GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Kantor Ramah


__ADS_3

Mawar diantar oleh Anwar sampai ke satu ruang berdinding kaca tebal warna bening. Dari luar tampak isi dalam ruangan itu. Di dalam hanya ada meja besar memanjang beserta banyak kursi. Sebodoh apapun Mawar ngerti bahwa itu ruang rapat kantor.


Di dalam ruang kaca itu telah ada dua orang. Satu seorang wanita berambut ikal dan seorang lelaki bermata elang yang Mawar kenal sebagai pak Joko.


Anwar mengetuk pintu kaca sesuai prosedur sopan santun. Joko tentu tidak buta tak lihat dua sosok di luar kaca. Masuk gitu saja bukan cara karyawan santun. Anwar pilih tetap berada di jalan semestinya biar tidak kena sembur hawa naga sang majikan.


"Masuk!"


Anwar mendorong pintu kaca itu menahannya agar Mawar bisa duluan masuk. Belakangan barulah Anwar ikut masuk.


Mawar berdiri di hadapan Joko dan seorang wanita seperti orang bodoh jumpa makhluk aneh dari luar angkasa. Joko juga menatap Mawar dalam-dalam seperti Mawar transparan bisa tembus pandang.


"Pak ini Mawar!" Anwar perkenalkan Mawar supaya tidak canggung.


"Aku tahu ..silahkan duduk nona Mawar!" Joko meminta Mawar duduk di salah satu kursi yang telah tersedia.


Mawar menarik kursi dengan sopan barulah tempatkan pantatnya yang tertutup rapat di atas kursi.


"Bawa CV?" tanya wanita bernada dingin.


"Bawa Bu.." Mawar membuka tasnya mengeluarkan map berisi fotokopi ijazah dan seluruh berkas tentang data Mawar. Setiap kantor tetap meminta data pribadi calon pegawai serta pendidikan terakhir.


Wanita itu meneliti semua berkas yang diberikan oleh Mawar. Wanita itu manggut ntah setuju atau salut lihat nilai Mawar di lembaran ijazah. Pokoknya tanggapan wanita itu positif pada Mawar.


Wanita itu meletakkan berkas Mawar di atas meja lalu menantang Mawar berhadapan untuk cari tahu tentang Mawar lebih lanjut.


"Pernah kerja?"


"Sebelumnya saya guru matematika di salah satu sekolah negeri dengan status guru kontrak dari propinsi. Kemarin ada rencana kerja di kantor pak Bagas namun aku resign karena tak cocok dengan lingkungan." Mawar bercerita secara jujur karena tahu tak ada guna tutupi semua rekam jejak sesungguhnya. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana.


Joko diam tak beri reaksi hanya ikut mendengar kepala bagian HRD interview Mawar. Kesopanan Mawar sudah beri nilai lebih buat gadis ini. Wanita yang wawancara Mawar lebih suka gadis santun ketimbang gadis dengan pakaian kekurangan kain.


"Apa kau bisa yakin bekerja dengan baik?"


"Aku yakin dalam hati namun sekarang aku cuma bisa janji akan bekerja dengan rajin dan sebaik mungkin. Aku belum ngerti sekali pekerjaan aku maka aku tak berani janji muluk. Aku punya tekad akan berusaha."


Joko menarik bibir sedikit merasa jawaban Mawar agak lucu. Calon pegawai lain akan langsung beri janji ini itu agar bisa diterima sedang yang satu ini beri jawaban gamblang. Yakin pada diri sendiri namun tak yakin pada kantor tempat kerja.


"Begini saja! Kau kucoba magang tiga bulan dulu. Kalau kau lolos maka kau akan kuangkat jadi pegawai tetap. Gimana?" tanya wanita bertampang seram itu. Wajah seperti algojo siap pancung orang bersalah.


Sangat kontras dengan tampang Mawar yang lembut selalu datangkan rasa adem. Gimanalah suami atau pacar wanita ini? Dekati wanita ini harus pakai pemanas tubuh biar tidak beku.


