
Hati Mawar terenyuh lihat keceriaan seorang anak kecil terampas oleh duka seorang ayah. Mawar heran mengapa Joko berkesan mengabaikan anak kecil itu. Mau jemput tapi tak open.
Anak itu dimasukkan ke jok belakang bersama Mawar. Bivendra masuk otomatis Mawar harus bergeser ke kanan berdempetan dengan Joko.
Secara tak sengaja lengan Mawar tersentuh tangan kokoh Joko. Ada aliran listrik ribuan volt menyengat kulit Mawar sampai Mawar sendiri merinding. Ini lelaki dewasa kedua yang pernah dekat dengan Mawar selain Riyan mantan suami.
Sementara itu Bivendra menajamkan mata kepada Mawar. Wajah itu sedatar wajah ayahnya. Mawar tak tahu Bivendra memanggil Joko dengan sebutan apa. Bisa ayah, Daddy atau papa. Mawar tak berani sok akrab karena mereka baru jumpa pertama.
Lagi-lagi keheningan melingkupi dalam mobil mewah milik Joko. Kelihatannya tak ada yang mau buka mulut walau hanya sekedar menyapa. Sungguh sifat batang kayu. Kaku tak bisa bergerak.
Mobil melaju meninggalkan tempat les Bivendra. Kemacetan telah merajalela membuat mobil terpaksa merayap seperti siput. suara bising klakson terdengar sana-sini memaksa mobil maju ke depan.
"Kita ke mana pak Joko?" akhirnya telur keheningan pecah barulah mengalir suara. Itu suara Anwar asisten multi talenta.
"Kita pergi beli Snack dan es krim dulu!" sahut Joko tanpa mengubah nada suara. Tetap dingin seperti es batu baru dikeluarkan dari kulkas.
Mawar menduga Pak Joko ingin membeli sesuatu untuk anaknya buat cemilan di rumah. Kelihatannya lelaki itu menyayangi anaknya tetapi tidak tahu cara mengekspresikan rasa sayang itu. Mawar sangat menyayangkan hubungan yang tidak sehat ini. Anak bapak seperti orang asing walaupun setiap hari bersama.
"Aku boleh turun di tepi jalan sana?" tanya Mawar lembut merasa tak enak ganggu acara keluarga.
"Nona mau langsung pulang?" tanya Joko.
Sebelum Mawar menjawab terasa ada tangan mungil menyentuh tangannya perlahan. Mawar menunduk kepala melihat pemilik tangan itu menatap Mawar penuh harapan.
Mawar tersadar gadis kecil itu sedang ingin menyampaikan sesuatu. Namun bibir mungil itu masih berat luncurkan suara.
"Ach tidak apa pak! Aku ikut saja temani Bivendra cari belanjaan."
"Terima kasih." hanya itu yang keluar dari mulut Joko sedangkan Bivendra masih bungkam cuma tangannya masih memegang tangan Mawar. Mawar membalas sentuhan anak itu dengan cara mengelusnya perlahan untuk menenangkan jiwa si kecil.
Anwar tersenyum tipis melihat anak bosnya mulai ada sedikit reaksi terhadap orang asing. Biasanya Bivendra akan menolak siapapun yang ingin dekati dia. Bivendra seolah protek diri sendiri dengan selapis selaput kenyal tak mudah dirusak.
Anwar sengaja bawa Joko dan Mawar ke pusat belanja lengkap supaya bisa puas belanja. Jarang-jarang Joko mau ajak Bivendra keluar bersama. Biasa apapun keperluan Bivendra sudah ada yang belikan. Anak itu tidak pernah protes walau dibeli apapun. Tidak dibelikan dia juga tidak minta.
Mawar membantu Bivendra meletakkan tas di atas jok sebelum mereka turun ke parkiran mall yang tak begitu ramai. Bivendra hanya diam saja biarkan Mawar bantu dia.
Mawar takut anak ini tidak memiliki emosi bahkan tidak memiliki perasaan. Sikap dan wajahnya flat saja tanpa ekspresi suka atau tidak suka.
