
Mawar tak menjawab sepatah katapun. Faktanya dia memang jadi manekin kantor. Tempat ini tak cocok buatnya.
Naura meninggalkan Mawar tergugu sendiri di depan meja komputer. Detak sepatu Naura bergema di seluruh lantai kantor Bagas. Wanita itu merasa telah menang melawan Mawar si anak bawang. Naura mau lihat Bagas lebih butuh siapa? Mawar atau Naura yang punya nilai lebih.
Tak berselang Bagas muncul dari ruang kantor jumpai Mawar. Bagas nyaris melupakan Mawar saking antusias design permintaan Joko. Ada rasa bersalah terselip di hati Bagas telah abaikan gadis sebaik Mawar.
"Maaf...kau tentu lapar ya?" tanya Bagas melirik jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangan. Benda berbentuk bulat itu menunjukkan pukul empat sore. Sekian lama bekerja Bagas lupa Mawar belum makan siang. Dia dan Naura makan siang di dalam ruangan sambil kerjakan design rumah Joko.
"Tak apa. Hari sudah mulai sore! Aku pulang dulu ya!" kata Mawar lembut membuat Bahas makin merasa bersalah. Dia ajak Mawar ke kantor untuk menderita. Bukan dapat pengarahan kerja malah dibiarkan kelaparan.
Gimana kalau John tahu kakak kesayangan disiksa oleh Bagas dan Naura. Bagas auto diblacklist oleh John. Jangan jumpa Mawar mungkin bayangan Mawar tidak diijinkan muncul di depan hidung Bagas.
"Kita cari makan dulu ya! Ini sudah sangat telat. Aku keasyikan kerja lupa ada kamu." Bagas jujur ungkap penyebab dia lupa Mawar.
"Tak usah mas! Kalian masih harus kejar target kan? Aku pulang sama taksi online saja. Jangan karena aku mas tak bisa dapat proyek dari pak Joko." Mawar berkata penuh pengertian bikin Bagas terharu.
"Terima kasih sudah mau mengerti Mawar. Besok aku jamin takkan biarkan kamu kelaparan lagi."
Mawar tidak katakan apapun selain senyum pahit. Tak ada besok lagi mas bisik batin Mawar. Mawar akan keluar dari kantor Bagas agar Bagas dan Naura tidak perlu saling berdebat demi dia. Cuma untuk sementara Mawar pilih diam. Biarlah setelah tiba di rumah Indy barulah Mawar akan hubungi Bagas katakan tak ingin ke kantor Bagas lagi.
"Aku permisi ya mas! Selamat bekerja semoga bisa dapatkan proyek Pak Joko."
"Amin... hati-hati di jalan! Nanti sepulang dari kantor aku akan singgah di tempat mbak Indy.
Mawar menerima kalimat Bagas dengan anggukan kecil. Mawar paling malas berdebat buang energi. Berdebat ataupun marah takkan balikkan keadaaan. Yang bikin hati makin jengkel.
Mawar meraih tas kecilnya berjalan ke arah lift. Sebelum melangkah jauh Mawar balik badan menghadap Bagas dari jarak agak jauh.
"Assalamualaikum.." Mawar tak lupa kasih salam.
"Waalaikumsalam." sahut Bagas sedikit kaku. Bagas masih harus banyak belajar agama bila mau dekat dengan Mawar. Gadis itu sangat kental dengan nafas Allah. Ini jadi tantangan baru buat Bagas.
Mawar masuk ke dalam lift setelah kotak itu terbuka siap menerima kehadiran Mawar. Tanpa ragu Mawar masuk ke dalam kotak persegi walau sendirian. Yakin kantor Bagas aman maka Mawar beranikan diri pulang sendiri.
Mawar memesan taksi online setelah tiba di lantai bawah. Matahari masih bersinar terang walau hari mulai menjelang sore. Cuaca agak panas tak pengaruh Mawar yang terbiasa berbusana muslim. Panas segini belum seberapa bila dibanding panasnya api neraka. Pilih surga atau neraka terletak di tangan sendiri.
