
"Bawa ke rumah sakit saja pak Riyan. Mukanya pucat sekali. Takutnya dia kenapa." Pengacara Riyan iba sekali pada Mawar. Asli susah jatuh ketimpa tangga.
"Iya...ayok kita pergi! Bapak bawa mobil aku saja! Aku harus jaga dia!" Riyan duduk di jok belakang bersama Mawar. Gadis ini telah pingsan dalam pelukan Riyan. Dada Riyan bergetar hebat tatkala memeluk mantan isterinya itu. Wanita yang dia harapkan bisa temani dia hingga akhir usia ternyata seorang wanita pendusta. Coba kalau Mawar jujur mungkin Riyan takkan sakit hati.
Mawar kembali dibawa ke rumah sakit tempat dulu Bagas antar dia ke sana. Mawar langsung ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam. Riyan kuatir ada penyakit tersembunyi pada Mawar. Riyan boleh kasih sedikit perhatian anggap Mawar itu adik Yenni. Tak perlu diingat status Mawar sebagai mantannya.
Dokter cek seluruh tubuh Mawar termasuk USG kandungan gadis ini cari di mana letak penyakit gadis ini. Analisanya tetap seperti dulu. Mawar menderita dysmenorrhea akut. Sakit di perut Mawar akibat haid akan makin meningkat dipicu stress berlebihan.
Mawar masih dalam pengawasan para dokter tunggu dia sadar. Riyan agak kuatir mantannya pingsan tanpa sebab. Riyan konsultasi dengan dokter penyakit Mawar.
Dokter yang tangani Mawar dulu hanya bisa tertawa melihat betapa bagus nasib Mawar. Dia kali masuk rumah sakit diantar lelaki ganteng.
"Gimana adikku dok" Riyan ubah panggilan pada Mawar sebagai adik. Ya adik dari mendiang isteri.
"Nona ini tak apa. Mungkin berapa hari ini agak stress picu rasa sakit luar biasa bila sedang haid. Sebelumnya nona ini pernah datang dengan kasus sama. Sudah Kupesan pada pacarnya agar segera nikahi dia agar penderitaan berakhir."
"Maksud dokter adikku pernah dirawat karena kasus sama? Apa sakitnya dok?"
"Bukan penyakit tapi mungkin selaput daranya agak tebal dan lubang kecil maka haidnya jadi terhambat. Dia kan masih perawan. Sering terjadi kasus begini. Setelah berkeluarga bisa sembuh sendiri apalagi setelah melahirkan. Bisa sembuh total." kata Dokter ulangi penjelasan sama dengan Bagas dulu.
"Perawan? Dia masih perawan?" tanya Riyan tak percaya pada keterangan dokter. Bagaimana orang pernah kumpul kebo dengan laki masih perawan.
"Kamu ini bagaimana? Adik sendiri masih perawan malah bingung. Harusnya bangga punya adik pandai jaga diri. Jaman ini sudah langka anak gadis pandai jaga diri. Tidak ada penyakit. Siuman nanti boleh bawa pulang. Kusarankan cepat kawinkan dengan pacarnya."
Riyan bingung siapa yang disebut pacar Mawar. Laki mana lagi masuk dalam hidup mantan isterinya.
"Adikku pernah ke sini dengan cowok yang ngaku pacar?"
"Nggak ngaku tapi aku tebak. Orangnya hanya senyum saja kok! Orangnya lumayan ganteng. Tubuhnya kekar potong rambut cepak ala militer."
"Bagas..." desis Riyan merasa kecolongan oleh Bagas. Pantesan anak itu sudah jarang muncul di rumah sejak terakhir dia usir Mawar dari rumah. Nyatanya Bagas mengetahui sesuatu tentang Mawar.
"Kalau dia belum menikah apa dia akan sakit tiap bulan?"
"Ngak juga. Kadang bisa lancar tapi kebanyakan sakit karena lubang selaputnya agak kecil. Aku sarankan cepat bebaskan dia dari rasa derita ini. Pacarnya cukup perhatian. Dia menunggu si nona sampai sadar."
