GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Mulai Belajar


__ADS_3

Bagas mendelik niat baiknya dianggap sogokan agar serahkan Mawar pada Bagas. Mawar itu bukan barang tak bisa dioper sesuka hati.


Bagas malas ladeni anak tanggung yang masih labil. John pikir kisah hidup Mawar harus tamat di tangan anak itu. Mawar tak boleh bergaul dengan orang lain selain John. Pemikiran egois.


Bagas dan Mawar berangkat ke kantor sementara John dijemput bis pengantar murid sekolah yang disewa Indy antar jemput John. Indy cari yang paling efisien agar tidak ganggu tugas dia. Tamat SMP John harus berangkat ke Jerman lanjut sekolah di sana sesuai janji Indy pada mantan suaminya.


Sepanjang jalan menuju ke kantor hanya diisi oleh keheningan. Mawar tak banyak interaksi karena sadar yang berada satu mobil dengannya adalah bos dia sekarang. Mawar harus bersikap sebagai seorang bawahan. Tahu diri tak boleh angkuh walau dekat dengan keluarga bos.


Sekali-kali Bagas melirik ke wajah teduh Mawar. Hanya melirik tak berani lebih. Bagas tahu Adeeva bukan mereka yang cepat jatuh cinta pada gombalan seorang lelaki. Riyan yang lebih segalanya dari Bagas tak mampu ketuk pintu hati Mawar lagi akibat tak punya pendirian.


Gedung kantor Bagas sudah tampak dari jauh. Jantung Mawar berdetak lebih kencang karena tantangan sudah berada di depan mata. Mawar bukan takut tantangan kerja melainkan datang dari sesama rekan kerja.


Bagas seolah rasakan ketegangan Mawar. Bagas tak menyalahkan Mawar agak takut jadi orang baru di kantor. Belum apa-apa Naura telah menyerang Mawar. Sedikit banyak pengaruhi mental gadis cantik ini.


"Kau jangan grogi! Selalu ada yang pertama kali. Tak usah open kerja orang. Kamu fokus pada kerjamu saja."


Bagas melihat Mawar mengangguk kecil nyaris tak terlihat Bagas. Sikap ini tunjukkan Mawar ragu melangkah ke depan.


Mobil berhenti persis di depan kantor Bagas. Keduanya berdiam diri sebelum turun dari mobil. Masing-masing memikirkan apa yang bakal terjadi sebentar lagi. Harapan tentu saja semua dilancarkan. Mawar memanjatkan doa pada Ilahi agar semua dimudahkan.


"Yok turun!" ajak Bagas biarkan Mawar turun sebelum mobil di bawa ke parkiran khusus untuk bos.


"Bismillahirrahmanirrahim..." Mawar mengucapkan kalimat asma Allah. Selesai mengucap Mawar jejakkan kaki ke lantai teras kantor Bagas. Hari pertama kerja maunya diwarnai kegembiraan menyambut tantangan baru.


Bagas membawa mobil ke tempat parkiran tinggalkan Mawar mematung di depan pintu kantor. Satu persatu pegawai Bagas berdatangan sebelum kena absensi. Beberapa pasang menatap Mawar dengan tatapan heran. Ada seorang gadis berbusana alim turun dari mobil bos mereka. Siapakah gadis cantik berhijab ini.


Ini merupakan pemandangan langka di kantor ini. Pegawai rata-rata berpakaian ketat tampilkan yang terbaik dari sisi mereka. Sedang yang satu ini justru menutup diri dalam busana. By the way gadis menarik perhatian ini sangat cantik.


Bagas kembali hampiri Mawar setelah parkir mobil di tempat biasa. Bagas melangkah dengan gaya cowok maskulin tunjukkan sisi gagah seorang pria tulen. Pokoknya Bagas sedang tunjukkan pesona pria sejati.


Bagas memang keren melangkah gagah dibawah bias cahaya mentari masih bersinar ramah. Pantulan cahaya mentari menambah pesona cowok ini. Mawar akui pesona Bagas namun sayang hati Mawar telah tergembok untuk sementara waktu. Belum ada kunci mampu buka gembok itu.


