
Mawar telah berhasil merebut perhatian Arsy. Riyan tak dapat bayangkan pada suatu saat Mawar akan menemukan kehidupan sendiri. Mawar tentu tak mungkin selamanya memberi perhatian kepada anak-anaknya karena dia akan memiliki keluarga sendiri. Riyan sendiri tidak berani membayangkan untuk kembali meraih perhatian Mawar lagi. Riyan telah gagal membina hubungan yang dipercayakan kepadanya.
Singkat cerita akhirnya Arsy dapat keluar dari rumah sakit untuk selanjutnya istirahat di rumah. Mawar dengan senang hati temani Arsy sampai di rumah. Mawar telah melakukan yang terbaik untuk keponakannya.
Sesampai di rumah Arsy langsung tidur mengingat kondisinya belum stabil 100%. Mawar menemani Arsy sampai gadis kecil itu benar-benar tertidur pulas.
Bu Alya dan Riyan sangat berterima kasih kepada Mawar yang bersedia memberi semangat kepada Arsy agar cepat sembuh. Arsy kelihatannya sangat menyayangi Mawar dan sebaliknya.
Mawar segera pamitan setelah Arsy tidur. Mawar merasa jengah di rumah tempat dia diusir pertama kali datang ke kota. Kenangan buruk itu tetap menghantui Mawar. Kalau bukan demi Arsy Mawar enggan menginjak rumah yang membawa kenangan buruk itu.
Riyan ingin mengantar Mawar tapi gadis ini menolak. Mawar pilih pulang sendiri tanpa bantuan Riyan. Kelihatannya Riyan benar-benar telah tamat di hati Mawar.
Riyan mengantar Mawar sampai depan pintu pagar karena tak berdaya melawan keteguhan Mawar tak mau dekat lagi dengan Riyan. Ini semua murni salah Riyan. Riyan yang putuskan hubungan dengan Mawar.
"Terima kasih dek Mawar!" ucap Riyan sebelum jemputan datang.
"Sama-sama... Arsy itu keponakan aku!" tegas Mawar menyadarkan Riyan agar jangan berharap lebih.
"Aku tahu... kau lakukan semua ini karena Arsy anak kakak kamu! Dek.. apakah tak ada kata maaf tulus dari hatimu?"
Mawar menyipitkan mata kelabunya heran mengapa Riyan masih bahas kesalahan yang telah berlalu. Mawar tak ingin ungkit masa lalu yang kelam. Kini dia harus tegar mulai hidup baru.
"Aku sudah maafkan bapak! Tak perlu ungkit lagi."
"Kalau gitu beri aku kesempatan kedua. Aku janji takkan lakukan hal sama lagi." ntah dari mana keberanian Riyan meminta kesempatan kepada Mawar. Riyan masih ingin coba merebut perhatian Mawar walau kecil peluang.
"Maaf pak! Aku tak mau terjebak dalam ilusi. Permisi..." Mawar angkat kaki walaupun jemputan belum tiba. Mawar enggan bahas masalah yang sangat tidak menyenangkan ini.
Tinggallah Riyan termenung di depan pintu pagar melihat punggung Mawar melangkah jauh. Penyesalan yang bergunung-gunung takkan kembalikan Mawar ke samping Riyan. Riyan makin terpuruk ditolak Mawar secara cash. Tidak cicil apalagi kredit.
Baru beberapa langkah Mawar berjalan. Sebuah mobil putih berhenti di samping Mawar. Mawar sangat mengenali mobil ini karena telah beberapa kali naik menjadi penumpang di dalam mobil ini.
Lagi-lagi masalah datang. Mawar menarik nafas dalam-dalam tak tahu apa yang akan dilakukan bos angkuhnya. Herannya dia tahu di mana posisi Mawar walau tanpa beritahu dia. Apa laki ini punya GPS Mawar?
Dari jauh Riyan saksikan pemandangan yang menyakiti hati. Kini Riyan sadar bahwa orang yang ingin mendekati mawar bukan cuma dia. Saingan yang sangat berat bagi Riyan karena Joko memiliki segalanya. Cuma sekarang tinggal bagaimana Mawar menanggapi keagresifan Joko.
