
Mawar tak mau memaksa karena anak ini sudah lama kehilangan masa kanak-kanaknya. Mawar harus perlahan kembalikan apa yang jadi milik anak ini. Bukan cuma milik Bivendra tapi masa bahagia semua anak kecil.
Tak terasa waktu bergulir sampai sore. Waktunya Mawar pamitan untuk lihat keadaan John. Anak itu pasti merasa diabaikan karena Mawar asyik dengan Arsy dan Bivendra. Semoga saja John mau maklumi keadaan Mawar terjepit di antara dua anak kecil.
Mawar membantu Bivendra menyimpan semua buku yang baru mereka pelajari bersama. Bivendra perhatikan semua gerak gerik Mawar penuh rasa cinta. Anak ini tak rela kalau Mawar harus pergi dari rumahnya. Maunya Mawar dua puluh empat jam berada di sisinya.
"Kak..." lirih Bivendra berdiri di pinggir ranjang. Anak itu meremas kedua tangan di depan perut dengan sikap ragu.
Mawar mengembangkan senyum menunggu kalimat selanjutnya meluncur dari bibir mungil itu.
"Ya sayang? Ada apa?" tanya Mawar lembut.
"Maukah kakak tinggal bersama Endra?"
Mawar tertegun dengar permintaan tak lazim ini. Mawar mana boleh tinggal di rumah Joko tanpa ikatan apapun. Mawar boleh datang tapi tak boleh tinggal di situ selamanya. Masih ada pesan moral dalam diri Mawar.
"Sini sayang!" Mawar menarik Bivendra lebih dekat dengannya. Mawar tak boleh kontan tolak permintaan Mawar. Anak ini jarang meminta sesuatu padanya. Pertama kali meminta langsung dapat penolakan akan lukai hati si kecil.
Bivendra patuh merapatkan tubuh pada Mawar. Dari dalam tubuh Mawar terpancar rasa hangat yang hanya dapat dirasakan anak kecil ini. Sesuatu yang tak dapat diungkap dengan kalimat. Hanya teraba oleh hati kecil.
"Biven...Kakak ingin dia puluh empat berada di sampingmu tapi kita ini punya batasan antara lelaki dan perempuan. Kakak ini bukan isteri papi kamu jadi tak boleh terlalu lama di sini. Nanti orang beri stempel cewek nakal di kening kakak. Di situ tertulis cewek nakal. Tidak bagus kan?"
Mata bening Bivendra menatap Mawar lekat-lekat tanpa bersuara. Tak usah ditebak Mawar tahu anak ini kecewa namun tak bisa melawan. Pada Yuni saja dia tak melawan apalagi pada Mawar.
"Ya sudah..." sahut Bivendra agak ketus.
Mawar ngerti bagaimana perasaan anak kecil ini. Gadis cilik ini pasti sedang berduka harapannya tidak terpenuhi.
"Sayang.... kakak bisa datang kapan saja selama Biven perlu kakak. Setiap sore kakak bisa datang kasih les pelajaran sekolah. Hari Minggu kita liburan bersama. Pokoknya kakak selalu ada untukmu." Mawar berjanji untuk hilangkan rasa sedih di dada anak kecil ini.
Perlahan wajah yang datar itu mengendor. Di sudut bibir terukir sedikit senyum tipis. Mata itu tidak kuyu lagi malah menyimpan sejuta harapan indah.
"Terima kasih kak. Bolehkah Endra panggil mami?"
"Tentu saja boleh.. apapun panggilan mu kakak tetap suka. Ok.. sekarang mami cantik kamu harus pulang. Malam nanti kita Videocall ya! Mami mau ucapkan selamat tidur." Mawar menepuk pantat tipis Bivendra ajak canda.
Bivendra angguk semangat. Sekarang dia punya mami walau bukan mami resmi. Mami dalam hati saja.
"Ayok mami bantu mandi sebelum pulang. Kita keramas biar segar."
