
Mawar termenung dengar kata Joko. Apa yang dikatakan Joko mengandung kebenaran. Menurut cerita orang tua pengantin baru itu harum bunga rawan mengundang makhluk halus. Bahkan orang zaman ada yang sampai sebulan tidak melakukan kegiatan selain istirahat di dalam rumah. Seiring waktu tradisi mulai berubah karena setiap orang harus kembali beraktivitas setelah menikah. Pegawai sekarang paling lama mendapat cuti selama seminggu. Setelah itu mereka harus kembali masuk kantor bekerja seperti biasanya.
"Lalu gimana Bivendra?" Mawar teringat pada Bivendra yang pasti ingin melihat pantai yang bersih.
"Kau bisa minta tolong pada saudara kamu ajak dia ke sana. Kita berdua lebih baik tinggal di rumah. Hubby bersihkan badan dulu sekalian berwudhu."
Mawar mengangguk biarkan Joko keluar dari kamar. Kamar Mawar tidak kamar mandi dalam kamar. Kamar mandi cuma ada satu di belakang rumah. Joko harus terbiasa hidup seperti rakyat jelata tanpa fasilitas mewah. Ini bagus latih kepekaan Joko terhadap lingkungan kalangan bawah.
Mawar menunggu Joko selesai bersihkan diri sambil ambil air wudhu untuk bergabung dengan jemaah lain di mesjid. Mawar sendiri sholat di rumah.
Bivendra tidur di rumah Bu Hanif bergabung dengan Salsabila dan Sryn. Mawar yakin anak kakaknya pasti akan bimbing Bivendra menjadi muslim baik.
Perlahan matahari muncul terangi persada. Cahaya jingga hiasi ufuk timur sisakan keindahan tersendiri bak lukisan pelukis terkenal. Mawar awali pagi ini dengan buat sarapan untuk Joko. Soal Bivendra Mawar tidak perlu kuatir karena anak itu pasti sudah di beri sarapan oleh Marwah.
Joko pulang dari mesjid matahari sudah beranjak naik. Tampaknya Joko mulai bisa adaptasi dengan penduduk kampung. Jumpa kawan ngobrol cocok baru bisa lupa waktu. Biasa Joko jarang buang waktu untuk hal tak penting.
Mawar sudah berdiri di depan pintu menunggu kehadiran sang suami. Senyum manis sebagai ucapan selamat datang pada Joko.
Pagi-pagi dapat senyum semanis madu dari Mawar hati terasa adem. Senyum inilah penyemangat hidup Joko.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam.."
Mawar menyalami Joko menciumi tangan lakinya dengan takzim. Orang yang kebetulan lewat lihat pemandangan penyejuk mata ikut senang. Hanya orang berbudi baik suka lihat ada orang bahagia.
Keduanya tak sadar dari rongga jendela rumah besar sebelah mengintip kegiatan pasangan ini dengan tatapan penuh amarah dan kebencian. Pancaran sinar mata orang itu seperti ingin melumatkan pasangan ini. Jika perlu gunakan blender raksasa giling keduanya jadi cairan jus. Sayang niat itu cuma boleh bercokol di otak, tak ada kesempatan laksanakan niat busuk itu.
"Ayok masuk sayang!" Joko menggandeng Mawar masuk ke dalam.
"Pagi-pagi sudah sayangan. Ada maksud terselubung?"
"Terselubung apa? Cuma ingin sayang isteri doang! Emang ada larangan?"
Mawar hanya tertawa kecil. Mawar berkata demikian tanpa maksud apa-apa. Hanya sekedar guyonan kecil.
"Mau kopi hubby?" tawar Mawar.
"Mau dong!"
Mawar ajak Joko ke dapur mungilnya untuk sarapan pagi. Di meja hanya ada mie goreng dan telor ceplok. Di rumah Mawar tak banyak tersimpan bahan makanan maka sediakan apa yang ada.
Itu saja sudah Joko syukuri. Dapat isteri tahu diri layani suami dengan baik. Joko serasa dilempar ke surga yang sempat hilang dari hidupnya.
