
Mawar menyeberang ke rumah Pak Hanif untuk lihat keramaian di rumah itu. Rumah pak Hari sendiri sepi karena semua keramaian berada di tempat pak Hanif. Dahlia dan Ayumi ada bergabung sedangkan Bu Tiara tidak tampak batang hidung. Mungkin marah pada Bu Hanif ataupun malu pesta Ayumi kalah dari pesta Mawar. Biasa kebiasaan orang sirik.
Begitu Mawar halaman rumah Bu Hanif puluhan pasang mata mengarah pada tubuh Mawar. Mawar tampak lebih cantik dan sumringah sejak menikah dengan Joko. Wajah berseri-seri tanda bahagia.
"Duh Dara Baro (pengantin wanita)! Segar amat seperti ikan baru kena pukat!" olok seorang emak-emak di barengi tawa lepas emak lain.
"Iya dong! Jadi ikan mas di akuarium emas. Kenapa tidak ajak aku ikut nyemplung ke akuarium mahal di kota?" timpal emak lain menambah suasana cerah.
"Suami Mawar ogah sama ikan butek model kita! Dikasih gratis juga nolak!"
Mawar hanya tersenyum simpul diolok para tetangga yang ikut senang keramaian di rumah Bu Hanif.
"Oya.. perkenalkan ini anakku! Namanya Bivendra." Mawar menarik Bivendra ke depan untuk kenalkan pada semua tetangga. Untunglah selama perawatan Mawar anak itu mulai tumbuh daging. Tidak kerempeng kayak dulu. Pipinya yang dulu tirus kini tampak ada sedikit daging.
"Wah anak kota memang beda! Suka datang ke kampung nak?"
Bivendra angguk sopan. Anak ini masih segan interaksi dengan orang baru karena dasarnya dia orangnya sulit bergaul. Apalagi berada di lingkungan asing.
"Maaf...aku mau cari asisten suami dulu ya! Ada yang penting."
"Oh...laki peramah itu? Dia ada di halaman samping bergabung dengan anak muda. Hebat ya orang kota! Pergi ke mana saja ada yang kawal. Kalau kita hilang saja tak ada peduli." seorang emak berhijab hitam ngomel salahkan nasib.
"Di sini siapa mau culik kamu? Habisin beras."
Tawa derai meledak hidupkan suasana ceria. Mereka bercanda sambil membantu Bu Hanif menyusun kue untuk acara meuduk Pakat nanti.
Beberapa jenis kue di susun di piring kecil. Lalu disusun lagi di dalam bulat di tengah diletakkan semangkuk kecil air bersih untuk tamu basuh tangan sebelum cicipi kue.
Kembali ke Mawar yang sibuk cari Anwar. Mawar mencari Anwar bukan untuk bertugas melainkan ingin tahu di mana laki itu akan ditempatkan. Apa nginap di hotel atau rumah saudara lain.
Mawar melihat Anwar sedang duduk beramai dengan anak muda kampung ngobrol dengan seru. Anwar bisa berbaur dengan baik merupakan tanda orang itu tidak sekeras tampangnya.
"Om Anwar..." seru Bivendra memanggil Anwar.
Anwar menoleh mendengar namanya dipanggil kencang.
"Eh nyonya muda..." Anwar segera tinggalkan kelompok anak muda hampiri Mawar. Sikapnya berubah sopan sedang berhadapan dengan majikan perempuan.
"Pak Anwar mau nginap di mana? Kita cari hotel atau mau nginap di rumah saudara?"
"Yang mana saja boleh! Aku tak masalah. Sini enak ya! Orang sini peramah bikin betah. Aku maulah cari jodoh di sini!"
Mata Mawar menyipit dengar kata Anwar. Ntah itu gurauan atau keluar dari hati kecil.
"Yakin mau pinang gadis sini?"
"Rencana kalau ada yang cocok. Umurku sudah empat puluhan, sudah saatnya pikir masa depan!"
"Di sini susah cari gadis seumuran pak Anwar. Kalau adapun janda."
"Janda juga tak apa asal mau hidup susah bersama aku." kata Anwar yakin.
