GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Memalukan


__ADS_3

Joko segera mandi besar untuk bersihkan diri dari sisa keindahan bersama Mawar. Joko samasekali tidak keberatan mandi sangat pagi. Dia sudah terbiasa lewatkan apa yang bisa dilewati.


Sekarang sudah ada Mawar siap intip apa yang dia lakukan. Joko juga harus jadi pemimpin di rumah beri contoh yang baik untuk Bivendra dan Mawar.


Joko sangat terharu tatkala Mawar menciumi tangannya sebagai imam. Sejarah baru buat Joko karena seumur hidup baru ada orang salami dia dengan takzim. Maminya Bivendra mana pernah gitu. Sholat saja hanya sewaktu hari raya umat Islam. Itupun untuk setor muka biar tak dianggap sebagai orang tak beragama.


"Terima kasih sudah hadir dalam hidup aku." Joko mengecup kening Mawar. Bau harum sampo tercium di hidung Joko. Harum segar aroma terapi jiwa.


"Aku banyak kekurangan hubby! Bila aku salah jangan segan tegur aku! Aku janji akan jadi isteri dan mami yang baik untuk keluarga ini."


"Tentu...ayo peluk aku!" Joko menarik Mawar ke pelukan. Damai sekali memeluk tubuh mungil ini. Joko serasa terlahir kembali setelah menikahi Mawar. Semua kebencian pada wanita perlahan luntur karena kena doping dari Mawar. Mawar hadirkan pelangi indah dalam hidup Joko.


"Hubby...aku siapkan sarapan untuk kalian dulu. Nanti Biven sudah bangun."


"Untuk apa ke dapur? Bukankah kita punya pembantu?"


Mawar menjauhkan tubuh dari Joko kurang sreg dengan omongan Joko. Sekarang Mawar adalah isteri Joko dan mami Bivendra. Mawar yang wajib urus mereka. Bukan biarkan pembantu jadi nyonya rumah. Pemikiran ini yang sering timbulkan salah paham dan terjadi perselingkuhan akibat isteri mengandalkan pembantu.


Banyak majikan laki merasa lebih membutuhkan pembantu ketimbang isteri karena keseharian di urus pembantu. Jika pembantunya masih gres bisa dipakai terjadi kontak listrik. Arus pendek nyambung. Akibatnya pembantu jadi penghias ranjang majikan laki. Inilah penyakit masyarakat sekarang ini.


"Dulu di sini tak ada majikan perempuan maka hubby dan Biven dilayani pembantu. Sekarang sudah ada ratunya maka sang ratu harus bijak urus rumah tangga. Apa gunanya aku sebagai isteri bila semua masih diurus pembantu?"


Joko tertawa senang dapat isteri pengertian dan rajin. Hidupnya bakal lapang karena ada isteri baik.


"Iya nyonya hatiku! Pergilah! Aku menanti hasil masakan kamu. Yang lezat ya biar suami betah."


Mawar bangkit dari lantai bereskan kain sajadah. Joko perhatikan ketelatenan Mawar membereskan kamar. Gerakannya gesit seperti sudah terbiasa bekerja pekerjaan ibu rumah tangga.


Lagi-lagi Joko bandingkan dengan mami Bivendra. Satu langit satu bumi. Sungguh jauh perbedaan kedua wanita ini. Joko heran mengapa dia selalu bandingkan Mawar dengan mami Bivendra. Apakah dia belum bisa move on dari Mami Bivendra?


Seusai masak Mawar bangunkan Bivendra. Mawar mau yang pertama dilihat anak ini adalah dirinya mami baru Bivendra.


Mawar mengecup pipi Bivendra lembut berulang kali buat anak itu kegelian. Alarm yang menyenangkan hati.


Mawar menyibak selimut mengusik tidur anak ini. Waktunya bangun untuk sarapan lanjut ke sekolah.


"Selamat pagi sayang!" sapa Mawar halus.


Bivendra menggerakkan badan masih enggan turun dari tempat tidur. Bivendra bukannya bangun melainkan merentangkan tubuh di atas kasur sambil bergoyang-goyang.


