
"Waalaikumsalam.." terdengar sahutan suara anak kecil. Mawar menduga itu suara Bivendra.
Mawar masuk ke dalam dengan langkah ringan. Dalam pikiran Mawar tidak terbersit akan muncul hal buruk siang ini. Semoga saja kakak ipar Joko itu orangnya bersahabat bisa diajak berdiskusi.
Mawar berjalan sampai ke ruang tamu bertemu dengan Bivendra dan seorang wanita mengenakan pakaian serba hitam dengan rambut dicat warna pirang. Wajahnya menunjukkan bahwa wanita ini orangnya terpelajar dan memiliki kharisma cukup tinggi. Hidungnya mancung menjulang dengan dandanan cukup cantik di mata para lelaki.
Wanita itu menatap tajam kepada Mawar seolah menaksir berapa harga Mawar. Sorot mata wanita itu keras tak menunjukkan nilai persahabatan.
Mawar bergidik karena tak pernah berjumpa dengan sorot mata yang demikian kejam. Bu Tiara cukup kejam namun tidak memiliki sorot mata yang demikian mengandung hawa membunuh.
Dari sini Mawar sudah merasa insecure. Belum apa-apa wanita itu sudah ajak perang tanpa suara. Ini sangat mengerikan buat Mawar.
"Mami...ayok duduk sama Endra!" terdengar Bivendra menghalau suasana tak enak.
Mawar mengangguk sopan pada wanita itu baru dekati calon anak sambungnya. Bivendra langsung bergelayut manja pada Mawar.
Wanita tampak kurang senang Bivendra dekat dengan Mawar. Bivendra anak sangat kritis susah didekati. Herannya bisa akrab dengan Mawar.
"Mami tahu tidak...tadi pr Endra jadi contoh buat yang lain. Nilainya sepuluh. Endra senang deh!"
"Itu karena kamu rajin. Hari ini kita tidak bahas pr. Besok kita kerjakan karena malam ini otak Biven harus dimanja. Kasih libur.." kata Mawar lembut pancing tawa Bivendra.
Tawa Bivendra yang biasa mahal kini terdengar lepas seperti temukan teman cocok. Jangan tawa senyum saja Bivendra ogah.
"Biven...sama tamu yang sopan! Jangan sembarangan panggil mami! Emang dia siapa?" bentak wanita itu keras membuat tawa renyah Bivendra kontan sirna. Mata anak kecil itu memancarkan sinar permusuhan tak suka kebahagiaan dia dirusak oleh wanita yang dia sebut Tante itu.
"Emang kenapa Endra senang pada mami? Dia bakal mami aku!" balas Bivendra tak kalah judes.
"Tak usah mimpi... papi kamu tak mungkin menikahi orang lain selain Tante!"
Mawar terhenyak kaget mendengar pernyataan wanita itu. Begitu mulus dan gamblang tanpa beban. Kini Mawar sedang berpikir sampai di mana hubungan kedua orang ini sampai wanita itu berani mengatakan hal ini tanpa pakai saringan.
"Tante yang tak usah mimpi. Dari dulu mimpi tidak bangun-bangun. Sekarang bangun dan hadapi kenyataan kalau papi sudah pilih mami Mawar sebagai mami Endra." bela Bivendra garang.
Mawar mengatup bibir erat-erat takut salah omong. Akankah rencananya buyar lagi? Mengapa untuk hidup tenang selalu ada rintangan. Baru saja Mawar pasrah mencoba bangun hubungan baru dengan lelaki kini telah muncul awan kelabu tutupi hari cerah dia.
"Ada apa ini? Endra kok teriak-teriak?" Joko masuk dengan gaya wibawa.
Wanita itu kontan berdiri menyongsong kehadiran Joko dengan sikap manis dan lemah gemulai. Tadi seperti hyena kelaparan menjerit tekan mangsa. Kini telah berubah jadi kelinci jinak. Manusia berkepribadian ganda.
"Joko...baru datang?"
"Sudah dari tadi. Parkir mobil sebentar. Sudah lama datang?"
__ADS_1
"Ada satu jam. Sudah seminggu tak jumpa. Aku kangen pada kalian." Wanita itu memegangi tangan Joko seakan pemilik tubuh laki itu.
Joko melepaskan pegangan wanita itu agar Mawar tidak salah sangka. Joko tahu semua wanita di dunia ini sama saja tak suka miliknya disentuh orang lain. Apalagi menyangkut asmara.
"Oya..kenalkan ini Mawar! Dan ini Kak Erni kakak ipar aku! Silahkan duduk kak!"
Joko berjalan duduk di samping anaknya mencari posisi rilex untuk mulai utarakan rencana melamar Mawar secara resmi pada keluarga Mawar. Lamaran Bivendra hanyalah pembuka jalan. Joko sendiri wajib melamar Mawar lagi untuk tunjukkan kesungguhannya menikahi gadis itu.
"Siapa gadis ini?" tanya wanita bernama Erni.
