GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Draft


__ADS_3

Dahlia dan Ayumi mengutuk dalam hati heran mengapa Mawar selalu dapat kemudahan dapat lelaki tampan. Itu belum seberapa karena rata-rata mereka kaya.


Joko hentikan mobil di satu hotel terbesar di kota ini. Tinggi menjulang ke langit dengan bangunan terbilang sangat indah.


Ketiga wanita dalam mobil Joko tak bisa sembunyikan rasa kagum pada hotel yang disebut Joko sebagai hotel miliknya. Dari sini saja sudah tampak kekayaan Joko. Belum lagi dari bisnis lain.


Ayumi menyesal telah bikin kekacauan hamil anak Husin. Kalau tidak dia punya kesempatan mencuri perhatian Joko. Tentu lebih senang jadi wanita Joko yang jauh lebih tajir dari Riyan.


"Kita sudah tiba." Joko melepaskan safety belt turun tanpa menunggu ketiga wanita itu.


Dengan langkah anggun seorang lelaki Joko masuk ke dalam hotel untuk atur kamar buat keluarga Mawar. Joko lakukan semua ini untuk Mawar. Bukan untuk siapapun.


Seluruh keluarga Mawar diiring ke lobby hotel yang dekorasinya luar biasa. Banyak tamu seliweran di sekitar hotel menunjukkan hotel ini diminati.


Pak Hari dan pak Hanif kagum pada hotel milik Joko. Persis hotel dalam cerita orang kaya. Seluruh ruangan hotel tercium harum semerbak wangi mints. Rasanya segar di hidung. Mawar tak heran dengan bau ini karena sudah tahu kesukaan Joko.


Joko tak biarkan tamunya menunggu lama. Lelaki ini kembali dengan tiga lembar kartu kecil yang jadi kunci pintu model sekarang. Hanya tinggal tempelkan kartu pintu kamar akan terbuka sendirinya.


"Silahkan! Aku sudah pesan tiga kamar untuk kalian. Istirahat dulu nanti kita makan siang bersama. Aku harus jemput anakku dulu. Room Boy akan antar kalian ke kamar." ujar Joko wibawa membuat hati Dahlia makin terpanah. Tidak mendapatkan Riyan tak jadi masalah untuk saat ini. Dia telah menemukan calon yang jauh lebih kuat daripada Riyan.


"Nak Joko... harga nginap di sini tentu mahal. Apa kamu tidak menghambur-hambur uang untuk kami?" kata Pak Hanif tidak enak hati telah merepotkan Joko yang baru mereka kenal.


"Tak usah sungkan pak! Masalah biaya tidak perlu kalian pikirkan karena hotel ini adalah milik pribadi aku. Kalian boleh nginap di sini sampai kalian bosan. Aku permisi dulu mau jemput putri aku! Ayo Mawar kita pergi!" ajak Joko meminta Mawar ikut dengannya menjemput Bivendra.


Dahlia dan Ayumi terpaku lihat Joko sangat mementingkan Mawar. Apa sih hebatnya Mawar mampu mengikat dua lelaki tampan di dalam hidupnya.


Joko dan Mawar segera tinggalkan hotel. Mawar tak lupa ucap salam pada kedua orang tua dan pak Tuo nya. Pak Hanif bersyukur Mawar mendapat pelindung jauh lebih kuat dari Riyan. Riyan dinilai terlalu lemah tak mampu lindungi Mawar.


Kini muncul calon lebih ok lindungi hidup Mawar. Pak Hanif sangat lega dan senang.


"Apa Mawar tak tahu malu goda lelaki lain?" Bu Tiara merepet iri pada nasib baik Mawar.


"Kapan dia goda laki? Bukankah Mawar pegawai nak Joko? Wajar kalau dia ikut nak Joko. Dan lagi Mawar tidak ada ikatan pernikahan jadi dia boleh cari pengganti Riyan yang kena tipu orang tak bertanggung jawab." bela Bu Hanif gerah pada tingkah keluarga adik iparnya. Satu hari tak bikin masalah rasanya hidup mereka hambar tanpa garam.