Mawar menanti dengan sabar apa yang diinginkan oleh gadis muda ini. Masih mau jadi ulat malas atau segera bangun songsong hari baru bersama mami baru.


Bivendra tersenyum beri semangat pada Mawar untuk jadi mami lebih baik lagi.


"Mami cepat sekali bangunnya?"


"Iya dong! Mami kan tak boleh kalah sama anaknya. Mami sudah sediakan sarapan lezat.


Ayo mandi dan kita sarapan bersama papi!" Mawar menepuk pantat Bivendra layak mami lain.


Bivendra terkekeh merasa aneh pagi ini ada yang layani dia. Biasa Bibik teriak bangunkan dia kejar waktu ke sekolah.


"Terima kasih mami!"


Mawar tunjukkan ibu jari serta jari telunjuk bentuk tanda cinta ala remaja kekinian. Bivendra tertawa sampai terguling-guling di kasur. Bivendra tak sangka Mami yang dia anggap kolot itu mempunyai pergaulan cukup luas. Tahu juga kode anak muda masa kini.

__ADS_1


Mawar melanjutkan tugas sebagai seorang Mami mengeluarkan baju seragam Bivendra dari lemari pakaian. Mawar sengaja melaksanakan tugas sebagai Mami yang baik biar Bivendra tahu kalau masih ada yang menyayanginya.


"Sayang... Mami sudah sediakan pakaianmu. Kalau sudah selesai mandi segera turun ke bawah ya! Jangan lupa bawa tas sekalian!"


"Siap mami..." Bivendra segera bangun melaksanakan perintah Mawar. Bivendra juga tak ingin banyak bertingkah karena takut Mawar kecil hati.


Mawar menyibukkan diri berperan sebagai isteri yang baik. Melayani anak dan suami dengan sepenuh hati. Pokoknya pada pagi itu Joko sekeluarga dihinggapi oleh rasa bahagia. Kekelaman yang selama ini menyelimuti keluarga Jokowi berpencar menyisakan cahaya terang. Mawar lah pelita yang menerangi rumah kelam itu.


Joko meminta Anwar mengantar anaknya ke sekolah karena dia harus mengejar waktu mengantar mertuanya pulang ke kampung. Hari ini hari terakhir keluarga Mawar berada di kota ini.


Joko dan Mawar luangkan waktu antar mereka sampai ke bandara. Selanjutnya tinggal menunggu kabar dari Bu Hanif kapan resepsi pernikahan Mawar dan Joko akan dilaksanakan.


Joko dan Mawar akan pulang ke kampung untuk ikuti semua adat pernikahan daerah Mawar. Mawar percayakan semuanya pada Bu Hanif sebagai orang yang dia tua kan.


Keluarga Mawar diangkut menggunakan mobil bus mini karena mobil Joko tidak bisa menampung mereka semua. bawaan Bu Hanif dan Bu Hari agak banyak karena hadiah dari Joko sewaktu belanja di pusat perbelanjaan. Untunglah gunakan pesawat pribadi, kalau pulang dengan pesawat komersial pasti akan dikenakan biaya bagasi lumayan banyak.


Keluarga Mawar sudah menunggu di lobby hotel untuk bertolak kembali ke kampung halaman. Semua nampak sumringah kecuali Bu Tiara dan Ayumi. Kedua wanita ini merasa menyesal tidak ikut Joko pergi jalan kemaren. Bu Hanif dan Dahlia mendapat hadiah luar biasa yang harganya tidak sedikit.


Mawar menyalami keempat orang tua itu satu persatu dengan sopannya. Mawar tidak akan melupakan jasa para orang tua walaupun mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari Bu Tiara.


"Hei Mawar... kamu ini pilih kasih ya? Kenapa mak tuo dan Dahlia mendapat hadiah perhiasan sedangkan ibu dan Ayumi tidak mendapat." semprot Bu Tiara pas Mawar sedang menyalami dia.


Mawar tak bisa menjawab karena semua ini bukan salah dia. Bu Tiara sendiri tidak mau ikut walaupun sudah diajak. Apakah ini masih menjadi kesalahan Mawar? Mawar mana berani sembarangan memberi mereka hadiah tanpa seizin Joko.


