
Mawar membalas pelukan Arsy lalu angkat anak kecil itu ke atas motor agar mereka bisa segera ke pantai.
Riyan bingung tak tahu dengan apa pergi bersama Mawar. Dia datang tanpa bawa transportasi dari kota karena datang dengan pesawat.
Mawar bisa membaca pikiran Riyan bingung ntah dengan apa ikut bergembira di pantai.
"Bang...minta pinjam motor pak Tuo! Beliau ada motor matic tersimpan di gudang." Mawar jawab kebingungan Riyan.
"Benarkah? Ok terima kasih infonya! Tunggu aku jangan main tancap gas!" Riyan masuk ke dalam minta pinjam motor pak Tuo yang lebih banyak istirahat ketimbang jalan.
Sesuai harapan mawar Pak tuo pasti akan meminjamkan motor matic nya kepada Riyan. Pak Tuo sangat senang Mawar bersedia ajak Riyan main ke tempat indah. Ini sangat bagus untuk pererat hubungan mereka yang baru dimulai. Pak Tuo berharap Mawar lah jodoh Riyan. Ayumi dan Dahlia bukan orang sabar terhadap anak kecil. Anak-anak Riyan seratus persen akan menderita bila ibu sambung mereka Dahlia ataupun Ayumi.
Singkatnya Mawar bonceng Arsy sedang Riyan bonceng Rizky melaju menuju tempat yang dituju Mawar. Mawar cari lokasi yang jarang pengunjung agar anak-anak bisa main sepuasnya tanpa gangguan. Harapan pasir putih diterpa pecahan ombak mencapai bibir pantau. Suara deru pecahan ombak seperti bunyi musik tanpa alat. Monoton dengan volume beda-beda.
Mawar hentikan motor dekat rumah penduduk seraya bantu Arsy turun dari motor. Riyan ikutan parkir motor sejajar dengan motor Mawar karena memang tak ada ide harus gimana. Riyan tidak kenal daerah ini maka cuma bisa ikutan.
Rangkuman angin sejuk menyambut kehadiran mereka. Hembusan angin pantai agak kencang walau udara cukup bagus.
Arsy dan Rizky tak sabaran berlari menyongsong buih pecahan ombak. Tawa lepas meluncur dari mulut anak-anak kecil itu. Tawa bebas tanpa beban.
Mawar turunkan rantang dan air minum. Tak lupa gadis ini bawa tikar kecil untuk mereka duduk bersantai nikmati keindahan alam ciptaan Tuhan.
Riyan membantu Mawar bentang tikar di atas hamparan pasir agak jauh dari bibir pantai untuk hindari pecahan ombak. Untunglah ada pepohonan Cemara jadi pelindung dari sengatan matahari yang masih bersinar.
"Pantainya bersih ya!" ujar Riyan kagum pada ciptaan Tuhan maha sempurna.
"Iya...di sini kurang pengunjung. Di pantai TPI (Tempat pelelangan ikan) lebih ramai. Di sana banyak kios makanan. Biasa sore hari ramai dikunjungi keluarga bawa anak-anak. Agak bising gitu! Sini tenang."
"Ini pantai apa namanya?"
"Pantai Bali."
"Lha ..apa hubungan dengan Bali? Kan jauh banget!"
Mawar mengedik bahu tak tahu mengapa pantai ini dinamakan pantai Bali.
"Mungkin mirip pantai di Bali kali." "
PANTAI BALI
"Bisa jadi...ayok kita susul anak-anak main air laut!" Riyan ayunkan langkah mengejar Arsy dan Rizky yang kejar-kejaran sepanjang pantai.
"Pergilah! Mawar di sini saja!" ujar Mawar lembut seperti biasa.
Riyan tidak memaksa Mawar harus ikut dengan mereka. Biarlah gadis ini duduk di tepi pantai menanti mereka bercanda di tepi pantai. Riyan juga tak rela kulit Mawar yang putih bersih menjadi santapan keganasan mentari walaupun hari mulai menjelang sore.