"Ini Mawar calon mami Endra. Aku akan melamar Mawar besok di villa. Rencananya kami akan ajak keluarga Mawar ke villa. Maka itu aku memberitahu kak Erni tentang rencana ini."
Erni langsung berdiri dengan mata membesar tak terima kabar dari Joko. Tak pernah terbayang oleh Erni kalau Joko akan melamar wanita lain untuk menjadi mami Bivendra.
"Joko...kau gila ya? Apa hak gadis ini duduk sebagai mami Endra? Lalu aku? Kau mau sia-siakan aku?" teriak Erni bikin Joko kaget.
Laki ini tak sangka reaksi Erni akan begini. Joko pikir Erni akan ikut senang akhirnya Joko menemukan kandidat cocok untuk gantiin posisi isterinya yang telah meninggal dunia.
"Kak...apa maksud kakak? Selama ini hubungan kita cukup baik dan sopan. Aku tak pernah berpikir siakan kakak. Sampai kapanpun aku tetap anggap kakak ini kakak ipar aku. Tak lebih kak!"
"Kau pikir aku gila menjanda sampai sekarang kalau bukan menunggu kamu melamar aku? Seenaknya kau bilang lamar gadis ini. Apa yang kamu lihat dari gadis ini? Apa dia cocok jadi istri kamu?"
"Cocok...sangat cocok untuk jadi isteri papi. Mami Mawar bukan orang munafik seperti Tante. Mami tulus pada Endra dan papi." Bivendra bangkit bela Mawar. Mawar bungkam tak tahu harus bagaimana. Mawar percaya Joko tidak pernah berbuat sesuatu yang kelewatan dengan Erni karena lelaki ini berani bicara di depan Mawar. Mawar cuma merasa tak enak menjadi duri dalam daging Erni.
"Tidak bisa...kita harus menikah! Lupakan gadis ini! Dia bukan untukmu. Aku yang terlahir untukmu. Kau lihat! Tuhan sengaja ciptakan konflik agar akhirnya kita bisa bersama. Sekarang juga kamu usir perempuan ini." Erni menunjuk ke arah Mawar yang makin terpaku.
Mawar tak mampu berkata apapun dalam hal ini. Erni sudah lama menunggu lamaran Joko sedang Joko anggap Erni hanya kakak ipar. Satu hubungan sangat rumit.
Bivendra berdiri di depan Mawar tak ijinkan Mawar pergi. Bivendra sangat marah Erni berbuat seenak perut terhadap Mawar. Bagi Bivendra Mawar adalah pelita yang terangi jalan hidupnya. Mawar menuntunnya keluar dari kegelapan.
"Kak...aku hormati kamu sebagai kakak. Tak lebih dari itu. Aku undang kakak datang untuk jadi orang tua aku. Pengganti keluarga. Kok malah jadi ribet?" kata Joko tak habis pikir mengapa Erni berubah begitu tahu dia mau nikahi gadis lain.
"Joko...kita ini sudah saling kenal sekian tahun. Baik buruk aku kau tahu dan sebaliknya. Kau ajak orang lain masuk dalam keluarga kita apa itu pantas?"
"Mawar bukan orang lain tapi calon isteri aku! Wanita yang akan dampingi aku di sisa hidup aku. Kakak tahu dengan jelas aku jarang berhubungan dengan sembarangan wanita. Itu karena aku ingin memilih yang terbaik untuk aku dan Bivendra. Kuharap kakak maklumi rencana aku. Tanpa restu kakak aku tetap nikahi Mawar." tegas Joko tak beri peluang pada Erni untuk menginjak harga diri Mawar. Di mata Joko Mawar adalah gadis istimewa yang patut dihargai.
"Gitu ya caramu campakkan aku? Siapa yang dampingi kamu di masa sulit dulu? Bukan wanita ini tapi aku! Eh kau...tahu diri dikit dong! Calon suami orang diembat!" Erni mengarah pada Mawar yang dari tadi diam.
"Aku...aku...."
"Aku apa? Berapa kau mau di bayar untuk tinggalkan Joko? Kau incar hartanya bukan? Sini kubilang ya! Aku ini calon isteri Joko yang sudah tercatat di dunia akhirat. Kau tak ada apa-apa di banding aku!"
Mawar makin tak nyaman terjebak situasi begini. Mawar bukan tak yakin pada Joko melainkan tak nyaman dibilang incar harta Joko. Mengapa semua diukur dengan materi? Apakah tak bisa melihat kesungguhan hati seseorang lewat mata hati?
__ADS_1
"Pak...kalian selesaikan masalah kalian dulu! Aku pulang dulu." Mawar tak sanggup teruskan perdebatan karena dirinya. Mawar bingung tak tahu harus berbuat apa.
"Mami...jangan dengar omongan orang itu! Dari dulu Endra tak suka padanya. Sok hebat berkuasa atas papi dan suka marahin Endra. Selalu bilang Endra takkan dipedulikan bila dia sudah lahirkan anaknya."
