
Pak Tuo tak habis pikir apa mau kakak adik itu asyik lukai Mawar. Apa tak cukup ibu mereka lukai perasaan ibu Mawar. Belum puas ibu Mawar meninggal kini ingin lenyapkan Mawar pula.
"Riyan...kami masih marah padamu tega pada Mawar! Tapi kami tak benarkan perbuatan Ayumi pada kamu dan Mawar. Satu kelemahan kamu terlalu gegabah. Suruh Mawar hubungi kami."
"Iya pak Tuo. Aku memang salah. Aku tak berani tak berani temui Mawar sekarang. Mungkin nanti aku akan jumpai dia di rumah saudara aku. Kakak aku itu janda beranak satu. Pak Tuo tak usah kuatir tentang Mawar. Dia akan baik-baik saja."
"Hhhmmm...pak Tuo agak kecewa padamu! Semoga Mawar mendapat jodoh lebih baik darimu!"
Kata-kata pak Tuo ciutkan nyali Riyan. Dari nada bicara pak Tuo tak ingin Riyan masuk lagi dalam hidup Mawar. Pak Tuo berharap Mawar dapat pasangan lain. Riyan tak dapat salahkan orang tua itu, siapapun ingin anak mereka hidup layak dan bahagia.
"Semoga gitu pak Tuo. Aku cuma ngasih kabar ini! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.."
Riyan dibuat termenung setelah bicara dengan pak Tuo Mawar. Satu keluarga di Aceh sana pasti benci sekali pada Riyan. Menikahi anak gadis dari keluarga pak Hari tak satupun berakhir baik. Yenni meninggal, Dahlia ditalak seusai di nikahi dan sekarang Mawar juga ditalak akibat hasutan Ayumi. Riyan tak berjodoh dengan anak pak Hari. Riyan harus tegas singkirkan Ayumi agar tidak jadi bibit penyakit di kemudian hari.
"Den Riyan...laki itu sudah datang!" Bibi mengetuk pintu kamar Riyan mengabarkan orang yang fitnah Mawar telah berada di dalam rumah.
Riyan sudah tak sabar ingin hajar laki kurang ajar itu. Beraninya dia memfitnah Mawar sampai Riyan tega menceraikannya. Ini semua gara-gara ulah Ayumi dan lelaki itu sehingga Mawar jadi janda dalam usia muda.
Riyan bergegas keluar dari kamar lihat apa betul itu lelaki yang dia jumpai di bandara. Tangan Riyan sudah gatal ingin hajar lelaki itu.
Darah Riyan langsung mendidih begitu jumpa lelaki di bandara itu. Tanpa ba bi bu Riyan langsung hajar laki itu sampai terjatuh ke lantai. Laki itu tidak melawan karena tahu salah. Tak ada guna tutupi kebusukan Ayumi lagi bila dia telah dipanggil ke sini.
Bu Alya menahan Riyan agar jangan kebablasan terkena sanksi hukum gara aniaya orang. Memukul orang itu tetap salah walaupun punya sejuta alasan.
"Kalian bajingan tengik! Dan kau beraninya kau fitnah isteri aku sebagai perempuan murahan." Riyan menuding lelaki itu dengan mata berapi menahan emosi.
"Aku disuruh Ayumi. Di janji beri aku uang setiap bulan bila berhasil jadi isteri bapak. Aku tertarik rencana Ayumi karena janjinya. Bahkan sebelumnya dia suruh aku perkosa Mawar biar ceritanya lebih lengkap. Aku tak tega karena Mawar itu anak baik." kata lelaki itu melirik Ayumi yang semakin terpojok. Wajah Ayumi berubah makin hitam akibat takut Riyan makin ngamuk.
"Hebat kau Ayumi! Pura-pura jadi orang baik di depan aku. Nyatanya kau lebih jahat dari Dahlia. Aku tak mau lihat kalian di sini. Segera angkat kaki dari sini. Terserah kalian mau ke mana!" Riyan tak mau buang waktu pada kedua manusia jahat ini. makin dipikir Riyan makin dirundung rasa bersalah pada Mawar. Mengapa begitu mudah terbawa emosi.