Pak Hanif dan Bu Hanif malu telah ikutan gila tuntut tanggung jawab Riyan padahal yang hamili Ayumi bukan Riyan. Jauh-jauh dari kampung hanya per tebal muka dengan rasa malu.


"Apa Mawar pantas jadi nyonya orang kaya? Sudah tak punya apa-apa sok belagu!" sungut Dahlia naik tensi gara lihat Mawar diajak pergi oleh Joko.


"Lalu kau yang pantas? Joko belum katarak salah lihat pantat kuali sebagai mangkuk kristal." semprot Bu Hanif tetap bela Mawar.


Roomboy yang berdiri di samping tak dapat tahan tawa dengar perkataan Bu Hanif. Perumpamaan Bu Hanif tidak salah. Dahlia dan Ayumi tidak secemerlang Mawar. Mereka berkulit gelap layak kulit orang Asia timur.


"Sudah ..jangan tengkar di sini! Kita istirahat dulu! Aku capek sekali." lerai Pak Hanif pusing dengar ocehan para wanita. Kalau sudah bertengkar tidak akan habis-habisnya.


"Ayoklah! Maaf nak! Kami ditempat di mana?" Bu Hanif bertanya pada pemuda berseragam hitam merah dekat mereka.


"Yok silahkan! Bapak dan ibu ditempatkan di lantai sepuluh."

__ADS_1


Pemuda berseragam sigap mengambil troli untuk bawa koper bagasi keluarga dari kampung itu. Room boy itu menyadari kalau mereka ini orang dari kota kecil belum pernah lihat perkembangan jaman demikian pesat. Dengan senang hati pandu keluarga ini naik ke tingkat sepuluh di mana Joko telah atur kamar VIP untuk mereka.


Joko sudah berpesan pada orang di hotel untuk layani keluarga ini dengan baik. Semua permintaan keluarga ini harus dipenuhi. Joko tentu saja ingin pamer kekuatan lawan Riyan. Joko mau keluarga Mawar lihat siapa lebih pantas berdiri di samping Mawar.


Pak Hanif dan isterinya tak habis kagum pada hotel Joko. Betul-betul hotel kelas atas. Bukan hotel abal-abal kelas melati. Andaikata Joko tidak menawarkan tempat penginapan maka mereka pasti akan mencari hotel sekelas melati ataupun losmen kecil.


Dasar rezeki mereka jumpa orang tajir lain selain Riyan. Bahkan ini jauh lebih ok dari Riyan. Sudah ganteng kaya pula.


Bu Hanif menghempas diri di kasur empuk warna putih bersih meluruskan tulang renta yang nyaris copot karena perjalanan jauh. Masih untung bisa diluruskan coba kalau bengkok semua perlu waktu bertahun untuk meluruskan tulang-tulang tua itu.


Pak Hanif membuka tirai lihat ke bawah. Semua jadi kecil dilihat dari atas. Mobil-mobil berubah seperti kotak sabun. Gimanalah kalau terjun bebas dari atas. Malaikat elmaut pasti sudah menanti orang yang terjun bebas itu.


"Ibu tak sangka Mawar jumpa nak Joko." kata Bu Hanif senang Mawar sudah ada yang jaga.


"Kita belum sempat bicara dengan Mawar. Apa dia hidup dengan layak setelah dicerai Riyan. Kasihan Mawar selalu hidup dalam tekanan ibu tirinya." Pak Hanif tinggalkan jendela kaca bergabung dengan istrinya duduk di kasur empuk.


"Semoga Mawar dapat jodoh yang lebih baik. Ibu setuju kalau nak Joko mau lamar Mawar."


"Ibu pikir apa? Belum tentu nak Joko mau sama orang kampung seperti kita. Dia punya anak asyi punya isteri. Jangan pikir aneh deh!"