"Ok..." sahut Bivendra riang. Gadis kecil itu bergerak ambil pakaian ganti di lemari sambil meloncat-loncat bak kelinci baru dilepas dari sangkar. Anak itu begitu plong tanpa guratan beban di pundak anak ini.
Mawar menghela nafas iba pada nasib anak ini. Masa kecil yang seharusnya penuh ritme bahagia telah terampas oleh meninggalnya sang mami. Joko si es beku tak tahu pula cara menyenangkan anak. Kebahagiaan anak dia serahkan pada orang tidak kompeten pula.
Bivendra tertawa cerah dimandikan Mawar. Tubuh itu kurus kering tanpa gizi. Siapa percaya kalau anak ini orang tuanya kaya raya. Mana ada anak orang kaya kurus kayak tengkorak hidup.
Mawar sukses ciptakan asa di hati Bivendra. Gadis kecil ini harus punya semangat juang agar bisa lebih baik lagi.
Mawar pamitan setelah urus Bivendra hingga selesai. Anak itu tampak lebih fresh dan manis. Mawar peluk Bivendra erat-erat beri tahu kalau Bivendra sangat berharga bagi Mawar dan keluarga.
"Mami pulang ya sayang! Sudah ada nomor mami kan? Kalau ada perlu telepon mami. Tak perlu ragu. Ini kan mami Biven."
"Iya mi...terima kasih! Hari Minggu kita pergi jalan ke mal ya! Endra mau makan es krim dengan mami."
"Siap nona cantik mami. Mungkin mami akan ajak teman biar lebih ramai. Boleh?"
"Boleh.."
"Good...mami pamitan dulu sama papi! Yok!" Mawar menggandeng Bivendra turun ke lantai bawah cari Joko untuk pamitan.
Mawar teringat pada John. Belum lagi pada Arsy yang masih kurang sehat. Dunia Mawar hanya diisi oleh ragam tuntutan anak-anak. Kapan dia bisa bekerja secara normal bila waktunya tersita oleh para bocil.
__ADS_1
Keuangan makin menipis membuat Mawar berpikir keras harus segera dapat kerja tetap. Tak mungkin terusan mengandalkan Indy. Perempuan itu sudah cukup baik pada Mawar jadi Mawar tak boleh merepotkan wanita itu lebih lama.
Bivendra membawa Mawar sampai ke hadapan Joko. Lelaki itu sedang duduk santai di ruang keluarga ntah baca apa di tablet. Bukan urusan Mawar cari tahu kegiatan bos.
Joko menurunkan benda pipih itu ke atas paha menatap kedua wanita beda generasi dalam-dalam. Joko akui anaknya lebih manis sore ini. Lebih segar tanpa bola mata kusam.
"Papi...mami mau pulang! Mami mau pamitan!" lapor Bivendra tanpa melepaskan genggaman tangan Mawar.
Joko melongo sejak kapan Bivendra punya mami. Kok tiba-tiba Bivendra punya mami dan orang itu adalah Mawar. Keajaiban apa telah terjadi?
"Mami?" tanya Joko dengan muka tolol.
"Iya...Endra minta kakak jadi mami! Jadi tak ada kakak lagi tapi mami." kata Bivendra senang melirik Mawar.
Bivendra senang tapi Mawar tak enak hati. Mawar takut Joko salah sangka pikir dia ajar Bivendra ubah cara panggilan. Sumpah mati Mawar tak ingin panggilan ini. Kalau bukan demi Bivendra dia mana rela berubah jadi mami sebelum menikah.
"Iya mami... Mawar mau pulang ya?" tanya Joko pelan.
"Iya pak..."
"Aduh mami! Tak boleh panggil pak lagi. Masa papi mami panggil pak. Panggil apa ya?" Bivendra berpikir keras Mawar harus panggil Joko dengan sebutan apa. Gadis cilik ini mau tampilkan keluarga utuh. Bukan keluarga sepotong-sepotong.
"Biven...panggil apa saja sama asal hati kita tulus. Mami pamitan dulu. Hari sudah sore." Mawar yang tak enak hati masuk lebih dalam di keluarga Joko.