Joko melongo sampai buka mulut lebar. Anaknya tak pernah cerita ancaman Erni padanya selama ini. Pantas saja Bivendra mengurung diri bila Erni datang. Ternyata ada sebab akibat.
"Kak...kau tega ancam seorang anak kecil? Di mana hati kecil kakak? Endra hanya seorang anak kecil mengapa Kakak tega melakukan hal ini padanya?"
Erni agak mengkerut disuka oleh Joko. Erni sendiri sudah tak ingat apa yang pernah dia katakan pada anak Joko. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya tanpa dia sadari. Erni tak menyangka kalau Bivendra menyimpan kalimat itu sampai detik ini.
"Joko...itu hanya candaan! Bagaimana mungkin aku tidak menyayangi Endra? Endra juga anak aku walaupun bukan lahir dari rahim aku. Aku sangat mencintai Endra." ujar Erni sedikit melunak Endra telah buka kartunya di hadapan Joko.
"Bohong... setiap kali jumpa dia selalu mengancam Endra. Selalu bilang kalau Endra ini anak dari perempuan ******. Endra sangat sedih maka itu Endra jadi malas berbicara dengan seisi rumah ini karena semua jahat pada Endra." kata Bivendra diselingi suara isak tangis.
Mawar menjadi tidak tega pada Bivendra. Anak ini ikut menanggung beban yang telah dilakukan oleh ibunya. Pantas saja Bivendra mengurung diri tidak ingin bergaul dengan siapapun karena merasa rendah diri. Ini semua karena hasutan dari Erni yang mengguncang batin Bivendra.
Mawar segera memeluk Bivendra untuk tenangkan hati anak kecil ini. Mawar paling tidak tega lihat anak kecil disakiti. Hati Mawar ikut tersakiti ingat beban derita anak ini akibat kesalahan orang tua.
"Cukup...kalian sebagai orang dewasa pikir sedikit perasaan anak-anak. Dunia anak itu indah jadi jangan kalian rusak dengan pola pikir kalian yang kotor! Dari tadi kakak ini bilang ini itu untuk aku tak jadi masalah tapi jangan pada anak kecil! Apa kakak sudah merasa menjadi orang paling bijak? Aku bisa saja jadi mami Bivendra tanpa harus jadi istri pak Joko. Ayok sayang! Mami antar ke kamar!" Mawar mengajak Bivendra tinggalkan Joko dan Erni. Bivendra tak perlu ikut dengar semua ocehan Erni yang kurang masuk akal.
"Diam di tempat! Siapa suruh kamu bawa anak aku? Bivendra hanya boleh panggil aku mami! Bukan kamu." Erni mencegat Mawar yang mau bawa Bivendra naik ke lantai dua.
"Kak...mau apa kamu? Biarkan mereka pergi! Endra sudah tetapkan Mawar sebagai maminya maka itulah keputusan terakhir." Joko menarik Erni ke pinggir beri jalan pada Mawar dan Bivendra naik ke lantai dua.
Erni tersinggung Joko berubah kasar karena Mawar. Selama ini Joko penuh perhatian padanya. Erni tak bisa terima Joko berubah karena Mawar.
Erni mendengus marah lantas tinggalkan ruang tamu masuk ke dalam. Joko bersyukur Erni bersedia mengalah agar semua damai kembali.
"Maafkan aku Mawar! Aku tak sangka kakak ipar salah paham tentang hubungan kami. Aku bersumpah hanya anggap dia sebagai kakak. Tidak lebih."
Mawar manggut percaya. Joko tidak sedang bersandiwara di depan dia. Joko telah berani jujur untuk urai benang kusut hubungan dia dan kakak iparnya. Erni salah pengertian atas perhatian Joko.
Dari belakang Erni muncul lagi dengan wajah memerah karena Joko dan Mawar bicara dengan pelan dan lembut. Wanita itu berjalan dekati Mawar dan Bivendra. Sikapnya agak kaku sedikit gemetar.
Erni makin mendekat langsung keluarkan sebilah pisau hujam ke perut Mawar. Joko berseru kaget berusaha menahan gerakan tangan Erni.
Joko sedikit terlambat karena pisau itu telah masuk ke perut Mawar. Bivendra menjerit histeris melihat Mawar perlahan terkulai ke lantai.
Joko memeluk Mawar erat-erat langsung mencabut pisau dapur dari perut Mawar. Darah berhamburan ke lantai.
Joko tak buang waktu segera gendong Mawar ke parkiran mobil. Bivendra ikut dari belakang sambil menangis sedih.
Erni terpaku bingung telah melakukan pembunuhan pada Mawar. Erni ntah sadar atau tidak telah lakukan tindakan kejahatan.
__ADS_1
Satpam rumah Joko segera amankan Erni ke pos penjaga untuk diteruskan ke pihak berwajib. Erni tampak linglung diiring keluar rumah. Wanita seperti hilang roh tak sadar apa yang dia lakukan.