
Mawar bersyukur John punya pemikiran lain pada Arsy dan Bivendra. John tentu tak tega lihat Mawar abaikan kedua anak kecil itu maka beri solusi pada Mawar ajak kedua anak cewek itu ke tempatnya.
Mawar dan John masuk ke kamar masing-masing untuk bersihkan diri. Sebentar lagi magrib akan menjelang mengharuskan umat Islam tunaikan salah satu rukun Islam.
Mawar tak mau ketinggalan laksanakan panggilan ibadah. Mawar rasa sudah waktunya dia didik John kenal agama. Anak itu hanya beragama dalam mulut. Pelaksanaan belum satupun terlihat.
Mawar mencari John untuk ajak anak itu sholat. Kemampuan anak itu laksanakan ibadah masih diragukan namun tak salah bila dicoba. Suasana hati anak itu lagi baik karena dapat nilai sempurna. Ini sangat membantu John mengarah ke jalan lebih baik. Pelajaran sekolah lebih sulit bisa dia lahap dengan cepat apa lagi cuma sekedar ibadah.
Dengan keyakinan kecil Mawar memanggil John di penguasa lantai atas.
"John...John sayang..." suara Mawar bergema ke seluruh ruangan sepi.
"Ya..." terdengar sahutan tanpa bentuk orang. Hanya suara jawaban terdengar dari lantai atas.
"Turun sini!"
"Sabar... lagi bersiap mau sembahyang magrib." terdengar sahutan bikin hati Mawar meleleh. Sejak kapan anak itu berubah tanpa sepengetahuan Mawar. Rasanya Mawar belum ajar John beribadah. Sekarang anak itu mendadak ngerti arti jadi orang muslim. Ini satu kejutan bagi Mawar.
Mawar ingin sekali menangis ekspresikan betapa bahagianya dia telah bawa seorang anak tersesat kembali ke jalan benar.
"Sholat Lah !" gumam Mawar tak peduli didengar John atau tidak. Hati Mawar dipenuhi euforia temukan fakta John berubah total jadi anak baik.
Indy pulang lewat magrib. Wajah wanita ini sangat lelah menjelang dia akan berangkat ke Jerman. Mawar dan John tak berani bertanya apa-apa sebelum Indy buka suara.
Dari raut wajah sudah tercetak Indy ada kesulitan. Mawar berharap Indy mau berbagi cerita tentang masalah yang sedang dia hadapi. Namun Mawar tak bisa memaksa bila Indy pilih pendam sendiri kesulitan sedang dia hadapi.
Indy ajak Mawar dan John makan malam bersama seperti biasa. Indy agak diam tak ceria seperti biasa. Kalau bisa Mawar ingin memberi bahunya pada Indy untuk bersandar.
Acara makan malam lebih banyak diwarnai oleh kebisuan. Hanya ada dentang sendok dan piring menyemarakkan suasana yang agak mencekam ini.
"Mawar...Daddy nya John sakit berat. Dia ingin jumpa John jadi besok John ikut berangkat ke Jerman." ujar Indy memecahkan keheningan.
Bukan hanya Mawar yang kaget. John juga ikut kaget karena tiba-tiba harus tinggalkan tanah air ke tempat kelahiran dia. Tanpa pemberitahuan dari Indy pula. Semua serba mendadak.
"Mami...ada apa ini? John kan masih sekolah." protes John tak mau berangkat.
Indy meletakkan sendok di atas piring menatap anaknya dalam-dalam. Indy juga tak mau John ketinggalan mata pelajaran karena anak itu sedang giatnya belajar. Indy bukannya tak tahu John banyak berubah sejak di bawah bimbingan Mawar.
"Daddy kamu sakit berat. Dia mau jumpa kamu sebelum ajal tiba. Kamu tidak mau jumpa Daddy?" tanya Indy dengan suara memelas.
"Dia sudah punya isteri lain. Apa masih perlu kita?" ketus John tak iba pada bapaknya.