"Terimakasih sarannya dok. Apa dia lama baru sadar?"
"Ngak kok. Paling sebentar lagi. Bapak tebus dulu obat sambil tunggu dia sadar."
Dokter itu menulis sesuatu di kertas lalu serahkan pada Riyan agar tebus resep obat.
Pikiran Riyan jadi terpecah setelah tahu Mawar masih gadis suci. Tak mungkin dokter bantu Mawar berbohong. Apa guna dia bohongi Riyan. Kenal juga tidak. Malah dia ingin Mawar segera menikah agar tidak menderita setiap datang bulan.
__ADS_1
Riyan telah melakukan kesalahan besar talak Mawar tanpa beri kesempatan pada Mawar untuk bertanya apa salahnya. Dasar Riyan otak udang belum kenal keturunan Tiara. Dari ibunya sampai anak pakai trik kotor capai niat hati.
Riyan terpaksa lakukan anjuran dokter tebus resep obat Mawar. Sekarang Riyan telah bebas tanggung jawab dari Mawar. Mereka tak ada hubungan apapun lagi. Tapi Riyan tak mungkin abaikan Mawar yang sedang sekarat. Kalau Riyan tega tinggalkan Mawar sendirian artinya Riyan itu bukan manusia normal. Telah berbuat semena-mena pada Mawar tega pula biarkan gadis ini menderita sendirian.
Riyan menunggu Mawar siuman bersama pengacara. Sejujurnya pengacara kasihan pada Mawar tapi Mawar sendiri yang bodoh tak mau menuntut apa-apa dari Riyan. Sidang telah putus sesuai harapan. Tak ada lagi peluang bagi Mawar gugat harta lagi.
Di rumah Riyan tampak sepi. Bu Alya di dalam membaca buku tentang agama. Perempuan seusia Bu Alya paling cocok dekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Menumpuk pahala untuk bekal di akhirat nanti.
Bibi membersihkan gudang samping karena ada waktu senggang. Udara cerah bertiup angin semilir bikin ngantuk. Pembantu rumah tangga mana ada jadwal istirahat siang. Waktu istirahat mereka hanya malam.
Bibi agak heran melihat Ayumi mengendap-endap keluar dari rumah menuju ke halaman belakang berbatas pagar dengan jalan kecil. Depannya juga pagar belakang rumah orang. Rumah komplek begini belakang saling berhadapan dibatasi jalan cukup lewat satu mobil.
Bibi ikuti Ayumi secara diam-diam lihat apa kerja perempuan jahat itu. Hasrat mau jadi isteri Riyan membara dalam otak perempuan itu. Segala cara dia halalkan untuk capai posisi ini. Dia telah sukses singkirkan Mawar dari hidup Riyan. Kini tinggal jebak Riyan agar mau hubungan intim agar laki itu secepatnya nikahi dia.
Bibi lihat dari balik pagar muncul satu sosok lelaki muda. Laki itu lirik kiri kanan lihat ada orang atau tidak. Ayumi juga begitu sebentar-sebentar melihat ke arah rumah Riyan takut kepergok dia sedang jumpa laki.
Bibi bersembunyi di balik tumbuhan rimbun mau tahu apa kerja Ayumi dan laki itu. Bibi ada ide keluarkan ponsel Android sederhana rekam agar ada bukti Ayumi Mai. gila dengan laki lain. Bibi dengan hati-hati merekam agar tidak ketahuan. Untunglah tubuh bibi kecil mungil gampang ditutupi tanaman rimbun.
"Mau apa lagi kamu cari aku?" terdengar Ayumi ketus marahi laki itu.
"Aku butuh uang. Aku mau pulang kampung. Uangku sudah habis." jawab laki itu dengan mata liar seakan hendak telan Ayumi.
"Aku tak punya uang lagi. Riyan juga belum mau menikahi aku gara-gara ibunya yang gila itu. Rasanya ingin kuracuni perempuan tua itu. Sudah bau tanah masih nyusahin!" Ayumi merepet pada laki itu.