"Ok...nanti kuperkenalkan pada saudara dari Abang ipar aku. Dia seorang guru seperti aku. Suaminya meninggal di laut sebulan nikah. Kapal ikannya disapu badai. Sampai sekarang jasadnya tidak ditemukan."
"Oh...gimana kalau kakak kamu Dahlia? Kulihat dia juga baik."
Mawar menelan air ludah dengar Anwar ada niat pada kakaknya itu. Anwar belum tahu belang Dahlia. Orangnya jahat suka bikin sensasi. Mawar sudah kapok dengan kedua kakaknya. Seumur hidup Mawar kenyang makan derita disuguhkan keluarga ibu tirinya. Namun Mawar bukan orang busuk menjatuhkan orang lain.
"Pak Anwar bisa pilih nanti! Kenalan dulu sama guru yang aku maksud. Pelajari perlahan karakter mereka apa cocok dengan pak Anwar. Malam ini Pak Anwar tidur saja di rumah abang aku si Muji."
"Sudah kubilang tak ada masalah. Gelar tikar di lantai juga boleh."
Mawar senang Anwar tidak menyusahkan dia. Mawar tidak bisa lakukan apapun karena semua di bawah koordinator Bu Hanif. Kalau Mawar ikut campur takut Bu Hanif tersinggung merasa tak dipercayai. Mendingan diam saja ikuti arus telah diatur Mak tuo nya itu.
__ADS_1
"Nanti kubilang pada bang Muji sediakan tempat untuk Pak Anwar. Guru yang ingin kukenalkan adalah adik isteri bang Muji. Pak Anwar coba ngobrol dulu."
Anwar hanya angguk tak ngerti mengapa Mawar tidak rekom kakaknya sendiri. Ada masalah apa dengan kakak Mawar. Mawar saja sangat baik, kakaknya tentu tak jauh beda dengan Mawar.
Anwar sangat berharap mendapat wanita sebaik Mawar maka membidik Dahlia sebagai calon tunggal untuk mengisi hari depannya. Kakak adik sifatnya pasti tidak jauh berbeda.
Itu hanya pemikiran Anwar karena faktanya sifat Dahlia dan Mawar seperti langit dan bumi. Mawar seperti berada di langit sedangkan Dahlia berada di bumi.
"Nanti bang Muji akan urus pak Anwar. Rumahnya tidak terlalu jauh dari sini. Jalan kaki juga bisa."
"Gampang itu.. Endra kok diam saja? Kurang suka di sini ya?" Anwar melirik Bivendra yang lebih banyak diam.
Mawar mengelus Bivendra yang berada di sampingnya. Mawar ngerti Bivendra masih canggung berhadapan dengan orang ramai karena terbiasa hidup dalam kesunyian.
"Biven masih segan ya? Sini mami kenalkan pada teman di sini. Ada keponakan mami bernama Salsabila dan Sryn. Mereka anak baik seperti Biven. Ayok!" Mawar menggandeng tangan kecil Bivendra berlalu dari halaman samping rumah Pak Hanif. Mata Bivendra masih sempat mencuri pandang ke sekeliling rumah yang sangat luas halamannya. Beginilah suasana rumah di kampung karena tanah masih murah. Orang punya sedikit duit akan beli tanah sekeliling rumah untuk perluas lingkungan.
Mawar mengajak anaknya menemui anak Marwah. Kedua anak perempuan Marwah mungkin cocok untuk menjadi kawan main Bivendra selama di kampung.
Mawar tidak menemukan Salsabila. Hanya ada Sryn sedang latihan main latto-latto mainan tempo dulu yang kembali viral.
Bunyi petak-petak terdengar bersahutan dimainkan beberapa bocah sekaligus.
Bivendra sangat tertarik untuk ikut gabung namun belum punya nyali. Anak ini masih segan untuk langsung terjun ke dalam kelompok anak-anak yang sedang bermain.
Mawar dapat membaca apa yang dipikirkan oleh Bivendra. Pengen ikut main tetapi segan.
"Anak Mami mau juga main?" tanya Mawar kepada anaknya.
Kepala mungil Bivendra mengangguk tiga kali tanda iya.
