GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Ngobrol


__ADS_3

Riyan angguk-angguk iba pada nasib Mawar. Dari kecil sudah ditindas oleh Dahlia sekeluarga tetapi gadis itu masih tetap berusaha tersenyum. Kini otak Riyan mulai berpikir kalau Dahlia memfitnah Mawar dengan memberi foto Mawar berzina dengan seorang lelaki. Bisa saja foto itu diedit oleh Dahlia untuk mengucilkan Mawar.


Pada kesempatan ini Riyan harus mencari tahu bagaimana pergaulan mawar dengan para lelaki di kampung ini. Ini akan menjadi bahan pertimbangan Riyan terhadap Mawar.


"Maaf ya Pak tuo! Kalau boleh aku ingin bertanya bagaimana masalah hubungan Mawar dengan lelaki lain?"


Pak Hanif tertawa renyah mendengar pertanyaan Riyan yang sudah dia duga. Riyan tidak salah kalau ingin mencari tahu tentang Mawar sampai sedetail-detailnya. Mawar adalah calon istri yang dipilih oleh Yenni maka wajar sekali Riyan ingin korek tentang masa lalu Mawar.


"Anak itu bisa apa? Jangankan pacaran bicara dengan lelaki saja dia keberatan! Satu kampung ini mengetahui bagaimana sifat baik Mawar. Semua orang tua di kampung ini ingin menjadikan Mawar sebagai menantu tetapi anak itu belum terpikir untuk segera berkeluarga. Mungkin inilah jodoh kamu nak Riyan. Mereka semua adalah keponakannya Pak tuo tetapi Mawar adalah anak istimewa di mata kami. Dia baik hati tak pernah menuntut sesuatu dari peninggalan ibunya. Semuanya diambil alih oleh si Tiara itu. Uang di bank juga diambil alih oleh Tiara. Untunglah ada sedikit perhiasan peninggalan ibunya telah kami selamatkan sebelum diketahui oleh Tiara. Sampai sekarang perhiasan itu ada pada istri aku dan kami akan memberikannya pada saat Mawar menikah nanti."


Riyan benar-benar dibuat tertegun oleh karenanya kisah hidup Mawar yang sangat menyedihkan. Beginilah nasib anak tiri. Riyan tidak ingin anaknya mendapat perlakuan yang sama seperti Mawar. Ibu sambung untuk anak-anaknya mesti betul-betul wanita sholeha yang mencintai suami dan anaknya. Mungkin Mawar adalah pilihan yang paling tepat.


Dari jauh Riyan melihat Mawar keluar dari rumahnya mendorong motor matic keluar menuju ke halaman rumah. Gadis itu mengenakan seragam ASN yang berwarna coklat muda dipadu dengan kerudung warna krem pudar. Sekilas terlihat gadis ini memang cantik luar biasa. Sebagai lelaki normal Riyan memuji kecantikan calon istrinya itu.


Hampir saja Riyan terhasut oleh Dahlia tentang Mawar. Sebutir intan asli tetap akan bersinar di manapun dia berada. Mawar tak perlu melakukan tindakan agresif untuk merebut perhatian Riyan. Di dalam ketenangan dia telah menenggelamkan Ryan di dalam kebeningan danau di mata Mawar.


Mawar mengeluarkan motor sampai keluar pagar rumah lalu hidupkan kenderaan itu melaju meninggalkan rumahnya. Motor gadis itu melewati rumah pak Hanif bertemu dengan Riyan dan Pak Hanif sedang nikmati pagi cerah.


Mawar hentikan motor di pinggir jalan desa menuju ke dalam halaman Pak Hanif. Samar-samar Riyan mencium bau harum segar dari pancaran tubuh Mawar. Riyan suka bau harum lembut dari minyak wangi Mawar. Wangi itu membetot Sukma Riyan. Kalau orang tak ngerti pikir ini minyak pelet buat sang cowok cinta mati pada sang cewek.


Mawar menyalami Pak Hanif dengan takzim lalu merapatkan tangan memberi salam pada Riyan. Senyum manis berhias di sudut bibir gadis ini.


