GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Hari Pertama Kerja


__ADS_3

Mawar heran mengapa John tidak ijinkan teman ikut belajar bersama. Padahal itu sangat baik buat perkembangan pelajaran semua murid. Mawar tidak peduli muridnya siapa. Yang penting bagi Mawar adalah kemauan belajar.


"Kenapa ditolak sayang? Kan bagus bisa belajar bersama." tanya Mawar.


"Enak banget mereka ikut jadi pintar. Nanti mereka rebut pamor aku! Pokoknya kak Mawar cuma milik John." kata John dengan tingkat egois kelas wahid.


Untuk saat ini Mawar tak ada waktu kasih pengertian pada John. Mesti pelan-pelan jelaskan pada John bahwa belajar itu bukan cari nama melainkan cari ilmu kepandaian.


Indy mengerti apa yang ingin dikatakan Mawar. Sebagai guru Mawar tentu saja ingin semua murid maju tanpa pilih bulu. Dalam kamus seorang guru makin banyak murid pintar artinya makin banyak modal negara. Generasi muda adalah modal bangsa. Generasi muda pada pintar maka makin maju bangsa negara.


"Nanti kita bicara lagi. Sekarang bersiap ke sekolah. Oya berapa nilai ujian sejarah?"


"Belum dibagi kak tapi John bisa jawab semua kok. Metode kakak paling jitu. Aku bangga punya kakak seperti kak Mawar."


"Aku juga bangga punya adik pintar. Tuh sudah ditunggu jemputan!" Mawar menunjuk keluar karena jemputan sudah datang.


John segera meraih tas lalu menyalami Indy dan Mawar. Anak lajang itu berangkat ke sekolah dengan penuh semangat. Tak ada keluhan malas ke sekolah seperti dulu. John kecanduan sekolah karena nilainya membaik dan acap kali dapat pujian maka dia makin semangat sekolah.


Indy tak bosan ucapkan terima kasih pada Mawar. Mawar berhasil mengubah anak bandel jadi satu sosok berbeda. John berubah jadi anak baik tidak rewel lagi.


"Mawar...hari ini kau pergi kerja?" tanya Indy bersiap berangkat kerja.


"Jadi mbak! Doakan semoga betah ya!"


"Pasti...kau harus pandai adaptasi. Jangan terlalu ambil hati bila ada yang iri. Di mana saja sama. Selalu ada yang baik dan jahat. Oya...dua hari lagi mbak mau ke Jerman! Bisa titip John? Daddy nya John mau jumpa."


"Bisa mbak...aku akan berusaha cepat pulang temani John. Mbak bisa berangkat dengan tenang."


"Terima kasih. Daddy nya John kayaknya sakit. Aku mau lihat kondisinya. Sebenarnya mau berangkat cepat tapi visa belum keluar. Lusa baru keluar."


"Mawar mengerti mbak! John akan baik-baik saja."


"Mbak percaya..mbak berangkat dulu ya! Oya kau ke kantor dengan apa? Apa mbak antar sekalian?"


"Tak usah..katanya dijemput mobil kantor."


"Ok...kalau gitu mbak duluan. Kau hati-hati ya! Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Indy si wanita kuat melangkah pergi dengan langkah pasti. Indy adalah sosok Kartini masa kini. Mandiri berdiri tegak di atas kaki sendiri.


Mawar berpikir kapan dia bisa seperti Indy. Hidup penuh keyakinan tanpa takut pada ancaman kiri kanan.


Mawar tak sempat membantu Bik Tun bereskan meja makan karena dari luar terdengar bunyi klakson mobil. Itu tanda jemputan Mawar sudah datang.


Mawar meraih tas sederhana dia berlari kecil menyongsong jemputan. Mata indah Mawar melihat mobil yang sama telah berada di depan rumah Indy.


Anwar turun dari mobil tanpa senyum. Keramahan yang Mawar lihat kemarin sirna tak tinggalkan jejak. Mawar heran mengapa Anwar berubah jadi sosok berbeda. Di mana kehangatan yang ditunjukkan kemarin.