"Ok... Mami belikan untuk kamu tapi mainnya hati-hati jangan kena mata ataupun kepala. Nanti kepala Biven bisa benjol kena jedotan bola keras itu."
"Iya mi..."
Mawar membawa Bivendra makin dekat pada kelompok anak sedang heboh main.
"Mak Bit...ada apa?" Sryn berjalan santai hampiri Mawar dengan latto-latto di tangan.
"Di mana beli mainan ini?"
"Ini??" Sryn mengangkat dua buah bola kecil diikat dengan tali lebih tinggi.
"Iya...ini anak Mak Bit! Sryn ajak dia main ya! Ini uang untuk beliin Bivendra satu. Sisanya uang kalian boleh jajan." Mawar berikan selembar uang warna merah pada Sryn.
Sryn menatap uang merah itu ragu menerimanya. Anak sekecil Sryn jarang pegang uang besar karena didikan orang tua tak boleh banyak jajan.
"Uangnya banyak sekali Mak Bit. Ini harganya cuma sepuluh ribu. Kasih uang kecil saja!"
Mawar menghargai kejujuran anak kakaknya. Mereka telah mendapat didikan sopan dari dini. Tak boleh tamak serta tak boleh mengutil.
"Tak apa...bawa uang ini dan beli jajan untuk teman-teman semua. Ajak Bivendra ya!"
"Ok...Belinya tak jauh kok! Tuh dekat warung pak Kumis!"
Mawar mendorong Bivendra ikut rombongan Sryn. Warung yang dimaksud Sryn tak jauh dari tempat tinggal mereka. Warung itu sediakan semua keperluan rumah tangga sampai ke bahan kebutuhan dapur. Semua dijual di situ. Istilah orang kampung kedai sampah.
Pertama Bivendra masih takut tapi teman barunya beri senyum ramah melegakan hati Bivendra. Dengan sedikit keraguan Bivendra mengikuti Sryn menuju ke warung dimaksud.
Mawar tersenyum melihat anak sambungnya mulai buka diri bersedia ajak orang asing masuk ke dalam kehidupannya. Semoga ini awal yang baik.
Mawar masuk ke dalam rumah mau lihat apa yang dilakukan kak Marwah dan Bu Hanif. Mereka pasti sibuk sekali. Mawar melihat banyak sekali talam bulat besar telah tersusun rapi ditutupi kertas layangan. Bu Hanif tentu kerahkan seluruh tenaga ciptakan pesta meriah untuk Mawar.
Mawar tak tahu harus bagaimana berterima kasih pada Mak Tuo nya itu.
__ADS_1
"Hei dara baro asyik melamun!" seseorang menepuk bahu Mawar.
Mawar memutar badan siapa yang iseng mengganggu lamunan dia.
"Irmina?" seru Mawar girang karena orang yang ingin dia kenalkan pada Anwar muncul tanpa diundang. Apa pertanda jodoh Anwar telah tiba? Benih-benih cinta akan segera ditanam untuk hasilkan bunga cinta yang bermekaran.
"Kira siapa ya? Sudah sombong ya jadi isteri orang kaya?"
Mawar merasa tak enak hati dianggap sok karena punya suami kaya. Sedikitpun Mawar tidak terpikir ubah sifat hanya karena segunduk materi.
Irmina rasakan perubahan air muka Mawar langsung ketawa renyah. Irmina hanya bermaksud menggoda tanpa niat hakimi Mawar. Satu kampung tahu sifat Mawar yang sangat baik.
"Ya ampun Mawar! Itu kamu pikirkan! Aku hanya canda. Ayo kita cari tempat ngobrol! Aku kangen padamu."
Irmina dan Mawar pindah posisi ke sudut halaman jauh dari keramaian. Suasana bising tidak nyaman untuk ngobrol.
Irmina menggenggam tangan Mawar begitu keduanya duduk di kursi yang disediakan untuk tamu nanti.
"Selamat ya kawan! Akhirnya kamu bahagia!"
"Terima kasih...kamu juga akan bahagia. Tuhan itu maha adil akan membayar semua duka di hati kita."
Irmina tertawa kecil anggap omongan Mawar hanyalah hiburan singkat. Menghibur tanpa ada kesudahan.
