GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Akhir Kisah


__ADS_3

Joko keluar menunggu di luar. Joko tak punya keluarga yang harus dikabari. Paling nanti kabari keluarganya Mawar di kampung. Joko akan kirim pesawat menjemput keluarga Mawar agar bersedia datang jenguk Mawar yang baru lahiran. Mawar pasti akan bahagia jumpa keluarga dari kampung setelah setahun tak bertemu. Bertemu hanya via Videocall dan teleponan.


Joko bersabar sampai hari sudah terang baru bisa kirim kabar. Telepon saat ini bukan waktu tepat karena hari masih gelap. Mungkin ada yang masih tidur.


Apapun adanya Joko lega Mawar telah melahirkan secara normal. Mungkin setelah anak mereka berumur setahun Joko akan program anak ketiga biar rumah lebih ramai. Usia Mawar masih muda sanggup mempersembahkan beberapa anak lagi. Joko yang harus jaga stamina agar bisa imbangi kebugaran Mawar.


Satu jam kemudian Mawar dan bayinya di dorong ke ruang VVIP. Kamar bersalin super Lux mirip hotel berbintang lima. Mawar dan bayinya boleh satu kamar karena sudah bed khusus untuk bayi.


Joko tak mau ditinggalkan sendirian di tempat semula. Laki ini bergegas ikuti brankar dorong Mawar. Joko tak peduli berapa biaya harus dikeluarkan untuk biayai persalinan anaknya. Yang penting keduanya sehat.


Mawar sudah bersih dan wangi. Bayinya juga sudah terbalut dalam kain panel warna biru muda.


Sekarang Joko baru bisa lihat anaknya dengan jelas. Kulit bersih dan hidung mancung. Rahang kokoh khas anak laki. Pokoknya anak Joko sangat tampan. Tidak rugi punya anak seganteng gitu.


"Hubby...ayo adzan anakmu! Dia anak laki lho!" pinta Mawar teringat putra mereka belum di adzan.


Perawat yang ngerti agama segera serahkan bayi itu pada Joko. Bayi mungil dalam balutan kain bedong tak bisa bergerak karena terikat ketat. Joko menerima anaknya dengan tangan gemetar. Bayi merah itu memainkan bibir seperti ngerti akan digendong oleh papinya.


Joko dekatkan bibirnya ke kuping putranya mulai beradzan dengan suara pelan.


Mawar dan perawat menyaksikan Joko adzan anak dengan seksama. Joko tampak menahan tangis sambil keluarkan suara baca surat adzan. Putranya santai saja mulai kenali suara lelaki yang buat dia terlahir ke dunia ini.


Mawar tak kalah senang telah selesaikan tugas sebagai seorang isteri. Selanjutnya adalah menjadi mami yang baik buat Bivendra dan adiknya.


Joko kembalikan bayinya pada perawat agar bisa tidur nyenyak. Bayi merah itu ditempatkan di bed khusus tak jauh dari maminya. Kini perhatian Joko tercurah pada Mawar. Wanita mulia tambatan hati Joko.


"Aku cinta padamu wahai ibu putraku!" Joko tak malu mengecup pipi Mawar didepan perawat. Joko ingin kasih tahu pada seluruh dunia betapa bahagianya dia menjadi suami dari seorang wanita muda bernama Mawar.


Mawar tersipu malu digombal Joko baru saja melahirkan. Hati riang makin riang mendapat penghargaan dari lelaki itu.


"Terima kasih cintanya. Aku sangat lelah setelah berjuang. Cukup satu saja ya Hubby! Kita sudah punya Bivendra jadi tak perlu tambah anak lagi."


Joko ingin membantah perkataan Mawar tetapi Joko tidak segera mengeluarkan isi hatinya. Mawar baru saja melahirkan pasti masih trauma dengan rasa sakit saat melahirkan. Joko hanya tersenyum tidak mengangguk karena takut termakan janjinya.


"Tidurlah! Kau pasti sangat capek! Aku akan menjagamu di sini." Joko membelai pipi Mawar beri waktu pada isterinya beristirahat.