"Siap?" tanya Bagas begitu tiba di depan Mawar.


Mawar mengangguk pasti. Dia harus yakin pada diri sendiri baru bisa yakin kerja dengan baik.


"Insyaallah pak Bagas!"


"Cepat amat perubahan panggilan! Kau tetap panggil mas Bagas saja! Aku merasa sangat tua dipanggil bapak. Ayok kita naik ke atas!" ajak Bagas berjalan masuk ke dalam kantor.


Mawar ikut dari belakang tahu diri tak berani jalan sejajar dengan bos. Tetap harus ada pemisah antara urusan pribadi dengan kantor.


Baru dua langkah keduanya injak kaki ke dalam kantor terdengar seruan cukup nyaring berkumandang.


"Tunggu aku!" seruan dari belakang.


Bagas dan Mawar menoleh secara serentak. Dari jarak tak begitu jauh Naura berjalan dengan anggun dengan high heels warna hitam berbusana super ketat warna kuning telor. Kuning sekali saingi cerahnya pagi ini.


Harum minyak wangi mahal Naura terbawa angin sampai ke hidung orang-orang sekitar wanita ini. Harum segar merangsang penciuman.

__ADS_1


"Tumben cepat datang?" tanya Bagas biasa saja tidak anggap penampilan Naura menggugah sukma.


"Datang lambat salah datang cepat juga salah. Hari ini kita ada rapat dengan klien jam sembilan. Di hotel dekat simpang sana." Naura ingatkan Bagas jadwal kerja laki itu hari ini.


"Iya aku ingat! Persiapkan semua materi. Oya Naura.. hari ini Mawar kerja. Kuharap kerja sama kalian. Kau bimbing Mawar ya!"


Naura menatap Mawar anggap remeh gadis berhijab ini. Dari penampilan saja Mawar sudah kalah total darinya. Apa yang mau dibanggakan gadis ini?


"Iya...kalau tidak berhasil jangan salahkan aku ya! Otak semua orang kan tidak sama. Takutnya karatan." sindir Naura.


Mawar diam saja tidak menyahut hinaan Naura. Biarlah Naura berpikir sesuka hati, Mawar cukup beri semangat pada diri sendiri. Asal percaya diri semua akan berjalan lancar.


Bagas yang tak enak pada Mawar. Pagi-pagi sudah disuguhi menu tak sedap. Semoga saja mental Mawar tidak down. Dijatuhkan sebelum bergerak.


"Ayok naik ke atas! Aku ada bawa kopi nikmat." Naura melengos bunyikan high heels sepanjang jalan porselin kilat. Bagas ikut bergerak beri kode pada Mawar untuk ikut.


Mawar mengerti segera angkat kaki telusuri jalan yang sama dengan jalan dilalui Naura dan Bagas. Mawar tidak keberatan jalan di belakang. Memang seharusnya dia di belakang karena statusnya hanya pegawai Bagas. Tak perlu kecil hati.


Naura pasti bukan sembarangan sekretaris. Buktinya dia bisa perintah Bagas sesuka hati. Hubungan mereka pasti bukan hubungan bos dan bawahan umumnya. Tapi itu tak penting bagi Mawar. Dia hanya perlu lakukan tugasnya sendiri.


Mawar sudah tahu di mana tempat kerja dia. Tanpa disuruh Mawar segera tempatkan diri di meja kerja sederhana. Tempat kerja Mawar di ruang terbuka bukan satu ruangan seperti Naura.


Mawar coba adaptasi dengan pekerjaan barunya. Pertama buka komputer pelajari apa isi dari komputer itu. Mawar belum mendapat tugas maka kutak katik komputer cari bahan tentang perusahaan ini.


Perhatian Mawar tercurah seratus persen pada layar monitor komputer sampai tak sadar Bagas sudah berada di depan meja kerjanya.


Bagas mendehem dua kali pancing perhatian Mawar. Cara Bagas memancing perhatian Mawar cukup ampuh. Seketika Mawar mengangkat kepala menatap Bagas yang berdiri cengar-cengir di depannya.


