
Riyan hanya bisa lihat punggung Mawar menjauhi halaman rumah sakit. Gadis itu berjalan dengan gemulai tapi pasti menyongsong hidup baru. Tak perlu ingat kejadian kemarin yang menyakitkan. Mawar harus bangkit memulai babak baru di dalam hidupnya.
Lama Riyan bengong tak tahu harus berbuat apa melihat sosok yang dia sayangi telah menghilang dari pupil matanya. Rasa saya yang telah tumbuh di hati Riyan tak mudah sirna begitu saja cuma sayang Riyan keburu nafsu vonis Mawar bersalah tanpa menyelidiki kebenaran.
"Pak...nona Mawar telah pergi. Kita pulang?" pengacara menyadarkan Riyan dari lamunan. Mereka tak ada kepentingan lagi di rumah sakit untuk apa bertahan lama di situ. Sementara masih banyak pekerjaan menanti mereka.
Riyan mengangguk membenarkan perkataan pengacaranya. Keduanya segera angkat kaki dari halaman rumah sakit menuju ke mobil Riyan yang terparkir di situ. Mata Riyan masih mencari bayangan wanita yang baru lepas dari genggaman. Riyan sendiri yang lepaskan Mawar. Bukan Mawar melepaskan Riyan.
Riyan pasti akan lebih menyesal lagi bila jumpa di Bibi. Bibi yang dasarnya tak suka pada Ayumi pasti akan lapor semua kelakuan jahat Ayumi pada Mawar.
Mawar naik taksi segera pulang ke rumah Indy tempat dia bernaung selama ini. Kedua kakak adik sengaja tak mau ikut antar Mawar ke sidang cerai supaya tak dianggap provokator hubungan Mawar dan Riyan. Gimanapun Riyan itu saudara mereka. Indy harus jaga tali persaudaraan antara mereka. Kini Mawar dan Riyan telah resmi berpisah maka tak ada masalah Bagas rekrut Mawar kerja di kantornya.
Riyan bukan ke kantor melainkan mencari Bagas bikin perhitungan. Riyan marah Bagas tidak beri tahu Riyan soal Mawar. Di sini dapat dilihat betapa egoisnya Riyan. Dia egois tidak mau menyelidiki masalah langsung memberi talak kepada Mawar. Sekarang sudah begini dia menyesal dan menyalahkan orang lain.
Bagas cukup kaget melihat kehadiran Riyan di kantornya. Laki itu jarang ke kantor Bagas kalau tidak ada urusan penting. Malahan Bagas yang sering ke kantor Riyan untuk berbisnis maupun masalah kekeluargaan.
Bagas tahu bahwa hari ini sidang terakhir Riyan dan Mawar. Bagas tahu bahwa semua telah berakhir karena mawar telah dipanggil untuk mendengar keputusan terakhir sidang perceraian. Angin apa membawa Riyan bertandang ke kantornya.
Ekspresi wajah Riyan yang tidak bersahabat membuat hati Bagas agak tercekat. Masalah apa lagi dengan lelaki itu bukankah dia telah mendapat apa yang dia inginkan. Perceraian ini akan membawa dia ke pelukan Ayumi yang memang sudah menanti cukup lama.
Riyan masuk ke ruang kerja Bagas tanpa permisi langsung duduk di hadapan Bagas. Sinar mata Riyan seperti mata pisau ingin menghujam ke jantung Bagas.
Bagas berusaha menetralkan perasaan agar tidak kalah gertak dengan saudaranya itu. Jelas sekali kehadiran Riyan bukan dengan tujuan baik.
"Tumben Yan?" Bagas pura-pura tak tahu rasa jengkel di wajah Riyan.
"Bukan tumben tetapi memang ingin ingin menjumpai kamu. Mengapa kamu menutupi masalah Mawar dari aku?" tanya Riyan tajam.
"Masalah apa?"
"Jangan pura-pura bodoh! Bukankah kamu pernah membawa mawar ke rumah sakit karena dia pingsan?"
