
Dalam hati Mawar yakin Riyan bukan lelaki asal comot. Dia yang telah menjadi isteri saja Riyan tidak main paksa. Laki itu hormati Mawar sebagai seorang wanita. Jauh kemungkinan Riyan dan Ayumi berhubungan intim. Kali ini Mawar dukung Riyan kalahkan keluarganya yang tak tahu diri. Berbuat dengan orang lain minta tanggung jawab pada laki lain pula. Dasar orang otak udang. Isinya tai semua.
"Tapi Ayumi bilang ini anak kamu!" bentak Bu Tiara yakin anaknya tak bohong. Bu Tiara terlalu pede Riyan suka pada Ayumi sampai tega ceraikan Mawar demi Ayumi. Bu Tiara tak tahu Riyan sangat benci pada Ayumi yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya.
Mata Riyan beralih pada Ayumi yang hanya bisa menunduk tak berani menantang bola mata Riyan. Wanita ini tentu saja tak berani melawan Riyan selain gunakan kekuasaan orang tuanya menekan Riyan untuk menikahi dia.
"Ayumi...katakan hal sebenarnya sebelum hilang kesabaran aku!" bentak Riyan sudah tak sanggup tahan emosi.
"Sabar nak Riyan! Coba bicara baik-baik biar semua jelas!" pinta pak Hanif rasakan hawa panas dalam rumah Riyan. Pak Hanif takut Riyan berbuat lebih kasar bila Ayumi tak bisa buktikan itu anak Riyan. Datang menuntut tanggung jawab orang bukanlah hal kecil. Nama baik Riyan sekeluarga jadi taruhan.
"Pak Tuo...aku pernah silap menuduh Mawar. Semua ini ulah Ayumi. Dia telah menghancurkan rumah tangga aku! Apa itu belum bikin hatinya puas? Datang-datang minta tanggung jawab aku! Sampai matipun aku takkan nikahi wanita sejahat Ayumi." kata Riyan penuh hinaan pada Ayumi.
Ayumi sakit hati tak dihargai Riyan. Jauh datang dari kampung berharap Riyan ubah sikap bersedia terima dia namun justru rasa pahit yang ada.
"Abang sudah ceraikan Mawar. Dan sekarang cuma aku calon Abang untuk penuhi amanah kak Yenni. Apa Abang punya pilihan lain?" teriak Ayumi lantang. Ayumi sudah tak sabar bela diri.
Riyan mendengus dingin. Ada rasa kesal dan benci campur aduk dalam pikiran Riyan. Sungguh tak disangka masih ada wanita tak kenal kata malu. Hamil dengan orang lain berani tuntut tanggung jawab dia.
"Aku takkan pernah nikahi kamu. Aku menunggu maaf dari Mawar. Aku janji takkan menikah lagi bila bukan dengan Mawar. Kau tak pantas jadi ibu dari anak-anakku. Hatimu picik penuh akal jahat. Sekarang jelaskan siapa ayah dari bayimu?"
Suara Riyan tidak segarang tadi lagi. Laki ini melemah ingat Mawar ada di situ. Laki ini berdoa semoga hati Mawar tergerak untuk beri dia kesempatan setelah dengar isi hatinya.
Mawar memang bergetar dengar ucapan Riyan begitu tegas masih mengharap dirinya untuk kembali jadi isterinya. Janji itu begitu tulus menggoyahkan pendirian Mawar.
Pak Hari dan isterinya terdiam menanti kejujuran keluar dari mulut Ayumi. Ayumi salah tingkah ditunggu oleh beberapa orang. Semua menunggu kejujuran Ayumi.
"Abang sudah cerai dari Mawar. Kenapa tidak coba beri aku kesempatan menjadi ibu yang baik. Aku janji akan berubah sikap dan mengabdi pada Abang." kata Ayumi melemah.
"Bukan itu topiknya. Aku mau kamu mengaku siapa ayah dari bayimu. Kita di sini harus tahu agar jangan timbul fitnah! Aku tak mau Mawar salah sangka lagi."
