kami akan bersihkan isteri anda serta heating karena ada kerobekan di daerah vital. Maklumlah anak anda sangat besar! Silahkan!" sang dokter meminta Joko keluar untuk memberi peluang pada mereka untuk mengurus Mawar dan bayinya.
__ADS_1
"Hubby tunggu kamu diluar. Terima kasih ya sayang. Dengarlah suara adzan di mesjid! Anak kita lahir bertepatan suara adzan. Semoga dia jadi anak Soleh."
"Amin"