"Iya.. kenapa? Aku temukan dia pingsan di pinggir jalan maka kubawa dia ke rumah sakit. Aku tidak sekejam kamu membiarkan seorang gadis kecil berkeliaran tanpa sanak keluarga di kota ini. Aku antar dia tinggal bersama mbak Indy. Selama ini dia bersama mbak Indy. Kenapa? Kau mau marah kami simpatik pada gadis muda yang tak tahu apa-apa langsung dicerai suami?" Bagas bangkit dekatkan wajah ke muka Riyan.
"Jadi selama ini kamu yang lindungi dia?"
"Iya... aku tidak segila kamu. Tanpa menjelaskan pada mawar kamu jatuhkan talak. Kalau kamu lelaki bijaksana maka kamu akan mencari tahu kesalahan Mawar di mana tetapi kamu lebih mendengar bisikan perempuan lain. Apakah itu sikap seorang ksatria?"
__ADS_1
Riyan kontan loyo si skakmat oleh Bagas. Rasa curiga berlebihan mengantar Riyan ke jurang nestapa.
"Aku telah salah menilai Mawar. Sewaktu aku mau berangkat balik ke kota di bandara aku jumpa dengan seorang pemuda mengaku teman kumpul kebo Mawar di Jogja. Dia sangat kecewa mawar telah menikah dengan aku. Pemuda itu mengaku telah berhubungan cukup jauh dengan Mawar. Maka itu aku sangat marah pada kebohongan Mawar. Jalau saja dia mau terus terang pernah hidup dengan seorang lelaki aku akan memaafkannya. Tetapi dia menutupi hal itu. Dan hari ini aku menemukan fakta bahwa Mawar sesungguhnya tidak kumpul kebo melainkan dia masih seorang gadis perawan. Aku menyesal mengapa kamu mengetahui hal ini tidak memberitahu padaku."
Bagas tertawa sinis baru tahu kebodohan Riyan. Hanya dengan satu pengakuan orang tidak jelas dia berani menurunkan tangan kejam pada Mawar.
"Apa aku tahu persoalan kalian? Jangankan aku Mawar sendiri tidak mengetahui mengapa kamu memberi talak pada dia. Dia sangat sedih tetapi dia berusaha tegar tidak dendam kepada kamu. Dan menganggap bahwa kamu bukan jodoh dia. Di mana akan muncul wanita sebaik ini lagi? Aku berterima kasih kepadamu telah mengantar seorang gadis baik kepada aku. Mulai besok dia akan bekerja di perusahaan ini sebagai tangan kanan aku. Dia malu pulang ke kampung maka memilih untuk bertahan hidup di sini." ujar Bagas santai tak peduli bagaimana reaksi Riyan begitu tahu Mawar telah dapat kerja di kantor Bagas. Orang sepintar Mawar tentu mudah adaptasi dengan pekerjaan.
Riyan merasa tangan Bagas sengaja cekik lehernya sampai dia tak mampu bernafas. Riyan tak sangka Bagas telah atur semua untuk Mawar. Riyan kalah total tak punya hak lagi mengatur hidup Mawar.
Kini Mawar perempuan merdeka berhak bekerja di mana saja selama itu halal di mata Mawar. Riyan tidak memiliki hak sedikitpun mengatur kehidupan Mawar untuk selanjutnya.
"Kau tega padaku?"
"Tega gimana? Kalaupun Mawar tidak bekerja dengan aku dia akan mencari kerja di tempat lain. Bukankah lebih baik dia bekerja di tempat orang yang bisa melindungi dia dengan baik. Mbak Indy juga sayang padanya. Si John juga jatuh cinta pada Mawar jadi apa lagi? Bukankah kamu sudah bahagia akan segera menikah dengan wanita culas di rumahmu itu? Aku ucapkan selamat bahagia buat kamu." Bagas makin semangat jatuhkan mental Riyan. puas rasanya melihat wajah Riyan berkerut-kerut menahan emosi.