Mawar ulurkan tangan berharap anak ini mau terima tangannya sebagai tanda bersahabat. Tentu saja dengan senyum manis sebagai salam kenalan.
Lama Bivendra menatap tangan Mawar seolah ragu untuk menerima uluran tangan orang asing. Mawar juga tak memaksa menanti reaksi gadis cilik itu. Apapun yang akan dilakukan oleh Bivendra Mawar telah siap.
Ternyata Bivendra memilih bersahabat. Tangan si kecil auto masuk ke dalam genggaman tangan Mawar. Mawar tersenyum senang mengajak Bivendra meninggalkan parkiran masuk ke gedung sarat dengan aneka produk kebutuhan manusia.
Udara sejuk menyambut kedua wanita beda usia itu. Kedua terus melangkah seakan lupa masih ada orang mau ikut.
Joko melihat reaksi anaknya pada Mawar. Joko sendiri tak sangka anaknya bersedia jalin hubungan dengan pegawai sang papa. Satu point untuk Mawar dari Joko.
Joko menyusul kedua wanita itu ke mall tinggalkan Anwar jaga mobil. Anwar melihat cahaya cerah telah muncul dalam keluarga kutub selatan ini. Mawar si gadis berhijab.
Mawar sengaja bawa Bivendra lalui rak berisi buku dan peralatan sekolah. Mawar mau lihat bagaimana reaksi gadis kecil ini terhadap peralatan sekolah. Biasa anak pencinta pelajaran akan senang dibawa ke tempat begini. Namun sayang Bivendra cuek saja malah ngeloyor pergi cari sesuatu lain yang menarik hati.
__ADS_1
Mawar ikut dari belakang lihat apa kemauan anak ini. Lama berputar anak itu berhenti di bagian hiasan rambut seperti pita lucu serta bando warna warni. Tangan mungil itu mengelus barang-barang dipajang dia tak mengambil satupun.
"Sayang...kalau suka boleh ambil" Mawar berkata beri semangat pada Bivendra agar punya keberanian ungkap isi hati. Ingin sesuatu bisa ekspresi di tempat.
Bivendra tampak ragu untuk mengambil salah satu barang yang dia anggap menarik hati. Gadis itu diam saja cuma menatap sepasang pita warna pink berhias kupu-kupu lucu.
Mawar meraih pita itu lalu cocokkan ke rambut panjang Bivendra. Anak ini tampak lebih imut dengan adanya hiasan di kepala. Ada rasa manusiawi.
"Ok...kita ambil! Ini rahasia wanita lho! Nanti akan kakak pasangkan ke rambutmu! Bagusnya dipasangkan sewaktu ke sekolah."
"Tak ada yang pasangkan!" lirih Bivendra dengan suara nyaris tak terdengar. Untunglah kuping Mawar terlatih dengar keluhan para murid maka langsung nangkap bisikan gadis muda ini.
"Tak masalah. Besok pagi kakak yang pasangkan sebelum ke sekolah. Kakak akan datang ke rumahmu lebih cepat. Ok? Ayok kita cari keperluan lain! Endra pingin apa? Kakak akan bantu cari."
Bivendra tak segera jawab pertanyaan Mawar. Gadis cilik itu masih berpikir keras janji Mawar akan datang lebih pagi untuk bantu dia berkemas ke sekolah.
"Kakak mau bantu Endra berkemas ke sekolah?"
"Tentu...pokoknya sekarang kita happy dulu! Lupakan yang lain! Ini waktu untuk anak gadis macam kita! Kakak juga doyan es krim. Kamu suka rasa apa? Kakak senang rasa melon."
"Rasa coklat.." Bivendra terpancing keriangan Mawar. Mawar yang lembut mendayu cepat tahu kebutuhan gadis kesepian ini. Bivendra hanya butuh perhatian.
"Coklat? Ok...coklat! Ayok kita cari kesukaan kita!" Mawar tawarkan kehangatan mengajak Bivendra lupakan hal tak bahagia. Time for happiness.