"Iya Bu! Terima kasih."


"Mari kuantar kau lihat tempat kerja kamu!" Wanita itu langsung bangkit tanpa permisi pada peduli pada bos yang duduk di samping.


Mawar yang agak sungkan pergi tanpa pamit. Anwar pasang muka datar imbangi bos yang wajahnya juga datar. Sungguh kompak majikan dan ajudan.


"Permisi pak... Assalamualaikum.." Mawar bungkukkan badan ke arah Joko dengan sikap merendah sebagai calon pegawai. Mawar tak mungkin bertingkah angkuh seperti kepala HRD. Mawar bukan apa-apa di sini mana ada peluang sok penting.


Mawar mendapat anggukan kecil dari bosnya. Irit sekali anggukan itu. Gerak lebih dalam mungkin akan kuras seluruh energi lelaki itu.

__ADS_1


Mawar ikuti kepala HRD ke arah lift menuju ke tempat kerja Mawar di lantai bawah. Tempat kerja Joko di lantai paling atas hanya dihuni oleh pejabat teras.


Mawar hanya pegawai magang mana dapat fasilitas seperti pegawai kelas tinggi selevel kepala HRD. Sudah diterima untuk adaptasi sudah syukur.


Tempat kerja Mawar bukan ruangan khusus melainkan tempat kerja gabungan beberapa pegawai. Hanya ada dinding pemisah dibentuk kotak-kotak untuk memisahkan setiap pegawai. Tak ada kesempatan ngerumpi kecuali berdiri baru bisa ngobrol.


Ini hampir sama sewaktu jadi guru di sekolah. Semua guru. berada di kantor sama cuma beda meja. Mawar merasa senang tidak duduk terasing sendirian seperti di kantor Bagas. Di sini bakal banyak teman.


"Besok kau langsung datang ke tempat ini. Jangan lupa isi absensi sebelum masuk kantor. Besok kau akan diberi ID card. Dengan kartu itu kau cukup tempelkan di mesin dekat meja resepsionis. Kehadiran kamu akan terdeteksi. Paham?" wanita jelaskan secara jelas apa yang harus dilakukan Mawar esok hari.


Mawar hanya angguk paham semua penjelasan wanita itu. Beberapa pegawai memberi senyum pada Mawar sebagai salam kenal. Mawar tentu saja membalas dengan senyum lebih manis dan ramah.


Sebagai anak baru Mawar harus sadar diri tak boleh sombong. Kelak dia akan mengandalkan semua rekan kerja sebagai partner dalam tuntaskan masalah.


"Ok...sebentar lagi akan ada orang antar kamu pulang! Kamu anak baru di kota ini jadi mesti hati-hati bepergian." wanita itu beri nasehat setelah tahu Mawar berasal dari kota kecil.


"Ya Bu..."


"Kau tunggu di sini saja!" usai omong gitu wanita datar itu melangkah pergi dengan gaya elegan.


Tinggal Mawar bengong berada di antara karyawan lain.


Seorang gadis di samping Mawar bangkit dari tempat duduk hampiri Mawar seraya tersenyum ramah. Penyambutan sangat menenangkan jiwa Mawar. Permulaan yang indah.


"Hai...aku Maya. Kita akan jadi rekanan."


"Aku Mawar...terima kasih sudah terima aku!"


"Hei aku belum kenalan! Namaku Pipit Cantika yang artinya Pipit tercantik." seorang cewek yang jelas periang hampiri Mawar langsung rangkul pundak Mawar.


"Dan aku Mia. Jangan lupa nama aku Mia! Yang paling cantik di antara cewek sini. Tempat kita adalah lahan gersang. Tak ada karyawan cowok di sini. Semua cewek tulen." seru dari ujung lain.


Mawar merangkap tangan ke dada salami teman baru secara serentak. Tampaknya Mawar diterima dengan baik di bagian ini. Hati Mawar senang tidak mendapatkan diskriminasi dari senior.


"Aku orang baru kalau ada yang belum ngerti mohon petunjuk."