"Bang...aku tak mau pergi! Husin hanya fitnah aku. Dia memang suka pada Mawar dari dulu. Maka dia karang cerita ini. Percayalah bang! Aku tidak sejahat yang Abang kira. Aku mana tega pada Mawar." Ayumi berusaha netralkan diri agar tampak tenang di depan Riyan. Ayumi mau perlihatkan dia tidak bersalah dalam rencana fitnah Mawar.
Laki yang bernama Husin tertawa sinis. Pintar sekali Ayumi putar balik cerita. Kalau bukan disuruh Ayumi dan dia butuh uang. Husin takkan tega merusak nama baik Mawar.
"Ayumi...kau hebat bisa putar balik cerita sesuka kamu. Tapi aku masih punya chatting antara kita. Mungkin pak Riyan mau baca?" Husin mengeluarkan ponsel ingin serahkan pada Riyan.
Riyan tidak ambil ponsel Husin karena sudah baca dari ponsel Ayumi sendiri. Ayumi mau omong apapun takkan masuk di otak Riyan lagi. Riyan terlanjur kesal pada Ayumi.
"Tolong bawa perempuan ini pulang ke kampung kalian. Aku akan bayar ongkos kalian berangkat. Dari sini naik pesawat sampai ke kota M. Nanti dari sana terserah kalian. Ayok Ayumi kamu berberes." Kata Riyan malas lihat tampang orang culas macam Ayumi. Dari pada pendam rasa kesal terus lebih baik korbankan sedikit dana antar kuman pergi sejauh mungkin dari rumahnya.
"Bang...apa tidak kasihan sama Ayumi?" Ayumi memelas.
"Lalu siapa kasihani menantuku yang tak berdosa? Kau fitnah dia sampai ditalak suaminya. Siapa iba padanya? Kamu?" seru Bu Alya pecahkan perhatian Riyan dari Ayumi. Bu Alya takut Riyan tersentuh hati pada sandiwara Ayumi terima wanita itu.
__ADS_1
"Sekarang Mawar bukan mantu mama lagi. Dia sudah dicerai bang Riyan. Aku yang akan ganti posisi dia."
Bu Alya pingin ketawa lihat kegigihan Ayumi ingin masuk jadi menantunya. Sampai mati Bu Alya tak mau terima Ayumi.
"Orang stress...Yan..kau urus mereka segera tinggalkan rumah kita! Mama sudah muak lihat perempuan ini. Bik..kau bereskan barang wanita ini!" Bu Alya tidak tunjukkan rasa iba sedikitpun.
Terhadap orang kejam tak perlu basa basi. Singkirkan kata iba dan kasihan pada orang ini.
Bibi segera laksanakan perintah majikannya. Bibi juga tak sabar ingin singkirkan parasit di keluarga ini. Bibi tak kenal Mawar tapi sering dengar cerita kedua anak Riyan kalau mama baru mereka sangat baik. Bibi penasaran ingin jumpa. Namun sayang jumpa pertama sudah diwarnai insiden.
Ayumi histeris tatkala bibi keluarkan kopernya dari kamar. Ayumi tak rela tinggalkan tempat nyaman ini. Di sini dia Seperti seorang ratu besar dilayani oleh pembantu. Semua tinggal perintah.
"Kalian gila...aku ini calon isteri bang Riyan." teriak Ayumi tak dapat menahan tangis. Wanita ini meraung bak singa lapar. Keadaannya sudah tidak karuan akibat tak terima diusir dari rumah Riyan.
"Husin...aku akan minta taksi online antar kalian ke bandara. Nanti ada pegawai aku akan atur kalian terbang pulang ke kampung. Berangkat hari ini juga! Kalau kau masih punya hati cobalah mengaku pada keluarga Ayumi apa yang telah dia lakukan pada Mawar. Pergilah!" ujar Riyan menutup pintu maaf untuk Ayumi.