Mawar memasak air panas untuk bikin kopi kampung asli tanpa campuran. Kopi kampung yang harumnya bikin ketagihan orang yang cicipi.
Takengon kota di daerah Aceh terdapat biji kopi Arabika kelas dunia. Kopi Takengon dikenal juga dengan nama kopi Gayo. Rasanya gurih bikin ketagihan. Kopi Gayo terkenal sampai ke seluruh dunia. Bagi pencinta kopi sejati pasti tahu kopi produk daerah ini.
Kebetulan kopi di tempat Mawar adalah kopi hasil dari petani kota sejuk Takengon. Kopi ini sengaja di pesan secara khusus untuk pesta Mawar.
Asap mengepul dari cangkir berisi cairan hitam berbau harum khas minuman penenang kepala para cowok. Joko tidak bisa menampik keharuman kopi godokan Mawar. Dari baunya sudah datangkan kenikmatan.
Mawar letakkan kopi persis di depan Joko. Ini pengabdian isteri sejati. Joko yang beruntung dapat wanita sebaik Mawar.
"Kau tak minum kopi?" tanya Joko karena cangkir kopi cuma satu.
__ADS_1
"Kurang suka. Aku minum teh saja. Silahkan makan hubby!"
Joko meraih kopi buatan Mawar mengendus di hidung datangkan sensasi tersendiri. Harumnya saja sudah bikin pikiran tenang apalagi minumnya ditemani wanita tercantik di dunia Joko. Sempurnalah hidup ini!
Keduanya mulai menyantap makanan di meja. Walaupun hanya mie tapi terasa nikmat karena dimakan dengan hati yang tulus. Joko tidak berani menuntut terlalu banyak pada Mawar karena di rumah ini memang serba kekurangan. Yang penting niat Mawar melayani dia dengan baik. Itu sudah cukup bagi Joko.
"Sayang...ayah kamu mau ajak aku lihat kebun sawit. Apa aku boleh pergi?"
"Pergilah! Sekedar cuci mata apa salahnya? Hari ini aku akan di rumah Mak Tuo bantu-bantu bereskan sisa pesta."
"Jangan terlalu capek ya!"
"Cuma bantu saja kok! Paling bantu packing kembalikan barang pinjaman. Kami di sini peralatan pesta telah disediakan oleh desa dikelola oleh ibu-ibu PKK. Tak usah sewa hanya kasih uang perawatan saja. Peralatan lain juga banyak dipinjam dari tetangga. Beginilah kehidupan bertetangga di kampung. Semua serba gotong royong secara ikhlas."
Joko kagum pada toleransi masyarakat kampung. Satu rumah berpesta satu kampung terjun saling membahu sukseskan pesta. Rasa persaudaraan masih kental menyelimuti kehidupan di kampung. Beda di kota yang serba cuek.
Sesuai sarapan Joko ke rumah pak Hari sesuai janji mereka akan pergi lihat kebun sawit. Pak Hari ingin ajak Joko investasi di bidang tanaman Palma ini. Untuk sementara prospeknya sangat cerah walau harganya kadang kurang stabil.
Joko pergi dengan pak Hari dan pak Hanif. Mawar tak mau ikut campur urusan lelaki karena Mawar sadar dia harus berdiri di mana. Kalau Joko tak mau mengajaknya artinya tempat itu tak cocok buat dirinya. Joko pasti akan memikirkan yang terbaik pada Mawar.
Sepeninggalan Joko Mawar menyeberang ke rumah Bu Hanif untuk melihat kesibukan di rumah itu. Pasti sisa banyak PR yang harus dilakukan oleh keluarga Bu Hanif membersihkan semua sisa pesta yang bertumpuk di dalam rumah.
Tatkala Mawar masuk ke halaman rumah tampak Bu Hanif ada di ruang tamu yang masih terpasang pelaminan adat Aceh. Mata Mawar terharu pada susunan benda mati itu. Warnanya cerah warnai hidupnya kelak. Ini akan jadi kenangan terindah dalam hidupnya pernah duduk di pelaminan indah.
"Mawar???"
Mawar tersentak dengar suara Bu Hanif duluan menyapanya.
