
"Hei dengar ya kau perempuan kampung! Bagas itu milik aku. Di jidat Bagas sudah ada stempel nama Naura. Kau tidak perlu sok-sokan mau rayu Bagas. Kau akan hidup dalam neraka bila berani lawan aku." ujar Naura garang anggap Mawar itu rival besar.
"Astaghfirullahaladzim Naura..aku ini datang untuk bekerja! Aku bukan orang kaya macam kalian. Setiap apa yang kukerjakan tidak akan melanggar norma." Mawar membela diri dengan suara pelan. Membela diri dengan suara seperti tiupan angin mamiri siapa bakal takut.
Ada seorang lelaki hendak keluar dari toilet pria menunda langkah tatkala lihat seorang wanita berkelas bully seorang gadis berhijab. Sepasang mata elang itu menatap tajam ke arah Naura dan Mawar dari balik pintu toilet yang tidak tertutup. Laki ini dengan leluasa intip apa yang terjadi. Laki ini belum beranjak mau lihat apa kelanjutan pertengkaran ini.
"Kuingatkan kamu untuk segera pergi dari hidup Bagas. Kau tak pantas dampingi Bagas. Lihat cara dandan kamu! Persis orang dari pelosok desa. Dasar kampungan!" Naura menarik kerudung Mawar hingga terlepas dari kepala Mawar.
Tanpa sadar Mawar menjerit kecil berusaha melindungi hijab dan rambutnya. Sebagai wanita muslim pantang perlihatkan aurat bagi lelaki. Untung di sekitar situ tak ada orang. Kalau tidak betapa malu Mawar seakan telah ditelanjangi Naura.
Mawar segera meraih hijabnya menutup rambut hitamnya agar tidak terlihat lebih jauh.
Naura tertawa sinis kira Mawar hanya sok alim. Dasarnya juga rubah perayu pria kaya. Dari desa datang ke kota tentu cari laki kaya untuk jadi mangsa. Lain apa lagi.
"Mulai besok kau tak boleh datang ke kantor lagi. Katakan kau tak bisa kerja! Kalau tidak akan kuhabisin kamu!" ancam Naura dengan kejam tanpa belas kasihan.
"Naura apa sih mau kamu? Aku datang murni butuh pekerjaan. Siapa merayu pak Bagas? Dia itu adik mbak Indy. Aku harus hormat padanya."
"Peduli amat! Pokoknya mulai besok aku tak mau lihat wajahmu di kantor. Ingat itu!" Naura menunjuk jidat Mawar lalu melangkah pergi dengan angkuh.
Mawar menghela nafas keluarkan rasa sedih dalam dada. Mengapa sampai di manapun dia berada selalu saja ada yang ingin hidupnya berantakan.
Mawar mengelus dada sendiri agar sabar. Hidup di kota ini tidak semudah dia bayangkan. Banyak kendala berbaris di depan mata. Apa Mawar sanggup bertahan di rimba kota yang kejam.
Mawar tidak bisa berbuat apa-apa melawan senior. Gadis ini masuk ke dalam toilet untuk perbaiki hijab di kepala. Tak mungkin dia keluar dengan kondisi berantakan seperti baru jadi korban gempa bumi.
Sepasang mata elang mengintip bayangan Mawar yang telah masuk ke dalam toilet khusus wanita. Laki tinggi besar ini menggeleng lihat kekasaran wanita berkelas pada junior. Laki ini puji kesabaran wanita berhijab hadapi wanita brutal model Naura. Penampilan seorang ratu namun sifat orang kanibal.
Mawar berkali-kali ucapkan istiqhfar kuatkan diri agar tidak cepat menyerah pada ancaman Naura. Sangat tidak mudah dapat kerja harus musnah dalam sekejap akibat keegoisan saingan.
Mawar menyusul Naura kembali ke tempat jumpa klien. Wajah Mawar tidak secerah waktu pertama datang. Mendung tebal bergelayut di wajah teduh itu. Namun Mawar tidak melapor perbuatan kurang ajar Naura kepadanya. Makin dikorek luka akan makin dalam maka Mawar pilih bungkam.
