GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Perempuan Beragenda


__ADS_3

Dia Minggu kemudian Mawar benaran datang ke tempat Riyan seorang diri. Riyan tak bisa jemput di bandara alasan sibuk dengan pekerjaan kantor.


Mawar tak masalah bisa datang dengan taksi online yang menjamur sana sini. Mawar termasuk gadis mandiri tidak berharap pada orang lain. Dari kecil Mawar sudah mandiri.


Rumah Riyan sangat besar dan mewah terdiri dari dua tingkat. Halaman depan sangat luas dihiasi taman kecil ditumbuhi aneka bunga hidup. Di samping ada garasi penuh dengan mobil mewah. Mawar bisa bayangkan betapa kaya Riyan. Kalau banyak wanita ingin jadi isteri Riyan tak bisa disalahkan. Lelaki itu pantas diperebutkan.


Kehadiran Mawar disambut oleh seorang satpam dan seorang perempuan paro baya. Tidak ada Riyan dan anak-anak. Mawar diiring masuk ke dalam rumah oleh perempuan itu.


Betapa kaget Mawar melihat Ayumi kakaknya ada di rumah Riyan. Mengapa Mawar tak tahu kakaknya telah datang ke tempat Riyan lebih cepat darinya.


Ayumi tersenyum sinis melihat Mawar terpana. Ayumi telah melepaskan hijab pamer rambut ikalnya tergerai indah lewati bahu. Wajah yang biasa gelap kini telah didempul bedak hingga tampak putih menjurus pucat. Mawar benar pangling lihat Ayumi. Kakaknya itu berubah total dalam tempo dua Minggu.


"Kak Ayumi?"


"Tidak sangka bukan? Sebentar lagi aku ini yang akan ganti posisi kamu sebagai isteri Riyan. Kamu sudah siap dimadu?"


Mawar bingung apa maksud omongan Ayumi. Mengapa dalam tempo dua Minggu cerita berubah aneh. Dari mana Ayumi yakin dia akan menikah dengan Riyan.


"Apa maksud kakak?"


"Maksudku bang Riyan sudah janji akan nikahi aku setelah kau datang. Kalau kau tak suka boleh minta cerai."


Mawar makin tak paham permainan apa lagi sedang dimainkan Riyan dan kakaknya. Mawar takkan keberatan dicerai Riyan asal ada alasan tepat. Mawar tidak terima dicerai tanpa alasan. Ini akan membuat dia buruk di mata semua orang.


"Aku tidak keberatan bang Riyan ceraikan aku tapi beri aku alasan tepat. Kakak jangan karang cerita bohong lagi. Aku sudah cukup sabar hadapi fitnahan kalian. Kakak sudah karang cerita apa lagi?" tegur Mawar dengan nafas tersengal-sengal. Toleransi Mawar sudah capai limit. Tak bisa menampung rasa kesal lebih lama.


"Tak perlu alasan. Aku ini lelaki. Mau nikahi siapa terserah aku!" Tiba-tiba Riyan muncul dari balik pintu besar. Di belakang Riyan ada seorang wanita yang dikenal sebagai ibu Riyan serta seorang lelaki mirip Riyan.


"Bang Riyan...Mawar memaki aku sebagai perempuan ****** bahkan ingin pukul aku!" Ayumi berlari kecil memeluk lengan kokoh Riyan.


Perempuan paro baya yang antar Mawar masuk terbelalak kaget mendengar fitnahan Ayumi. Jelas-jelas Ayumi duluan cari masalah dan balikkan fakta. Dari sini perempuan itu bisa menilai siapa Ayumi. Perempuan culas penuh trik jahat. Tapi perempuan ini hanya seorang pembantu tak bisa omong apapun karena bukan hak dia campur urusan rumah tangga majikan.


"Mawar baru datang kau sudah buat masalah. Apa kau merasa sudah hebat bisa menikah dengan aku?" tanya Riyan dengan nada dingin.


Mawar tak percaya kalau Riyan yang ini adalah suaminya yang sebelumnya sangat lembut dan baik. Sampai di kota kok berubah seratus delapan puluh derajat.


