
Wanita itu menatap Mawar dengan ekor mata anggap gadis ini hanya penghias kantor. Baru kali ini ada karyawan kantor Bagas berbusana muslim. Aneh sekali ada asisten menutup diri dengan pakaian gamis. Biasa asisten notabene berpakaian umbar aurat agar menarik. Tubuh terkurung dalam busana muslim apanya mau dilihat orang.
"Pak Bagas yakin gadis ini bisa bekerja dengan baik?" sekretaris Bagas bernama Naura anggap remeh pada Mawar.
Bagas kurang senang Naura sok hebat anggap remeh junior. Naura memang sekretaris unggul tapi tak boleh merasa diri lebih hebat dari junior. Naura justru harus baik hati didik junior agar bisa ringankan tugasnya.
"Maaf ya Tante...kakak aku segalanya jauh lebih dari anda. Baik dari akhlak maupun wajah. Kakakku cantik karena pemberian Tuhan dan akhlaknya seribu kali dari anda. Tidak murahan pamer semua perabotan." mata John mengerling dua bukit berbunga yang nyaris meloncat keluar akibat pakaian terlalu ketat. John tak tahan kakak kesayangannya di-bully orang. Dari awal John memang tak suka Mawar bekerja di kantor Bagas. Belum apa-apa sudah diremehkan Naura. John tak terima semua gaya selangit Naura. Dengan senang hati John banting Naura ke comberan.
"Tante??? Kamu punya mata tidak? Aku ini belum tiga puluh tahun. Sejak kapan aku kawin sama om kamu?" Naura bentak John dengan sengit. Tampaknya Naura belum kenal siapa John.
"Ya ampun bude.. kukira umur anda lima puluh tahun. Boros amat tuh wajah! Itu akibat kebanyakan make up. Muka bertumpuk merkuri." balas John santai sambil amati Naura dari atas hingga bawah. Mata John bertumpuk pada ujung kaki Naura dicat warna warni model kekinian.
Naura besarkan mata kesal dipermalukan oleh lajang tanggung bermulut cabe. Pedas banget hawa disemburkan.
"Anak siapa ini pak? Mulutnya tidak terdidik. Aku tak mau lihat orang tidak kompeten berada di kantor kita. Kakak adik sama udiknya."
Bagas menghela nafas dapat sambutan super konyol dari sekretarisnya. Wanita ini tak tahu kalau orang dia sebut udik itu adalah keponakan kandung Bagas. Jangankan Naura, Bagas saja sering kehabisan kata lawan John.
John terkekeh dianggap udik. Bola mata Mawar dan John hampir sama seperti orang bule membuat Naura mengira mereka benaran kakak adik.
"Aku orang udik yang lahir di Jerman. Kau pernah ke Jerman?" John dekatkan wajah ke dada Naura yang membukit menantang mata cowok.
"Pak. Gimana ini? Belum kerja sudah bawa masalah. Aku tak suka tugasku diganggu orang."
"Naura...ini John anak kak Indy dan Mawar adalah adik angkat kak Indy. Kau mau cari masalah dengan kak Indy?" Bagas perkenalkan John dan Mawar supaya wanita itu tidak permalukan diri lebih jauh.
Bibir Naura terkatup rapat dengar nama Indy. Indy kakak Bagas yang mulutnya bak petasan. Meledak sesuka hati tanpa pilih mangsa. Naura segan berurusan dengan Kakak Bagas itu.
John mendapat angin perolok Naura yang tadinya sombong. Seorang sekretaris saja gayanya selangit. Gimana nanti kalau jadi nyonya Bagas. Satu kantor harus dengan kicauannya.
"Bude...sudah tahu toh siapa yang udik. Lihat kuku kakinya saja kayak kuku Wewe gombel. Panjang kesetanan. Kak Mawar harus ingat jangan lupa cuci kaki tiap hari! Jangan seperti wewe gombel tak pandai rawat kuku kaki. Kotoran lengket seluruh jari." John menghina nail lacquer (istilah nail art cat kuku kaki) di kaki Naura. Seni cat kuku dibilang sisa kotoran bikin leher Naura seperti dicekik setan. Naura habiskan duit ratusan ribu cuma dibilang sisa kotoran. Sakit hati Naura.
Bagas merasa bersalah ajak John ke kantor. Seharusnya dia bisa prediksi John akan bikin kacau di kantor. Naura itu sekretaris sekaligus salah satu pemegang saham di perusahaan. Orang tua Naura cukup kaya untuk back up Naura tanam modal di mana dia suka.
"Naura...jangan ambil hati sama anak kecil! Mulai besok Mawar akan bergabung di kantor ini. Kuharap kau bisa bimbing Mawar jadi pekerja handal." kata Bagas tak berdaya hadapi keangkuhan Naura. Naura telah rela berkorban jadi sekretaris demi dekat dengan Bagas padahal dia bisa duduk di posisi lebih tinggi di kantor ini.
Naura mendengus marah pada John dan Mawar. Wanita ini anggap Mawar datang hanya merusak fokus mata Bagas. Dulu mata Bagas hanya tertuju padanya kini akan terbagi pada gadis berbusana muslim.