"Selamat pagi nona Mawar!" sapa Anwar sopan sekali.


"Pagi pak Anwar..." balas Mawar hangat kontras dengan sikap kaku Anwar.


Anwar buka pintu mobil jok belakang untuk Mawar. Mawar bermaksud masuk ke dalam kontan tertunda karena ada sosok lain berada dalam mobil.


Joko dengan setelan jas warna gelap duduk penuh wibawa di jok belakang mobil disupiri Anwar. Pantesan Anwar kaku ternyata ada bos dalam mobil.

__ADS_1


Mawar menjadi ragu untuk masuk karena segan berada dalam satu mobil dengan majikan. Baru hari pertama masuk kantor sudah bikin mata pegawai lain meloncat keluar.


"Selamat pagi pak!" sapa Mawar canggung.


"Cepat masuk biar tidak kena macet!" Joko bukannya jawab ucapan Mawar malah beri perintah agar Mawar tak buang waktu.


Dengan canggung Mawar masuk duduk sebelah Joko. Mawar menjauh supaya tidak dibilang sok akrab. Dia hanya seorang pegawai magang baru mana mungkin dapat perhatian dari majikan. Mawar tak mau ge er merasa diistimewakan oleh Joko hanya karena dijemput. Bisa jadi hanya karena searah jalan.


Mawar tutup mulut rapat-rapat tak berani bersuara. Bernafas saja Mawar atur sedemikian rupa agar tidak terdengar oleh Joko. Mimpi apa Mawar semalam bekerja dijemput mobil bos besar.


Sepanjang jalan tak ada yang bicara termasuk Anwar. Suasana seperti berada di pinggiran kuburan sepi senyap. Hanya terdengar suara kenderaan lain lewati mereka karena mobil Joko tak ada suara bising.


Dinginnya AC mobil sudah cukup bikin Mawar membeku. Ditambah sikap dingin Joko makin mirip berada di kutub selatan. Tempat terdingin di bumi ini.


Tapa bisu berakhir tatkala mobil tiba di kantor. Joko duluan turun tanpa menyapa Mawar maupun Anwar. Laki itu masuk ke kantor dengan percaya capai nilai sempurna.


Anwar ikutan lega setelah Joko turun dari mobil. Tapa bisu telah berakhir. Anwar menatap Mawar yang masih terbengong ditinggal oleh Joko begitu saja.


"Nona Mawar...tak mau turun? Aku mau parkir mobil. Kau segera ke tempat kerja kamu ya! Kasih tahu nona resepsionis bahwa kamu belum punya id card. Nanti dia bantu kamu absen. Pergilah!"


Mawar tersentak segera bergerak turun. Betapa lega Mawar keluar dari pusaran hawa dingin dalam mobil Joko. Mawar tak ingin numpang pada mobil bos lagi. Betapa canggung satu mobil dengan big bos.


Mawar masuk ke dalam kantor diiringi tatapan penuh rasa heran oleh beberapa karyawan karena jelas Mawar turun dari mobil di bos. Siapa adanya Mawar bisa satu mobil dengan bos. Sudah jelas Mawar bukan karyawan biasa karena kerja naik mobil bos.


Mawar melapor pada gadis penjaga meja resepsionis sesuai titah Anwar. Dengan senang hati gadis resepsionis membantu Mawar. Gadis itu bukan bodoh tak tahu Mawar punya posisi istimewa di kantor ini.


Semua berjalan lancar sampai Mawar berhasil duduk di kursi tempat dia bekerja. Meja kerja Mawar sudah dibersihkan dan sudah ada beberapa dokumen tergeletak di atas meja menanti tangan Mawar


bergerak menyentuh dokumen itu.


Mawar sebagai junior tidak sungkan menyapa kedua rekan kerjanya dengan sapaan khas orang beradab.


"Selamat pagi teman."


"Pagi nona cantik. Pagi ini kamu makin cantik dan fresh. Baru dipetik dari kebun ya?" gurau Mia menyambut Mawar.