Bivendra belum terbiasa riang seperti Mawar masih kaku ikuti Mawar ke bagian makanan kecil untuk isi perut di waktu senggang. Mawar ambil troli biarkan Bivendra pilih apa yang dia inginkan. Mawar tak lupa beli beberapa macam makanan ringan untuk John. Lajang itu pasti girang dibawa pulang oleh-oleh di hari pertama Mawar kerja.
Dari jauh Joko saksikan bagaimana Mawar merayu Bivendra untuk bahagia. Belum banyak tampak hasil namun Bivendra sudah buka sedikit mau bicara dengan orang.
Joko biarkan saja Mawar melayani anaknya. Dia berdiri agak jauh pantau gerakan dua wanita beda generasi itu.
Dal sekejap troli sudah penuh belanjaan Bivendra. Banyak sekali anak itu belanja. Semua rata-rata makanan ringan serta coklat batang.
Mawar belum berani melarang Bivendra konsumsi makanan cemilan yang kurang sehat. Untuk mengambil hati anak pendiam butuh waktu panjang dan perlahan. Tak bisa tergesa-gesa paksa anak itu terima lingkungan baru.
Bivendra dan Mawar dorong troli ke kasir antri bayar harga barang. Mata Bivendra mencari lelaki yang dia sebut papi. Tanpa disuruh Joko segera hampiri kedua orang itu untuk bayar semua belanjaan Bivendra.
Joko berikan satu kartu kepada Mawar untuk bayar di kasir. Laki itu tidak omong apapun selain sodorkan kartu. Mawar malah segan sentuh alat bayar canggih kini. Belanja cukup bawa satu lembar kartu sebesar kotak korek api.
Joko tidak open kecanggungan Mawar. Laki itu dengan santai melewati Kasir berjalan agak menjauh. Hal ini membuat Mawar makin tak enak hati. Perasaan Mawar mengatakan Joko bisa salah sangka padanya pikir ajar Bivendra hambur uang Joko.
Satu persatu belanjaan Bivendra di cek oleh kasir. Berkantong-kantong barang menguras isi kartu Joko. Anak itu tidak tanya sedikitpun berapa dana dikeluarkan oleh papinya untuk penuhi keinginan Bivendra. Mungkin mereka sudah biasa begini. Joko hamburkan uang untuk menyenangkan Bivendra.
Mawar menyisihkan belanjaan dia tak mau gabung dengan barang Bivendra. Mawar tak mau gunakan uang Joko untuk belanja dia. Mawar bayar dengan uang kontan untuk cemilan John.
Joko bukan buta tak lihat Mawar membuka tas keluarkan beberapa lembar uang warna biru berikan ke kasir. Tampaknya cewek ini bukan orang suka gunakan kesempatan dalam kesempitan. Kartu di tangan namun dia tak gunakan untuk kepentingan pribadi. Dua point untuk Mawar.
Semua belanjaan dimasukkan kembali ke dalam troli cuma bedanya barang itu semua berada dalam bungkusan plastik.
Mawar dan Bivendra saling membahu mendorong troli itu menuju keluar mall menuju ke parkiran. Gadis kecil itu menatap Mawar penuh arti tanpa berkata apa-apa. Hanya bahasa mata lapor pada Mawar kalau dia senang.
Mawar tidak memaksa Bivendra untuk langsung buka diri. Waktu mereka masih panjang selama Mawar masih kerja di kantor Joko.
__ADS_1
Joko hampiri kedua wanita ini ambil alih troli untuk di dorong sampai ke parkiran. Dengan mudah Joko bawa benda beroda itu keluar dari mall.
Mawar menggandeng Bivendra menyusul Joko dari belakang. Kini genggaman Bivendra sudah tidak sekaku tadi pertama jumpa. Sudah ada kelembutan.
Anwar tidak berdiam diri menyambut para majikan keluar dari mall. Sebagai asisten Anwar siaga dua puluh empat jam. Seluruh hidup laki ini hampir kandas di tangan Joko. Dalam usia cukup tinggi belum ada pacar. Jomblo karatan hampir tak laku di pasaran lagi.