Mawar menatap ayah dan anak-anak bermain dengan ceria di tepi pantai. Rutinitas di kota membuat Riyan hampir kehilangan waktu untuk bermain dengan anak-anak. Tidak gampang mendapat liburan maka harus disikapi dengan sebaik-baiknya. Mawar biarkan mereka menikmati waktu liburan dengan betul-betul lepas. Mawar tak ingin menjadi penghalang hubungan antara anak dan papa itu.
__ADS_1
Sekali-kali Mawar tersenyum melihat Rizky sengaja menjatuhkan badan ke dalam pecahan ombak. Anak itu berguling di atas air laut yang tersisa tak seberapa. Sebagian air kembali bersudut ke laut menanti ombak berikutnya.
"Mak Bit...ayo!" teriak Rizky saingi suara gemuruh ombak.
Mawar hanya melambai tidak beranjak dari atas tikar. Melihat mereka bermain dengan ceria hati Mawar sudah cukup senang. Rasanya Mawar tidak perlu bergabung ikutan merasakan euforia kebebasan anak-anak itu.
Dari jauh Arsy berlari hampiri Mawar menarik tangan gadis itu agar bergabung main air laut yang hangat.
"Ayo Mak Bit! Kita main air! Masa cuma mas Iky ada pengawal. Arsy juga mau dijaga Mak Bit." ujar Arsy pasang muka jutek.
Mawar tertawa kecil melihat anak kakaknya itu marah tidak diladeni. Muka Arsy sangat lucu dan imut bikin gemas. Mawar akhirnya mengalah mengikuti Arsy berlarian ke pantai.
Dari jauh orang akan mengira kalau itu keluarga kecil yang sangat bahagia. Kedua anak kecil mempunyai orang tua lengkap menemani mereka bermain sepanjang pantai.
Rizky berusaha goda Mawar menyiramkan air laut ke badan Mawar. Mawar yang tak mau menjadi korban keisengan Rizky segera berlari menghindari serpihan air yang dilempar oleh Rizky.
Mawar berusaha menghindar membalik badan ke tepian pantai namun tanpa sengaja menabrak tubuh Riyan yang berdiri dekat Arsy. Mawar auto jatuh ke dalam pelukan lelaki yang masih terbengong mendapat hadiah bonus dari Rizky. Riyan secara reflek memeluk tubuh Mawar yang menerpanya. Kini keduanya berpelukan di depan anak-anak.
Rizky dan Arsy tertawa cekikan melihat papa dan mereka saling berpelukan di tepi pantai. Tawa kedua anak itu menyadarkan Mawar bahwa dia berada dipelukan seorang lelaki. Mawar segera mundur ke belakang menghindari pelukan Riyan yang terasa sangat hangat. Seumur hidup baru kali ini Mawar mendapat pelukan dari seorang lelaki asing.
Tak dapat dibayangkan betapa malunya Mawar dipeluk oleh lelaki yang bukan muhrimnya. Mawar sama sekali tidak mengharap adanya insiden memalukan ini. Lain dengan Riyan yang merasa ada getaran aneh menjalar ke seluruh urat nadi bikin jantung berpacu lebih kencang. Perasaan apa ini? Seumur hidup Riyan belum pernah rasakan degup aneh ini. Bahkan pada Yenni dia tak punya rasa ini. Apakah ini menandakan Mawar memiliki keistimewaan mampu mendobrak hatinya yang nyaris membeku.
Mawar segera menghindar kembali duduk di atas tikar untuk menata detak jantung melebihi batas normal. Sungguh mati Mawar malu bukan main. Mawar takut Riyan mengira dia sedang menggoda laki itu. Padahal murni insiden.
Riyan tersenyum senang melihat Mawar sangat galau telah sukses mendarat di tempat tepat. Mungkin ini pertama kali gadis ini dekat dengan cowok maka reaksinya seperti dunia mau kiamat. Beda dengan Riyan yang telah punya dua anak. Telah tamat urusan soal wanita.