"Kau pikir Riyan akan percaya pada pemabuk macam kamu? Riyan sedang tergila padaku. Sebentar lagi aku akan jadi isteri orang kaya. Aku harus singkirkan ibunya dulu. Kau bantu aku buat sesuatu ajar perempuan itu supaya bungkam."
"Kau mau apa? Suruh aku bunuh orang? Aku belum gila. Aku memang penjahat tapi tahu dosa. Kamu ini yang tak kenal dosa. Orang sebaik Mawar kau racuni. Sekarang mana uangnya? Malam nanti aku naik bus pulang kampung. Di sini hidupku makin belangsak. Kuingatkan kamu Ayumi! Jangan berbuat dosa lagi! Semua ada karmanya." laki itu menatap lurus mata Ayumi yang hitam licik. Laki ini merasa Riyan sudah terkena rabun kronis bisa suka pada pantat kuali gosong. Apa di kota ini sudah habis stok cewek.
"Cerewet kamu! Ini ada satu juta. Cukup buat kamu pulang sampai kampung."
"Satu juta? Bercanda kamu ya? Aku butuh sepuluh juta. Kalau tidak kau akan tahu resikonya."
"Mau rampok ya?"
"Merampok wanita sejahat kamu berpahala. Terserah kamu mau kasih atau tidak. Atau aku jumpa Riyan minta ongkos pulang kampung."
"Kau gila. Aku sudah kasih kamu dua puluh juta kau habiskan seenak perut. Tak ada."
"Ok tak apa...sekarang juga aku pergi ke kantor Riyan cerita bagaimana busuknya kamu fitnah Mawar yang baik itu. Kau dan keluarga kamu memang bukan manusia. Baik..aku pergi!" laki itu menyugar rambut tertawa licik. Sebenarnya dia nyesal telah bantu Ayumi singkirkan Mawar. Mawar terkenal baik di kampung tak pernah berulah. Tapi tawaran Ayumi sangat menggiur fitnah Mawar agar Riyan benci pada Mawar. Dan Ayumi sukses. Riyan telah ceraikan Mawar. Langkahnya terbuka jadi ratu di rumah Riyan.
"Tunggu...aku transfer ke rekening kamu! Ingat ini terakhir kamu minta uang. Jangan pernah muncul lagi di sini! Pergi sejauh mungkin dari keluarga aku."
"Gitu dong! Ayo transfer! Aku mau beli tiket." Laki itu tertawa puas gertakannya berhasil paksa Ayumi rogoh kocek lagi. Wanita sejahat itu pantas rasakan hasil dari kejahatannya.
__ADS_1
Ayumi transfer sejumlah uang ke rekening laki itu melalui e banking. Tangan Ayumi terasa berat ketik di layar ponsel sejumlah uang nominal cukup besar. Stok uang Ayumi makin menipis akibat bayar jasa laku itu. Kalau dia tidak segera bertindak paksa Riyan nikahi dia hidupnya akan hancur lebur.
"Ok...senang kerja samanya! Aku pergi ya! Salam untuk Riyan tolol. Kuntilanak macam kamu mau di jadikan isteri. Kalau gratis juga ogah. Daaaa"
Laki itu melambai tinggalkan suara tawa jelek. Ayumi hentakkan kaki ke rerumputan kesal hilang uang segar sepuluh juta. Biaya hidup di kota besar cukup mahal. Riyan belum ngasih uang karena Ayumi belum menjadi isterinya.
Ayumi melirik kiri kanan melihat kalau kalau ada orang sedang berada di sekitar itu. Untunglah tidak ada siapapun berada di sekitar Ayumi maka dengan langkah tergesa-gesa wanita ini meninggalkan halaman belakang menuju kembali ke dalam rumah. Ayumi sama sekali tidak mengetahui kalau kehancuran dia telah tiba. Bibi telah merekam semua pembicaraan Ayumi dengan lelaki itu. Bibi sangat marah pada Ayumi yang berencana ingin menyingkirkan majikan perempuan dia. Betapa mengerikan wanita ini tega berbuat jahat hanya untuk memenuhi kepuasan dia sendiri.