Lama Mawar berdiri menanti kehadiran taksi membuat pipinya bersemu merah. Ini akibat pancaran sinar mentari yang belum mau menyerah beri cahaya pada insan di bumi.
Tiba-tiba sebuah mobil warna hitam bertubuh besar berhenti persis di samping Mawar. Tanpa melihat Mawar tahu itu mobil milik Riyan. Mawar pernah melihat mobil itu sewaktu datang ke rumah Indy.
Mawar buang muka pura-pura tak lihat siapa yang datang. Mata Mawar memandang jauh ke depan cari taksi pesanan belum juga nongol.
Dari balik mobil sosok yang pernah dekat dengan Mawar keluar. Laki itu hampiri Mawar dengan langkah panjangnya. Riyan tetap gagah walau telah menyandang predikat duda dua kali.
Riyan berhenti di depan Mawar seraya tersenyum. "Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.." sahut Mawar sekedarnya.
"Mau pulang?"
__ADS_1
Mawar tahu itu hanya pertanyaan basa basi. Berdiri di luar kantor ya artinya mau pulang. Apa Bagas sudah tempatkan Mawar jadi penjaga teras depan?
"Iya pak!"
Panggilan yang paling dibenci Riyan kembali menyapa kuping laki itu. Mengapa Mawar belum bersedia mengubah panggilan sesuai harapan Riyan.
"Kuantar?" tawar Riyan sangat berharap Mawar mau diantar dia.
"Tidak terima kasih! Aku sudah pesan taksi."
"Bagas mana tak antar kamu pulang?"
"Mas Bagas masih ada tugas. Mungkin lembur."
"Gitu ya! Abang antar kamu saja! Kamu masih baru belum kenal jalan. Nanti malah nyasar." Riyan masih giat cari perhatian Mawar. Riyan harus makin rajin untuk meraih hati Mawar lagi. Riyan tak boleh sia-siakan kesempatan membuat Mawar kembali ke sampingnya. Penyesalan Riyan tak bisa rubah keadaan. Semua terlanjur berjalan seperti begini.
"Tidak perlu pak! Aku bisa kok! Aku punya mulut bisa bertanya bila tak tahu jalan. aku tak mau tersesat tanpa tahu jalan sesungguhnya."
Ces...hati Riyan bagai ditusuk jutaan duri tajam. Kuping Riyan menangkap jelas Mawar sedang menyindirnya. Dia tidak bertanya apapun pada Mawar langsung jatuhkan talak. Inilah hasil kerja orang tak punya pendirian.
"Kau belum memaafkan abang?"
"Sejak awal aku sudah maafkan bapak dan tak ingin punya hubungan apa-apa dengan bapak lagi." Mawar bergerak pergi jauhi Riyan agar laki itu tahu bagaimana sakitnya diabaikan.
Riyan terpana lihat keteguhan Mawar tak mau menoleh ke belakang. Tampaknya Mawar fix benci pada Riyan. Mulut boleh bilang memaafkan namun tingkah jelas belum rela beri ampun pada Riyan.
Dengan langkah gontai Riyan masuk ke dalam kantor Bagas. Tujuan Riyan ke situ memang untuk bahas bisnis sekalian lihat Mawar. Sayang jumpa Mawar hanya dapat muka datar gadis itu. Tak ada sedikitpun rasa saudara dari wajah cantik itu.
Mawar teguhkan hati tak mau terlibat lagi dengan Riyan. Lelaki tak punya pendirian mudah kena hasut. Mawar ingin berjalan sendiri tak mau bergantung pada keluarga lagi. Dia harus cari kerja lain agar tidak jadi beban bagi Indy. Indy memang tidak menuntut Mawar bayar uang kost namun Mawar harus tahu diri tak jadi parasit bagi Indy.