"Iya juga ya! Bapak pergi mandi saja. Sebentar lagi nak Joko mau ajak kita makan. Berpakaian yang rapi biar tidak malu-maluin."


"Iya ibu tercinta." Pak Joko ikuti perintah ratu di hatinya.


Di kamar sebelah Dahlia sedang membangun angan bersama Joko. Wanita ini terbayang sosok Joko yang macho. Riyan saja sudah bikin hati klepek-klepek kini muncul pula pangeran lebih keren. Otak Dahlia bergerilya cari jalan menarik simpatik Joko.


Banyak hal luput dari pantauan Dahlia. Dia dan Ayumi hanya mengandalkan kekuasaan ayahnya yang tak laku di kota. Di kampung dia boleh berbuat semena-mena tapi di kota tak ada kesempatan buat kakak beradik itu berbuat sesuka hati.


"Yu...apa Joko suka padaku?" tanya Dahlia masih berangan.


"Mimpi...dia itu kaya sekali mana mungkin suka pada kamu. Perempuan di sekelilingnya mungkin ada sepuluh bahkan dua puluh." sahut Ayumi melayangkan mata jauh ke langit dari balik kaca. Ada rasa sesal di hati telah beranjak ria dengan Husin selama perjalanan pulang kampung. Kalau saja tidak hamil masih banyak kesempatan rebut Riyan maupun Joko. Kesempatan dia tertutup rapat.


"Kurasa tidak. Lihat si Mawar lengket padanya!"


"Apa kakak tak dengar Mawar bekerja di kantor Joko. Mawar kan ada sekolah wajar bisa kerja kantoran. Sedang kakak bisa apa?"


Dahlia memukul ranjang tak terima dihina Ayumi. Ayumi anggap dia bodoh tanpa pendidikan memadai.


"Aku tahu baca dan hitung!"


"Kak...kerja kantoran bukan cukup bisa baca dan hitung. Semua serba canggih pakai komputer. Emang kakak bisa komputer? Tak usah mimpi mau dekati Joko."


"Siapa bilang? Aku bisa jadi isteri baik di rumah. Aku bisa layani dia di tempat tidur."


Ayumi tertawa dengar Dahlia mengandalkan keahlian di ranjang mau jerat Joko. Pola pikir Dahlia terlalu dangkal anggap semua lelaki mudah terperdaya. Dahlia tak bisa petik pelajaran dari Riyan. Riyan saja tolak dia apalagi Joko.


"Lebih baik kita bersiap pergi makan bersama Joko. Pasti makan di tempat mahal. Kapan lagi jadi orang kaya kalau bukan sekarang." Ayumi membuka kopernya cari pakaian ganti. Dia akan berdandan cantik biar Joko keseleo matanya. Rezeki kan tidak bisa ditebak. Siapa tahu Joko demen pada wanita hamil.

__ADS_1


Dahlia setuju dengan ide Ayumi bersihkan diri agar tampak cantik di depan Joko. Dahlia sedang pasang jerat ikan besar. Sekali kena umpan rezeki besar sedang menanti. Dahlia tidak keberatan rawat ikan pancingan setulus hati asal bisa hidup layak.


Satu jam kemudian pegawai hotel mengetok pintu kamar tamu dari kampung itu. Mereka sudah ditunggu di restoran untuk makan siang. Joko telah atur keluarga Mawar untuk santap siang bersama.


Keluarga dari kampung itu diajak ke restoran di lantai bawah. Sepanjang jalan mereka menemukan hal menarik karena setia sudut hotel tertata menarik. Ada pernik-pernik indah untuk dijadikan moments indah. Diabadikan jadi kenangan pernah nginap di hotel super mewah. Dahlia dan Ayumi tidak buang kesempatan berfoto ria di tempat yang dianggap menarik.


Bu Hanif dan Bu Tiara tak mau ketinggalan ber selfie ria untuk jadi bahan pameran di kampung. Pegawai yang diminta Joko kawal keluarga tersebut menunggu dengan sabar mereka ambil foto.