"Assalamualaikum.."
Mawar ambil tempat di samping Bu Hanif agar leluasa ngobrol. Dari kemarin mereka tak sempat ngobrol dengan lapang karena sibuk oleh berbagai acara.
"Sudah makan di rumah. Apa yang bisa aku lakukan untuk membersihkan semua ini?"
"Kamu bisa apa? Duduk saja! Sebentar lagi kita akan mengeluarkan semua kado untuk dibuka bersama-sama. Apa rencana kamu dengan semua kado-kado itu?" Bu Hanif menatap Mawar mau dengar pendapat wanita muda ini.
Mawar menggeleng tak begitu antusias bahas kado dari tamu. Mawar tak mungkin membawa semua barang itu ke tempat Joko di kota. Di tempat Joko semua telah tersedia dengan lengkap. Tak ada yang dibutuhkan oleh Mawar lagi.
"Aku takkan bawa kadonya Mak Tuo. Kita ajak ibu turut membuka kado biar beliau tidak tersinggung. Berikan apa yang dia inginkan sisanya Mak Tuo bagi pada tetangga-tetangga yang membutuhkan. Sebagian lagi mak tuo simpan saja di rumah bisa jadi kado untuk membalas para tetangga yang berpesta nanti."
Bu Hanif tak beda dengan para emak lain tetap senang mendapat jatah kado lebih banyak dari yang lain. Namanya saja emak-emak produk zaman tempo dulu.
"Kau yakin tak mau bawa semua kado?"
"Joko pasti tidak akan ijinkan aku bawa. Mungkin nanti aku akan memilih satu untuk jadi kenang-kenangan bahwa aku pernah mendapatkan kado dari kampung. Nanti mak tuo panggil ibu ya!"
"Iyalah kalau kau sudah omong begitu! Mak tuo akan suruh Salsabila memanggil ibu kamu. Kamu jangan kaget kalau nanti para tetangga ikut membuka kado! Ini sudah menjadi tradisi kita di sini sama-sama menyaksikan berapa banyak dapat kado dan apa isinya."
"Tak jadi masalah! Lebih bagus begitu karena pesta kita ini pesta kampung maka kita harus anggap tetangga Itu keluarga kita."
Bu Hanif senang Mawar mempunyai pemikiran demikian terbuka. Tidak pelit menganggap semua hasil pesta menjadi miliknya.
"Baiklah kita mulai satu jam lagi. Oya.. Riyan ada mengirim kado melalui Muji. Dia minta Muji beli televisi digital ukuran sangat besar. TV itu telah Mak Tuo simpan di kamar Salsabila. Apa kamu mau bawa ke kota?"
Hati Mawar bergetar ingat Riyan. Mawar bukan orang bodoh tak tahu kalau Riyan mengharap dia kembali padanya. Sayang Mawar sudah terlanjur sakit hati pada laki itu. Jujur sebenarnya Mawar sangat menyukai Riyan yang lebih lembut dan penyayang. Tetapi Tuhan berkata lain memisahkan mereka dengan cara yang tidak menyenangkan.
__ADS_1
"Tinggal saja untuk Salsabila dan Sryn. Mak Tuo tak perlu kasih tahu ibu soal ini. Takutnya sifat tamaknya muncul. Mak Tuo kan tahu sifat ibu."
Bu Hanif tidak heran dengan sifat Bu Tiara yang sangat tamak dan culas. Tak pernah ada yang baik di mata wanita itu. Semua orang buruk di matanya hanya dia yang baik di dunia ini.
"Oya Biven mana?"
"Kayaknya masih tidur. Semalam tidurnya telat karena belajar main bola-bola."
Mawar tersenyum ingat bagaimana antusias Bivendra belajar main latto-latto. Ini bagus melatih motorik anak itu. Dia tidak akan fokus pada ponsel saja. Mawar tidak akan melarang Bivendra melatih gerakan tangan pada dua butir bola keras itu.
"Biar saja. Perlu kubantu keluarkan kado?"
"Kamu sapu lantai dulu baru keluarkan kadonya. Minta Salsabila dan Sryn bantu angkut semua kado keluar."