"Mak Bit...ayok sini! Kita main lagi!" seru Rizky belum puas ganggu Mawar. Rizky senang kalau Mawar jadi ibu sambung mereka. Sudah cantik baik pula. Anak ini ingin dekatkan Riyan dengan Mawar supaya Mawar betulan jadi ibu sambung mereka.
Mawar goyangkan tangan menolak tawaran Rizky. Detak jantung Mawar belum kembali normal akibat jatuh ke pelukan lelaki yang bakal melamarnya.
Riyan lanjut main dengan kedua anaknya sampai lelah. Matahari perlahan meredup hendak pulang istirahat setelah seharian lelah menyinari belahan bumi Pertiwi.
Mawar keluarkan bekal yang dibawa dari rumah serta air teh untuk jadi teman singkong goreng lumur karamel gula. Mawar melambai pada Riyan dan kedua anaknya agar menepi isi perut dulu.
Capek-capek berlarian di tepi pantai paling cocok isi perut dengan cemilan manis. Rizky dan Arsy berlarian hampiri Mawar yang sudah siap dengan cemilan orderan kedua anak ini. Singkong goreng Mawar sudah tertata tiga piring kecil plus tiga gelas teh. Jatah Mawar dialihkan kepada Riyan. Rencananya Riyan tidak masuk buku perjalanan Mawar. Kehadiran Riyan menggusur posisi Mawar.
"Ayok cuci tangan biar tidak berpasir!" Mawar keluarkan sebotol air mineral untuk cuci tangan anak-anak dari pasir laut.
Rizky dan Arsy berebutan ingin duluan cuci tangan tak sabar ingin cicipi makanan kampung yang lezat. Riyan saksikan keakraban Arsy dan Mawar. Mereka sangat cocok untuk jadi ibu dan anak. Untung Riyan ambil keputusan tepat ikuti wasiat Yenni. Yenni pasti tahu yang terbaik untuk suami dan anaknya. Yenni tak mungkin jerumuskan keluarga ke bara api.
Mawar dengan telaten beri cemilan pada Rizky dan Arsy. Giliran beri pada Riyan pipi Mawar bersemu merah menahan malu akibat insiden kecil bikin sejuta rasa.
Riyan hanya tersenyum menikmati pemandangan yang mulai langka. Cewek jaman ini berani buka-bukaan tak kenal kata malu. Kata malu nyaris terhapus dari kamus keseharian anak gadis jaman ini. Walau masih ada juga yang kenal kata malu tapi sudah jarang.
Riyan sering lihat di medsos anak remaja pamer aurat hanya untuk cari tenar biar dipuji dan ngetop. Laki normal mana mau pilih cewek model gitu untuk jadi ratu di rumah. Tetap yang jinak merpati jadi idaman para cowok.
"Silahkan bang! Hanya cemilan kampung."
"Cemilan kampung yang nikmat jauh dari radiasi. Abang suka kok! Manis kayak yang buat!" gombal Riyan bikin Rizky tertawa lebar.
__ADS_1
"Gimana kalau kubilang yang buat nenek samping rumah?" balas Mawar tak mau kalah.
"Tetap manis sesuai umur pula. Mungkin manisnya ada sedikit pahit."
"Kok pahit? Makin tua makin manis dong!"
"Salah...terlalu tua rasanya sedikit berubah."
Rizky dan Arsy diam lihat kedua orang tua mereka saling berdebat hal tak penting. Pahit manis jadi bahan debat. Bagi kedua anak itu yang penting penganan bawaan Mawar sangat lezat. Tidak sama dengan makanan di kota yang dominan keju.
"Pa...ayo suapi Mak Bit! Jatah Mak Bit kan sudah diambil papa! Kasihan Mak Bit tidak rasakan singkong hasil olahan sendiri." Rizky sok bijak nasehati Riyan.
Riyan ragu berlapis-lapis mengingat Mawar orangnya pemalu. Disuapi jatuh pingsan pula. Sudah jadi perkara baru Riyan bikin Mawar pingsan di tepi pantai.
"Mas Iky benar pa! Ayo!" Arsy tinggalkan piring kecilnya mendorong Riyan suapi singkong ke mulut mungil Mawar.