Bagas tidak ngerti apa-apa hanya tersenyum senang lihat Mawar kembali setelah Naura datang.
"Pak Bagas..kliennya kok belum juga datang ya! Apa dia batal janji? Sudah kubilang jangan bawa orang kampung. Rezeki kita jadi seret imbas aura gelap orang udik." Naura berkata tajam melirik wajah kusut Mawar. Mawar tidak berani ikut duduk ingat ancaman Naura. Mawar bukan orang berkuku mampu lawan orang lebih kuat. Dia hanya seorang janda muda yang tak punya apa-apa selain iman.
"Jangan sembarangan omong kau Naura! Mawar bukan pembawa sial. Klien kita pasti datang." Bagas tegur Naura yang kelewat angkuh. Kalau bukan karena butuh suntikan dana dari keluarga Naura, sampai matipun Bagas tak mau dekat dengan gadis sombong itu.
Dari jauh seorang lelaki tinggi tegap berjalan dengan elegan hampiri meja Bagas dan Naura. Lelaki itu adalah orang yang intip tingkah Naura bully Mawar. Laki itu menatap Mawar sekilas lalu mengarah pada Naura.
Bagas segera angkat pantat dari kursi menyambut lelaki yang baru datang. Sikap Bagas sopan langsung kenali lelaki itu sebagai klien mereka.
"Pak Joko...apa kabar?" Bagas ulurkan tangan menyalami lelaki yang baru datang itu. Laki menyambut uluran tangan Bagas tanpa beri reaksi berlebihan. Gayanya cool bikin orang ikutan beku.
__ADS_1
"Baik...aku ingin tahu konsep kalian tentang pengajuan aku. Aku harus pelajari denah kalian dulu sebelum aku putuskan pakai jasa kalian." suara itu ngebas sangat jantan.
"Ach sudah kami siapkan gambar kami pak! Silahkan bapak lihat!" Naura mulai beraksi pasang gaya manja minta disentuh. Naura pikir laki ini bakal luluh dia gunakan bahasa tubuh cari perhatian klien. Kucing mana tak suka diberi daging lezat.
Naura anggap dirinya setumpuk daging segar goda kucing masuk perangkap. Sudah terlena lebih gampang digenggam.
Naura buka selembar kertas cukup lebar untuk dilihat laki itu. Ternyata gambar perumahan dengan aneka type. Laki itu meneliti setiap sudut gambar yang diberi Naura. Kening laki itu berkerut-kerut berusaha paham apa yang tertera di gambar.
Bagas menanti reaksi laki itu dengan hati kebat kebit. Ini satu proyek besar bila berhasil capai kesepakatan dengan orang bernama Joko itu. Joko terkenal sebagai pengembang properti cukup bernama di kota. Bisnisnya menggurita namun laki ini sangat tertutup mengenai kehidupan pribadi. Joko menutup rapat akses tentang keluarganya. Jadi lelaki ini termasuk lelaki misterius yang susah didekati. Tak pernah terdengar ada skandal di dalam kehidupan lelaki ini.
"Konsep kalian cukup bagus namun aku butuh detail isi dalam setiap type. Aku akan beri sedikit gambaran dan kalian boleh kembangkan sesuai pemikiran. Satu lagi. Aku harap nona ini yang jadi penghubung aku!" Joko memutar badan menunjuk Mawar yang berdiri mematung tanpa bisa beri saran karena itu bukan bidangnya.
"Dia?" seru Naura kaget Joko memilih Mawar sebagai duta kantor mereka jadi penghubung Joko. Dasar apa Mawar wakili kantor jadi penghubung. Mawar mana ngerti seluk beluk dunia pembangunan.
"Ya dia...aku tak suka pada orang suka gunakan kekuasaan menekan anak baru." suara dingin Joko bagai panggilan maut bagi Naura. Naura bukan orang bodoh tak tahu apa maksud omongan Joko. Dari sini Naura menduga Joko melihat kejadian di dekat toilet tadi. Naura kontan panas dingin hilang muka ketahuan berbuat jahat pada junior.