Riyan tak perlu sarapan pagi lagi sudah kenyang dengan senyum manis dari Mawar. Sebelumnya Riyan merasa ilfil pada gadis ini tetapi setelah menghabiskan waktu beberapa saat terasa bahwa gadis ini adalah gadis baik-baik. Jujur yang sangat menyukai segala yang ada pada Mawar.


"Dek Mawar mau berangkat kerja?" tanya Riyan sebagai basa basi. Riyan tak tahu harus ngomong apa pada gadis ini. Gadis ini terlalu baik untuk diajak ngobrol yang bukan-bukan.


"Iya bang! Pergi membagi ilmu. Mawar pergi dulu ya! Nanti terlambat. Assalamualaikum..." Mawar balik badan meninggalkan halaman rumah Pak Hanif. Gadis ini berjalan menuju ke arah motornya yang terparkir di luar pagar rumah Pak Hanif.


Perlahan motor Mawar melaju meninggalkan Riyan dan Pak Hanif. Hanya terdengar deru mesin motor Mawar menjauh.


Bu Hanif datang membawa secangkir kopi panas di atas nampan. Wanita rumahan ini meletakkan cangkir di depan Riyan dengan sopan walau Riyan itu anak menantu. Riyan tetap orang kaya harus dihormati.


"Tadi ada suara Mawar! Ke mana dia?"


"Bisa ke mana lagi? Dia pergi ngajar dong! Ibu mau ikut ke sekolah?"


"Eh untuk apa ikut ke sana? Mau ikut belajar? Sudah terlambat bawa tas. Kalau ayah mau ke sekolah ibu mau ikut." gurau Bu Hanif melucu.


Riyan merasakan dua suasana beda dengan rumah Pak Hari. Di sini sangat hangat sedang di sana terasa mencekam. Antara pak Hari dan Bu Tiara jarang bicara beri kesan kaku. Ntah di mana letak kesalahan mereka.


"Ayo besok kita daftar sama Mawar! Kita mulai dari TK ya!" Pak Hanif imbangi kelucuan istrinya.

__ADS_1


Bu Hanif tergelak-gelak digoda suaminya. Riyan ikutan senyum senang lihat kehangatan yang disuguhkan pasangan tua ini. Sudah tua tapi tetap happy jalani pernikahan yang pasti sudah berjalan puluhan tahun.


"Aduh nak Riyan...ayah memang suka bercanda! Kita sarapan di dalam? Anak-anakmu sudah bangun. Mereka sudah diurus oleh Marwah. Anak-anakmu patuh dan sopan. Yenni telah didik mereka dengan baik."


Riyan manggut ingat jasa almarhumah yang sifatnya tak jauh beda dari Mawar. Lembut jarang marah. Herannya mengapa bisa punya adik model Dahlia. Kasar dan tak tahu malu.


"Aku takkan lupakan kebaikan Yenni padaku! Aku sangat mencintai Yenni sampai tak ingin cari pengganti. Kalau bukan amanah Yenni mungkin belum terpikir cari ibu bagi anak-anak."


Bu Hanif percaya apa yang dikatakan Riyan. Lelaki muda itu belum terdengar bangun skandal dengan wanita lain setelah isterinya meninggal. Dia merawat anak-anak bersama pembantu hingga sekarang.


"Mungkin jodohmu dengan Yenni cuma sampai di sini. Dia pasti tersenyum melihat kamu laksanakan wasiatnya. Yenni bisa rasakan mana yang pantas rawat anaknya. Mak Tuo bukan mau jelekkan Dahlia dan Ayumi. Kedua anak itu warisi sifat ibunya yang rakus. Orang sekitar sini tak ada yang mau melamar mereka. Mawar lain, sudah ada puluhan lelaki mau lamar dia tapi dia masih ingin sendiri. Keponakan ibu juga pingin lamar Mawar cuma Mawar nya jual mahal." mulut emak ceriwis pidato kelebihan Mawar juga kekurangan Mawar. Di mana-mana mulut emak emang gitu. Nyerocos bak petasan meledak.