Joko turun dari mobil langsung mendekati Mawar. Lelaki tinggi besar itu menatap Mawar lekat-lekat sebelum mengutarakan isi hati. Masih ada keraguan di hati Joko untuk mengungkap rasa sesal yang membuat dia membentang jarak dengan Mawar.
"Bivendra ingin kau jemput pulang sekolah. Dia masih di sekolah." bukan kalimat permohonan maaf melainkan gunakan Bivendra sebagai tameng untuk membawa Mawar jauhi rumah Riyan.
"Dari mana bapak tahu aku di sini?" Mawar bukannya menjawab inti permintaan Joko melainkan heran bagaimana laki ini tahu di mana posisi dia.
"Aku tanya pihak rumah sakit. Katanya kalian sudah pulang. Ayo masuk ke mobil. Kita jemput Bivendra!"
"Pak...aku tak bisa ikut bapak. Aku..."
Belum selesai Mawar mengucapkan kalimat Joko sudah menarik tangan Mawar untuk masuk dalam mobil. Gaya arogan Joko ternyata belum sirna dari diri laki ini.
Mawar hanya bisa pasrah karena tak mau bikin onar di komplek perumahan yang tenang. Dari jauh Riyan saksikan bagaimana kerasnya Joko pada Mawar. Ini ada unsur pemaksaan.
Akhirnya Mawar dan Joko tinggalkan komplek perumahan Riyan. Sebelum mobil menjauh menuju ke jalan raya Joko hentikan mobil. Laki ini mengambil sesuatu dari jok belakang.
Buket bunga warna pink sesuai pesanan Joko pada Anwar telah berada di tangan. Buket itu diangsurkan pada Mawar.
Mawar terbengong tiba-tiba di beri bunga oleh lelaki angkuh itu. Mawar tidak segera ulurkan tangan terima bunga itu. Gadis ini masih dipenuhi tanda tanya mengapa laki ini ngasih bunga.
__ADS_1
"Aku minta maaf tidak jaga perasaan kamu." Joko menyodorkan bunga makin dekat ke dada Mawar.
Mawar surprise seorang Joko minta maaf padanya? Apa langit sudah mau runtuh laki angkuh itu telah menundukkan kepala minta maaf padanya. Apa pamornya tidak akan luntur?
Mawar juga ada perasaan tidak abaikan ketulusan sesama manusia akui kesalahan. Kesalahan Joko tidak sefatal kesalahan Riyan. Laki ini hanya tergesa tak tahu cara menjadi lelaki sejati.
Mawar menerima buket dari Joko tanpa komentar. Gadis ini memeluk bunga dari Joko sedikit terhibur. Baru kali ini ada laki memberinya bunga. Naluri kewanitaan Mawar terusik walau hanya bunga. Betul kata orang. Wanita manapun akan senang diberi bunga. Mawar juga senang pada perhatian kecil Joko. Dinilai dari uang harganya tidak seberapa tapi artinya sangat mendalam.
"Terima kasih.." Kata Joko setelah Mawar terima bunganya. Artinya gadis ini telah hapus semua dosanya minta kawin secara mendadak.
"Sama-sama.."
"Kita jemput Endra dulu ya? Kita makan bareng nanti." Joko mulai lebih sopan tanya pendapat Mawar untuk langkah selanjutnya.
"Iya.. "
"Anak Riyan sudah sehat?"
"Alhamdulillah sudah sehat. Cuma pemulihan saja."
"Anak kecil demam tak bisa dianggap remeh. Sekarang muncul aneka jenis virus. Kita sebagai orang tua harus kawal anak sebaik mungkin."
"Iya pak! Tapi aku tak punya wewenang masuk lebih dalam urusan keluarga mereka. Aku ini hanya Mak bit."
"Mak Bit? Apa maksudnya?
Mawar tertawa kecil lupa Joko bukan orang Aceh. Laki ini mana ngerti panggilan ala orang Aceh.