"Bu... kemarin ibu kan tidak mau ikut. Aku juga tidak tahu kalau mas Joko akan bawa kami ke toko perhiasan." kata Mawar sabar. Selain sabar Mawar bisa lakukan apalagi hadapi Bu Tiara yang sangat egois.


"Kamu kan bisa ambil berapa buah untuk Ibu. Dasar kamu pelit!" Bu Tiara tak mau terima salam dari Mawar.


Bu Hanif yang melihat kelakuan adik iparnya merasa sangat geram. Kemarin ditawarin jalan-jalan dia menolak. Begitu mengetahui mereka mendapat perhiasan emas muncul pula sifat syiriknya.


"Bu...Mawar mana berani minta! Itu pemberian Mas Joko kepada Mak tuo dan Kak Dahlia. Aku sama sekali tidak tahu menahu soal harga perhiasan."


Kedua cincin itu sangat berarti bagi Mawar. Tak satupun bisa Mawar berikan karena itu pemberian orang yang sangat berarti.


"Bu itu cincin nikah Mawar. Mana boleh diberikan pada orang lain?" Dahlia cepat memotong perkataan ibunya yang ingin menyudutkan Mawar.


Sejahatnya Dahlia masih mempunyai sedikit hati nurani untuk melindungi Mawar dari serangan ibunya. Cincin nikah mana boleh pindah tangan karena mawar masih menjadi istri Joko. Menghilangkan cincin kawin sama saja menghilangkan harga seorang suami.


"Itu ada dua. Satu untuk ibu kan boleh."


"Bu...kedua cincin ini tak boleh lepas dari jariku. Satu dari mas Joko dan satunya lagi dari Bivendra. Nanti kalau aku ada rezeki aku akan membelinya untuk ibu." janji Mawar biar Bu Tiara tak bikin malu keluarganya.


"Ok...berikan uang sebanyak harga gelang tangan Mak Tuo. Di situ tercantum harga tiga ratus enam puluh juta. Ayok kasih!"


Bu Hanif geram dan malu pada Bu Tiara yang merongrong Mawar hanya karena seuntai gelang dari Joko. Dari mana Mawar mendapat uang sebanyak itu dalam tempo singkat. apa Mawar harus menodong Joko ataupun merampok bank?


"Woi Tiara...punya otak dikit. Uang segitu bukan jumlah kecil. Dari mana Mawar dapat uang segitu banyak?" semprot Bu Hanif sudah tak sabaran lihat tingkah Bu Tiara.


"Apa pula dapat suami kaya? Uang segitu saja tak punya. Rugi jadi istri orang kaya kalau tetap miskin." Bu Tiara melengos lempar pandangan sinis.


Mawar hanya bisa menghela nafas tak tahu sampai kapan Bu Tiara akan mengusiknya terusan.


Joko telah kembali ke lobby setelah mengurus semua administrasi hotel. Joko tetap harus bikin hitam putih untuk pembukuan walaupun hotel itu miliknya. Joko harus jadi contoh bagi pegawai agar tidak berbuat curang.


"Semua sudah selesai. Kita berangkat ke bandara." ajak Joko dengan sumringah. Hati Joko sedang bahagia mendapat isteri baik walaupun orang tua kandung Mawar tidak seramah yang dia bayangkan.

__ADS_1


"Nak Joko..ibu mau tanya." Bu Tiara maju ke depan halangi langkah Joko yang ingin keluar dari lobby hotel menuju ke mobil.


"Ya Bu? Ada yang bisa kubantu?"


"Ibu mau tanya mengapa kamu hanya beri perhiasan pada Mak Tuo Mawar. Mama jatah ibu?" Bu Tiara bertanya tanpa malu-malu.


Joko terdiam sejenak lupa kalau wanita ini agak sirik. Joko sendiri melupakan Bu Tiara karena tidak ikut ke toko perhiasan. Joko mana tahu Bu Tiara juga pingin perhiasan.