Gaya orang kampung diperlihatkan dengan nyata kalau mereka tak pernah nginap di hotel mahal.


Cukup puas berfoto barulah perjalanan di lanjutkan sampai ke restoran super luas. Penataan restoran high class disediakan bagi mereka yang kantongnya tebal. Harga makanan di situ tentu tidak murah.


Beberapa tamu menyantap makanan di tempat terpisah sesuai pilihan masing-masing. Ada beberapa tamu bule bercampur di situ.


Keluarga ini celingak-celinguk cari bayangan Joko dan Mawar. Mereka takut dibawa makan di sana lalu ditagih uang berjuta-juta hanya untuk makan siang. Alamat jadi gembel bila disuruh bayar makan di situ.


Pak Hanif bernafas lega tatkala melihat Joko dan Mawar ada di sana bersama seorang anak perempuan bertubuh kerempeng. Anak itu manis cuma sayang kurus sekali.


Pak Hanif cs diantar sampai ke depan Joko dan Mawar. Mereka agak segan untuk segera duduk sebelum Joko bersuara. Walau dari kampung mereka masih ngerti tata Krama.


"Duduklah! Aku sudah memesan makanan tak tahu cocok dengan selera kalian atau tidak. Silahkan!" ujar Joko wibawa seperti biasa.


"Apa saja nak Joko! Kamu tak banyak memilih makanan. Terimakasih sudah ajak kami ke sini. Tempat ini sangat indah." Pak Hanif basa-basi sekedar ucapan rasa terima kasih pada Joko.


"Ini salah satu hotel keluarga! Hotel kami menyebar di beberapa tempat di bawah naungan perusahaan kami." cerita Joko tanpa bermaksud menyombongkan diri. Hotel dengan nama sama menyebar ke berbagai kota besar di tanah air. Tentu saja dibawah pimpinan Joko.


Dahlia dan Ayumi makin kagum pada Joko. Lelaki impian semua wanita. Untuk sementara hanya Mawar beruntung dekat dengan laki ini. Ini berkat Bivendra terlalu cinta ada Mawar.


"Wah...anda hebat! Semuda ini usaha di mana-mana. Mawar kerja di bagian mana?" tanya Bu Hanif kepo korek status Mawar di kantor Joko.


"Mawar kerja di bagian keuangan. Mawar bertanggung jawab atas seluruh keuangan perusahaan. Dan tugas lain adalah jadi mami dari anakku Bivendra." kata Joko kalem tanpa peduli delikan mata Mawar.


"Mami anakmu? Maksudmu kau akan nikahi Mawar?" seru Dahlia tanpa sadar dia di mana. Dahlia sangat kaget Joko klaim Mawar jadi mami anaknya.


"Dengan senang hati kalau Mawar mau menjadi isteri aku! Cuma Mawar belum beri jawaban. Aku menunggu kepastian dari Mawar mumpung semua keluarga di sini."


Dahlia ingin sekali banting Mawar seperti banting tahu busuk. Biar hancur tak berbentuk. Mengapa Mawar selalu jadi primadona di kalangan lelaki yang ditaksir Dahlia.


"Pak jangan ngawur!" desis Mawar mencubit pinggang Joko dengan gemas.


Mawar tak sadar telah menyentuh lelaki bukan muhrimnya. Biasanya Mawar takkan pernah lakukan hal beresiko itu. Ini Mawar lakukan saking gemas pada Joko bicara ngawur di depan keluarganya.


Joko meringis namun senang tangan mungil itu mencubit pinggangnya. Bukannya sakit malah geli. Berapakah tenaga wanita semungil Mawar.


"Endra setuju dengan papi. Papi dan mami harus segera menikah biar mami tidak pergi dari rumah lagi. Setiap hari kawani Endra." si irit bicara ikut sumbang usul.


Muka Mawar merah padam tahan rasa malu. Baru saja selesai dengan Riyan kini dihadapkan hubungan baru dengan laki lain. Mawar masih punya rasa malu kawin cerai.

__ADS_1


__ADS_2