
Di tengah rasa suka cita tiba-tiba ada suara motor berhenti dekat mereka. Serentak keempat orang yang masih bersuka cita menoleh ke arah suara motor digas agak kencang cari perhatian orang.
Rizky dan Arsy kontan pasang wajah jutek tak senang ada orang lain ganggu acara keluarga mereka.
Dahlia turun dari motor berjalan dengan sedikit susah karena gunakan sandal hak tinggi. Di pasir pakai sandal berhak tinggi sama saja cari malu sendiri.
Dengan langkah terseok-seok janda muda itu hampiri Riyan dan kedua anaknya serta Mawar. Dahlia lempar pandangan tak suka pada Mawar sekilas lalu pasang raut wajah semanis mungkin goda Riyan.
"Bang Riyan pergi kenapa tidak ajak Dahlia?" tanya Dahlia kenes ambil tempat duduk di samping Riyan. Riyan meringsut jauhi Dahlia yang terlalu agresif. Riyan betul-betul ilfil pada Dahlia. Bukan dari segi fisik tapi dari tingkah laku Dahlia tak tahu malu.
"Kami yang ajak papa! Dan lagi ngapain harus ajak Tante? Tante kan bukan siapa-siapa kami." si irit bicara Arsy lontarkan kalimat tak bersahabat pada Dahlia. Arsy nyatakan perang pada Dahlia. Dari awal Dahlia sudah intimidasi anak Riyan maka mereka sangat tak suka pada Dahlia.
"Hei anak kecil...aku ini adik mama kalian! Aku ini yang akan rawat kalian hingga dewasa kelak."
"Tidak usah...kami sudah punya mama Mawar. Kami sayang kok sama mama baru kami. Kami tak suka pada Tante judes." balas Arsy tak kalah jutek.
Dahlia besarkan mata Arsy sudah klaim Mawar sebagai mama baru mereka. Apa Mawar sudah terima lamaran Riyan? Kepala Dahlia mendadak sakit akibat Arsy akui Mawar sebagai mama. Kesempatan dia duduk di posisi Yenni makin menjauh. Dahlia tak punya apa-apa bisa dibanggakan kecuali mulut tajam.
"Bang...kau akan nikahi Mawar?" Dahlia berbalik tanya pada yang empunya rencana nikah.
"Insyaallah aku akan segera halalkan dek Mawar! Malam ini aku akan datangi ayah kalian untuk melamar Mawar secara resmi." ujar Riyan yakin tak salah memilih Mawar.
"Apa hebatnya Mawar? Jadi simpanan kepala sekolah." Dahlia menuding Mawar berbuat serong tanpa pikir bagaimana perasaan Mawar dituduh yang bukan-bukan.
"Ya Allah kak! Teganya kau fitnah aku! Kakak boleh hina aku tapi jangan bikin fitnah tak ada bukti! Kakak bisa dituntut kepala sekolah kami." Mawar langsung berdiri marah difitnah Dahlia tanpa alasan pasti.
"Aku dengar dari gosip para guru. Kau sering berduaan dengan kepala sekolah."
"Baik...kita pergi ke guru yang kasih berita! Kita ajak jumpa kepala sekolah bincangkan hal ini. Jangan asal ngomong sesuka hati! Ini akan dibawa ke dinas pendidikan! Guru yang sebar fitnah juga kakak penyebar gosip akan diajak bicara." ujar Mawar terpancing emosi. Mawar marah tapi nadanya seperti orang lagi ngobrol.
Dahlia tak pernah melihat Mawar semarah ini. Biasa dia ejek apa saja dianggap angin lalu oleh Mawar. Tak sekalipun Mawar melawan semua ocehan Dahlia. Tapi ini sudah menyangkut fitnah hebat maka harus diluruskan apalagi Dahlia omong di depan Riyan. Gimana kalau Riyan percaya ocehan Dahlia.
"Aku cuma dengar sekilas. Aku tak tahu itu benar atau tidak." lirih Dahlia mulai takut kesandung kasus. Ini bisa melebar mana-mana karena menyangkut nama baik banyak orang.