"John...gimanapun dia Daddy kamu! Dan lagi dia menikah setelah mami dan Daddy pisah. Artinya dia bukan main gila. Tidak lama kok! Paling seminggu. Kak Mawar kamu takkan ke mana. Kak Mawar harus jaga rumah dan perusahaan mami." Indy terus bujuk John agar mau ke Jerman jumpa bapaknya. John memang kurang suka pada bapaknya yang dia anggap terlalu nakal.
"Maksud mbak Indy?" giliran Mawar bertanya.
"Mawar...selama mbak pergi, kamu datang ke perusahaan mbak! Mbak akan beri pengarahan kepadamu setiap pekerjaan. Mbak tak bisa lepaskan pada orang lain. Kau mau bantu mbak kan? Begitu Daddy John sehat kami segera pulang."
"Tapi aku tak ngerti pekerjaan mbak!"
"Nanti ada asisten mbak akan beri tahu padamu. Pokoknya kalian terus komunikasi dengan mbak apabila menemukan masalah. Pekerjaan Mbak sangat gampang kok asal kamu hati-hati dalam bertransaksi. Kamu mau bantu mbak kan?"
Mawar bukanya tidak ingin membantu Indy yang sangat baik itu melainkan meragukan kemampuan sendiri. Mawar hanya seorang guru mana mengerti soal bisnis. Takutnya nanti malam merugikan perusahaan Indy.
"Aku takut mbak!"
__ADS_1
"Nanti ada Bagas bantu kamu. Kamu bisa konsultasi dengan Bagas bila menemukan kesulitan. Riyan juga bisa bantu. Pokoknya mbak akan minta tolong pada kedua adik mbak ringankan tugasmu."
"Gitu ya?" Mawar tak bisa mengelak lagi. Budi baik Indy padanya tak mungkin dia balas seketika. Indy terlalu baik untuk ditolak.
"Apa sih sakit Daddy? Bukankah dia baik saja?" rengut John keberatan ikut ke Jerman.
"Daddy kamu selalu bilang sehat tapi faktanya dia sakit. Kita pergi lihat sebentar biar dia cepat pulih. Dia rindu padamu." Indy menepis bayangan buruk John pada daddy-nya. John sangat tidak suka kepada daddy nya menikah lagi setelah bercerai dengan maminya. John anggap sang Daddy berkhianat.
"Aku pergi bersiap. Janji satu Minggu saja ya! Kami sering ulangan. Sayang kalau terlewatkan."
"Mami janji. Asal Daddy sudah jumpa kamu kita bisa pulang."
John tidak jawab melainkan ayun langkah meninggalkan ruang makan naik ke lantai atas untuk berbenah. Dalam hati John tak tega juga dengar daddy-nya sakit pingin jumpa. Sebagai anak satu-satunya dia wajib turut menjaga kesehatan sang Daddy. Seberapa tak suka laki Jerman itu tetap bapak John.
Kini tinggal Mawar dan Indy. Indy menarik nafas dalam-dalam tunjukkan kegundahan hati. Di depan anaknya Indy berusaha tegar supaya John tak curiga daddy nya sakit parah. Isteri muda mantan suaminya telepon kalau bapak John sakit berat ingin jumpa keluarganya. Ini tunjukkan mantan suami Indy masih sayang pada keluarganya.
"Daddy nya sakit berat. Aku belum jelas sakit apa tapi sepertinya sangat kronis. Kau harus bantu aku kelola perusahaan ya!"
"Aku akan usaha mbak! Mbak tenang saja!" janji Mawar ingin balas Budi baik Indy.
"Daddy John memang pernah bersalah maka kami pisah. Tapi bukan berarti tak ada kata maaf. Kamu juga Mawar. Riyan memang pernah salah tapi cobalah lepaskan semua rasa ego. Beri dia kesempatan untuk tunjukkan dia bisa bayar rasa salah itu. Riyan cemburu maka dia gegabah."