"Tenang saja! Kita di sini tidak pakai iri-irian. Kita harus kerjasama karena tempat kita ini sangat vital. Keluar masuk dana perusahaan di sini maka itu kita harus kompak agar tak ada kesalahan." kata Pipit sangat tidak tunjukkan sedikitpun akan buat masalah bagi Mawar.


"Terima kasih. Aku sangat harap dukungan kalian."


"Tenang cantik...kami ini bukan pemangsa kawan baru. Mulai besok kamu bisa bekerja dengan tenang. Apa yang tidak kamu ketahui boleh langsung tanya pada kami. Kalau tugasmu menggantikan Kak nur yang sudah resign maka kamu bertugas mencatat semua pemasukan dan pengeluaran kantor ini. Di sini kita tanggung jawab bagian masing-masing. Aku bagian gaji pegawai sedang Verena bagian pembelanjaan kantor, Maya dan Mia khusus urus uang masuk. Dan kamu yang terakhir selesaikan laporan kami. Tugasmu berat jadi hati-hati ya!" Pipit menepuk pundak Mawar jelaskan tugas Mawar sekilas.


Mawar kurang ngerti pembukuan masih perlu bimbingan para teman lebih senior. Mawar beruntung jumpai teman-teman baru yang sangat baik. Mereka akan menjadi pembimbing Mawar untuk hari selanjutnya.


"Terima kasih..."


"Ya ampun...ini sudah berapa kali kamu ucapkan terima kasih. Besok kantong aku bakal penuh sama kata terima kasih. Santuy saja sis..kita ini berada dalam satu kapal sama." Pipit masih semangat beri pengarahan pada Mawar.


"Pipit benar...Oya..siapa yang rekom kamu kerja sini? Kayaknya belum buka lowongan deh! Rencananya kan Mia yang akan gantiin Kak Nur." tanya Maya heran dari mana Mawar tahu lowongan bagian keuangan kosong.


"Pak Joko yang tawar langsung padaku!" jawab Mawar apa adanya.

__ADS_1


Keempat cewek dalam ruangan saling berpandangan heran mengapa Joko ikut campur dalam merekrut karyawan kali ini. Biasanya ini tugasnya Bu Ika yang terkenal sangar kepada anak buah.


"Pak Joko yang rekom kamu langsung kerja di sini?" tanya Verena masih belum yakin telinganya terima kabar tepat.


"Iya...pak Joko minta pak Anwar telepon aku! Aku dijemput di rumah." jawab Mawar jujur belum tahu efek dari kejujurannya.


"Gila...baru hari ini kudengar pak Joko urus masalah karyawan. Kalau gitu kamu tenang saja! Kamu sudah ada backing paling kuat. Pasti diterima." Mia tepuk tangan salut mendengar Pak Joko sendiri yang merekrut Mawar.


"Ngak bisa begitu karena aku kan belum mengerti masalah kerja. Kalau aku tidak bisa maka aku akan mengundurkan diri agar tidak menghalangi hasil kerja yang lain."


"Biasa pak Joko takkan salah melihat orang. Kalau dia merasa orang itu mempunyai kemampuan barulah dia akan yakin mengajak orang itu bekerja." timpal Verena ikut kagum pada nasib Mawar.


Sedang mereka berbincang dengan akrab tiba-tiba muncul Anwar mengajak Mawar untuk pulang. Surprise kedua untuk teman baru Mawar karena Pak Joko mengutus orang kepercayaannya untuk mengantar Mawar pulang.


Mawar pamitan untuk persiapkan diri bertaruh di meja tugas mulai besok. Perlahan bayangan Mawar menghilang bersama Anwar yang bertugas mengantar gadis itu pulang ke tempat Indy.


Keempat gadis nakal rekan kerja Mawar langsung bergosip siapa sesungguhnya Mawar. Mengapa mendapat perhatian yang sangat besar daripada Bos mereka.


"Hei kalian ada cium bau-bau bos kita lagi kasmaran?" tebak Pipit sok tahu.