"Mungkin Allah sengaja tahan jodoh Mawar supaya bersanding dengan mu nak!" timpal Pak Hanif lihat reaksi Riyan terhadap omongan isterinya.


Dulu Bu Hanif sempat kesal pada Mawar menolak dijodohkan dengan anak kakaknya. Mawar bukan terangan menolak tapi masih ingin nikmati kesendirian menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Seiring waktu rasa marah itu sirna berubah sayang mulai paham mengapa Mawar menolak menikah cepat. Keluarga pak Hari selalu menekan Mawar agar tahu diri tak langkahi kakaknya yang mulai kadaluwarsa. Seumur hidup kedua kakaknya tak laku maka Mawar ikut jomblo.


"Semoga begitu!" jawab Riyan malu.


"Kita sarapan! Semua sudah menunggu di dalam." ajak Bu Hanif duluan masuk tinggalkan Riyan dan suaminya di luar. Wanita di kampung bangun pagi siapkan sarapan untuk keluarga. Jarang ada yang beli sarapan di luar karena akan keluarkan biaya lebih besar. Yang bisa dihemat usaha hemat.


Keluarga pak Hanif lengkap semua sarapan bersama. Marwah dengan suaminya Adriansyah beserta kedua anak perempuan mereka Salsabila serta Sryn. Kedua anak cantik dengan ciri khas orang Aceh tulen bermata indah. Bulat indah bak bintang Timur. Mereka sudah duduk di SMP kelas Tiga dan kelas Satu. Sudah beranjak remaja.


Setiap orang menyantap hidangan Bu Hanif dengan selera cukup tinggi. Mie goreng ala Bu Hanif cukup menggoyang lidah. Tidak terlalu pedas mengikuti selera orang kota yang kurang doyan pedas.


Sarapan berakhir disusul aktifitas rutin sedang menanti. Adriansyah bertugas sebagai Kabid di bagian kesehatan sedangkan isterinya si Marwah perawat rumah sakit Pemda setempat. Rumah sakit satu-satunya di kota ini. Setiap sudut kampung ada puskesmas siap layani penduduk kampung yang sakit. Sudah tak bisa ditangani di puskesmas barulah dirujuk ke rumah sakit kebanggaan warga Abdya.


Salsabila dan Sryn diantar ke sekolah oleh ibu mereka karena sekolah mereka bersebelahan dengan rumah sakit. Sekolah Tunas Bangsa merupakan sekolah yang telah mencetak murid-murid berprestasi mampu bicara di tingkat nasional.


Seketika rumah pak Hanif berubah sepi ditinggal penghuni yang laksanakan tugas rutin sehari-hari. Muji anak pak Hanif juga pergi kerja menjaga lahan sawit milik keluarga. Daerah Abdya banyak ditanami batang yang hasilkan minyak sawit. Sebagian lahan berubah fungsi dari kebun kelapa berubah menjadi kebun sawit yang lebih menjanjikan.


Penduduk berbondong-bondong tanam tanaman yang konon katanya tak ramah lingkungan tapi jadi primadona menghasilkan fulus. Dengan adanya tanaman Palma ini kehidupan penduduk mengarah ke arah lebih baik.


Pukul dua Mawar pulang dari sekolah telah tunaikan kewajiban seorang guru. Gadis ini segera memasak permintaan Arsy untuk dibawa ke pantai sesuai janji pada kedua anak Riyan. Mawar bukan ingin cari muka pada Riyan membeli hati kedua anak itu tapi sekedar ingin beri kasih sayang pada anak kakaknya. Mereka sudah kehilangan ibu maka Mawar ingin beri kasih dalam porsi sama pada kedua anak itu.


Pukul empat sore Mawar telah persiapkan semua bekal untuk ajak kedua keponakan main ke pantai. Mawar jemput kedua anak itu di rumah pak Hanif. Mawar tahu Riyan dan kedua anaknya untuk sementara tinggal di tempat Pak Hanif sampai Mawar beri keputusan terima atau tolak lamaran Riyan.


Mawar ayunkan langkah ringan ke rumah pak Tuo. Semua bekal sudah beres tinggal ajak kedua anak itu bersenang-senang.