"Mumpung belum magrib kita ke rumah orang yang sebar gosip. Ayok kak! Kebenaran harus diungkap agar jangan ada korban fitnahan!" Mawar mengajak Dahlia pergi dengan suara datar. Riyan tahu Mawar sedang menahan emosi agar jangan meledak. Kasihan Mawar kalau selalu jadi korban fitnahan Dahlia. Bagus juga beri pelajaran pada wanita itu agar jangan sembarangan bicara.
"Sibuk sekali kau ini! Kalau merasa tidak terbuat ya sudah! Untuk apa cari orang sana sini! Mau pamer kau ini perempuan baik-baik?" semprot Dahlia tidak peduli perasaan Mawar terluka dituduh berbuat yang tidak-tidak.
"Bukan soal pamer kak! Berita yang tak ada jangan dibuat-buat! Orang tak bersalah jadi korban. Gimana kalau isteri kepsek percaya berita ini? Bukankah merusak rumah tangga orang lain? Kakak pikir secara waras. Sekarang kita pergi! Bang Riyan juga harus ikut biar tahu kebenaran berita ini." Mawar menarik tangan Dahlia dengan kuat. Dahlia menatap Riyan meminta bantuan. Dahlia sudah ketakutan karena semua ini hanya karangan dia untuk jelekkan Mawar di depan Riyan. Dahlia tak sangka Mawar akan marah. Biasanya gadis ini cuek walau dibilang apa saja.
"Bagusnya memang jumpa orang bawa berita supaya jelas! Aku juga mau tahu gimana sosok calon isteri aku!" ujar Riyan kalem. Laki ini sudah duga Dahlia tak berani pergi karena itu semua tak ada dalam alam nyata. Hanya karangan Dahlia.
"Aku lupa siapa yang bawa gosip. Aduh Mawar! Hanya soal kecil kau besarkan. Dasar tak tahu malu."
"Kak...ini bukan soal kecil tapi sangat besar! Ini menyangkut harga diri dan nama baik seorang manusia. Jadi kakak anggap ini lelucon? Kakak jangan kelewatan!" Mawar tampak beneran marah pada Dahlia. Pipi Mawar bersemu merah menahan emosi. Dapat dibayangkan betapa sedihnya Mawar dianggap perempuan gampangan.
__ADS_1
"Bang...lihat Mawar! Baru dibilang dikit susah ngamuk! Apa dia pantas jadi mama anak-anak kita?" Dahlia merangkul lengan Riyan dengan manja.
Ntah siapa yang tak tahu malu? Mawar atau Dahlia. Sudah sebar fitnah lalu berbuat seolah dia korban dari amarah Mawar.
"Dahlia...Mawar itu benar! Apa yang kau katakan itu merusak nama baik seseorang. Gimana kalau aku salah sangka kira berita itu betul? Bukankah merugikan Mawar?" Riyan menasehati Dahlia sadari kesalahan. Fitnah orang tanpa bukti jelas merupakan dosa tidak terampuni. Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
"Bukankah itu sangat bagus abang tidak suka pada Mawar?"
"Jadi berita itu karangan kamu?" tanya Riyan agak kesal Dahlia tega fitnah adik sendiri cari keuntungan.
"Iya..eh bukan..!" sahut Dahlia gagap.
Riyan tak perlu cari kebenaran lagi. Semua ini pasti karangan Dahlia untuk kucilkan Mawar. Riyan bukannya simpatik pada Dahlia malah makin jijik pada kelakuan wanita yang disebut kakak oleh Mawar.
"Dahlia...Kau pulanglah! Jangan merusak hari baik kami! Aku lebih percaya pada Mawar daripada gosip murahan." ujar Riyan mulai tak bersahabat.
Kini Riyan mengerti mengapa Yenni memilih Mawar untuk ganti posisi dia di rumah tangga mereka. Yenni sudah hafal sifat adik-adiknya baru ambil keputusan bikin surat wasiat minta Riyan nikahi Mawar.
"Abang tak suka pada Dahlia?"