Sesampai di rumah Mawar seger turun ke dapur bantu Bik Tun. Perempuan tua itu pasti sedang menyiapkan makan malam untuk Indy sekeluarga. Indy kadang makan di rumah kadang tidak makan. Namun Bik Tun tetap harus menyediakan makanan karena masih ada John.
John tidak ada di rumah sewaktu Mawar tiba di rumah. Menurut cerita Bik Tun John lagi belajar kelompok bersama teman sekolah di rumah salah satu teman.
Suasana rumah sepi sekali tanpa suara bising John. Anak memang penyemarak suasana rumah. Maka setiap pernikahan harus ada kehadiran buah hati untuk menyatukan dua hati makin erat. Acap kali tanpa kehadiran buah hati berujung perceraian.
Malamnya Bagas tidak datang seperti janjinya. Mawar tidak ambil hati karena sadar lelaki itu sedang kejar target yang diberikan Joko. Proyek lumayan gede tak boleh lolos dari genggaman tangan.
Malam Mawar habiskan dengan mengajar John pelajaran yang tak dipahami anak lajang itu. John makin semangat belajar karena dia makin paham semua pelajaran yang diajar guru. Mawar menerangkan sekali lagi secara perlahan agar masuk ke otak lajang itu.
Tak heran John makin cinta pada Mawar. Rasanya Mawar tak boleh ke manapun, jadi milik John pribadi.
Satu malam berlalu begitu saja tanpa tinggalkan kesan berharga bagi Mawar selain makin terpuruk. Mawar harus usaha cari kerja lain. Tak mungkin terlalu berharap pada Bagas yang jelas tugasnya jauh dari keahlian Mawar.
Bagas datang lagi hati menjemput Mawar untuk ke kantor. Pagi ini Mawar tidak persiapkan diri ikut Bagas ke kantor. Gadis ini tetap berpakaian rumahan dengan jilbab instan menutup kepala. Apapun namanya tak jadi soal yang penting tertutup aurat.
Indy dan Bagas heran mengapa Mawar tampak santai tidak niat ke kantor. Mawar tetap santun melayani tuan rumah sarapan bersama.
John kegirangan melihat Mawar tidak berniat kerja di kantor Bagas lagi. Artinya Mawar akan habiskan waktu di rumah seperti dulu.
__ADS_1
"Mawar...kau tidak ikut ke kantor Bagas?" tanya Indy di sela. sarapan. Bagas juga ikut numpang sarapan menikmati mie goreng ala Mawar.
Mawar beri senyum hambar sebelum kemukakan isi hati. Mawar harus pintar bertutur kata biar tak dianggap belagu. Sudah dikasih kerja masih sok penting.
"Maaf ya! Kurasa lebih baik aku tidak ke kantor lagi. Kantor mas Bagas kurang cocok dengan pendidikan saya." kata Mawar dengan suara rendah untuk tunjukkan dia rendah hati.
"Ya ampun Mawar! Kamu ini lulusan hitung menghitung. Nanti kamu pasti terpakai di kantor. Dengan bekal otak cerdas di mana saja kamu mampu. Ayo jangan patah semangat!" Indy bangkitkan semangat Mawar jangan cepat putus asa. Baru satu hari kerja sudah pilih mundur.
"Aku merasa tak cocok bekerja kantoran. Aku grogi mbak! Biar aku cari kerja lain yang cocok dengan pendidikan aku."
"Apa karena Naura?" tebak Bagas ingat perlakuan Naura menghina Mawar habiskan.
Mawar tertegun sejenak. Dari raut wajah gadis ini menunjukkan bahwa tebakan Bagas itu benar.
"Bukan mas...aku hanya merasa tak cocok saja!" Mawar cepat ralat sebelum ada gap antara Naura dan Bagas. Bagas sangat butuh Naura dalam berbisnis. Mawar tak mungkin merusak hubungan mereka hanya untuk seorang Mawar.