"Tak bisa begitu mami. Endra tahu sekarang mami harus panggil papi apa. Panggil hubby!" seru Bivendra riang pamer tawa renyah pertama setelah sekian tahun tak terdengar.
Joko dan Mawar terbengong dengar usulan Bivendra yang luar biasa. Bagi Mawar panggilan ini terlalu intim dan konyol. Mereka bukan pasangan suami istri bagaimana harus muncul panggilan hubby di antara mereka.
"Papi panggil mami honey dan mami panggil papi hubby. Ok.. ini perjanjian kita!"
Mawar menelan ludah basahi kerongkongan. Kerongkongan itu terasa kerontang kena badai Bivendra. Badai yang bawa hawa panas. Anak ini sungguh bikin Mawar mati kutu.
"Baiklah! Sekarang kuantar kamu pulang Honey! Endra mau ikut antar mami Honey?" sifat iseng Joko muncul setelah sekian lama karam di dasar samudera akibat kemelut rumah tangga.
"Ok...ayok!" Bivendra tak beri kesempatan pada Mawar untuk mencerna semua panggilan baru untuknya.
Joko bangkit mengambil kunci mobil di atas bufet. Ada beberapa kunci mobil tergeletak di situ tunjukkan kelas Joko sebagai orang tajir.
Orang kaya mah bebas. Mau lusinan mobil juga tak masalah. Uang mereka berlebihan sampai tak tahu harus dibawa ke mana maka foya-foya beli kebutuhan tidak urgen.
Beda dengan mereka yang di bawah. Seribu perak terasa berharga karena di dapat bukan hasil rampokan atau penipuan. Setiap rupiah di dapat dengan menguras tenaga.
Joko dan Bivendra mengantar Mawar sampai ke rumah Indy. Joko pilih tidak masuk lagi mengingat itu bukan rumah Mawar. Nanti malah buat bencana bagi Mawar.
Mawar mengecup kepala Bivendra sebelum masuk ke rumah. Mawar mau tinggalkan kesan baik pada Bivendra kalau masih ada ketulusan di dunia ini.
Joko menunggu Mawar masuk ke dalam rumah barulah dia tinggalkan lokasi tempat tinggal Indy.
Begitu Mawar masuk ternyata sudah ada John di depan ruangan. Anak lajang ini tampak berantakan dengan wajah kusut. Anak itu memeluk kedua tangan tak mau melihat kepada Mawar yang dia anggap pengkhianat. Mawar telah khianati dirinya berhubungan dengan anak lain. Padahal janjinya Mawar hanya untuk John.
Mawar segera letakkan tas di meja bersimpuh di bawah lutut John tanpa jaga harga diri. Di depan anak kecil berapa mahal harga dirinya. Anak kecil hanya butuh pengakuan.
John buang muka tak mau tatap cantik terbalut kerudung. John jual mahal akibat Mawar ingkar janji.
"John...kok ngambek?" rayu Mawar berusaha mengambil simpatik John.
"Ada orang kelewatan berbohong." sungut John tetap buang muka tak melihat wajah Mawar. Ngambek jelas berat.
"John...adikmu Arsy demam tinggi maka kak Mawar harus lihat dia! Kasihan kan dia tak punya mama."
"Lalu orang yang antar kakak tadi siapa lagi? Itu bukan mobil Om Riyan."
__ADS_1
"Itu Bivendra...anak yang kehilangan maminya lalu disiksa pembantu. Kakak cuma kasihan pada mereka. Mereka tak punya tempat mengadu. Papinya percayakan dia pada orang kerja tapi disiksa tak dikasih makan layak anak seusia dia. Badannya tinggal tulang. Kau tak percaya? Kakak punya fotonya." Mawar keluarkan ponsel berisi dia dan Bivendra berfoto di mal. Di situ mereka selfie untuk buat kenangan.
John pura-pura tak mau melirik ponsel Mawar angkat kepala lebih tinggi perlihatkan leher mulai tumbuh jakun. Anak ini sedang menuju proses ke dewasa.