"Kurasa itu tidak penting. Yang penting gimana kita saling menerima kelebihan dan kekurangan kita. Aku akan sayang pada Arsy dan Rizky dan Abang gitu juga."
Ayumi pintar sekali susun kalimat indah bikin orang berpikir kalau dia memang wanita baik-baik. Riyan menghela nafas tak tahu harus omong apa lagi buat Ayumi mengaku kepada seluruh keluarga siapa ayah bayi dalam kandungan dia.
"Maaf Ayumi! Tak pernah terlintas di pikiran aku menikahi kamu. Tidak dari dulu juga sekarang." tegas Riyan disaksikan oleh kedua orang tua Ayumi.
Dahlia tidak peduli pada debatan Ayumi dan Riyan. Dia lebih tertarik pada lelaki yang datang bersama Mawar. Laki itu lebih menarik dari perdebatan tak masuk akal ini. Dahlia bukan tak tahu adiknya sedang gali kuburan tanam diri sendiri. Dari awal Dahlia sudah tahu anak dalam perut Ayumi bukan anak Riyan. Dia ikut datang hanya untuk cari sela untuk dekati Riyan lagi. Dahlia tak sangka akan jumpa calon lebih kuat. Otaknya langsung kerja keras cari perhatian Joko. Dahlia tak tahu Joko lebih parah dari Riyan. Semua wanita genit jadi musuhnya.
Kini semua diam tak tahu harus dengan cara apa yakinkan Riyan bersedia terima Ayumi yang sedang hamil. Ayumi sedang cari masalah pikir semua lelaki gampang ditaklukkan asal berani.
"Maaf aku ikut campur!" tiba-tiba Joko bersuara memberi jalan keluar masalah ini.
"Anda siapa?" tanya pak Hanif baru sadar cari tahu status Joko. Mereka hanya tahu Mawar datang bersama laki itu tapi tak tahu siapa Joko.
"Aku Joko atasan Mawar. Mawar bekerja di kantor aku walau untuk sementara cuti untuk bantu perusahaan Indy."
__ADS_1
Pak Hanif hanya bisa angguk karena tak kenal siapa Indy. Masih banyak kisah tertinggal di belakang pak Hanif dan keluarga pak Hari.
"Oh...terima kasih sudah terima Mawar bekerja di kantormu! Apa nak Joko punya usul untuk Ayumi dan Riyan?"
Joko mendehem sebelum menjawab. Gayanya wibawa bikin hati Dahlia makin meleleh. Ayumi juga akui kharisma Joko jauh di atas Riyan namun dia tak punya peluang dekati Joko. Sekarang cukup rebut perhatian Riyan.
"Begini...memang sangat tidak adil buat Riyan harus bertanggung jawab bila memang bukan ayah dari bayi tersebut. Nona harus cerita jujur agar kita bisa cari solusi terbaik. Kita hadirkan ayah bayi itu dan bincang baik-baik. Kita nikahkan mereka di sini bila segan menikah di kampung sana." ujar Joko dengan suara khas laki.
Mawar senang Joko bela Riyan ungkap kebenaran. Mereka bukan kawan bahkan bisa dibilang berseteru namun Joko bertindak adil bela kebenaran. Ini menambah point Joko di mata Mawar.
"Aku tak mau jadi istri pengangguran." potong Ayumi cepat.
"Ayumi...cepat katakan siapa laki itu! Jangan bikin malu keluarga karang cerita bohong! Riyan bisa tuntut kamu ke pihak berwajib fitnah dia." kata pak Hanif keras mulai ngerti masalah. Ini menunjukkan Riyan bukan ayah dari bayi Ayumi.
Ayumi berubah pucat dimarahi oleh Pak Hanif. Tubuhnya agak bergetar untuk bicara jujur. Ayumi berharap Riyan mau tanggung jawab untuk anaknya tutup aib besarnya.
"Husin.." akhirnya meluncur satu nama yang sangat dibenci Riyan.
Semua mengucap tak sangka Ayumi berani berbuat semena-mena pada Riyan hanya untuk kepuasan batin. Tidur dengan laki lain tuntut tanggung jawab Riyan.