"Bapak benar Bu! Cobalah pulihkan tenaga dengan tidur! Bangun nanti sudah segar." timpal sang perawat ikut larut dalam kebahagiaan pasangan ini. Semoga kebahagiaan mereka tidak berhenti di hari ini saja. Akan berlanjut sampai selamanya.


Joko keluar dari kamar memberi kesempatan pada Mawar untuk beristirahat. Joko gunakan waktu luang ini memberi kabar kepada Pak Hari dan Pak Hanif mengenai kelahiran anaknya.


Yang paling pertama Joko menelepon Pak Hari karena dia adalah kakek kandung dari putranya. Sayang atau tidaknya Pak Hari kepada anaknya tidak menjadi soal. Yang penting Joko telah melaksanakan tugas sebagai seorang menantu.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam...nak Joko. Pagi sekali telepon! Ada apa dengan Mawar?"


Joko menangkap rasa khawatir di dalam nada suara Pak Hari. Joko syukuri hari ini bila memang Pak Hari mengkhawatirkan anaknya.


"Mawar baru saja melahirkan seorang putra. Selamat ya Ayah! Anda telah menjadi seorang kakek."


"Alhamdulillah... gimana kondisi Mawar?"


"Sehat begitu juga cucu ayah. Kapan kalian mau kemari biar kukirim pesawat jemput kalian. Maksimal bisa muat sepuluh orang. Atau mau gunakan pesawat komersial juga boleh. Aku akan beli tiketnya."


"Aku harus berembuk dengan ibunya dulu. Begitu juga dengan Pak tuo. Ayah tidak sabar ingin melihat jagoan ayah. Ada mirip kakeknya?"


"Pokoknya sangat tampan. Ayah bersiap bila mau datang."


"Baik...baik...ayah akan kabari kamu kapan datang!"

__ADS_1


"Baik ayah. Jaga diri! Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Selanjutnya Joko menekan nomor ponsel pak Hanif untuk beri kabar yang sama dengan pak Hari.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam... angin apa menelepon pagi sekali? Gimana keluarga kamu di sana? Apa baik-baik semua?"


"Alhamdulillah baik pak Tuo. Aku cuma kasih kabar kalau Mawar sudah melahirkan seorang putra yang sangat tampan. Aku telah mengabari ayahnya Mawar. Aku akan kirim pesawat bila kalian mau kemari. Kapan saja mau datang aku bersedia mengirim pesawat."


"Ya Allah...akhirnya impian Mawar terwujud juga. Tak kusangka gadis yang pemalu itu telah menjadi seorang ibu. Selamat ya nak Joko atas kelahiran putramu. Aku dan Mak Tuo Mawar pasti datang. Cuma kami malu harus menghambur-hambur uangmu tinggal di hotel mahal."


"Tidak di hotel pak Tuo! Kalian bisa tinggal di rumah Mawar. Tinggal kalian kabarin berapa orang yang akan datang biar ku bersihkan kamarnya. Di rumahku masih banyak kamar kosong jadi kita bisa berkumpul bersama-sama."


"Oh gitu ya! Baik.. kami akan berembuk kapan berangkat. Nanti pak Tuo kabari kamu lagi. Selamat ya nak. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Joko menarik nafas lega telah melakukan perihal paling penting mengabari keluarga Mawar tentang kelahiran anak Mawar. Kini tinggal suruh Anwar persiapkan pesawat menjemput keluarga Mawar dari kampung. Joko serahkan kepada keluarga Mawar mau dijemput atau gunakan pesawat komersial. Kesemuanya tak jadi masalah buat Joko.


Empat hari kemudian Mawar sudah diijinkan pulang karena kondisi stabil begitu juga putra mereka.


Joko takjub melihat putranya memiliki warna mata sama dengan mata maminya yakni kelabu kehijauan. Persis mata keturunan bule. Lengkaplah ketampanan putranya. Postur tubuh mewarisi gen Joko tinggi besar sedang raut wajah mirip Mawar di jelita.


Hari ini juga keluarga Mawar akan datang dari kampung gunakan pesawat pribadi Joko. Joko tak tahu siapa saja yang datang karena tak ada laporan siapa penumpang. Cuma Joko sudah pesan tak boleh lebih dari sepuluh penumpang. Walaupun pesawat pribadi tetap harus patuhi peraturan.