"Kita lihat nanti. Apa otak gadis ini juga tertutup seperti pakaiannya." sinis Naura melengos pergi dengan gaya peragawati kondang.
Suasana jadi canggung dikarenakan penyambutan tak ramah Naura. Belum apa-apa Mawar sudah merasa tekanan berat. Mawar tidak terbiasa jadi masalah dengan orang jadi agak pesimis.
__ADS_1
"Ayok kita ke ruang kerjamu!" ajak Bagas tak biarkan Mawar lama mengingat perlakuan Naura.
John mendengus pandang rendah pada wanita tak punya rasa malu pamer aurat. Pikirnya menarik umbar aurat untuk dipertontonkan pada umum. Orang sudah terlalu sering lihat barang sama pasti bosan. Lain dengan yang tertutup. Orang akan penasaran apa isi dalam di balik busana tertutup. Hal ini akan makin menarik perhatian cowok.
Bagas mengiringi Mawar dan John lewati lorong menuju ke ruang kerja Bagas. Di luar ruang kantor Bagas ada meja dan kursi sederhana serta lemari file.
Di atas meja ada seperangkat komputer model kekinian. Cuma ada barang itu tanpa hiasan apapun. John merasa sedih lihat meja kerja Mawar berkesan di buat asal-asalan. Tak ada kesan meja seorang asisten pribadi Bagas.
"Miskin amat perusahaan ini. Kursi dan meja kerja kakakku seperti barang bekas dari jaman kakek.
Jangan-jangan ini milik kakek di masa lampau." kata John memandang rendah perabotan untuk Mawar.
Bagas ingin sekali lepas tangan jitak kepala bocah tengil ini. Omong asal keluar. Dari mana perabotan bekas kakeknya. Sudah berapa puluh tahun papa Bagas meninggal, kantor pun sudah berpindah mana mungkin barang dari jaman kuno di bawa ke kantor.
"Kau suka Mawar? Ini Naura yang urus. Kalau kau tak suka biar aku beli yang lain." Bagas tak enak juga pada Mawar. Kursi dan meja Mawar memang berkesan murahan seperti barang bekas.
"Ini sudah cukup mas! Aku datang ke sini untuk kerja." jawab Mawar lembut tenangkan hati Bagas. Hati Bagas makin terpikat pada si lembut ini.
"Hati-hati ada rayapnya kak! Kayaknya barang ini dari gudang atau dari pasar barang bekas. Sudah kak! Tak usah kerja. Aku akan kasih makan kakak. Ngapain kumpul sama orang-orang sirik tak punya hati." John menyentuh lengan Mawar agar sadar dia akan dapat masalah di kantor ini.
"John...biar kakak coba dulu ya! Kalau kakak tak bisa pasti akan mundur. Kakak akan cari kerja lain." ujar Mawar lembut seperti biasa.
John tak jawab pilih pergi dari lokasi. Lajang ini sangat kuatir Mawar akan dibully oleh Naura perempuan sok cantik itu.
"Kau pasti bisa Mawar." Bagas mengeluarkan kata pemberi semangat supaya besok Mawar punya keberanian datang ke kantor.
"Akan kucoba!" sahut Mawar dengan nada tak pasti. Mawar sendiri ragu bisa adaptasi dengan Naura. Belum apa-apa Naura sudah beri stempel Mawar tidak kompeten.
"Ayok kita ke ruang kerja aku!" ajak Bagas melangkah ke pintu kaca pembatas dengan meja kerja Mawar.
Sekali dorong pintu itu terkuak lebar menyambut kedua orang ini masuk ke dalam. Ruang kerja Bagas bersih dan rapi. Penataan jelas orang berkelas karena semua tersusun rapi.
"Aku bisa melihatmu dari sini. Kalau kau kurang ngerti boleh langsung tanya aku. Silahkan duduk!" Bagas agak segan dekat dengan Mawar karena bahasa tubuh gadis ini selalu melarang orang mendekat.
Mawar tempatkan diri di sofa dengan anggun. Badan duduk tegak dengan kedua lutut merapat di bawah balutan busana panjang. Orang hanya bisa menduga apa warna kulit di balik busana muslim itu.
"Mau minum apa?" tawar Bagas.
Mawar menggeleng tak ingin merepotkan orang. Mereka baru saja siap makan di rumah. Perut masih kenyang belum minta diisi.
"Tak usah pak! Bapak silahkan lanjut kerja. Aku duduk saja di sini."
__ADS_1
"Hari ini tak banyak kerja. Gimana kalau kuantar kamu keliling kantor. Kau bisa kenalan dengan karyawan lain."
Mawar angguk kecil setuju usul Bagas. Mengenal lingkungan sebelum melangkah lebih baik ketimbang tersesat nanti. Di sini bukan kampung Mawar yang penuh toleransi. Ini tempat orang saling bersaing cari posisi dan mama untuk bisa lebih maju. Mawar harus berjalan dengan hati-hati agar tidak terjatuh.
