GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Orang Masa Lalu


__ADS_3

Wajah Bu Tiara dan Bu Hanif bak bulan purnama bersinar terang. Bersinar terang adem ayem tidak seperti cahaya matahari membakar kulit.


Justru Mawar yang merasa tidak enak hati kepada Joko. Belum apa-apa keluarganya sudah poroti harta Joko walaupun tidak sebanding dengan harta yang dimiliki oleh lelaki itu.


Acara jalan-jalan berakhir tatkala senja telah tiba. Mawar mengantar keluarganya kembali ke hotel milik Joko. Joko telah berpesan kepada pegawai di hotel agar melayani keluarga mawar dengan baik. Termasuk menyediakan makan malam untuk keluarga itu.


Setelah menurunkan keluarganya, Mawar dan Anwar kembali ke rumah Joko. Mawar masih mempunyai satu tugas yakni membantu Bivendra mengerjakan PR. Mawar sudah terlanjur janji kepada anak itu maka mawar tidak akan mengingkari janji.


Hari itu Mawar terpaksa sholat berjemaah dengan Joko dan Bivendra. Sejujurnya Mawar segan jadi jemaah Joko karena laki itu belum jadi muhrimnya. Tapi dia lakukan untuk beri contoh yang baik buat Bivendra. Keluarga ini sudah lama hilang pamor. Saatnya Mawar kembalikan cahaya keluarga sakinah.


Mawar membantu Bivendra kerjakan Pr barulah pulang diantar langsung oleh Joko. Pada kesempatan ini Joko ingin ngobrol empat mata dengan Mawar tentang rencana pernikahan mereka. Joko mau memberi Mawar satu kenangan tak terlupakan dalam hidup.


Jalanan masih ramai walau tidak macet. Masih banyak kenderaan lalu lalang menuju ke tujuan tersendiri. Mobil Joko berbaur dengan mobil lain menuju ke rumah Indy. Joko bertanggung jawab antar Mawar sampai ke tempat sebelum menjabat sebagai isteri Joko.


"Kau menyesal terima lamaran Bivendra?" tanya Joko memecahkan kebisuan antara mereka.


"Tidak...aku sudah janji pada Biven maka harus tepati janji. Sebelumnya aku mau minta satu hal dari bapak!"


"Kalau Endra dengar masih panggil bapak dia pasti tidak akan senang. Kamu harus biasakan dirimu memanggil aku dengan sebutan hubby."


"Iya hubby...rasanya kok aneh? Kenapa tidak mas, Abang ataupun Uda?"


"Itu permintaan Endra. Kau kan sudah sanggupi. Katakan apa keinginan kamu?"


"Kalau kita ada jodoh. Aku mau minta izin anak-anak pak Riyan datang boleh datang ke rumah kita. Mereka adalah anak-anak dari kakak aku. Aku tak bisa abaikan mereka."


"Cuma itu?"


"Ya cuma itu!"


"Kalau itu aku sanggupi tapi kuharap ada batasan antara kamu dan Riyan. Dia adalah mantan suami kamu. Kulihat dia masih mengharapkan kamu kembali ke pelukan dia."


"Aku tahu diri punya iman."


"Aku percaya. Kau mau pesta di kampung kamu?"


"Terserah hubby saja! Aku tak banyak minta." sahut Mawar tak punya banyak keinginan. Pernikahan pertama sudah menoreh luka mendalam. Mawar tak terlalu bermimpi jadi ratu sehari jadi bahan ejekan. Wanita yang kawin cerai bukan reputasi bagus.


Joko tersenyum kecil akhirnya Mawar keluarkan juga panggilan yang ditentukan Bivendra. Sungguh calon isteri baik. Patuh juga setia pada janji.


"Aku akan berembuk dengan keluarga kamu. Kita dengar pendapat mereka. Kau ingin apa? Cincin berlian?"


"Tak perlu...seadanya saja!"

__ADS_1


"Biarlah aku yang urus semuanya! Kau tak tanya tentang mendiang isteri aku?"


Mawar bukan tak mau tahu cuma tak enak bertanya. Siapa tak mau tentang isteri suami walaupun sudah meninggal. Paling tidak Mawar bisa belajar dari masa lalu isteri Joko.