"Bukan gitu pak Joko! Mawar itu anak baru sok hebat! Aku sebagai senior hanya beri pengarahan." Naura buka kartu sendiri telah berbuat sesuatu pada Mawar.
Bagas yang tak tahu apa-apa melempar tatapan ke arah Naura ingin tahu apa yang sudah dilakukan wanita ini.
"Ada apa Naura?" Bagas pula cari tahu ada apa di balik sikap dingin Joko pada Naura.
"Tak ada apa pak! Hanya salah paham. Ya kan Mawar?" Naura tersenyum manis pada Mawar supaya gadis itu iyakan perkataannya.
"Baiklah! Aku kasih kesempatan pada kalian untuk beri konsep lebih jelas. Aku kasih waktu tiga hari. Kalau sudah selesai aku harap nona ini hubungi aku. Ingat cuma nona ini yang boleh hubungi aku." tegas Joko diiyakan oleh Bagas. Bagas belum jelas mengapa Joko blacklist Naura.
Yang penting dia harus dapatkan proyek ini agar tidak diserobot oleh perusahaan lain. Di jaman ini susah cari koneksi proyek. Pasaran lagi lesu kecuali mereka yang punya kelebihan dana berani bertaruh dengan keadaan. Bisa untung bisa juga rugi besar.
"Iya pak Joko...kami akan berusaha secepat mungkin hubungi bapak. Terimakasih telah beri kami kesempatan." Bagas bangkit berhubung Joko telah duluan bangkit ingin tinggalkan tempat mereka bahas pekerjaan.
Joko menatap Mawar yang lebih banyak menunduk ketimbang ikutan sok akrab dengan klien. Itu bukan cara tepat cari rezeki gunakan keintiman meraup keuntungan.
"Kalau ingin maju harus lebih kuat." kata Joko pada Mawar sebelum pergi tinggalkan kelompok Bagas.
Mawar tak berani beri reaksi karena masih ada orang lain di situ. Nanti dipikir Mawar mengadu pada Joko soal kejahatan Naura.
Mawar samasekali tidak kenal Joko. Jumpa baru kali ini mana mungkin mengadu yang bukan-bukan tentang Naura.
Dari balik kaca tembus pandang Mawar melihat lelaki tinggi itu pergi dengan mobil sangat mahal. Lelaki berkharisma tidak pecicilan lihat gadis cantik nan aduhai seperti Naura.
Sepeninggalan Joko, Bagas meminta Mawar ikutan duduk di kursi dengan kode tangan. Pertemuan singkat dengan Joko bawa makna sangat mendalam bagi Bagas. Dari Joko Bagas tahu telah terjadi sesuatu antara Naura dan Mawar. Secara gamblang Naura akui itu hanya salah paham.
"Ada apa antara kalian dua?" tanya Bagas.
__ADS_1
Mawar merasa lidahnya kelu untuk jawab. Bicara jujur belum tentu Bagas percaya padanya. Mawar memilih biarkan Naura karang cerita sesuka hati benarkan diri sendiri.
"Begini pak! Tadi kubilang pada Mawar agar berbuat sopan di depan tamu tapi dia melawan bilang itu bukan tamunya. Ya aku marah! Masak di depan tamu harus genit? Aduh pak.. Mawar sangat tidak cocok bekerja di kantor. Apa tidak lebih. baik kita bantu dia cari pekerjaan sesuai dengan pendidikan. Jadi guru privat ataupun guru di sekolah swasta." ujar Naura bernada rengekan.
"Naura...aku butuh Mawar untuk bantu aku. Walau dia guru tapi otaknya cerdas. Aku bisa bimbing dia nanti. Mawar itu urusan aku." Bagas patahkan keinginan Naura depak Mawar dari kantor. Sangat tidak mudah dapat gadis saleha mana mungkin Bagas mau lepaskan Mawar.