Logika dari mana itu. Bu Tiara malu bukan main mendapat pengakuan dari Ayumi. Dari awal dia ngotot menyalahkan Riyan tetapi fakta akhirnya terungkap. Pak Hari juga menunduk malu telah kasar kepada Riyan.
"Baiklah! Segera hadirkan Husin agar dinikahkan. Paling tidak untuk tutup malu." ujar Joko lega akhirnya Ayumi mau jujur. Riyan juga tak kalah lega.
Riyan merasa lolos dari meja pancung menuju kematian. Menikahi Ayumi akan buat seumur hidupnya sengsara.
"Aku akan kasih dia kerja di kantor. Yang penting halal bukan? Sekarang lebih baik kalian minta Husin segera ke sini untuk bertanggung jawab."
"Tidak perlu nak Joko! Di kampung juga banyak kerja. Dia bisa bantu adikku di kebun. Kebun Hari juga tak ada yang kelola. Terima kasih niat baik kamu. Untuk ini biar kami tangani sendiri." Pak Hanif bijak tak mau menyusahkan Joko.
"Lebih bagus begitu. Semoga Husin bisa berubah setelah punya keluarga. Sekarang kalian mau nginap di mana? Di sini atau kubantu cari hotel."
"Hotel saja! Tak enak merepotkan nak Riyan. Dan kami minta maaf telah menyusahkan nak Riyan. Kami malu pada kelakuan Ayumi." ujar Pak Hanif wakili keluarga minta maaf pada Riyan.
Riyan hanya bisa bersyukur Joko pintar memancing Ayumi akui ayah dari bayinya. Bu Alya tak kalah lega tak usah punya menantu model Ayumi. Sudah licik penipu pula. Gimana nasib anak-anak Riyan kelak diasuh oleh ibu tiri model mafia.
"Tak apa pak Tuo. Anggap ini pelajaran buat Ayumi. Semoga ke depan Ayumi bisa hargai orang. Bukan celakai orang demi kepuasan sendiri. Aku dan Mawar korban Ayumi. Seharusnya kami sudah hidup tenang tapi ini semua salah aku langsung percaya tidak cek kebenaran. Aku berhutang rasa bersalah pada Mawar." kata Riyan seraya layangkan pandangan kepada Mawar.
"Terimakasih nak! Dan juga Bu Alya. Maaf kami sudah lancang datang ke sini." lagi-lagi pak Hanif wakili keluarga minta maaf.
"Sudahlah! Anggap saja salah paham! Tidak makan siang di sini?"
"Tidak usah. Terima kasih niat baik Bu Alya. Semoga kami balik sini nanti dengan cerita baik. Kami permisi dulu."
"Dengan senang hati. Kalian ke hotel mana?"
__ADS_1
Pak Hanif bingung mau nginap di hotel mana karena mereka belum ada rencana akan nginap di mana. Dari bandara langsung ke tempat Riyan. Koper mereka masih tergeletak di teras rumah Riyan.
"Aku tahu...aku akan antar kalian nginap di hotel aku! Kalian bebas nginap di situ secara gratis." Joko tampil sebagai pahlawan layani keluarga Mawar.
Riyan tahu Joko sedang cari muka pada keluarga Mawar. Sok pahlawan kesiangan gitu. Riyan tak bisa berbuat apa-apa karena Joko terusan kumpulkan point kalahkan dia dalam perang perebutan hati Mawar.
"Nak Joko punya hotel?" tanya Bu Tiara bagai kesengat lebah. Hanya orang betulan tajir bisa punya hotel. Apalagi kalau hotel seperti penampakan dalam cerita sinetron. Mewah high class. Bu Tiara bermimpi nginap di hotel model itu.
"Hanya hotel kecil. Silahkan! Kita akan panggil taksi online karena mobil aku tak muat kita semua."
"Aku akan antar kalian!" Riyan menengahi niat Joko panggil taksi. Riyan tak mungkin pangku tangan biarkan Joko rebut semua perhatian umum. Joko akan jadi pahlawan tersayang di hati keluarga Mawar bila berhasil laksanakan semua rencana dengan mulus.