"Aku tak punya hak tanya tentang almarhumah."


"Kau berhak tahu. Kita cari tempat ngobrol? Ini baru jam sembilan malam. Kita punya waktu satu jam untuk ngobrol."


"Mau ke mana kita?"


"Ada deh! Kujamin tak lama. Selesai ngobrol aku antar kamu pulang. Besok kau harus masuk kantor Indy. Jalankan tugasmu dengan baik!"


"Iya hubby.."


Joko suka sekali gaya Mawar jinak merpati. Namun bisa terbang tinggi jauhi manusia bila merasa terusik.


Joko mengarahkan mobil ke satu tempat. Mawar diam saja tak protes. Mawar yakin Joko tidak berniat buruk. Toh mereka akan segera menikah. Tak mungkin Joko berbuat nekat lakukan hal tak terpuji.


Joko mengajak Mawar ke tempat cukup romantis cafe bernuansa alam. Duduk di bawah atap langit alias tanpa bangunan maupun tempat teduh.


Meja dan kursi tersusun di alam terbuka. Cahaya juga dibuat agak tenang bikin suasana jadi romantis. Cocok untuk pasangan muda yang sedang memadu kasih.


Cuma kalau hujan tempat ini tak cocok jadi tongkrongan. Auto mandi hujan bila bumi diguyur hujan. Untunglah malam ini langit berhias bintang bonus bulan sabit. Ribuan bahkan jutaan bintang kelap kelip intip kegiatan manusia di bumi.


Joko tampaknya sering datang ke cafe alam ini. Buktinya dia sangat hafal seluk beluk cafe ini. Tanpa kesulitan dia bawa Mawar ke salah satu meja khusus untuk sepasang kekasih. Kursinya cuma dua.


Mawar mengitari matanya ke sekeliling. Ada beberapa pasangan duduk ngobrol mesra nikmati hembusan angin malam nan segar. Mereka tampak sumringah bahas cinta mereka. Mawar merasa tak punya kesempatan bahas soal perasaan karena dirinya juga tak tahu arti cinta sesungguhnya. Mawar akui sebelumnya dia sempat suka pada Riyan. Namun sayang Riyan padamkan rasa suka di hati Mawar dengan satu kata yakni talak.


"Mawar...ditanya kok melamun?"


Mawar tersipu ditegur oleh Joko. Gadis ini tersadar sedang duduk dengan lelaki lain. Bukan Riyan.


"Mau minum apa?" Joko ulangi pertanyaan sama.


"Oh maaf...yang hangat saja! Teh hangat?"


"Gimana kalau susu coklat? Ini akan buat tidurmu nyenyak nanti."


"Boleh..."


Joko melambai pada pelayan untuk menerima orderan Joko. Pelayan cafe hampiri mereka dengan sopan.


"Dua gelas susu coklat hangat." pinta Joko.

__ADS_1


"Ya pak...seperti biasa ya? Tidak pakai roti cabe susu?"


"Malam ini tidak..."


"Ok...dia gelas susu coklat!" pelayan itu tersenyum penuh arti pada Mawar. Mungkin sekedar salut pada penampilan gadis ini atau ada maksud terselubung lain.


Mawar merasa ada yang aneh pada senyum pelayan itu namun Mawar mencoba menepis segala bayangan buruk. Dia tak boleh curiga apa-apa. Dia telah ikhlas terima Joko maka harus sepenuh hati.


"Pikir apa? Kok melamun terus?" tegur Joko.


"Ach tidak..."


"Baik...kita mulai dari kisah hidupku yang berantakan. Orang tuaku telah meninggal lima tahun lalu karena kecelakaan pesawat. Mereka tidak tinggal di sini melainkan di Swiss. Mamaku orang Swiss. Aku menikahi Suci sepuluh tahun lalu di Swiss. Waktu itu aku tinggal bersama orang tuaku sedangkan perusahaan dikelola Abangku. Sewaktu Bivendra berumur lima tahun kami pindah ke Indonesia untuk bantu Abangku di perusahaan yang makin maju. Di sinilah mulai awal kehancuran keluarga aku. Suci ternyata main gila dengan Abangku tanpa sepengetahuan aku dan isteri Mas Jansen. Mereka seperti orang gila mulai unjuk gigi berani tampil berdua. Pada akhirnya keduanya nekat mau lari dari Indonesia." Joko menghentikan suara sejenak mengatur nafas agar tidak terbawa emosi.