"Aku suka pada setiap anggota keluarga tapi rasa suka aku pada Mawar berbeda. Aku suka dia dalam arti ingin memiliki. Dia cocok jadi mama dari kedua anakku. Mereka juga suka pada Mawar. Maafkan aku bila telah memilih Mawar untuk menjadi ibu sambung anak-anak."
Dahlia bangkit dari tikar menatap Riyan dengan marah. Dahlia tak terima ditolak langsung oleh Riyan. Belum nikmati kebersamaan sudah tak dianggap sebagai kandidat gantiin Yenni. Dahlia merasa dia jauh lebih baik dari Mawar yang tak punya apa-apa.
"Kau akan menyesal bang! Aku pergi!" Dahlia pergi dengan langkah terseok akibat sandal tinggi susah berjalan di atas hamparan pasir.
Mawar menghela nafas gundah dengan sikap Dahlia suka main fitnah orang. Dia pikir Mawar takkan melawan dikatain perempuan murahan. Kali ini Mawar tidak tinggal diam dihina terusan oleh Dahlia.
Riyan ngerti perasaan kesal Mawar. Laki ini yakin Mawar bukan orang gitu. Dekat lelaki saja mau ambil separuh nyawanya. Gimana mau selingkuh?
"Tak usah pikirin dek Mawar! Abang percaya kamu bukan orang gitu! Ayok kita main ke pantai lagi!" hibur Riyan berusaha kembalikan keceriaan Mawar.
"Iya ma...ayok!" Arsy menarik tangan Mawar untuk berlari ke pantai lagi. Usaha Dahlia menjelekkan Mawar tidak berhasil karena Riyan bukan laki bodoh gampang terpengaruh oleh ucapan orang sirik.
Mawar tak tega kecewakan Arsy terpaksa penuhi keinginan anak itu. Baju gamis Mawar langsung basah kena serpihan butiran pecahan ombak. Mawar tak peduli busananya basah asal anak-anak senang. Mereka tertawa sepanjang sore sampai senja perlahan memudar. Langit mulai temaram perlihatkan sisa cahaya matahari yang akan segera terbenam.
Satu keindahan yang dapat dilukis dengan kalimat. Andai ada pelukis pencinta alam pasti akan abadikan keindahan ini dalam kanvas.
Riyan mengajak kedua anaknya serta Mawar tinggalkan pantai penuh kenangan. Di sinilah kisah mereka di mulai. Mawar menerima pinangan Arsy untuk jadi mamanya. Arsy wakili Riyan melamar Mawar dan sukses.
Disingkat cerita Riyan dan Mawar akhirnya menikah secara sederhana di rumah pak Hari. Tak ada pesta lengkap selain ucap syukur dari keluarga akhirnya Mawar sah menjadi isteri Riyan gantiin Yenni yang telah duluan menghadap Yang Maha Kuasa.
Acara hanya dihadiri kerabat dekat untuk berkati pasangan baru ini. Semua puas Riyan memilih Mawar ketimbang dua kakak adik yang terkenal culas dan jutek. Hanya Tiara dan kedua anaknya tidak senang Mawar gantiin posisi Yenni. Seharusnya posisi ini ditempati oleh adik kandung Yenni. Mawar hanya adik tiri Yenni namun dapat kepercayaan duduk di tempat yang dulu milik Yenni.
__ADS_1
Acara sederhana ini turut mengundang puluhan anak yatim untuk diajak makan bersama sebagai syukuran atas pernikahan Riyan dan Mawar.
Mawar sangat cantik dalam balutan kebaya warna putih gading dengan kerudung senada sedangkan Riyan gagah dalam pakaian stelan jas warna hitam pekat dengan celana panjang sama warna. Mahar nikah Mawar hanya seperangkat alat sholat sesuai permintaan Mawar.
Kedua mempelai duduk bersanding di tempat disediakan berupa kursi berhias kain satin. Mawar asyik menunduk tak berani menatap Riyan yang sebentar lagi akan pindah tidur di kamarnya.
Membayangkan bersama Riyan saja bulu kuduk Mawar merinding. Hanya bayangkan saja sudah ketakutan, bagaimana bila nanti mereka berduaan dalam kamar.