"Ada yang bisa kubantu Pak?"


"Kau bersiap ikut kami jumpa klien. Ini latihan buat kamu agar kelak tidak canggung lagi jumpa pelanggan kita." kata Bagas lembut seakan sedang bicara dengan anak kecil. Besar suara takut lukai anak itu.


"Apa aku bisa?" Mawar ragu pada kemampuan sendiri.


"Untuk saat ini kau cukup perhatikan saja. Pelajari apa yang mesti kamu pelajari biar suatu saat bisa mengganti Naura menemani aku jumpai klien." Bagas menerangkan dengan sabar. Mawar manggut anggap permintaan Bagas sebagai training awal Mawar di kantor Bagas.


"Iya pak! Aku siap."


"Bagus...bawa catatan dan catat biar ingat apa yang kau lihat! Dunia bisnis berbeda dengan dunia pendidikan. Tapi intinya tetap sama harus hadapi orang banyak."


"Iya pak. Aku ngerti. Kalau di mana aku tidak ngerti harap bapak beri pengarahan."


"Beres itu...selesai jumpa klien aku mau ke salon."


"Bapak mau pangkas rambut?"


"Bukan tapi semir rambut karena mendadak tua." kata Bagas menyindir panggilan Mawar yang tak berubah walau Bagas sudah bilang panggil Mas saja. Mawar tetap nekat panggil pak.


Mawar tersipu malu kena sindiran Bagas. Gadis ini merasa ini di kantor tak baik bawa suasana kekeluargaan. Orang bisa salah sangka hubungan mereka.

__ADS_1


"Iya mas."


"Gitu dong! Batal jadwal ke salon. Mendadak muda lagi." Bagas melangkah pergi dengan hati puas.


Mawar tertawa sendiri lihat betapa konyolnya Bagas. Di kantor masih juga bercanda. Kalau cuma di antara mereka berdua tidak ada masalah tetapi bila berada di tempat umum Mawar harus hati-hati menjaga sikap.


Naura datang dengan suara khas sepatu berdetak sepanjang jalan keramik granit. Iramanya monoton bunyi tak tuk beri isyarat Naura sedang lewat.


Naura hanya melempar pandangan tajam ke arah Mawar lalu masuk ke ruang kerja Bagas tanpa ketok pintu.


Inilah istimewanya Naura bagi Bagas. Wanita ini leluasa keluar masuk ruang kerja Bagas tanpa perlu minta izin. Mawar tidak perlu pikir apapun hubungan kedua orang itu. Mawar cuma perlu pekerjaan untuk menyambung hidup di kota besar ini.


Mawar kembali pusatkan pandangan ke arah monitor. Ntah apa yang dicari Mawar di layar benda canggih ini. Mawar sedikitpun tidak ingin ikut campur urusan Bagas dan Naura.


Tak lama berselang Naura dan Bagas keluar dari balik ruang Bagas. Kali ini di tangan Naura sudah ada satu blok file serta laptop tipis.


"Kau yakin Mawar bisa ikuti pertemuan kelas tinggi ini?" tanya Naura anggap remeh Mawar.


Mawar bukan insinyur seperti Bagas dan Naura maka tidak akan mengetahui seluk beluk pekerjaan maka sesungguhnya. Mawar masih harus banyak belajar untuk memahami pekerjaan Bagas.


"Aku mengajak mawar harga dia tahu bagaimana cara menghadapi klien. Mawar cukup mendengar dan menyimak apa yang terjadi di tempat. Ayo kita segera cabut kalau tidak mau terjebak dalam kemacetan."


Naura masih ingin protes namun Bagas telah melangkah pergi tanpa peduli Naura yang ngambek karena mengajak Mawar. Selalu saja ada orang tak senang melihat orang lain maju ke depan. Sifat syirik dan dengki merajalela di dalam hati Naura. Ntah apa yang membuat Naura tidak menyukai Mawar pada pandangan pertama. Padahal Mawar biasa-biasa saja tidak mencari perhatian siapapun.