"Assalamualaikum.." sapa Mawar dari luar pagar. Mawar berencana segera pergi takut kedua anak itu tak puas bila cuma main sebentar di tepi pantai.


"Waalaikumsalam..." sahut suara berat dari dalam. Mawar menahan nafas mengenali pemilik suara. Lelaki yang baru semalam meminangnya.

__ADS_1


Riyan keluar menyambut Mawar. Riyan tampak gagah dengan setelan pakaian santai warna gelap. Badannya yang berotot tampak jelas tercetak di balik kaos ngepas badan. Aura Riyan bisa membius para cewek. Pantas Dahlia tergila pada Abang ipar mereka.


"Dek Mawar...ayo masuk!" Riyan menyingkir beri ruang pada Mawar untuk masuk ke dalam. Mawar menggeleng sambil umbar senyum pamer dekik kecil di pipi.


"Tak usah bang! Aku mau bawa Rizky dan Arsy ke pantai. Di mana mereka?"


"Cuma Rizky dan Arsy saja pergi? Papa mereka tak boleh ikut ya?" Riyan sengaja goda gadis ini.


Mawar agak jengah digoda lelaki yang sedang menunggu jawabannya. Rona pink menjalar di pipi bebas jerawat itu. Masih ada juga gadis tersipu malu digoda cowok. Jaman ini sudah langka gadis malu-malu kucing digoda cowok. Bahkan ada yang lebih berani dari cowok. Contoh soal si Dahlia.


"Apa Abang mau ikut?" Mawar balik tanya setelah rasa jengah reda.


"Mau dong! Kan sedang pedekate! Abang ingin kenal dek Mawar lebih dekat. Bukankah kita sedang berencana menuju keluarga sakinah?" Riyan makin berani goda Mawar. Kebetulan tak ada orang lain maka Riyan bebas gombalin Mawar.


Mawar menunduk makin malu. Kalau di depan ada lubang gede ingin rasanya Mawar masuk biar tak lihat wajah Abang ipar sekaligus calon suaminya.


"Mana anak-anak bang?" Mawar alihkan pembicaraan hindari suasana canggung akibat Riyan mulai unjuk gigi sebagai lelaki penuh pesona.


"Abang ikut ya?"


"Terserah Abang! Aku bawa anak-anak. Abang bawa motor lain saja."


"Abang bisa bonceng kamu kok! Ngapain bawa motor lain?"


Mawar mengangkat kepala menatap Riyan seperti hendak mengatakan sesuatu. Tapi ada keraguan tersimpan di bola mata warna kelabu itu. Royan tak tahu tersirat makna apa.


"Kita belum muhrim bang! Tak baik berdekatan." kata Mawar lirih seolah takut Riyan tersinggung.


"Oh maaf! Kalau gitu besok kita halalkan biar enak jalan-jalan." ujar Riyan seenak perut seperti ajak Mawar pergi jalan ke mal. Lancar tanpa hambatan.


"Idih Abang ini! Mawar tumbuh penuh duri bukan gampang dipetik."


"Tenang...sudah siapkan sarung tangan anti duri karena tahu bunga yang mau dipetik duri semua." Riyan mulai berani bercanda setelah lihat Mawar bukan batang kayu kaku.


"Asalan.. mana bocah-bocah kecil? Ntar keburu sore!"


"Ok...Abang pamitan dulu sama Mak Tuo! Nggak enak main kabur." Riyan memutar badan masuk ke dalam jemput kedua anaknya sekaligus pamitan dengan Bu Hanif. Pak Hanif sudah pergi ntah ke mana. Riyan tak berhak bertanya karena memang itu bukan tanahnya.


Riyan balik lagi dengan kedua anaknya. Rizky dan Arsy senang sekali jumpa Mak Bit peramah mereka. Dari tadi mereka sudah tak sabar ingin segera main di pantai berpasir putih.


"Mak Bit..." seru Arsy dengan suara lengking nyaring. Anak ini merentangkan tangan hendak memeluk calon mama mereka. Arsy sangat suka pada Mawar.

__ADS_1


__ADS_2