"Naura memang begitu kalau ada orang baru. Selalu saja didepaknya. Kupikir dengan sifat lembut kamu bisa kalahkan dia. Ternyata aku salah." gumam Bagas kesal Mawar dikalahkan oleh keegoisan Naura.
"Naura si sombong itu? Biar kuberi pelajaran agar tidak sembarangan bully anak orang. Pokoknya kau tak boleh mengalah. Kau ikut Bagas ke kantor!" ujar Indy berapi-api tersulut emosi akibat keangkuhan Naura.
Dasar apa dia bully Mawar si anak baru. Siapa sanggup bekerja dengan Bagas bila ada Naura di samping.
"Stop...kalau kak Mawar sudah tak mau ke kantor biar saja! Kak Mawar itu manusia punya harga diri. Ditekan sama terus sama nenek sihir siapa tak marah. Nanti malah disihir jadi katak. Biar kak Mawar di rumah saja." John berkata keras membela Mawar. Dari awal John memang tak suka Mawar kerja di kantor Bagas. Di tambah pula muncul nenek sihir bikin ulah membuat John makin tak rela kakaknya dijadikan objek mainan.
"Anak kecil kau tahu apa? Diam saja!" bentak Bagas tak sabaran Mawar tak mau ikut ke kantor lagi. Mawar adalah penyejuk mata si antara percikan api panas di kantor. Sejauh mata hanya ada wanita-wanita memicu hawa panas dengan pakaian super ketat.
Mawar ibarat setetes embun di Padang gersang. Menenangkan hati setiap kali menatap Mawar.
"Mas...aku akan cari kerja jadi guru saja! Aku lebih tenang bersama murid-murid ketimbang bersama orang-orang penting. Maafkan aku ya mas! Aku benaran tak bisa kerja di tempat mas Bagas." Mawar tetap pada pendirian tak ingin jumpa Naura lagi. Mawar memikirkan pekerjaan Bagas yang sangat andalkan Naura.
"Baiklah! Kau tenangkan diri berapa hari dulu! Nanti kau pikir ulang untuk datang ke kantor. Kau akan urus pembukuan kantor bila kerja nanti. Ok?" Bagas mencoba beri waktu pada Mawar kaji ulang tawarannya bekerja di kantor. Mungkin nanti Mawar akan berubah pikiran.
"Terima kasih mas!" jawab Mawar manis. Tak urung Mawar bahagia Bagas bersedia toleransi padanya. Bagas sudah sangat berjasa bagi hidupnya bagaimana mungkin Mawar lupakan budi baik Bagas.
Indy tak berkata lagi karena Bagas sudah setuju beri waktu pada Mawar. Indy sadar terlalu memaksa Mawar juga tak ada guna. Gimana Mawar bisa bekerja dengan baik bila penuh tekanan.
"Mas akan sibuk dalam dua hari ini jadi kamu maklum ya! Kau kan tahu pak Joko cuma beri kita tiga hari untuk tunjukkan karya kita."
"Tak apa mas! Di sini kan ada John dan mbak Indy. Aku juga akan usaha cari lowongan kerja yang cocok."
"Terserah kamu! Mas tetap berharap kamu gabung di kantor mas."
Mawar hanya tersenyum tak bisa kasih janji apapun. Berjanji gampang tapi lunasi kadang tak sesuai harapan. Maka itu Mawar memilih tak janji apapun pada Bagas.
Ketiga orang itu keluar dari rumah Indy seusai seusai sarapan. Masing-masing punya kegiatan yang mesti diselesaikan.
Tinggallah Mawar dan Bik Tun di rumah. Mawar tak bisa ajak Bik Tun ngobrol karena pendengaran Bik Tun kurang baik. Ditanya Utara jawabnya ke selatan. Mending diam biar tidak tumpuk dosa kesal pada wanita pasti baya itu.
Mawar habiskan waktu baca buku yang ada di rumah Indy. Buku mengenai cara mengembangkan sayap di dunia bisnis. Buku yang sangat bagus untuk memupuk diri menjadi seorang pebisnis handal.
__ADS_1