"Bang...apa sih hebatnya aku? Aku ini hanya seorang wanita biasa. Dan aku mau tanya masalah apa sedang aku buat? Aku baru injak kaki di sini belum setengah jam. Apa yang bisa aku perbuat?" tanya Mawar dengan suara bergetar. Mawar tak sangka kehadiran bukan diterima dengan baik malah dihina oleh Riyan dan Ayumi.

__ADS_1


"Dia marah aku di sini! Padahal aku hanya bilang datang berlibur mau jumpa keponakan aku! Mawar tak suka langsung usir aku pulang ke kampung." ujar Ayumi menyenderkan kepala ke dada Riyan.


Mawar menelan ludah terasa sangat pahit. Kedua kakaknya tidak menyerah ingin hancurkan hidupnya. Sampai kapan mereka akan jadi arwah gentayangan hantui Mawar setiap saat.


"Mawar...Ayumi ini tamu aku! Kalau kau tak suka lihat Ayumi di sini silahkan angkat kaki dari sini!"


Semua terbelalak dengar Riyan tega usir isterinya yang baru datang. Ayumi tersenyum puas Riyan telah turun tangan kejam pada Mawar. Impian jadi isteri Riyan segera tercapai. Mawar akan segera terdepak dari hidup Riyan.


"Baik...aku akan pergi! Aku menyesal telah tinggalkan kedamaian di kota kecil masuk ke jurang penuh orang munafik. Silahkan kalian nikmati kebahagiaan di atas penderitaan orang lain. Oya sebelumnya aku minta satu dari pak Riyan! Aku ini bukan pengemis minta hidup dalam kemewahan. Aku punya kaki tangan bisa cari rezeki sendiri. Aku minta talak!" kata Mawar tegas. Mawar tak mau harga dirinya diinjak oleh Riyan di orang kaya.


Giliran Riyan tertegun dengar ketegasan Mawar. Semula Riyan berpikir Mawar akan memohon agar dibolehkan tinggal di rumah mewah ini. Dugaan Riyan meleset jauh. Mawar tetap pada pendirian semula tak mau jadi bayangan siapapun.


"Kau yakin?" giliran Riyan ragu penuhi keinginan Mawar.


"Aduh bang! Talak saja! Toh dia minta sendiri! Ada aku siap rawat kedua keponakan aku! Aku sangat sayang pada mereka lho!" rengek Ayumi bikin Riyan dilema.


Rasa dendam dibohongi oleh Mawar membuat darah Riyan mendidih lagi. Riyan masih ingat kata-kata lelaki yang di bandara kalau Mawar itu kawan kumpul kebonya.


"Baik kalau itu mau kamu. Aku Riyan..."


"Tunggu..." tiba-tiba Mamanya Riyan menahan Riyan ucapkan talak pada Mawar. Perempuan tua ini bisa rasakan aura lembut dari diri Mawar. Pancaran sinar mata Mawar sangat beda dengan Ayumi yang tampak licik.


"Aduh ma...kenapa ditahan? Mawar ini tak pantas jadi isteri bang Riyan. Dia itu munafik." sungut Ayumi tak sabar tumpahkan rasa kesal pada mama Riyan.


"Dengar ya Ayumi! Pertama aku ini bukan mama kamu. Kalau Mawar tak pantas jadi isteri Riyan apa kau pantas? Dari kampung berhijab begitu sampai di kota langsung lupa agama. Kau lebih tak pantas. Dengar Riyan! Jangan gegabah jatuhkan talak! Menikah itu bukan segampang minum air. Kau ke kampung Yenni untuk wujudkan harapan Yenni dan sekarang kau ingin musnahkan permintaan terakhir isterimu!" Mama Riyan atau bu Alya langsung tertuju pada Ayumi dan Riyan.


Riyan terdiam sedang Ayumi mendesah marah. Rencana yang hampir berhasil nyaris gagal lagi. Ini semua gara perempuan tua tak tahu diri. Umur sudah setinggi langit tinggal tunggu dijemput malaikat maut masih usil.