"Baiklah! Mak Tuo duduk saja biar Mawar yang kerjakan!"
Mawar melarang Bu Hanif melakukan kegiatan lagi karena melihat wanita tua itu tampak sangat lelah. Bu Hanif sudah berumur tidaklah seaktif mereka yang masih muda. Mawar harus tahu diri tidak menyusahkan Mak Tuo nya lagi.
Mawar dan Marwah saling membahu bersihkan ruang tamu karena sebentar lagi akan hadir para tetangga untuk buka kado bersama. Teh dan kopi sudah diseduh sambut tetangga yang pasti antusias lihat isi kado pernikahan Mawar.
Satu persatu tetangga datang membantu pindah kado dari kamar kosong rumah Bu Hanif ke ruang tamu. Semuanya tampak ceria bercanda riang gembira. Gelak tawa bergema sana-sini menandakan rumah ini penuh dengan kegembiraan.
Hati Mawar sangat terhibur melihat situasi yang sangat menyenangkan ini. Tidak rugi dia menyelenggarakan pesta di kampung karena membawa berkah dan kegembiraan pagi bagi seluruh warga kampung ini.
Tumpukan kado hampir menutupi seluruh ruang tamu. Banyak yang sudah tidak sabar ingin segera merobek kertas warna-warni pembungkus isi dalam. Salsabila, Sryn dan Bivendra duduk paling depan seperti panitia pembuka kado pesta Mawar. Ini pengalaman pertama buat Bivendra berkumpul dengan warga satu kampung.
"Sudah habis?" seru Bu Hanif mengitari tumpukan kado.
"Masih ada yang gede-gede tak bisa dibawa ke sini lagi. Biarlah kita buka yang ada dulu. Setelah itu baru kita susul yang sisa." usul Marwah.
"Boleh...eh Salsa...kamu sudah bilang sama Nek Tiara? Kenapa belum muncul?" tanya Bu Hanif tak melihat keluarga Bu Tiara.
"Mungkin tak mau datang." sahut salah satu emak dengan sinis.
"Siapa bilang tak mau datang?" terdengar suara Bu Tiara dari luar. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.."
Bu Tiara datang bersama Dahlia minus Ayumi. Kedua wanita aneh ini datang juga untuk minta jatah pembagian kado.
Hal baik ini mana mau dilewatkan Bu Tiara. Sedikit banyak dia bisa membawa pulang beberapa macam kado. Bu Tiara yakin Mawar tidak berani melarangnya mengambil apa yang dia inginkan.
Bu Tiara dan Dahlia bergabung duduk bersama di atas hamparan karpet. Mata Bu Tiara mencari sesuatu yang dia anggap berharga. Ntah apa yang dia inginkan dari tumpukkan kado Mawar.
"Kita bismillah saja! Silahkan!"
Ketiga gadis muda itu paling dulu ambil kotak-kotak aneka warna. Mereka membuka bungkusan dengan semangat. Ibu-ibu tetangga tak mau kalah ikuti gerakan ketiga gadis muda.
Bu Tiara membuka kotak besar cari tahu apa isinya. Wajah Bu Tiara kontan sumringah karena tebakannya pas. Kotak besar isinya juga besar.
"Wah panci presto! Aku sudah lama mau cari panci model ini. Ini cocok masak untuk ayah Dahlia. Ini punya aku ya!" Bu Tiara langsung klaim itu barang dia. Bu Hanif mengerling pada Mawar. Mawar angguk kecil izinkan ibunya ambil panci itu.
Bu Tiara spesialis kotak-kotak gede. entah berapa banyak barang sudah diklaim oleh Bu Tiara. Semuanya rata-rata barang berharga. Bukan cuma Bu Hanif yang kesal, ibu-ibu lain juga kesal karena ketamakan Bu Tiara makin menjadi-jadi.
"Eh Bu Tiara... ini kado untuk pengantin. Bukan untuk Bu Tiara. Kenapa Bu Tiara kumpulkan untuk dibawa pulang?" tanya salah satu ibu dengan wajah dipenuhi rasa kesal mendalam.
__ADS_1