Anwar bertugas menjemput keluarga Mawar. Sedangkan Joko mengurus kepulangan Mawar dari rumah sakit. Joko telah menata satu kamar khusus untuk putra mereka namun Mawar menolak. Untuk sementara Mawar ingin tidur bersama putranya. Mawar tak tega tinggalkan putra pada pengasuh yang disewa Joko. Mawar mau merawat putranya dengan tangan sendiri. Joko tidak bisa menolak karena memang begitu seharusnya. Cuma Joko tidak tega melihat Mawar kecapekan mengurus rumah tangga dan anak kecil.


Bivendra dan Bibik senang bukan main menerima anggota baru di rumah. Bayi tampan nan gembul. Pipinya tembem kayak bakpao dari Tiongkok. Bivendra gemas sekali lihat adiknya. Anak kecil ini tak puas-puas menatap adiknya yang tertidur pulas di box bayi. Mawar belum diijinkan banyak gerak karena ada sedikit jahitan di organ intim. Jalan harus perlahan agar jahitan tidak terlepas.


Salsabila dan Sryn tidur bersama Bivendra di tingkat atas. Kamar Bivendra sangat luas menguasai seluruh lantai atas. Kelak Bivendra harus berbagi wilayah kekuasaan pada adiknya. Untuk sementara Bivendra masih boleh berkuasa karena adiknya masih bayi.


Keluarga Mawar tak diijinkan masuk kamar Mawar dulu sebelum mandi dan bersihkan badan. Joko tak mau ambil resiko anaknya terkena virus dari luar karena bayinya masih rentan terhadap kuman.


Yang paling pertama masuk pak Hari dan Bu Tiara. Mawar mau turun dari tempat tidur menyambut ayahnya namun dilarang pak Hari. Malahan pak Hari yang hampiri anaknya.


Mawar tak lupa salami kedua orang tuanya dengan sopan. Mawar melihat ada cairan bening bergantungan di kelopak mata pak Hari. Mungkin pak Hari terharu anak bungsunya telah menjadi seorang ibu juga.


"Terima kasih mau datang ayah ibu..."


"Harus dong! Ini kan cucu ayah."


"Apa kak Dahlia dan kak Ayumi ada datang?"


"Mereka hanya kirim salam. Ayumi punya bayi kecil sedangkan Dahlia sudah pindah ke Aceh Singkil ikut suaminya tugas di sana."


"Oh gitu ya! Syukurlah semua baik! Ayah dan ibu pasti capek datang dari jauh. Tinggallah di sini barang sebulan dua bulan!"


Bu Tiara mendecak tanpa sebab. Biar hati memang ingin tinggal namun di rumah Ayumi tak bisa ditinggal terlalu lama karena kurang pandai rawat bayi. Sekarang saja di jaga oleh ibu Husien.


"Ibu sih mau tapi kakak kamu gimana?" sungut Bu Tiara sambil mengeluh.


"Kami paling lama cuma seminggu. Kebun kita juga tak ada yang rawat. Sekarang hanya harap Husien." sambung pak Hari belum percaya sepenuhnya pada Husien.


"Husien pasti bisa ayah! Kita harus kasih kesempatan pada Husien tunjukkan kemampuan." Mawar tidak provokasi melainkan bikin Pak Hari tenang. Mata Bu Tiara makin terbuka lebar manusia model apa yang dia musuhi selama ini. Sosok wanita berhati malaikat.


"Ayah dan ibu keluar ya! Pak Tuo kamu mau jumpa kamu!"

__ADS_1


"Ayah kan belum lihat cucu ayah! Lihatlah sebentar!"


"Oh iya...ayah hampir lupa cucu saking senang lihat kamu!"


Pak Hari dan isterinya tak bisa lepas dari kata kagum lihat tampang tampan cucunya. Mirip boneka cowok yang lucu.


"Ya Allah tampannya cucu aku!" seru Bu Tiara tanpa sadar. Sejak kapan hatinya menerima Mawar hanya Tuhan yang tahu.


"Iya...mirip kamu Mawar. Semoga kamu jadi anak Soleh ya nak!" doa pak Hari tulus.