Anwar menyusun belanjaan ke bagasi belakang biar tidak ganggu para majikan duduk di jok belakang. Anwar menyusun semua belanjaan dengan sabar. Kesabaran ini yang bawa Anwar jadi kepercayaan Joko. Joko percayakan semua keperluannya pada Anwar.
Joko masuk ke dalam mobil dari kanan sedangkan Bivendra telah pindah posisi duduk di tengah memisahkan Mawar dengan Joko. Mawar lega dengan posisi ini.
Anwar starter mobil setelah tugas selesai. Tujuan sekarang adalah bawa Mawar pulang ke rumahnya baru antar Joko dan anaknya ke rumah.
Letak rumah Joko dan rumah Indy tak begitu jauh. Hanya selisih beberapa blok. Cuma kawasan rumah Joko lebih elite dan bangunan lebih gede. Type rumah Indy lebih sederhana. Semua menurut kekuatan kantong. Makin besar kantong makin besar pula bangunan dibeli.
"Besok kakak akan datang. Endra tunggu saja ya!" bisik Mawar pelan di kuping Bivendra.
Bivendra manggut kecil sangat setuju dengan bisikan Mawar. Cuma sayang Bivendra tak suka perdengarkan suara kecilnya. Bicara saja irit apalagi yang lain.
Akhirnya mereka tiba di rumah Indy. Hari mulai sore hilangkan kegarangan cahaya mentari. Langit mulai temaram sisakan bias kuning keabuan. Sebentar lagi bias ini akan hilang diganti lembaran kelam langit. Hitam pekat bila tanpa bulan dan bintang.
Mawar mengelus pipi Bivendra sebelum turun dari mobil. Mawar hanya mau sampaikan kalau Bivendra itu punya harga pantas dijadikan teman.
"Kakak pulang dulu ya! Kalau ada pelajaran tidak bisa boleh Videocall kakak. Kakak ini dulu guru lho!"
"Nomor kakak?"
"Oh iya...tunggu ya!" Mawar keluarkan kertas dari tas mencoret beberapa angka di atas kertas itu baru berikan pada Bivendra.
Tangan mungil Bivendra menerima kertas itu dengan gaya agak ngeselin. Flat tanpa perasaan. Harusnya kan senang di beri nomor telepon sama seseorang.
"Jangan segan telepon kakak kalau perlu kakak! Assalamualaikum."
Tak ada jawaban dari siapapun dalam mobil. Tampaknya mereka tidak budayakan sopan santun umat beragama. Mawar tak masalahkan karena Bivendra tak ada yang arahkan.
"Besok jam setengah tujuh aku jemput kamu!" kata Joko tiba-tiba. Mawar menduga Joko ikut nguping janji dia pada anaknya. Kalau tidak mana mungkin dia mau jemput Mawar sangat pagi.
Mawar membalas perkataan Joko dengan anggukan kepala. Mawar melambai pada Bivendra sebelum menutup pintu mobil.
Mobil ditumpangi Joko dan anaknya melaju meninggalkan depan rumah Indy. Mawar masih mematung lihat mobil Joko pergi menjauh.
Mawar kasihan pada Bivendra. Anak sekecil itu telah menutup rapat diri sendiri. Apa penyebab anak itu membungkus diri dari pergaulan. Pasti ada hal berat bebani anak itu baru ada hari ini.
Mawar tak tega melihat masa kecil Bivendra berlalu suram tanpa kenangan indah. Hari-hari hanya dipenuhi kesunyian.
Mawar bertekad kembalikan masa kanak-kanak Bivendra. Anak itu harus nikmati keceriaan sebagaimana anak lain.
Mawar masuk ke rumah setelah mobil Joko hilang dari pandangan mata. Gadis ini mengetuk pintu berharap kuping Bik Tun tidak tersumbat hari ini.
Ketukan Mawar mendapat respon dari dalam. Pintu terbuka hadirkan sesosok lajang tanggung berdiri tegak pasang wajah tak senang Mawar telat pulang.
"Assalamualaikum.." sapa Mawar usir tampang judes John.
__ADS_1
"Waalaikumsalam.." sahut John ketus