Bagas sendiri bawa mobil tanpa gunakan jasa supir kantor. Bagas tak ingin laki lain dekat dengan Mawar yang perlahan telah curi hati Bagas.


Naura duduk di depan bersama Bagas seperti pasangan sejati. Satu ganteng dan satunya cantik berkelas. Mereka pasangan cocok di mata Mawar. Cuma sayang Naura sedikit egois. Kalau Naura tidak egois dia sangat sempurna sebagai seorang wanita. Sudah cantik dan pintar pula.


Bagas membutuhkan sosok wanita seperti Naura untuk dampingi dia meraup rezeki di dunia bisnis. Beda dengan Mawar yang lebih utamakan keluarga. Mencari rezeki hanya untuk menyambung hidup.


Mawar diam seribu bahasa biarkan Naura kuasai Medan percakapan. Ikut nimbrung Mawar juga tidak paham arah pembicaraan dua orang ini. Lebih baik diam saja menikmati pemandangan kota yang didominasi gedung pencakar langit. Betapa maju kota J. Tidak kalah dengan negara maju lainnya.


Di kota Mawar bangunan paling tinggi cuma lima lantai. Itupun bukan gedung kantoran melainkan penduduk yang bangun penakaran sarang walet. Hampir setengah kota Mawar di bangun bangunan tinggi untuk jadi rumah walet yang hasilkan sarang walet seharga puluhan juta. Sarang walet terbuat dari air liur walet yang konon katanya sangat berkhasiat untuk kesehatan.


Mawar asyik melamun sampai tak sadar sudah sampai di tempat tujuan. Mereka berhenti di gedung mewah yang Mawar duga itu hotel bintang lima. Orang kaya memang beda. Bicara bisnis saja di hotel mahal. Nginap salam di sana bisa jadi uang makan Mawar selama sebulan. Jangan berharap tidur di hotel mahal, bermimpi saja tidak diijinkan.


"Mawar...kok melamun?" tegur Bagas pelan bikin Naura keki Bagas sangat lembut pada Mawar.


"Ngak mas...cuma kagum pada kemajuan negara kita. Sudah sampai ya?" sahut Mawar tetap pada standar suara halus mendayu.


Naura besarkan mata dengar Mawar memanggil Bagas dengan sebutan Mas. Ini bukan standar pegawai dengan majikan. Apa hubungan kedua orang ini sampai begitu dekat tidak selipkan kata Pak atau tuan di dalam kantor.


Naura ingin bertanya tapi segan. Bagas sudah bilang Mawar adik angkat Indy mungkin saja panggilan itu berasal dari hubungan keluarga. Tapi dalam suasana kantor tetap tak pantas panggil Mas. Itu hanya buat di rumah.


Tanpa banyak bicara ketiga orang ini segera masuk ke hotel di mana klien sudah menunggu. Mereka harus duluan tiba jangan sampai didahului klien. Tak mungkinlah klien menunggu kita.


Untunglah orang yang dimaksud belum datang. Bagas menarik nafas lega masih bisa rileks nunggu klien. Mawar dan Naura duduk di samping Bagas sebelum klien datang. Naura buka file persiapkan segalanya tanpa harus buat klien menunggu. Ini sikap profesional seorang sekretaris sejati. Kapan Mawar bisa selihay Naura bantu Bagas. Mungkin butuh waktu bertahun.


"Mawar... temani aku ke toilet sebentar!" tiba-tiba Naura bangkit dengan sombong melangkah tanpa menunggu jawaban Mawar.

__ADS_1


Mawar terpaksa ikut demi mencari damai. Berseteru antara sesama rekan kerja bukan harapan Mawar. Dia dan Naura maunya berteman baik untuk bantu Bagas dalam kelola perusahaan. Tapi belum apa-apa Naura sudah lempar bom permusuhan. Mawar tak tahu apa dia bisa bertahan di tempat Bagas atau tidak.


Naura bukan masuk ke dalam toilet melainkan balik badan menantang Mawar. Wanita itu memeluk tangan berdiri angkuh menghadap Mawar. Sikap musuh abadi.


__ADS_2