"Amin..."


Gantian pak Hanif dan Bu Hanif jenguk Mawar dan bayinya. Kedua orang ini lebih pentingkan bayi dari pada Mawar. Mereka langsung menuju ke baby box lihat tampang cucu mereka. Hampir sama dengan Pak Hari, kedua orang tua ini juga salut pada bayi punyaan Mawar. Tampan rupawan.


"Semoga kamu jadi anak baik pelindung ibumu nak!" Bu Hanif menyentuh kening si bayi berdoa semoga anak ini jadi anak berbakti.


"Amin Mak Tuo!" sahut Mawar jawab harapan Bu Hanif.


Bu Hanif berbalik ke arah Mawar setelah puas dengan si kecil. Mak Tuo tersenyum manis pada Mawar sebagai penghargaan perjuangan Mawar sebagai wanita.


"Kau bahagia bukan?"


"Bahagia sekali. Hidupku terasa sangat sempurna setelah melahirkan bayi untuk Joko. Dia sangat mendambakan seorang anak lelaki."


"Laki atau wanita itu sama saja. Yang penting kalian sehat. Oya...kami akan berangkat umroh bulan depan. Sudah lama daftar sekarang baru dapat giliran. Ayah dan ibumu ikut, Marwah dan suaminya serta ada satu saudara dari ibumu. Dia sudah berumur ingin injak tanah suci maka kami bawa. Kau tak keberatan bukan?"


"Tentu tidak...apa uangnya cukup untuk kalian ke sana?"


"Cukup malah masih berlebih. Sepulang umroh kalau ada umur panjang kita akan kenduri untuk anak yatim gunakan sisa uangnya."


"Alhamdulillah..."


"Anakmu sangat tampan nak! Allah telah bayar semua derita kamu selama ini. Allah itu maha adil. Kamu sukses lewati semua cobaan maka mendapat berkah paling mulia. Pak Tuo selalu berharap kamu bahagia. Dan kamu sudah memilikinya."



Bayi Mawar.


"Terima kasih doanya."


Mawar melempar pandangan keluar jendela lihat cahaya mentari masih bersinar walau sore makin jatuh. Mawar sudah mendapat hikmah dari kesabarannya sebagai anak teraniaya. Semakin dianiaya semakin pula besar kesempatan meraih yang terbaik. Mawar lah contoh terbaik. Kesabaran Mawar membuahkan hasil manis.


Malamnya Joko tidur mendekap Mawar. Joko lega isterinya telah kembali ke pelukannya. Mereka berdua sama-sama korban dari kesilapan sesama manusia. Keduanya terpuruk namun memetik hasil paling baik.


Joko dan Mawar siap bergandengan meniti hari lebih berat di masa depan. Keduanya percaya asal saling gandengan semua rintangan akan terlewati.


Fajar tetap akan menyingsing walaupun harus lalui hari kelam. Asal yakin semua pasti berlalu. Kita jangan cepat putus asa bila menemukan kesulitan hidup. Tetap optimis semua akan berlaku.


Seperti Mawar dan Joko. Jatuh bangun mengejar kata bahagia. Mereka kejar tanpa putus asa dan mereka menang. Mereka telah mempunyai modal menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah. Kita juga akan gitu asal tawakal dak percaya diri.


T A M A T


Assalamualaikum semua pembaca Budiman. Kisah Mawar dan Joko cukup sekian. Kalau ada kata dan kalimat yang tak sesuai dengan isi hati pembaca mohon minta maaf sebesar-besarnya. Author ini manusia biasa tak luput dari kesilapan. Terima kasih telah dukung author. Tetap beri saran dan kritik pada setiap karangan author. Tiada niat lain selain ingin hibur para pembaca dengan kisah dari negeri ntah berantah. Semua ini hanya khayalan author semata-mata. Kalau ada kesamaan dengan kisah hidup seseorang mohon maaf. Author benar tak tahu itu karena semua karangan author hanya fiksi.


Sekali lagi terima kasih. Kita jumpa di kisah lain.


❤️❤️❤️❤️❤️♥️♥️


Love u all. Muach..

__ADS_1


__ADS_2