"Kasmaran apa? Mawar terlalu muda untuk bos kita. Dan lagi cewek selembut Mawar mana cocok ditempatkan di samping bongkahan es abadi. Mau beku apa dia?" Mia tidak setuju dengan analisa Pipit.


Kasihan Mawar kalau disandingkan dengan bos mereka yang lebih mirip bongkahan es di kutub Utara. Orang yang paling cocok dengan Pak Joko adalah Bu Ika. Mereka sama-sama memiliki sifat dasar yang sama yaitu dingin.


"Mia benar... aku juga tidak setuju kalau Mawar disandingkan dengan Pak Joko. Dari suara lembutnya aja aku bisa rasakan betapa tulusnya Mawar sebagai seorang teman."


"Semoga deh apa yang kita pikirkan tidak sama dengan kenyataan. Mungkin saja Mawar telah memiliki suami ataupun pacar. Kita kan belum mengetahui kepribadian Mawar walaupun secara umum dia tanpa sangat lembut dan baik." Maya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Mawar.


"Kau benar May..barang sebagus gitu belum ada pemilik rasanya aneh! Kita lihat besok saja! Yok kembali bertugas!"


Keempat cewek ini segera bubar dari gosip. Tugas mereka masih setumpuk mana bisa ngerumpi lebih lama. Bagian mereka sangat vital karena salah satu angka saja semua jadi kacau.


Di tempat lain Mawar telah tiba di rumah Indy. Hari ini perasaan Mawar terasa lebih plong karena jumpa kawan kerja ramah. Tidak seperti berada di tempat Bagas. Baru masuk kerja sudah dimusuhi oleh sekretaris Bagas.


Gaji bukan yang paling utama melainkan kenyamanan bekerja. Mawar tak mau bekerja di bawah tekanan batin. Dia sudah cukup terima tekanan batin dari kecil. Intimidasi dari ibu dan saudara sudah cukup. Ditambah ulah Riyan bikin hidup Mawar makin sengsara.


Semoga ini awal yang baik bagi Mawar. Lupakan masa lalu buka lembaran baru bersama kantor baru.


Malamnya Mawar tetap setia pada John bimbing anak itu di pelajaran yang belum dikuasai anak itu. John makin rajin dan makin ngerti kesusahan mamanya mencari rezeki. Semua berkat pengertian yang diberikan oleh Mawar.


Seperti biasa aktifitas pagi keluarga Indy diawali sarapan bersama sebelum berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Kesibukan Indy membuat perempuan ini jarang bertemu dengan John dan Mawar. Dari kemarin Mawar tidak berjumpa dengan Indy, baru pagi ini mereka berjumpa lagi.


Mawar sudah berpakaian rapi layak orang hendak bekerja di kantor dengan jilbab pashmina yang digulung di atas kepala dengan rapi. Pokoknya pagi ini Mawar tampak sangat fresh telah siap menyongsong hari baru.


Indy dan John ikut bahagia melihat Mawar telah menemukan keceriaannya lagi. John sangat sayang kepada Mawar tak rela siapapun menyakiti gadis itu.


"Kak... Kakak tak boleh terlalu banyak senyum nanti bikin orang jatuh cinta kepada kakak." nasehat John bikin Indy dan Mawar tertawa kecil. Ada saja tingkah konyol John pancing gelak tawa.


"Huusss..kakak pergi kerja lho! Bukan pergi mencari jodoh."


"Maunya kakak tak usah kerja. Mama masih sanggup kok kasih makan kakak. Ya kan ma?" John melirik mamanya.

__ADS_1


"Bukan masalah makan sayang tapi kakak bosan di rumah tanpa kegiatan. Apa John mau kakak jadi orang invalid? Pokoknya kakak selalu ada untukmu. Cuma janji harus ada peningkatan nilai."


"Peningkatan apa? Sekarang guru akui aku ini anak pintar. Nilaiku naik drastis. Teman-teman ingin ikut belajar bersama aku di rumah. Aku tolak."


__ADS_2