"Maafkan aku pak! Aku gelap mata tergiur uang. Mawar itu anak baik tanpa cacat. Kami di kampung hormat pada Mawar karena budi dan akhlaknya bagus." Husin bangkit minta maaf pada Riyan. Husin telah salah besar pisahkan pasangan suami isteri yang baru menikah.
"Sudah ..cepat pergi! Dan ingat! Jangan kau ulangi kerja jahat ini! Kasihan orang yang kau fitnah."
"Iya pak! Ayo Ayumi kita pergi!" Husin membantu Ayumi bangkit dari lantai. Kalau dilihat kondisi Ayumi kita bisa iba tapi bila ingat kelakuannya bikin naik darah. Riyan menutup mata hati tak ingin beri peluang pada Ayumi berada di antara keluarganya lagi.
Ayumi berjalan lunglai tinggalkan rumah yang dia klaim rumah masa depannya. Impian jadi nyonya besar pupus sudah akibat kelewat maju.
Taksi yang dipesan oleh Riyan untuk antar Ayumi dan Husin ke bandara tiba datang menjemput. Ayumi tak punya pilihan selain ikut Husin pulang ke kampung. Hati Ayumi sedih cuma apa mau dikata. Skenario yang dia susun telah tertangkap oleh Riyan. Laki itu sangat marah tak beri kata maaf untuk Ayumi.
Riyan menarik nafas lega telah antar Ayumi pulang walau bukan dia sendiri yang antar. Sudah ada Husin jaga dia balik ke kampung.
Bu Alya tak kalah lega benalu dalam hidup Riyan telah ditumpas. Semoga ke depan hidup Riyan akan lebih aman tanpa gangguan dari perempuan serakah.
"Nak...apa langkahmu selanjutnya?" tanya Bu Alya pada Riyan setelah Ayumi pergi.
Riyan angkat bahu tak punya ide. Untuk saat ini otak Riyan mumet tak bisa pikir apapun. Terlalu banyak kejadian bikin Riyan syok. Menikah lalu bercerai. Cerita apa pula ini?
Riyan duduk di sofa menutup wajah dengan kedua telapak tangan menyesal berlipat ganda telah berbuat semena-mena pada Mawar. Dia harus gentle mint maaf pada Mawar dan akui masuk perangkap Ayumi. Akankah Mawar beri maaf padanya?
"Biar aku pikir nanti ma! Pikiranku kacau."
"Mama ngerti. Sekarang katakan di mana Mawar? Biar mama dan anak-anak pergi jumpa dia dulu. Bukankah dia sangat sayang pada kedua anakmu? Kita gunakan kedua anakmu sebagai pembuka jalan." Bu Alya temukan ide bagus cari perhatian Mawar.
Kalau Mawar sayang pada kedua anak kakaknya pasti takkan abaikan kedua anak itu. Apapun terjadi dia akan beri perhatian kepada anak-anak itu.
Riyan puji ide mamanya gunakan Rizky dan Arsy sebagai jembatan penghubung Mawar. Mawar pasti akan luluh bila jumpa anak-anaknya. Riyan puji ide cemerlang Bu Alya. Mengapa tidak terpikir oleh Riyan cara jitu ini.
"Terimakasih ma sudah ngasih jalan. Mawar tinggal bersama mbak Indy."
__ADS_1
Bu Alya tersenyum senang dengar Mawar tak jauh dari lingkungan mereka. Indy pasti akan bantu Riyan meraih kembali Mawar. Bu Alya tak tahu kalau sudah ada keluarganya yang lain kepincut Mawar. Tak semudah itu rebut kembali Mawar.
Kita tinggalkan Riyan yang lagi senewen. Kita ke rumah Indy. Selama Mawar tinggal di sana rumah Indy jadi rapi jali. Bik Tun juga sudah ada kawan bereskan rumah. Bik Tun sangat tertolong sejak Mawar tinggal di sana. Sebagian tugas Bik Tun diambil alih oleh Mawar. Gadis ini bekerja tanpa mengeluh walau sebagian kerjanya merupakan pekerjaan kasar.