Riyan mengepal tinju dengan keram ingin rasanya melepaskan tinju ke wajah saudaranya itu. Tetapi dalam hal ini Bagas tidak bersalah karena ingin melindungi seorang gadis yang teraniaya oleh suami sendiri.
"Kembalikan dia kepadaku! Aku akan urus Mawar tanpa bantuan kamu!"
Bagas menggosok kuping merasa kupingnya itu bermasalah salah dengar ocehan orang kurang waras. Talak orang lalu minta kembali seperti minta boneka mainan.
Riyan merasa pantatnya kena bakar kobaran api. Terpanggang hingga panas. Kalimat dari mulut Bagas nyatanya dia akan menikahi Mawar agar bisa menjaganya seumur hidup. Riyan marah sekali tapi tak tahu marah pada siapa. Bagas tak salah bila ingin dekati Mawar. Toh Riyan sendiri yang melepaskan Mawar dari genggaman tangan.
"Apa maksudmu?"
"Aku akan mulai dekati Mawar. Dia gadis merdeka dan berhak menentukan jalan hidup sendiri mulai saat ini. Jadi jangan sekali-kali kamu datang mengacaukan hidupnya lagi. Kau mulailah hidup baru dengan wanita pilihan hatimu yang sangat cantik kayak bara tambang. Berharga tetapi gosong." Bagas tidak tanggung-tanggung sindir Riyan dapat cewek gelap.
Bukan soal warna kulit. Banyak wanita berkulit gelap namun sedap dipandang. Pilihan Riyan sudah hati dan kulit sama gelap.
"Jangan konyol kau!"
"Konyol gimana? Aku suka padanya dan dia juga mulai tergantung padaku. Apa ada yang salah? Apa hak kamu larang Mawar dekat dengan aku? seluruh laki di dunia ini berhak mendekati Mawar karena dia gadis merdeka. Pulanglah! Aku mau keluar jumpa klien. Aku tak punya waktu omong kosong dengan lelaki pengecut dan pecundang macam kamu." Bagas malas ribut dengan Riyan mengenai Mawar. Bagas hanya yakin dia akan merawat dan menjaga Mawar sebaik-baiknya.
Bagas meninggalkan Riyan termenung sendirian di kantor. Riyan mengusap wajah menyesal telah terbawa emosi. Mengapa dia demikian bodoh tidak menyadari bahwa musuh Mawar sedang keliaran mencari titik kelemahan gadis itu. dan titik kelemahan Mawar adalah Riyan sendiri.
Kini Riyan sadar bahwa lelaki yang dia jumpai di bandara itu mungkin saja orang suruhan Dahlia ataupun Ayumi. Kedua kakak dari Mawar itu sangat mengerikan. Seharusnya Rian sadar bahwa mungkin saja itu rencana dari kedua kakak Mawar untuk menjatuhkan Mawar dan mereka berhasil.
__ADS_1
Betapa bodoh Riyan tidak menyaring berita langsung beri vonis pada Mawar. Kalau gadis itu sakit hati pada Riyan itu sangat wajar.
Riyan meninggalkan kantor Bagas pulang ke rumah sesuai anjuran Bagas. Pikiran Riyan sedang kacau saat ini. Seluruh jaringan di otak tak mampu bekerja dengan baik. Riyan benar-benar kacau akibat telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan tidak termaafkan.
Kehadiran Riyan disambut oleh Ayumi yang pasang muka semanis mungkin. Gadis ini baru saja terbebas dari ancaman orang yang dia peralat. Untung saja si pemuda bersedia pulang kampung dan tidak datang mengganggunya lagi. Langkah Ayumi menuju ke tahta sebagai ratu makin terbuka dan mulus.
Riyan masuk tanpa melirik Ayumi sedikitpun. Riyan akan segera mencari tahu tentang lelaki yang pernah bicara dengan dia di bandara. Riyan mau tahu apa orang itu memang tempat teman kumpul kebo Mawar atau hanya orang suruhan Ayumi. Teman kumpul kebo sangat tidak mungkin karena terbukti Mawar adalah gadis perawan suci. Bagas sendiri telah mengakui mengetahui kalau Mawar itu adalah seorang gadis suci maka dia akan maju menjadi pelindung Mawar.