Mawar menepuk tangan John agar berempati pada nasib anak yang butuh uluran tangan. Anak ini tampak keras tapi sebenarnya paling baik hati. Mawar sudah tahu akal John tak bisa dikasari.
"Lihatlah sayang! Kau pasti iba!" Mawar goyangkan layar ponsel di depan hidung John memaksa anak itu melirik sekilas. Di situ memang ada seorang anak kecil kurus dengan wajah pucat. Rona hitam melingkar di sekeliling mata.
Ini bukan jatah mata anak seumuran Bivendra. Itu mata pekerja keras tidak makan tidur dengan baik.
"Inikah dia?" John mulai luluh ikut iba.
"Iya... papinya kurang perhatian serahkan dia pada pengasuh. Pengasuhnya jahat tiap hari kasih makan roti dan mie instant. Belum lagi dihajar oleh pengasuhnya. John tidak kasihan?"
"Kasihan sih tapi kakak tak boleh abaikan aku! Lain kali ajak dia ke sini saja! Dari pada mati di hajar pengasuh gila."
"Bagus juga usulmu! John sudah mandi?"
"Belum...mau tunggu kakak pulang."
"Ini kakak sudah pulang. Ayok mandi! Kakak juga mau mandi! Mami kamu sudah pulang?"
"Belum...kakak tidak tanya hasil ulangan sejarah?"
Mawar teringat baru ini John ulangan sejarah. Mawar sudah berapa kali tanya hasil tapi belum dibagi hasilnya. Mawar penasaran berapa hasil nilai John di bidang ini. Hitung menghitung banyak kemajuan. Nilai John makin membaik.
"Oya...berapa nilai kamu? Kakak hampir lupa." Mawar berdiri karena kakinya mulai capek lama jongkok di depan John.
"Coba kakak tebak!"
Mawar berpikir sesaat lalu tersenyum. "Delapan?" tebak Mawar yakin tak yakin.
"Isshhh...cuma segitu rasa percaya kakak pada John? John ini keturunan Albert Einstein. Si otak jenius." John mulai temukan keceriaan banggakan diri.
"Iya...adik kakak dasarnya pintar cuma ada penyakit malasnya. Ayok kasih tahu kakak berapa nilaimu? Kok main rahasia?"
John senyam senyum keluarkan selembar kertas dari balik sofa. Dengan bangga anak lajang ini tunjukkan kertas itu pada Mawar.
Mawar menerima kertas itu sambil terbelalak. Mawar tak percaya John bisa capai prestasi sangat bagus karena trik belajar yang dia terapkan.
"Ya Allah sembilan puluh sembilan. Nilai sempurna." seru Mawar tak bisa sembunyikan rasa bahagia. John yang berprestasi tapi Mawar yang bangga.
"Inilah kehebatan adik kakak!"
"Percaya...mami kamu pasti bangga padamu. Sekarang ada pelajaran apa lagi? Kita bahas bersama."
"Fisika... itu sama ribetnya dengan matematika. Tapi John semangat kok!"
Mawar acung jempol setuju pada kemauan John taklukkan pelajaran cukup sulit itu. Pantang menyerah Akan membuat John makin maju.
"Sekarang John mandi ya! Tunggu mami pulang baru kita belajar. Oya...besok mami berangkat ke Jerman! John tak boleh keluyuran karena kita cuma tinggal berdua."
John menatap Mawar ingin berkata sebaliknya. Bukan John yang sering keluyuran melainkan Mawar direpotkan oleh bocil cari perhatian.
"Apa bukan kakak yang keluyuran?"
"Tidak akan lagi...kakak akan fokus di rumah bersama kamu. Ok?"
"Gitu dong! John tak keberatan anak kurus itu dan Arsy datang sini. Mereka boleh main di sini biar kakak tidak usah ke tempat mereka."
"Terima kasih John.. kau anak baik! Arsy dan Bivendra pasti senang diijinkan main di sini."
__ADS_1