Mawar tersipu malu bikin Mia makin gemas. Sudah cantik imut lagi. Jangan salahkan cowok bila jatuh cinta pada Mawar.


"Bisa saja! Ini dokumen apa?" Mawar menunjuk tumpukan dokumen di atas mejanya.


"Itu yang mesti kamu rekap. Itu hasil kerja kami. Mari ku terangkan kerjamu. Kau bisa komputer kan?" Mia bangkit dari kursinya memberi penerangan pada Mawar apa yang harus dia kerjakan. Mawar bersyukur jumpa rekan baik hati. Tak terasa diasingkan sudah merupakan karunia tak terhingga. Apalagi Mia bersedia jadi pemandu Mawar dalam bekerja.


Cukup lama Mia ajar Mawar dari awal hingga akhir. Dasar otak Mawar cukup encer tidak sulit terima les kilat dari Mia. Yang lain juga turun tangan bantu Mawar secara bergantian. Berhubung kerja Mawar ada hubungan dengan hitung menghitung maka kendala terasa sangat kecil. Tak butuh proses panjang Mawar berhasil menangkap garis besar kerjanya.


Mawar bekerja dengan tenang dibawah bimbingan empat guru senior. Mawar yakin dia akan betah di situ karena keramahan rekan kerjanya.


Tak terasa waktu makan siang tiba. Teman kerja Mawar bersiap mencari pengganjal perut. Tak lupa mereka ajak Mawar yang masih asing dengan lingkungan kerja di kantor ini. Ini membuktikan teman kerja Mawar sangat tulus padanya.


Mawar bukan utamakan makan melainkan mencari ruang sholat untuk laksanakan sholat zhuhur pertama di kantor ini.


Keempat rekan Mawar terkesima karena mereka jarang dirikan sholat selama bekerja di kantor ini. Tahunya hanya kerja dan kerja. Kapan terakhir sholat mungkin mereka sudah lupa.


"Di mana ruang sholat kita?" tanya Mawar melihat keraguan di wajah keempat cewek itu.


"Ruang sholat di kantor ada dua yaitu di lantai paling bawah dan paling atas. Kita di lantai delapan belas jadi kamu mau pilih kemana? Atas atau bawah?" Pipit yang jelaskan biar Mawar pilih sendiri.


"Pilih bawah saja! Kita kan mau cari makan. Toh turun juga ke bawah!" Maya bantu Mawar ambil keputusan.

__ADS_1


"Kau benar. Ayoklah kita dirikan sholat bersama! Ini akan menyehatkan tubuh dan pikiran." ajak Mawar bisa membaca keraguan temannya ikutan sholat. Mengajak orang kembali ke jalan Allah merupakan pahala tak terhingga.


"Kami malas perbaiki make up di wajah. Ambil air wudhu akan merusak riasan di wajah." tukas Mia diaminkan oleh ketiga rekan lain.


"Cantik di mata Allah lebih berharga atau cantik di mata manusia? Cantik di luar itu hanya sementara. seiring waktu semua akan pudar tapi cantik dari dalam takkan lekang di makan waktu. Jangan ragu dirikan ibadah sesuai ajaran Tuhan! Ayoklah!" Mawar pantang mundur ajak keempat temannya ikut sholat bersama.


"Besok saja. Aku akan bawa perlengkapan sholat. Janji!" Verena angkat tangan mau bikin janji.


"Aku juga." Mia turut berjanji sedangkan kedua rekan lain hanya manggut.


Mawar tak enak terlalu memaksa hanya bisa angguk beri kesempatan pada temannya berpikir ulang untuk jadi muslimah sejati.


Jadilah keempat rekan Mawar antar gadis itu laksanakan sholat di musholla kecil dalam kantor. Ruang sholat itu kosong tak ada yang laksanakan sholat atau memang belum bersholat. Mawar tak berani berspekulasi keimanan orang di kantor ini.