Riyan tersenyum senang mendapat gadis Soleh ganti isterinya. Hidupnya kembali bergairah ada teman berbagi. Apalagi kedua anaknya juga suka pada Mawar.
"Nak Riyan..." panggil Tiara membuyarkan angan Riyan akan kenangan indah bersama Yenni.
"Eh ibu..ada apa?" tanya Riyan pelan karena suasana masih ramai. Sanak saudara masih kumpul cicipi hidangan yang disajikan.
"Bisa ikut ibu sebentar? Ada apa mau ibu omongkan di kamar Yenni."
"Ada pesan Yenni lagi?" tanya Riyan merasa tak enak tinggalkan pengantin wanita yang disebut dara Baroe di Aceh ini.
"Iya... sebentar saja!"
Riyan menatap Mawar minta pengertian ijin ditinggal sebentar. Mawar hanya tersenyum kecil tidak masalah ditinggal sebentar. Apalah artinya ditinggal sebentar karena kelak mereka akan bersama selamanya.
Riyan dan Tiara segera lewati para tamu menuju ke kamar Yenni sesuai permintaan Tiara yang merupakan ibunya Yenni.
Baru saja Riyan pergi tak lama terdengar teriakan histeris dari kamar Yenni. Semua orang kaget bergegas berlari ke kamar yang pintunya terbuka. Mawar juga kaget segera nyusul ke sana.
Semua terpana tak sanggup lihat apa yang ada di dalam kamar Yenni. Bahkan ada beberapa orang laki segera tinggalkan kamar Yenni pergi menjauh. Satu pemandangan mengerikan dipertontonkan dalam kamar.
Dahlia dalam kondisi telanjang bulat memeluk Riyan yang berpakaian utuh. Riyan berusaha mendorong Dahlia menjauh tapi perempuan itu memeluk Riyan seerat mungkin tak ijinkan laki itu pergi.
Mawar merasa malu lihat pemandangan ini pilih pergi keluar. Mawar tahu ini bukan keinginan Riyan tapi permainan Dahlia dan ibunya jebak Riyan dalam kondisi terjepit.
"Kau mau perkosa anak saya?" tuding Tiara sengaja besarkan suara agar didengar semua orang.
"Bukan bu! Bukankah ibu bilang ada pesan terakhir dari Yenni minta aku datang ke kamar ini? Kok jadi seperti ini?" tukas Riyan mendorong Dahlia sekuat tenaga. Riyan makin jijik lihat kelicikan Dahlia dan ibunya.
"Dahlia berpakaian dulu! Kita bicara di luar." kata pak Hari malu dengan kejadian ini. Pak tua ini bukannya tak tahu ini ulah Dahlia dan ibunya. Tapi pak Hari tak mungkin menuduh isterinya jadi dalang pengacau di depan saudara lain.
Pak Hanif dan isterinya geleng kepala tak paham mengapa Dahlia nekat permalukan diri sendiri berbuat nekat telanjang di umum. Sungguh strategi mengerikan.
Riyan dan Dahlia didudukkan di depan semua kerabat. Sementara Mawar pulang ke rumah sebelah jengkel dengan tingkah ibu dan kakak tirinya yang tak usai ganggu dia.
Dahlia tersenyum senang tujuannya telah hampir berhasil masuk ke dalam hidup Riyan. Malu sedikit tak apa asal berhasil membawa Riyan ke pelukan.
"Maaf nak Riyan.. katakan apa yang terjadi?" tanya pak Hanif selaku orang paling tua di keluarga.
__ADS_1
Riyan menelan air ludah banyak sebelum jawab. Penyesalan Riyan hanya satu percaya pada trik jahat Tiara dan anaknya.
"Tadi ibu bilang padaku ada sesuatu mau di bicarakan. Dia minta aku ke kamar Yenni. Begitu aku masuk Dahlia dalam kondisi tak berbusana memeluk aku. Dan ibu langsung teriak seolah aku mau lakukan sesuatu pada Dahlia. Mawar jadi saksi ibu minta aku datang ke kamar Yenni."