Bibi keluar dari persembunyian setelah merasa aman Ayumi telah meninggalkan tempat kejadian. Bibi pun segera meninggalkan halaman belakang menuju kembali ke depan untuk melanjutkan pekerjaannya. Bibi berjanji akan melapor semuanya kepada bu Aliya dan Riyan atas kelakuan Ayumi yang sangat jahat. Wanita sejahat itu tidak pantas menjadi tuan rumah di rumah orang-orang baik. Bibi malah menyukai Mawar yang telah terusir dari rumah ini.
Kembali ke rumah sakit Mawar telah sadar. Mawar kaget dia telah berada di rumah sakit lagi. Kali ini siapa pula yang antar dia ke rumah sakit. Mawar turun dari brankar perlahan cari sepatunya. Mawar mendesah malu lagi-lagi drop karena tekanan pikiran. Mawar selalu gitu bila sedang haid ada masalah. Dia memang telah terima dicerai Riyan namun tetap jadi pikiran telah jadi janda muda. Mawar berjalan pelan menuju ke perawat yang sedang urus pasien lain.
"Maaf sus!" sapa Mawar sopan.
"Eh nona...sudah sadar? Ada enakan?" tegur perawat itu ramah.
"Sudah enakan. Siapa yang antar aku ke sini? Aku harus berterimakasih. Di mana aku harus bayar biaya pengobatan?" tanya Mawar agak segan karena telah dua kali masuk rumah sakit dengan keluhan sama.
"Sudah dibayar bapak tadi. Nona coba minum jamu untuk hilangkan keluhan ini. Kadang obat kampung bisa redakan sakit menstruasi."
"Iya sus! Terima kasih. Aku permisi dulu. Oya.. apa ada nampak tas aku?"
"Oh kayaknya dipegang bapak yang bawa nona ke sini. Coba cari saja di luar sana! Mungkin beliau sedang tunggu di luar." perawat itu bersimpatik pada gadis berhijab ini. Sudah cantik alim lagi.
"Iya ..terima kasih. Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..."
Mawar bergegas keluar cari orang yang telah baik hati antar dia ke rumah sakit. Mawar keluar dari ruang IGD mencari penolongnya.
Mawar terpaku lihat Riyan dan pengacara duduk di bangku khusus untuk pengunjung rumah sakit. Kedua laki itu segera bangun begitu melihat Mawar keluar dari ruang perawatan.
"Dek Mawar...sudah sehat?" Riyan memburu ingin menyentuh lengan mantan isterinya itu.
Mawar mundur selangkah tak ingin disentuh Riyan lagi. Laki itu bukan muhrim Mawar tak boleh sengaja menyentuhnya. Antara mereka sudah tak ada hubungan apa-apa. Mawar harus tahu diri tidak menyulitkan Riyan untuk hari selanjutnya.
Giliran Riyan tertegun. Hati Riyan mencelos sedih telah ceraikan wanita tanpa dosa. Riyan keburu nafsu vonis Mawar bersalah padahal Riyan punya waktu selidiki cerita ini.
"Terima kasih sudah menolong aku pak Riyan. Berapa biaya pengobatan biar Kubayar balik." kata Mawar tetap lembut seperti yang sudah-sudah.
Riyan menelan ludah teringat keindahan singkat mereka. Kini pupus sudah. Riyan takkan pernah dengar suara lembut dan tawa halus Mawar lagi. Tawa itu bukan milik Riyan lagi.
"Bayar apa? Ayo kuantar pulang! Oya ini tas kamu!" Riyan angsurkan tas warna abu pekat pada Mawar. Tangan gadis itu terulur menerima barangnya. Yang ini Mawar tidak sungkan karena tas ini memang miliknya. Tidak ada uang Riyan satu senpun di tas itu.
__ADS_1
"Tak perlu pak! Terimakasih telah menolongku! Aku permisi." Mawar mengambil tasnya lalu meninggalkan rumah sakit tanpa menoleh ke arah Riyan lagi.