"Mak Bit itu panggilan untuk adik mama. Kalau kakak mama dipanggil Mak Wo. Di kota kami ada dua bahasa yakni bahasa Aceh asli dan bahasa Jamu. Bahasa Jamu ini identik dengan bahasa Padang. Sebagian orang di kota kami gunakan bahasa Jamu sebagai pengantar percakapan. Bahasa ini sangat populer di kalangan orang tinggal di tepi pantai sedang yang dekat gunung bahasa Aceh." cerita Mawar tentang budaya di kota mereka.
"Itu aku kurang ngerti. Dari dulu memang sudah begitu. Kalau di sana menikah pihak laki yang harus naik ke rumah perempuan. Setelah mapan boleh pindah. Ini mirip budaya Padang juga."
"Artinya kalau aku menikah denganmu aku yang harus tinggal di rumah kamu?"
"Lebih kurang begitu! Kalau di rumah ada dua tiga anak perempuan maka ada dua tiga menantu di rumah. Kalau sudah punya uang boleh beli rumah sendiri. Aku tahu ini rawan konflik antara sesama menantu tapi sudah begini mau gimana lagi."
"Menarik... budaya tiap daerah berbeda ya! Biasa gadis Aceh keras-keras kok kamu malah terlalu lembut."
"Ngak semua pak! Banyak gadis Aceh lembut, ada juga yang keras. Semua terlahir dari karakter sendiri. Yang lembut di luar belum tentu lembut di dalam. Kadang semua itu hanya tameng."
Joko tertawa dalam hati Mawar sedang ingin katakan bahwa orang lembut dari luar belum tentu lembek hati. Justru orang lembut kadang paling keras kepala.
"Aku paham..." sahut Joko fokus pada laju kendaraan. Laki ini lega telah berhasil meredakan amarah Mawar. Kini Mawar menjadi orang penting baginya karena bisa tangkap ekor Bivendra. Anaknya itu selaku menolak kehadiran wanita manapun dalam hidup Joko. Sudah berapa orang berusaha rebut hati anaknya tapi seorangpun gol.
Justru gadis cantik sederhana sukses mencuri perhatian anaknya. Joko harus gunakan kesempatan bagus ini buka pergaulan Bivendra agar tidak jadi anak kuper.
Bivendra sudah menanti kehadiran Mawar dan Joko. Anak itu berdiri di depan pintu gerbang sekolah ditemani oleh guru pengawas. Masih ada beberapa murid belum dijemput oleh orang tua maka gurunya mengawasi setiap murid agar sampai ke tangan tepat.
Mawar turun dari mobil menjemput Bivendra langsung dari tangan guru piket. Dari jauh Mawar sudah beri senyum manis pada Bivendra. Anak itu belum balas senyum Mawar mungkin lupa cara menarik bibir bentuk senyum.
"Hai sayang...kita pulang?"
"Iya kak!"
"Ayok salami Bu guru!" Mawar perintah Bivendra berlaku sopan pada guru yang telah menjaganya.
__ADS_1
Bivendra balik badan Salami guru itu dengan takzim. Guru itu surprise tapi segera tersenyum tahu anak ini telah temukan orang tepat untuk bimbing dia.
"Terima kasih Bu! Kami pamitan. Assalamualaikum.." Mawar mengangguk sopan pada sang guru. Mawar juga mantan guru jadi tahu gimana cara menyenangkan hati seorang guru. Bukan emas permata diharap tapi penghargaan.
"Waalaikumsalam.."
Mawar memeluk bahu Bivendra menuju ke mobil di mana sudah ditunggu Joko. Bivendra juga surprise papinya datang menjemput langsung ke sekolah. Jarang-jarang Joko luangkan waktu urus keseharian anaknya. Bivendra dilayani oleh para pembantu dan seorang wanita yang bimbing Bivendra dalam keseharian itulah wanita kejam yang siksa anak itu tiap hari.
Mawar dan Bivendra saling bagi tempat di depan. Bivendra tidak keberatan duduk di pangkuan Mawar. Keduanya sangat dekat seperti ibu dan anak. Cuma dihitung dari umur tak mungkin Mawar melahirkan seorang anak segede Bivendra.
"Siap? Kita cari makan. Endra mau makan di mana?" Joko duluan bertanya mengingat Bivendra orang pendiam.