"Bang..sudah selesai putusan sidang?" tanya Ayumi lembut seolah prihatin pada perceraian Mawar dan Riyan.
Riyan menghempaskan tubuh ke sofa bersandar pada sandaran sofa menutup mata tak ingin melihat siapapun. Di pelupuk mata masih terbayang Mawar yang jatuh pingsan akibat stress si masa haid.
Ayumi ikut duduk di samping Riyan ingin mengurut lelaki itu mencari simpati daripada lelaki itu. Tangan Ayumi menyentuh lengan Riyan memijat lengan kokoh itu dengan lembut takut sakiti laku itu.
Riyan diam tidak bereaksi membuat Ayumi yakin Riyan telah takluk padanya. Betapa bahagianya Ayumi telah berhasil dekat dengan Riyan. Dahlia dan Mawar yang berseteru dia yang petik hasil. Cara dia tiarap selama ini telah buahkan hasil nyata.
Suara deheman keras memaksa Riyan buka mata. Ayumi cepat-cepat hentikan pijatan pada Riyan malu pada calon mertua yang tak suka padanya. Ayumi tak peduli Bu Alya suka atau tidak. Yang penting dia bakal jadi ratu rumah ini. Bu Alya akan segera tersingkir. Jika perlu Ayumi akan antar dia tinggal di panti jompo.
"Gimana nak? Sudah selesai?" tanya Bu Alya penuh keibuan. Bu Alya memang tidak mengharapkan Riyan menceraikan Mawar tetapi kalau memang itu telah menjadi keputusan anaknya dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sudah usai ma! Aku menyesal telah ceraikan Mawar." ujar Riyan menahan tangis dalam nada suara.
Ayumi tersentak dengar pengakuan Riyan. Mengapa tiba-tiba laki itu menyesal telah ceraikan wanita muda itu. Apa Riyan benaran telah jatuh cinta pada Mawar? Ini sungguh gila Riyan punya perasaan pada Mawar. Ini tak boleh terjadi.
"Bang...Mawar itu perempuan murahan. Dia itu tinggal bersama laki di Jogja. Mereka kumpul seperti suami isteri seperti suami isteri." Ayumi berkata cepat hendak jatuhkan Mawar di mata Riyan.
Riyan memutar kepala menghadap Ayumi. Riyan tak pernah cerita pada siapapun persoalan Mawar dan sekarang Ayumi tahu jelas soal Mawar. Dari mana Ayumi tahu hal ini.
"Dari mana kau dengar? Seingat aku tak ada yang cerita soal ini. Kau bisa jelaskan?" todong Riyan buat Ayumi pucat terjebak pada keculasan sendiri.
"Tak perlu dijelaskan. Semua ini hasil rekayasa Ayumi jelekkan Mawar di depan kamu nak! Mawar itu tak bersalah apapun padamu! Mawar sial punya saudara sejahat wanita ini." Bu Alya menunjuk wajah Ayumi dengan telunjuk.
Ayumi kontan berdiri menantang Bu Alya yang dia anggap fitnah dia.
"Dasar apa mama bilang aku fitnah Mawar. Semua orang tahu Mawar itu wanita ******. Merayu laki sana sini."
"Apa bukan kamu yang ****** merayu suami adik sendiri?" skak Bu Alya tak mau jaga muka Ayumi lagi.
__ADS_1
"Aku bukan orang kayak gitu. Ayo bang! Katakan aku ini gadis baik-baik. Aku ini belum pernah disentuh laki manapun. Aku persembahkan seluruh hidupku pada bang Riyan." rengek Ayumi menjatuhkan kepala ke bahu Riyan.
Bu Alya muak dengan sandiwara Ayumi. Perempuan tua ini minta ponsel Bibi lalu buka rekaman Ayumi dan seorang pemuda.