"Oh itu...aku minta maaf! Berhubung kemarin Ibu tidak ikut maka aku pikir Ibu tidak menyukai perhiasan. Nanti kalau aku pulang ke kampung mawar aku akan membawakan untuk ibu." janji Joko tak mau mempersulit Mawar yang pasti jadi bahan amarah Bu Tiara.


"Nak Joko janji? Ibu mau gelang seperti punyaan Mak Tuo. Jika perlu yang lebih mahal lagi."


"Baik Bu...kita berangkat sekarang karena jadwal kita sudah dekat. Silahkan!"


Pak Hari malu bukan main pada tingkah isterinya yang tak kenal kata malu. Mungkin waktu lahir Tuhan lupa tanamkan kata malu dalam diri wanita itu. Semua tingkahnya bikin malu keluarga. Dari tangan Riyan sampai ke Joko.


Pada akhirnya semua berangkat ke bandara. Mawar satu mobil dengan Joko sementara yang lain naik bus yang disediakan oleh pihak hotel berupa bis mini untuk angkut para tamu.


Mawar menunduk malu pada Joko. Tingkah Bu Tiara telah merusak hari bahagia mereka. Bagi Mawar itu satu pukulan sedangkan bagi Joko itu hanya selingan guncang sedikit kesabaran mereka.


"Maafkan ibu ya Hubby!"


Joko ulurkan tangan mengelus hijab di kepala Mawar. Joko sedikit pun tidak menganggap itu satu masalah besar. Beda dengan Mawar yang tidak terbiasa memaksa kehendak pada orang lain.


"Semua ibu-ibu selalu gitu. Dulu mantan mertua aku lebih parah lagi. Setiap hari minta uang hanya untuk foya-foya. Pertama-tama dia patok setiap hari uang jajan dia harus ada 10 juta. Beliau pikir aku ini perampok bank yang bisa hasilkan uang satu hari puluhan miliar." ujar Joko sambil mengarahkan mata lurus ke depan.


Mawar menyimak cerita Joko tanpa berani berkomentar karena itu adalah masa lalu Joko. Mawar tidak berhak memberi satu kalimat pun karena ini menyangkut kehidupan Jokowi di masa lampau.


"Kenapa diam?"


Mawar angkat kepala menatap lelaki yang telah menjadi suaminya. "Aku tak tahu harus omong apa."


"Iya...kau tak tahu ceritanya. Sikap ibumu tidak seberapa bila di banding ibu mami Endra. Ya sudah kita tidak usah cerita hal-hal yang buruk! Kita cerita kisah kita saja."


Mawar tersenyum. "Iya hubby!"


"Aku pingin cepat punya anak lagi. Kalau bisa anak cowok biar bisa jaga kamu dan Endra."


"Idihhh...apa langsung jadi?"


"Jadi dong! Aku akan rajin lembur supaya perutmu cepat diisi. Setahun satu juga tak apa."


"Setahun satu? Apa ngak salah?" Mawar kaget dapat orderan anak segitu banyak.


Joko terbahak-bahak lihat Mawar terperangah kaget. Mawar anggap itu permintaan konyol. Tapi Mawar juga tak bisa ngelak bila memang Joko ingin begitu.


"Ya ampun nyonya! kau pikir otakku sudah korslet? Aku mana tega lihat kamu kecapean urus selusin anak. Cukup satu bila dapat anak lelaki. Kita sudah punya Bivendra."


"Gimana kalau cewek lagi?"


"Tak apa...kita coba lagi! Jangan jadikan beban! Jalani semua nikmat dari Tuhan. Janjilah padamu tetap bahagia!"


"Amin.."


"Besok aku mulai masuk kantor. Aku harus selesaikan pekerjaan sebelum ambil cuti panjang. Kau tak apa sendirian di rumah?"

__ADS_1


"Kan ada Bibik..dan aku tak setuju kita terlalu lama di kampung. Biven sekolah."


Joko kembali tersentuh Mawar mementingkan anaknya dari pada liburan panjang di kampung. Biasa wanita kan senang lama-lama liburan di tempat asalnya. Mawar memikirkan kepentingan Bivendra.


__ADS_2