"Aku belum terpikir cari ganti dulu!"
"Ir... hidup mati kita semua telah direncanakan oleh Allah SWT. Kau harus tegar lanjutkan hidup. Kurasa mendiang juga tak suka lihat kamu larut dalam duka. Dia akan merasa bersalah karena telah membuatmu derita. Dia pasti turut bersedih. Cobalah bangkit menata hidupmu!"
"Iya...tapi tunggu Tuhan beri jodoh dulu!"
"Amin...kebetulan aku punya calon untukmu. Lelaki mapan. Punya rumah dan mobil walau dia hanya asisten." Mawar langsung tembak Irmina soal Anwar.
"Siapa?" Irmina tampak ragu.
"Asisten suami aku! Orangnya ada di sini. Nanti kuperkenalkan atau sekarang juga ya!" Mawar mengeluarkan ponsel tanpa minta persetujuan Irmina. tunggu Irmina bereaksi sampai lebaran monyet juga tidak akan membawa hasil. Lebih baik Mawar sedikit berani memperkenalkan keduanya. Cocok atau tidak itu urusan belakangan.
"Assalamualaikum pak Anwar! Ke sini sebentar. Di halaman depan dekat sudut taman. Di tunggu sekarang juga!"
Mawar menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Anwar. Manusia model Anwar dan Irmina tidak bisa dimintain pendapat karena keduanya sama-sama aku kuper.
Irmina mencubit paha Mawar gemas pada gaya super kilat Mawar. Berbuat sesuka hati tanpa tahu malu orang lain.
Anwar datang diantar oleh seorang pemuda sampai di depan Mawar dan Irmina. Anak muda itu langsung pergi setelah mengantar Anwar. Kini tinggal Anwar yang celingak-celinguk malu melihat Mawar bersama seorang wanita yang usianya setara dengan Dahlia. Wanita ini lebih bersih dari Dahlia karena kulitnya tak sekelam Dahlia. Tidak terlalu cantik namun sedap di mata.
"Pak Anwar...ini Irmina rekan aku sewaktu mengajar. Ayok ikut ngobrol!"
Anwar ingin mengulurkan tangan menyalami Irmina namun wanita ini duluan merangkap kedua telapak tangan di dada sebagai tanda salam bukan muhrim.
Mau tak mau Anwar juga lakukan hal sama. Orang Aceh sangat ketat menjaga kesopanan karena mereka adalah mayoritas umat muslim.
"Pak Anwar asisten yang sangat baik lho! Ikut suami aku hampir lima belas tahun. Aku takut lama-lama suami aku lebih butuh pak Anwar dari pada aku." gurau Mawar bikin Anwar tak enak hati.
"Ini semua karena Pak Joko itu baik dan pengertian. Kalau bosnya jahat dan judes mana sanggup orang bertahan sekian lama." Anwar menyahut masih posisi berdiri.
"Duduk pak Anwar! Nanti kakinya tumbuh akar lho!"
Anwar meringsut duduk setelah diejek Mawar. Anwar mati kutu dikenalkan dengan seorang wanita asing. Selama ini Anwar jarang dekatan dengan wanita karena waktunya habis urus Joko.
"Eh kalian ngobrol dulu! Aku mau jumpa Mak Tuo tanya kapan berinai?" Mawar sengaja bikin alasan untuk tinggalkan dia orang itu ngobrol lebih dalam. Mungkin dengan adanya Mawar mereka akan canggung.
Irmina ingin menahan Mawar namun wanita itu sudah duluan kabur ke dalam rumah. Ini tak tik Mawar agar Irmina dan Anwar saling mengenal.
Mawar tinggalkan Anwar pada Irmina. Mawar yakin Irmina akan jadi kawan ngobrol yang baik bagi Anwar.
__ADS_1
Mawar mencari Bu Hanif di dalam rumah. Putar-putar jumpa wanita tua itu sedang tiduran di kamar. Tulang tua Mak Tuo mungkin sedang berulah akibat dipaksa bergerak terlalu aktif.
"Mak Tuo .." panggil Mawar memaksa Bu Hanif buka mata.