"Apa boleh makan ayam goreng?" tanya Bivendra takut tak disetujui. Anak ini pingin sekali makan ayam goreng kesukaan semua anak kecil. Anak ini tak pernah rasakan kenikmatan makanan itu walau papinya punya segunung harta.
"Ok..." Mawar yang menyahut biar Joko tak punya cela menolak permintaan Bivendra. Sekali-kali anak kecil harus dituruti supaya perasaannya akan lebih baik.
"Baik...kita pergi!" Joko terpaksa ikuti pilihan para wanita. Dia kalah suara dua lawan satu.
Joko arahkan mobil ke restoran khusus sediakan makanan ayam goreng dengan segala pernak pernik makanan cepat saji.
Sekilas dilihat mereka seperti satu keluarga bahagia bawa anak pergi makan siang. Ibu cantik dan ayah ganteng. Anak juga cantik walau agak kurus. Semoga ke depan Bivendra bisa lebih sehat di bawah asuhan Mawar.
Ketiganya masuk ke restoran barengan. Mawar menggandeng tangan Bivendra layak seorang mama yang baik buat anak itu. Mawar tak sadar perbuatannya ini akan bawa akibat buruk bagi Bivendra. Andai suatu saat Mawar meninggalkan anak ini maka dia akan terpuruk kehilangan pegangan.
Mawar mungkin tidak terpikir sampai di situ. Bagi Mawar sekarang adalah kembalikan keceriaan seorang anak kecil.
"Biven mau makan apa sayang? Biar kakak pesankan?" Mawar menanyakan keinginan anak kecil ini.
"Paha dan kentang goreng. Minumnya jus orange saja."
" Ok..pak Joko ada pesanan?"
"Samakan dengan menu Endra. Oya gunakan kartu ini!" Joko berikan sebuah kartu persegi untuk bayar makanan mereka. Yang ini Mawar tidak tolak karena dia memang tak punya banyak uang untuk traktir anak bapak itu. Joko demikian kaya tentu tak perlu ditraktir.
Mawar bergerak memesan makanan untuk mereka. Mawar juga ikut pesan menu yang sama agar tidak ribet. Cuma sayang di situ tak ada minuman pesanan Bivendra. Di sana cuma tersedia minuman bersoda.
Mawar tak mau sok pandai ambil keputusan sendiri ganti minuman lain. Gadis ini kembali ke meja tempat Joko dam Bivendra menunggu pesanan makanan.
"Maaf...ternyata di sini tak jus orange." lapor Mawar menanti reaksi anak bapak itu.
Bivendra sedikit kecewa namun paham itu bukan salah Mawar. Restorannya yang kurang lengkap.
"Ganti apa saja deh!" sahut Bivendra tidak mau menyulitkan Mawar. Mawar sudah baik hati temani mereka maka dia harus sadar diri tidak menyusahkan gadis itu.
"Bapak gimana?" tanya Mawar pada Joko pula. Mawar bukan orang sok pintar ambil keputusan sendiri.
"Apa aja deh!" Joko seperti Bivendra tidak menyusahkan Mawar.
Mawar kembali ke tempat kasir untuk lanjutkan orderan. Joko ikut dari belakang bantu gadis ini angkat nampan.
Lengkaplah keluarga bahagia saling membantu menyelesaikan makan siang bersama. Mawar agak tersipu tatkala Joko ringankan tangan membantunya bawa nampan. Biasanya Joko cuek pada pekerjaan kasar ini. Kini dia tersentuh bantu Mawar karena sadar Mawar bukan gadis matre. Dia pandai jaga perasaan Mawar agar tidak kabur dari samping Bivendra. Anaknya butuh Mawar.
Mawar membantu Bivendra membuka bungkusan nasi dalam kertas. Gadis ini juga ambilkan saos tomat dan saos cabe untuk anak ini. Mawar tak tahu Bivendra suka pedas atau tidak. Dia masih butuh waktu untuk pahami anak kecil ini.
"Ayo bismillah!" Mawar mengajak Bivendra makan dengan ucapkan asma Allah.
__ADS_1