Naura mendecak kesal Bagas mulai membangkang permintaannya. Biasa Bagas akan turuti semua kemauan Naura asal salam koridor wajar.
"Terserah kamu! Cuma ingat jangan sampai kantor kita disangka kantor orang *******."
"Apa maksudmu Naura? Jangan ngoceh melebar ke mana-mana! Mawar itu anak baik dan sopan. Jangan menilai orang dari penampilan!"
"Tauk..pokoknya kamu akan menyesal nanti. Ayok balik ke kantor. Si Joko cuma kasih kita waktu sangat terbatas." ajak Naura malas berdebat dengan Bagas bila asyik bela Mawar.
"Ayok!" Bagas bangkit tanpa peduli pada Mawar dan Naura. Bagas kesal juga pada kedua cewek ini telah beri kesan buruk pada Joko. Yang satu garang dan satunya lemah.
Mawar menghela nafas sadar dia tak bisa bertahan di kantor Bagas. Mawar tak mau jadi batu sandungan bagi Bagas. Kalau Naura sangat penting maka Mawar yang harus mengalah.
Mawar dan Naura ikuti Bagas dari belakang mirip dayang ikuti majikan. Naura lontarkan tatapan penuh kebencian pada Mawar. Naura merasa Mawar bertanggung jawab atas kemarahan Bagas. Sebelum adanya Mawar Bagas selalu baik dan ramah kepada Naura.
Tanpa banyak bicara ketiganya balik ke kantor untuk tindak lanjuti permintaan Joko tentang sketsa isi dalam rumah. Denah penataan isi bangunan.
Bagas dan Naura segera ajak para designer selesaikan tugas dari Joko. Di sini Mawar tidak dilibatkan karena memang itu bukan dunianya. Soal hitung menghitung mungkin itu bidang Mawar tapi soal bangunan pengalaman nihil.
Mawar merasa tak berguna di kantor ini. Dia tak mampu berkiprah beri sumbangan isi kepala.
Mawar duduk di depan mejanya seperti orang bingung tak tahu harus kerja apa. Ini makin menjatuhkan mental Mawar.
Gadis ini merasa seperti orang cacat tak bisa lakukan apapun di kantor. Bukan tak bisa namun bukan bidang Mawar.
Mawar harus bicara dengan Bagas soal ini sebelum terbentang gap makin lebar. Bagas adalah penyelamat Mawar maka sebagai orang tahu balas budi Mawar harus sumbang hal berguna.
Naura tertawa penuh kemenangan tatkala lihat Mawar bengong di depan meja tanpa lakukan apapun. Mawar tak ubah seperti pajangan di kantor. Benda mati tidak berguna.
Berjam-jam Mawar lalui detik demi detik penuh kesedihan. Tampaknya ini hari pertama dia kerja juga hari terakhir. Tak guna paksakan diri masuk ke dunia yang tidak dia kenal.
Mawar tetapkan hati mengundurkan diri tanpa perlawanan pada Naura. Bukan takut pada Naura melainkan takut pada kemampuan diri sendiri tak bisa berkiprah di tempat bukan bidangnya.
Bagas seolah lupa ada Mawar di situ. Lelaki ini sibuk merancang permintaan Joko supaya proyek ini jatuh ke tangan mereka. Ini proyek jangka panjang. Bagas harus dapatkan proyek ini.
Sudah agak sore barulah Bagas bisa bernafas lega karena kerangka dasar gambar sudah ada. Ini berkat kegigihan Bagas dan timnya. Naura menyumbang ide tidak kalah kecil. Wanita itu sangat berbakat di bidang design bangunan. Ini sesuai dengan pendidikan wanita itu.
Naura keluar dari ruang Bagas lontarkan tatapan sinis ke arah Mawar tanpa daya itu. Dalam hati Naura bersyukur Bagas tidak peduli pada Mawar.
__ADS_1
"Enak kan diajak jadi pajangan. Kamu makhluk paling aneh di kantor. Berpakaian seperti bantal usang."