Sepulang dari pengadilan agama Mawar tidak banyak bicara. Gadis ini pilih tenangkan diri dalam kamar.
Mawar melihat wajahnya sendiri di kaca cermin hampir menetes air mata. Dalam usia muda sudah jadi janda. Surat kuning Mawar sudah keluar artinya dia resmi menjanda. Mawar memang tak memilih jadi janda tapi inilah takdir hidupnya.
Mawar tak boleh tenggelam dalam kesedihan. Allah paling benci pada umatnya yang gampang menyerah. Mawar harus bangkit walau pahit.
Mawar membuka pembungkus kepalanya perlihatkan rambutnya yang hitam legam mengurai sampai pinggang. Mawar mesti makin tutup diri agar tidak tergoda oleh nafsu angkara duniawi.
Mawar menyusut air mata yang nyaris meleleh di pipi. Gadis ini memaksa diri untuk tersenyum lupakan kenangan buruk.
"Cantik...." terdengar panggilan khas dari luar pintu. Mawar segera kenakan penutup kepala sebelum buka pintu untuk lajang di rumah ini.
Mawar bukan pintu lihat ada apa si lajang reseh cari dia. Mawar merapikan diri hapus segala bentuk kesedihan di wajah.
Ceklik. Pintu terbuka. Satu sosok berseragam putih biru tua cengar-cengir di depan pintu kamar Mawar.
"Ada apa John? Lapar?"
John bukannya jawab malah menyeret Mawar keluar dari kamar dengan cepat. Mawar sudah tak heran dengan tingkah Si bengal ini.
John bawa Mawar ke ruang keluarga lalu paksa gadis ini duduk. Tingkah John yang misterius mengundang rasa heran Mawar.
Lajang ini mengeluarkan satu lembar kertas lalu serahkan pada Mawar. Mawar menerima kertas itu lalu perhatikan isi kertas itu.
"Wah hebat ..nilai matematika dapat sembilan! Sudah ada kemajuan dong!"
John memeluk tangan ke dada dengan gaya angkuh. Anak ini mau pamer otaknya mulai bebas hambatan. Sudah lancar tidak tersumbat lagi.
"Guru pikir aku nyontek tadi. Aku tantang dia ulang ujian. Eh dapat sembilan padahal ujian pertama cuma dapat delapan setengah. Diulang dapat sembilan. Lalu ditanya siapa yang ajar aku? Kubilang bidadari dari surga."
"Huusss asalan! Mana ada bidadari suka ngemil. Sekarang mandi dan kita makan. Besok ada ulangan lagi?"
"Ada ..sejarah! Pelajaran paling membosankan!" omel John mengambil kertas ujiannya. Ini akan jadi semacam jimat untuk mencapai nilai lebih bagus. Mamanya belum lihat hasil ujian John maka tak boleh hilang.
"Kakak ada teknik agar kamu tak bosan belajar sejarah. Sekarang isi perutmu dengan makanan biar punya tenaga hafal pelajaran."
"Ok cantik...tunggu aku ya! Segera datang!" John berjingkrak riang naik ke lantai dua di mana jadi daerah jajahan John. Seluruh lantai tingkat dua jadi tempat tinggal John. John habiskan separuh waktu berada di lantai atas.
Mawar melayangkan mata ke atas lihat apa anak itu betul-betul pergi mandi atau iseng lagi di atas.
Rumah ini terasa makin nyaman tanpa barang berserakan. John juga mulai rapi ngerti kesusahan orang mengurus rumah. Tidak susah tangkap ekor John. Yang penting jangan kasar saja. Anak laki makin dikasari dia anak makin bandel. Mawar gunakan metode bungkus benda keras dengan kelembutan sehingga benda itu tidak terbanting karena ada perlindungan dari luar.
__ADS_1