"Cemburu atau egois mbak? Kurasa antara kami belum timbul rasa cinta. Aku berusaha terima dia dengan segala kelebihan dan kekurangan. Tapi dia tak percaya padaku. Dia lebih percaya pada cerita orang. Apa aku harus berdiri di samping orang yang pandang rendah harga kita?"
"Mawar...Riyan sudah menyesal bukan main. Seharusnya kau coba buka hati beri dia waktu untuk menebus rasa salahnya. Mbak dukung kalian bersatu lagi. Coba ingat Rizky dan Arsy! Kedua anak itu takkan bahagia punya ibu tiri orang lain. Hanya kamu yang cocok dengan mereka." nasehat Indy panjang lebar buka pemikiran Mawar agar lupakan kesalahan Riyan.
Mawar tidak ingin jawab sekarang. Perasaan terluka masih terasa pedih. Untuk pulih perlu waktu tak terhingga.
"Aku akan pikir itu mbak! Terima kasih sudah beri masukkan."
"Iya mbak! Aku akan coba kaji ulang. Oya jam berapa mbak berangkat besok?"
"Agak pagian karena transit beberapa tempat. Aku sudah pesan taksi jadi kau tak perlu antar. Aku sudah sediakan supir untuk antar jemput kamu ke kantor. Kuharap kau jaga semuanya dengan baik."
"Insyaallah mbak!"
"Mbak harap begitu. Mbak ingin istirahat lebih cepat. Oya...mbak sudah minta ijin pada guru John! Jadi kau tak perlu ke sekolah lagi. Besok langsung ke kantor ya!"
"Ya mbak..."
"Mbak ke kamar dulu." Indy juga tinggalkan meja makan masuk ke kamar.
Mawar masih duduk di kursi renungi semua perkataan Indy. Terlalu gampang maafkan Riyan kelak akan jadi bumerang bagi Mawar. Royan pasti tidak respek pada wanita yang mudah ditaklukkan hanya dengan sedikit gombalan. Mawar bukan wanita mudah terperdaya oleh mulut manis. Rasanya tak ingin beri kesempatan pada Riyan. Biarlah dia cari wanita lain yang bisa dapat kepercayaan dia.
Mawar tidak berlama tenggelam dalam kekalutan Riyan. Biarlah waktu yang mengatur takdir hidupnya. Dia cukup tetap berjalan di jalan yang benar.
Pagi subuh Indy dan John sudah harus ke bandara karena berangkat dengan pesawat cukup pagi. Mereka akan transit di beberapa negara untuk capai negara Jerman.
Mawar hanya antar sampai depan pintu karena Indy tak ijinkan Mawar repot ke bandara.
John memeluk Mawar erat-erat tak ingin pisah. Mawar telah mengukir kebajikan di hati anak lajang itu maka John sangat sayang pada Mawar. Rencana mereka ajak Arsy dan Bivendra main ke rumah jadi pupus akibat Daddy John sakit. John harus ke negara Jerman jumpa Daddy. Ini permintaan lelaki bule itu.
"Tetap jadi adik kak Mawar ya! Patuh pada mami ya! Semoga Daddy kamu cepat sembuh dan kau cepat balik sini. Kakak menunggumu pulang."
"Selama aku tak ada kakak tak boleh pergi jauh. Pulang kerja tepat waktu ya! Jangan terima tamu laki di malam hari! Ini bahaya!"
__ADS_1
Mawar tertawa dengar wejangan John seperti orang tua beri arahan pada anak gadis umumnya.
"Iya opa John...cucu akan patuh! Hati-hati di sana! Kirim kabar ya!"
"Iya.. assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..."
John melepaskan pelukan berlari ke mobil taksi yang sudah menanti dari tadi. Keduanya tak ubah seperti pasangan kekasih akan berpisah jauh. Saling beri janji setia.
Indy tak sabar lihat John dan Mawar berlagak seperti sepasang kekasih. Waktu mereka sangat kepepet karena pesawat tak suka disuruh menunggu penumpang.