Andai mushola ini dibangun untuk jadi simbol saja sungguh disayangkan. Apa para karyawan tidak tahu kalau musholla ini dibangun untuk mereka yang beragama Islam. Tempat belajar menjadi lebih baik dan per tebal iman.


Hari ini Mawar jadi orang pertama dirikan sholat. Orang yang lihat Mawar masuk ke mushola tidak heran gadis itu laksanakan kewajiban umat muslim. Dari penampilan saja Mawar sudah tunjukkan iman kuat.


Keempat teman Mawar menanti dengan sabar. Sudah mereka tidak sholat jangan sampai merusak niat baik orang. Tidak mendapat pahala dari sholat mungkin dapat pahala menunggu orang bersholat.


Tak lama berselang Mawar sudah selesai berkeluh kesah pada Yang Maha Kuasa. Wajahnya makin berseri pancarkan aura cerah.


Keempat teman Mawar saling tukar pandangan karena sholat ternyata tidak merusak penampilan. Bahkan makin cantik setelah sholat.


Mawar tersenyum manis menemukan keempat teman barunya masih setia menunggu. Awal pertemanan yang diidamkan Mawar. Ternyata tak selamanya nasibnya apes. Ada juga masanya Mawar mendapat teman sejati.


Hari pertama kerja semua berjalan lancar sampai batas waktu pulang kerja. Mawar pulang dengan hati plong karena hari pertama kerja tidak mendapat masalah. Rasa percaya diri makin tinggi dalam diri Mawar.


Seperti hari sebelumnya Anwar sudah menunggu Mawar di tempat parkir mobil mengantar Mawar pulang. Mawar agak jengah dilirik puluhan pasang mata naik ke mobil mahal milik bos.


Mawar tak tahu gosip apa bakal muncul besok karena banyak yang lihat dia diantar pulang pergi oleh mobil mewah bos.


Di dalam mobil sudah ada Joko sama seperti waktu datang. Wajah laki itu tetap datar tak jauh beda dengan pagi hari. Cuma sore ini tampak lebih lelah. Mungkin karena capek bekerja.


Mawar pilih diam biar tidak membuat suasana jadi kacau. Bisa dapat kerja di tempat sebagus ini sudah syukur. Belum lagi dapat antar jemput langsung oleh bos.


"Pak Anwar...jemput Endra dulu di tempat les." muncul juga kalimat dari mulut bos irit kalimat itu.


"Iya pak..." sahut Anwar tetap fokus pada jalan aspal yang mulai disesaki mobil.


Jam pulang kerja pasti akan macet. Setiap orang berlomba ingin cepat tiba di rumah kumpul dengan keluarga. Tak ada yang mau mengalah.


Untunglah sekarang belum macet total. Mobil masih bisa merayap maju walau sedikit tersendat. Mawar sebagai penumpang gratis tak bisa ngasih komentar ataupun bertanya akan diajak ke mana. Ikuti arus saja asal nanti diantar pulang sampai tempat.


"Nona Mawar telat dikit pulang tak apa kan?"


Mawar yang fokus pada lalu lalang kenderaan agak kaget tiba-tiba mendapat pertanyaan dari Joko.


"Tidak pak."


Selanjutnya semua kembali diam. Asli sangat irit bicara seolah bersuara itu mahal. Harus dibayar pakai mata uang euro.


Mobil melaju terus sampai ke tempat anak Joko ambil pelajaran tambahan.


Mata Mawar melihat tempat les anak bosnya merupakan satu ruko bertingkah tiga. Depan ruko itu tertulis Bimbingan Belajar Anak Pintar. Mawar menduga tempat itu merupakan tempat anak murid menerima pelajaran tambahan selain di sekolah. Tentu saja mata pelajaran yang sama dengan di sekolah.


Joko dan Mawar tidak turun dari mobil untuk jemput anak Joko. Hanya Anwar saja turun mengambil anak kecil itu. Dari dalam mobil Mawar melihat Anwar menggandeng seorang anak perempuan berwajah pucat. Tak ada keceriaan seorang anak kecil dalam diri anak itu.

__ADS_1


__ADS_2