"Terima kasih." ucap pak Hanif.
Mawar Salami Bu Alya sebelum pergi. Bu Alya tetap sayang pada Mawar walaupun tak kesampaian jadi menantu. Bu Alya seperti Riyan berharap satu saat Mawar akan kembali jadi mama sempurna untuk Arsy dan Rizky.
Joko dan Mawar serta Ayumi dan Dahlia satu mobil. Sedangkan dua pasangan tua ikut mobil Riyan. Mawar tak banyak bicara dalam perjalanan menuju ke hotel milik Joko. Mawar sendiri belum pernah nginap di hotel Joko maka tak tahu hotel Joko type apa. Hotel bintang berapa.
"Kau tinggal di mana Mawar?" tanya Dahlia tiba-tiba.
"Aku tinggal di rumah mbak Indy. Mbak Indy itu sepupu pak Riyan."
"Apa bukan tinggal bersama bang Joko?" pancing Ayumi mulai cari sela jelekkan Mawar.
"Kami bukan muhrim bagaimana tinggal bersama? Aku tahu jalan maju mundur. Bukan tak tahu diri ceburkan diri dalam comberan." kata Mawar sedikit gusar Ayumi suka kecilkan nilainya.
"Kau...kau ejek aku?"
"Apa aku ada bilang kak Ayumi? Kok merasa sendiri. Aku harus bisa hargai diri sendiri kalau orang lain sudah tak hargai aku. Aku punya tanggung jawab jaga harkat seorang wanita."
Joko mendehem salut pada tekad Mawar perjuangkan harga diri sendiri di saat orang pandang rendah itu. Itu merupakan modal paling berharga bagi seorang wanita punya harga diri. Joko percaya Mawar punya semua itu.
"Sok alim...sekarang status kamu itu janda! Siapa mau sama janda?" ejek Ayumi lupa diri sedang dalam masalah. Dia lebih buruk dari janda. Isteri orang bukan tapi sedang hamil.
"Aku janda karena dicerai sedangkan kakak apa? Gadis atau janda? Bangga ya hamil di luar nikah?" Mawar sekak balik bikin Dahlia tertawa kecil. Yang ini Dahlia setuju pada Mawar. Mereka jadi janda karena keadaan. Bukan hasil rekayasa.
"Tutup mulut kamu! Kamu tak berhak gunjing aku! Aku ini kakakmu!" bentak Ayumi setelah kalah debat.
"Seharusnya kamu lebih bijak sebagai kakak. Jadilah contoh yang baik untuk adikmu! Aku kenal Mawar sebagai wanita baik dan sopan. Anak aku saja akui Mawar sebagai maminya. Naluri anak kecil itu tak bisa dibohongi. Mereka itu tulus akui Mawar." kata Joko tanpa menoleh ke belakang. Cukup ngomong dari depan cukup jelas di dengar Dahlia dan Ayumi.
"Bang Joko belum kenal Mawar sih! Orangnya munafik sok alim. Jangan mau tertipu oleh keluguan dia. Sana sini rayu laki." Ayumi belum kapok fitnah Mawar. Dahlia suka cara Ayumi jatuhkan Mawar. Ini jadi kesempatan dia dekati Joko bila laki itu ilfil pada Mawar.
Sayang sekali Joko bukan Riyan gampang terprovokasi oleh berita belum jelas. Joko sudah lihat dengan mata kepala sendiri Mawar menolak Riyan dan juga dirinya. Mawar tidak tergiur oleh semua kekayaan. Mawar hanya perhatian pada Bivendra bukan pada Papi Bivendra.
"Aku kenal Mawar karena dia mami anakku." sahut Joko kalem seraya melirik Mawar dari samping. Mawar tersipu malu disanjung Joko melambung jauh ke langit.
__ADS_1
Joko heran ada wanita senang hanya dipuji sekilas. Wanita sekarang lebih senang harta kekayaan sebagai tolak ukur satu hubungan. Mawar bukan mereka.