Bagas membawa Mawar keliling beberapa lantai yang diisi karyawan dari kalangan tingkat manager. Bagas sengaja antara Mawar secara langsung agar tak ada yang berani bully gadis berhati lembut ini. Bagas berbuat demikian untuk menekan pegawai lain tidak iri pada Mawar.
John keliling kantor sendirian pantau lingkungan kerja kakak tersayangnya. John pasti akan lebih sering ke sini bila ada Mawar bahkan John sudah ancang-ancang minta mamanya beli seperangkat meja kursi untuk dia dekat dengan Mawar. Pulang sekolah John akan datang ke kantor Bagas tunggu Mawar pulang kerja. John sudah bertekad demikian siapa bisa merubah tekad anak keras kepala itu.
Satu jam keliling kantor Bagas bawa Mawar kembali ke ruang kerjanya. Perlakuan Bagas pada Mawar memang beda dengan karyawan lain. Bagas tak bisa anggap Mawar sebagai karyawan biasa tapi luar biasa.
Baru saja mereka masuk ruang kerja Bagas sudah datang si lajang tengil. Wajah tengil John makin tampak konyol. Segala rencana bagus telah tercatat di kepala mungil John. Berbagai rancangan telah dia catat dalam benak.
Bagas dan Mawar menoleh ke arah John secara serentak seperti dikomando oleh atasan. Gerakan reflek ini terjadi akibat John buka pintu kaca dengan kasar timbulkan suara.
"Woi...kau mau hancurkan kantor om?" tegur Bagas makin gemas pada anak kakaknya itu.
"Baru pintu disentuh sudah tak senang. Dasar pintu om ngak kuat! Semua pada lapuk. Besok aku akan antar meja kerja aku ke sini. Yang pasti baru dong! Aku mau magang di sini." ujar John seenak perut seakan dia sudah diterima kerja di situ.
Lajang ini mana tahu gimana kesalnya Bagas. Yang penting Mawar tidak lekang dari pantauan. Ini tugas John lindungi Mawar sebagai cewek lemah. John tak percaya Bahas bisa jaga Mawar kalau dilihat cara Bagas tegur Naura. Bagas beri kesan takut pada Naura. Bagas punya black notes di tangan Naura atau punya saham John tak mau peduli. Yang dia peduli cuma Mawar.
"Apa om sudah ijin kamu bikin kacau di kantor?"
"Orang mau belajar kerja dibilang bikin kacau. Ngak gaul amat nih om! Oya kak! Kita pulang yok! Besok kan ada ulangan sejarah. Aku mau belajar pakai metode kakak." rengek John mulai bosan berada di kantor Bagas. Kantor mana ada menariknya. Yang ada hanya para karyawan sibuk pada tugas masing-masing. Betul membosankan.
"Tunggu sorean dikit kita pulang bareng! Dia jam lagi kok!"
"Dua jam sudah ada seribu kata nongkrong di otak aku. Buang waktu lama di sini!" John menatap Bagas tajam mau segera pulang.
Bagas ingin sekali menjewer kuping John. Anak itu tak bosan bikin ulah pancing emosi Bagas. Tadi disuruh tinggal di rumah minta ikut. Sudah dibawa minta pulang. John persis anak SD suka ngambekan.
"Kami bisa pulang sendiri mas! Kami pulang dengan taksi online saja. Mas bisa kembali kerja." Mawar coba melerai pertikaian tanpa akhir antara om dan keponakan.
Bagas cemas John dan Mawar pulang sendiri. Mawar orang baru di kota bisa saja tersesat tanpa penunjuk jalan. Kalau John kurang bisa diharapkan karena masih termasuk anak kecil maka banyak ulah.
"Kita pulang bersama saja! Oya...kau mau beli keperluan kerja? Mungkin pulpen pribadi dan buku notes?" Bagas teringat meja Mawar kosong melompong belum diisi alat tulis. Naura pasti sengaja tak sediakan karena iri pada Mawar.
Dari gerak gerik Naura berkesan cemburu pada Mawar. Wanita itu anggap Mawar rival merebut perhatian Bagas. Andai Naura tahu status Mawar sebagai janda pasti akan makin menyudutkan Mawar dengan kalimat tak sedap.
"Iya mas! Nanti kita beli dalam perjalanan pulang. John butuh perlengkapan sekolah?" Mawar malah menawarkan John untuk beli peralatan sekolah. Padahal di rumah semua lengkap. Ini sekedar perhatian seorang kakak.
"Nanti kita lihat kak! Ayok kita cabut!" John tak sabar ingin tinggalkan kantor yang menurut John tak nyaman.
__ADS_1
Bagas benar-benar sedang uji nyali oleh setan cilik ini. Kalau tak ada Mawar pasti sudah gaplok kepala anak lajang itu. John makin menyebalkan di mata Bagas. Tak ada manisnya sebagai anak kecil.
"Ayoklah!" Bagas menyerah pilih ikuti perintah John. Anggap saja ajak Mawar jalan-jalan kenalan dengan lingkungan barunya.