"Bu...aku tak apa! Kalau memang bang Riyan lebih nyaman dengan kak Ayumi aku ikhlas. Yang penting bang Riyan bahagia dan juga Rizky dan Arsy. Silahkan bang! Aku sudah siap. Abang tak perlu ragu kalau sudah mantap mau nikahi Kak Ayumi. Dan Abang tak perlu takut aku akan tuntut harta gono gini. Satu senpun aku tak mau uang kalian." Mawar berhasil menenangkan diri merasa tak ada guna memaksa Riyan menerimanya. Kalau dilanjutkan pernikahan mereka juga tidak ada artinya lagi. Cuma seharusnya Riyan memilih Ayumi dari awal sehingga tidak terjadi salah paham hari ini.


Ayumi tertawa senang Mawar beri semangat pada Riyan untuk talak dia. Mawar isteri sah jadi tidak cukup talak saja karena masih terdaftar di pengadilan agama. Riyan tetap harus tuntut Mawar di pengadilan agar perceraian mereka sah.


"Gitu dong Mawar! Tahu diri banget! Aku ini paling tepat jadi nyonya Riyan. Bukan kamu yang miskin. Sudah bang talak saja." ujar Ayumi makin pongah. Keangkuhan Ayumi makin menjadi karena Mawar sudah menyerah.


Kalau Riyan waras pasti tahu dia sudah masuk jebakan Ayumi. Tapi Riyan tak mudah melupakan kata-kata anak muda di bandara.


Riyan menarik nafas panjang mengisi paru-paru dengan udara agar punya nafas panjang untuk mengeluarkan isi hati.

__ADS_1


"Aku Riyan Sahputra jatuhkan talak satu pada Mawar binti Hari. Aku melakukan talak ini tanpa tekanan." ucap Riyan. Hati Riyan langsung kosong setelah ucapkan talak ini. Mulut dan hati tidak sinkron. Mulut ucapkan talak tapi jauh di lubuk hati memendam rasa sesal.


Mawar mengangguk terima talak Riyan dengan lapang dada. Tangan gadis ini menggenggam gagang koper dengan bergetar tak bisa sembunyikan rasa sedih. Jadi isteri Riyan cuma dua Minggu. Tak lebih.


"Terima kasih bang. Permisi...maaf sudah mengganggu! Hubungi aku bila Abang sudah ajukan perceraian di pengadilan. Tak usah persulit perceraian karena aku tak tuntut apa-apa. Dan kau kak Ayumi...semoga kau bahagia. Assalamualaikum.." Mawar menyeret koper meninggalkan rumah mantan suaminya yang baru dia injak belum satu jam.


Bu Alya kasihan lihat kepasrahan Mawar. Bu Alya yakin Mawar itu anak baik. Kalau dia perempuan culas pasti ngotot tak mau dicerai. Namun dia justru membantu Riyan bebaskan hati dari tekanan.


Perlahan bayangan Mawar hilang di balik pintu gerbang. Riyan terpaku tak rela Mawar pergi namun Riyan tak terima Mawar telah berbohong seolah dia masih gadis suci. Coba dari awal Mawar jujur punya pacar mungkin Riyan bisa toleransi. Ini sok lugu bikin Riyan baper. Nyatanya tak lebih perempuan murahan.


"Kau puas Ayumi? Dan kau Riyan! Mama tak ijinkan kamu menikah dengan Ayumi. Masih banyak perempuan lain di dunia ini. Kalau kau nikahi wanita ini maka mama akan putus hubungan denganmu!" ancam Bu Alya marah pada Riyan tak berpikir panjang talak wanita tak berdaya.


"Putus ya putus! Emang mama bisa layani bang Riyan di tempat tidur? Aku bisa.." tantang Ayumi bikin semua di dalam ruangan terkesima. Ayumi terlalu lancang merasa di atas angin telah usir Mawar. Kalau Riyan tega usir Mawar demi dirinya tentu berani putus hubungan dengan mamanya demi Ayumi yang sedikit gosong.