Mawar menjadi iba pada lelaki ini. Tak disangka Joko yang begitu hebat punya masa lalu sangat kelam. Namun Mawar pilih tidak komentar. Sangat tidak sopan ikut campur urusan Joko.


"Pada malam mereka lari hujan lebat sehingga terjadi kecelakaan tunggal. Mobil mereka menabrak tebing masuk jurang. Mobil mereka terbakar dan keduanya tewas di tempat. Itu sudah terjadi tiga tahun lalu. Sejak itu dunia Bivendra jadi suram. Anak itu kehilangan gairah hidup. Bivendra bukan anak bodoh tak tahu apa-apa. Anak itu cerita kalau maminya dan Jansen sering nginap di hotel membawa dia. Alasan bawa Bivendra libur namun untuk berzinah. Beginilah kisah hidupku yang tragis! Kau tidak keberatan berjalan di samping aku kan?"


"Semua orang punya masa lalu. Anggap saja itu salah satu cobaan yang mesti bapak lalui. Aku tak punya banyak cerita. Bapak kan sudah tahu kisahku dengan Pak Riyan. Tak ada kisah manis."


Joko angguk maklum masalah Mawar dan Riyan. Memang tak ada yang perlu dibahas. Riyan saja yang tolol kena hasutan dari keluarga Mawar.


"Sekarang kita sudah tahu latar belakang masing-masing. Kita harus saling percaya dan terbuka. Apapun masalah kita bahas bersama. Jangan ada dusta di antara kita!"


Mawar tertawa dengar Joko sok puitis. Kata-kata itu tak cocok keluar dari mulut seorang lelaki. Pantasnya yang omong seorang wanita.


"Aku seorang wanita tak banyak minta. Aku cuma minta kesetiaan dan ketulusan. Cinta atau tidak bukan soal. Bukankah dulu bapak dan isteri bapak menikah karena cinta? Berapakah berat cinta kalian? Ringan seperti gas maka menguap seiring waktu."


Joko setuju ucapan Mawar. Dulu dia dan Suci bagai amplop dan perangko. Lengket tak bisa dipisah. Pada akhirnya memudar juga. Cinta mereka luntur sisakan kebencian dan dendam.


"Kakak ipar bapak di mana sekarang?"


Wajah Joko sedikit tegang Mawar colek soal kakak ipar Joko. Lelaki itu seperti berat cerita soal kakak iparnya. Apakah wanita itu juga tak masuk daftar orang bisa didekati Joko?


"Dia ada di rumahnya dong!"


"Kalian masih sering hubungan?" tanya Mawar ingin kepastian. Mawar tak mau tiba-tiba muncul duri di antara mereka. Mawar sudah lelah hadapi gelombang hidup gara orang ketiga. Dari ibunya sampai dengan dirinya. Mawar tak mau setiap hari bersedih memikirkan wanita lain dalam rumah tangga mereka.


"Ada juga sekali-kali jumpa sekedar silaturahmi."


"Di tempat inikah?"


Mulut Joko terbuka sedikit karena Mawar cepat tanggap dengan situasi. Mawar tak butuh jawaban pasti dari laki ini. Dari awal Mawar menangkap keanehan pelayan tadi. Dia seperti sangat kenal Joko dan kebiasaan laki itu pesan susu coklat. Joko pasti sering kemari bersama orang lain. Mawar menduga orang itu kakak ipar Joko.

__ADS_1


"Kita pulang saja! Aku sudah dengar cerita bapak tentang diri bapak. Tak perlu bangun kenangan di sini lagi." kata Mawar dengan ketusnya. Naluri Mawar menangkap ada signal tak beres antara Joko dan kakak iparnya.


Mawar tak mau terjebak lagi dalam satu ikatan yang kelak akan bawa derita panjang. Untunglah Joko mau jujur sehingga mata hati Mawar terbuka.


__ADS_2