John melambai dari dalam mobil berat tinggalkan kakak cantiknya. Baru kali ini John peduli pada orang lain. Anak ini lama hidup tanpa pegangan sehingga sekali dapat pegangan enggan lepaskan. Dasarnya John anak baik maka tak sulit bawa dia kembali.
Mawar berdiri di pintu sampai mobil taksi ditumpangi Indy dan John menghilang dari pandangan mata.
Gadis ini masuk ke dalam dengan hati kosong. Rumah yang sepi akan makin sepi tanpa John. Gaya konyol anak itu hanya tinggal kenangan bagi Mawar. Seminggu lagi baru bisa lihat tingkah nakal John. Mawar tak sabar tunggu hati itu tiba.
Selanjutnya Mawar bersiap berangkat ke tempat kerja Indy. Siapa pula supir yang telah dipersiapkan Indy antar jemput Mawar.
Siapapun orangnya tak jadi masalah. Kalau Indy percaya orang itu pasti bisa dipercaya. Mawar percaya pada pilihan Indy.
Mawar berusaha tampil sebaik mungkin di hati pertama masuk kantor Indy. Paling tidak beri kesan baik pada pegawai lain agar respek padanya.
Pukul tujuh lewat sedikit dari luar terdengar bunyi klakson mobil. Itu pasti mobil jemputan untuk Mawar. Gadis ini segera meraih tas kejar mobil asyik bunyikan klakson.
Mawar agak masam lihat mobil siapa yang datang. Indy sengaja atur Riyan antar jemput Mawar untuk beri kesempatan pada Laki itu dekati Mawar lagi. Ini waktu tepat bagi Riyan kejar cinta yang telah dia campakkan.
Mawar ingin sekali menolak dijemput Riyan namun teringat kata Indy kalau Riyan akan bantu dia di tempat kerja urungkan niat Mawar menolak.
Gadis ini hanya bisa bungkam seribu bahasa tak ingin sok akrab dengan Riyan. Kalau mau jujur Mawar lebih suka Bagas yang jemput walau terkendala oleh Naura.
"Selamat pagi.." sapa Riyan sopan lihat ada awan gelap di wajah Mawar.
"Pagi..."
Riyan buka pintu mobil untuk Mawar ntah mau sopan atau cari perhatian. Mawar takkan tersentuh walau laki itu sedang giat kejar Mawar.
Riyan mengitari mobil kembali ke pintu kanan di mana seharusnya seorang supir berada.
Riyan tak segera hidupkan mobil menanti Mawar pasang safety belt. Mawar masih canggung lupa hal penting ini. Lama Mawar tak juga pasang maka Riyan terpaksa turun tangan tarik benda di balik jok kiri.
Mawar berseru kaget karena tiba-tiba Riyan dekat padanya seperti hendak memeluk. Mawar nyaris berteriak namun suara tak kunjung keluar saking kaget. Hanya tubuh Mawar mengejang seperti kena sengatan aliran listrik. Kesengat tapi tidak gosong melainkan kram.
Riyan dengan santai memasang safety belt tanpa ada rasa bersalah. Perlahan rasa was-was Mawar menurun tinggalkan rasa malu.
"Maaf...tanpa pasang safety belt mobil takkan bergerak! Rawan kena tilang." Riyan jelaskan mengapa dia lancang.
"Bapak kan bisa bilang. Tak perlu buat aku serangan jantung."
"Kau masih muda. Jantungmu masih kuat! Kita berangkat!" Riyan hidupkan mobil mengarah ke jalan raya.
Mawar mengangguk tanpa suara. Ntah Riyan melihat atau tidak itu tak penting. Yang penting dia sudah jawab.
"Arsy gimana?" Mawar teringat pada Arsy yang baru saja sembuh.
__ADS_1
"Kusuruh istirahat satu hari lagi baru ke sekolah. Rizky sudah diantar oleh supir. Aku akan kawani kamu hati ini biar ngerti sedikit berbisnis."