"Maaf den Riyan! Bibi sudah tak sabar tutup mulut!" perempuan paro baya asisten rumah tangga Riyan tak bisa bungkam terus lihat ketidak adilan Riyan pada Mawar. Mawar datang baik-baik langsung diserang oleh Ayumi.


"Ada apa Bik?" tanya Riyan.


"Nona muda tadi tidak omong apapun. Justru nona Ayumi katakan yang bukan-bukan pada nona tadi. Nona muda tadi tidak pukul maupun marah pada nona Ayumi. Nona Ayumi yang marahi nona muda tadi." Orang yang disebut bibi menatap tajam pada Ayumi yang penuh keculasan.


"Apa kubilang? Sekarang katakan mengapa kau talak Mawar hanya untuk si Keling ini?" Bu Alya mengerling penuh kebencian pada Ayumi. Pinternya karang cerita bohong.


"Ma...ini bukan tempat cocok cerita buruk Mawar." Riyan tak enak hati bila harus buka aib Mawar pada semua orang.


"Nak...yang baik tetap baik. Tuhan itu maha tahu akan tunjukkan mana baik atau buruk. dan kau percaya pada Ayumi yang belum apa-apa telah berbohong di depan mata kita. Untunglah bibi mendengar percakapan antara Ayumi dan Mawar! Jadi Mama harap kamu bisa berpikir dengan jernih mana yang baik untukmu."


"Ma... jangan fitnah aku terus dong! Ini semua ulah Mawar ingin menjatuhkan aku! Mawar iri kepada aku yang berhasil meraih perhatian Bang Riyan." Ayumi bela diri. Ayumi melontarkan tatapan penuh kebencian pada pembantu keluarga Riyan.


"Maaf nona! Aku tidak fitnah nona! Di rumah ini ada cctv. Boleh buka cctv lihat siapa yang benar! Dan lagi nona muda tadi tidak mengatakan hal buruk tentang nona. Nona sendiri yang buka kartu nona." si bibi tak mau kalah melawan Ayumi habis-habisan. Si bibi sudah ikut keluarga ini sejak Riyan masih kecil. Seluruh keluarga sudah anggap bibi orang rumah. Jadi buat apa bibi membelah Mawar bilang si Mawar itu bersalah.


"Awas kau bangkotan! Aku akan pecat kamu nanti! Sudah bang! Sekarang Abang telah bebas. Bisa pinang orang yang cocok untuk Abang." Ayumi makin erat merangkul lengan Riyan. Riyan menjadi tak enak hati dilihat seluruh keluarga adegan intim dia dengan Ayumi. Ayumi terlalu berani seperti Dahlia. Mengapa wanita yang disebut ****** justru lebih sopan.


"Riyan...ingat pesan mama! Kau tak boleh menikahi Ayumi. Mama muak dengan perempuan penuh kebohongan." Bu Alya masuk ke dalam tanpa peduli Riyan dan Ayumi yang masih berdiri di tengah ruang.


Lelaki muda yang dari tadi diam tertawa sinis melihat drama percintaan Riyan. Lelaki ini adalah saudara sepupu Riyan bernama Bagas. Mama Bagas dan mama Riyan kakak adik maka mereka jadi akrab.


Bagas mempunyai beberapa perusahaan besar termasuk punya PH cetak sinetron yang bisa dinikmati para pemirsa tanah air.

__ADS_1


Bagas sudah banyak lihat perempuan model Ayumi tapi belum pernah lihat wanita seperti Mawar ikhlas terima talak tanpa menuntut apa-apa.


"Bro...kalau kau punya seupil otak pasti bisa berpikir waras. Takutnya otak lhu habis dimakan rayap! Aku tak bela siapapun. Pikir sendiri!" Bagas menepuk pundak saudaranya. "Besok aku datang lagi bahas proyek kita! Aku lagi tidak mood bicara dengan orang tak punya otak. Permisi." Bagas melangkah keluar dari rumah Bagas menuju ke mobilnya yang terparkir di luar gerbang Riyan.


__ADS_2