Mawar membeku seperti dimasukkan dalam freezer. Tak bisa berkutik lagi saking beku. Riyan angsurkan potongan singkong ke mulut Mawar atas desakan Arsy. Keduanya takkan berhenti sebelum Riyan penuhi tuntutan mereka. Niat mereka baik menyatukan dua insan beda jenis dalam satu wadah. Kedua anak itu tak rela papa mereka jatuh ke tangan perempuan licik macam Dahlia.
Rizky dan Arsy tepuk tangan tatkala potongan ubi singkong masuk ke mulut Mawar. Kedua anak itu anggap misi mereka sukses bikin Mawar suka pada papa mereka.
"Hoorree...Mak Bit mama kita sekarang! Arsy tak mau panggil Mak Bit lagi. Arsy mau panggil mama. Boleh ya?" Arsy mengerjakan mata minta dikasihani rindu akan sosok seorang mama. Arsy masih kecil sewaktu ditinggal Yenni. Belum ngerti arti kehilangan. Seiring waktu Arsy mulai paham mama mereka telah tiada.
"Ayo jawab dong!" Arsy mengguncang lengan Mawar agar segera beri jawaban atas permintaannya.
Tak urung Riyan ikut tegang karena anggukan Mawar adalah jawaban atas lamaran dia. Mawar menunduk menekuni tikar bingung mau jawab apa! Apa tidak terlalu cepat beri jawaban atas wasiat Yenni. Mawar menyayangi kedua anak kakaknya bukan berarti sayang pada papa mereka.
"Ayo Mak Bit! Kasihan Arsy pingin punya mama lagi. Tante Dahlia galak tak cocok jadi mama kami. Tante Alya juga tak cocok jadi mama kami. Tante Alya suka main bentak bahkan cubit kami." Rizky berusaha buka hati Mawar untuk mereka. Bukan untuk Riyan tapi untuk mereka berdua.
"Mak Bit mau tanya? Apa Rizky dan Arsy suka pada Mak Bit?" tanya Mawar serius ingin dengar pendapat kedua anak itu.
"Suka banget...tidak galak dan baik!" sahut Arsy polos.
"Mak Bit galak lho kalau Rizky dan Arsy tak mau patuh!"
"Oh..." Arsy hanya jawab Oh. Mau galak sampai ke mana kalau bicara saja seperti orang kekurangan tenaga. Tiup semut saja belum tentu terbang.
"Arsy akan patuh takkan bikin Mama marah." Arsy melanjutkan biar Mawar yakin terima mereka menjadi anak.
Mawar menghela nafas masih menimbang jawaban tepat buat Arsy. Satu jawaban untuk Arsy sama saja beri jawaban pada Riyan.
"Kalau Mak Bit sayang pada kami ikutlah dengan kami ke kota! Jadi mama kami selamanya." pinta Rizky tak main-main. Anak ini juga harap Mawar iyakan permintaan Arsy.
"Bismillahirrahmanirrahim...Mak Bit akan jadi mama kalian dengan catatan kalian berdua harus rajin belajar dan patuh pada orang tua." kata Mawar beri jawaban memuaskan kedua anak Riyan.
"Alhamdulillah..." Riyan mengucapkan syukur akhirnya Mawar bersedia dipinang sesuai harapan Yenni. Cinta akan datang seiring waktu. Dari diri Mawar terpancar segala kebaikan. Tidak sulit bagi Riyan tumpahkan rasa sayang pada gadis ini. Riyan bukan anak muda utamakan percintaan ala anak alay. Umur Riyan sudah tiga puluh empat tahun. Masa remaja sudah berlalu. Mawar yang masih punya masa muda.
Arsy menjatuhkan diri dalam pelukan Mawar. Mawar merengkuh tubuh mungil Arsy ke pelukan berjanji akan beri semua cinta dan kasih sayang pada kedua anak kakaknya.
Rizky tak mau kalah ikut berlabuh dalam rengkuhan Mawar. Riyan tersenyum sendiri bayangkan tak lama lagi dia juga akan berlabuh di pelukan gadis ini.
__ADS_1