GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Anak Trauma


__ADS_3

Bivendra tampak sangat manis dengan kepangan berhias pita. Seraut wajah tirus menyinggung senyum tipis di bibir. Ntah berapa lama Bivendra tak pernah senyum. Bahkan mungkin sudah lupa cara senyum. Tapi Mawar berhasil bikin si kecil perlihatkan reaksi positif.


"Adik kakak sangat cantik. Ayo senyum lebih lebar biar makin cantik."


"Benarkah?" tanya Bivendra dengan suara sangat kecil.


Mawar memegang wajah Bivendra dengan kedua telapak tangan. Wajah itu dihadapkan ke wajah Mawar agar si kecil bisa lihat jendela hati Mawar. Mawar mau Bivendra tahu bahwa dia tulus pada anak itu.


"Biven harus percaya pada kakak kalau Biven itu cantik. Sekarang kita bersiap turun sarapan. Makan yang banyak biar punya fisik lebih kuat. Kakak kawani Biven makan."


"Endra tidak suka tiap hari makan telur serta roti."


"Lalu mau makan apa? Biar kakak masak untukmu. Nasi goreng ala kak Mawar? Atau mie goreng?" tawar Mawar coba cari tahu selera Bivendra.


"Boleh?"


"Tentu saja...Ayok kita ke dapur! Kita masak untuk kita berdua saja. Gimana?"


"Endra takut papi marah."


"Tenang saja! Itu urusan kakak. Yok kita turun ke dapur!" Mawar gandeng Bivendra kasih besar hati anak ini agar tidak takut pada Joko.


Mawar menduga Joko sangat keras pada anak ini sehingga batin anak ini jadi tertekan. Mau bergerak takut pada papinya sampai makan saja harus takut. Papi model apa itu?


Bivendra ikut Mawar turun menuju ke dapur. Bivendra jadi petunjuk jalan ke dapur karena Mawar tak tahu seluk beluk rumah ini.


Dari ruang tamu ke dapur harus lalui beberapa ruang lain. Rumah ini terlalu luas untuk anak bapak ini. Seharusnya ada keluarga lain ikut semarakkan suasana yang sepi kayak kuburan ini. Apa Joko tak punya sanak lain selain Bivendra?


Dapur rumah Joko sangat mewah dan luks. Semua serba canggih persis dapur dalam cerita di film. Baru kali ini Mawar lihat dapur indah di alam nyata. Mawar orang sederhana tak ngerti sekali peralatan canggih. Di dapur tak ada orang selain dapur membisu.


Mata Mawar mencari-cari sesuatu untuk bisa diolah jadi makanan buat Bivendra. Anak ini hidup di bawah tekanan sangat kuat maka bentuk jiwa anak ini jadi terkunci rapat. Bivendra menutup diri dari pergaulan akibat dapat perlakuan penuh aturan.


"Biven tahu di mana nasi atau mie?" tanya Mawar masih belum kenal situasi dapur rumah Bivendra.


"Coba cari di kulkas!" usul Bivendra karena dia sendiri juga tak tahu masalah di dapur. Bivendra sama parahnya dengan Mawar sebab anak ini jarang terjun ke tempat yang tak ada hubungan dengan dirinya.


Mawar coba cari sesuatu di dalam kulkas. Di situ penuh bahan makanan tapi dalam kondisi mentah. Belum dibuat makanan siap disantap.


Mawar menemukan bahan untuk bikin spaghetti. Gadis ini mengeluarkan lidi berupa bahan mentah untuk bikin spaghetti. Mawar tunjukkan pada Bivendra apa tertarik makan ini?


Bivendra menggeleng tidak tertarik. Kepala mungil itu goyang-goyang menolak makanan yang paling dia tak suka. Anak ini sudah terlalu sering disodori makanan berat itu.


"Gimana kalau kakak bikin telor orak Arik pakai daging cincang?"


"Apa enak?"


"Jamin ketagihan. Sekarang Biven duduk dulu! Jangan dekat sini nanti bajunya bau minyak! Biven kan harus ke sekolah."


"Ya kak..." Bivendra patuh mundur cari tempat nyaman untuk pantau langsung apa yang akan dilakukan kakak cantiknya.


Mawar mulai tunjukkan skill memasak makanan sederhana untuk merangsang nafsu makan Bivendra. Anak itu terlalu kurus untuk menjadi anak orang kaya. Biasa anak orang kaya gemuk penuh lemak. Yang satu ini malah kurus kering. Bagaimana bisa sehat bila hidup dalam kurungan sangkar emas.

__ADS_1


Harum telor dan bawang bikin hidung Bivendra kempas kempis. Aroma menggoda cacing dalam perut berontak minta diumpan makanan baru bagi Bivendra.


Mawar buat dua porsi khusus untuk dia dan Bivendra. Mawar menata makanan itu di atas piring indah milik keluarga Bivendra tanpa ijin tuan rumah.


"Harum banget kak!" ujar Bivendra sedikit bersemangat.


Mawar menyodorkan piring berisi telor dicampur daging cincang dekat hidung di kecil lihat apa anak ini suka makanan paling gampang diolah.


"Mau coba? Biven suka saos tomat atau saos cabe?"


"Saos tomat saja!"


"Ok...kakak suka saos cabe. Kita makan cepat supaya Biven tidak telat ke sekolah."


"Ya kak ..kita makan di sini saja ya! Nanti kalau di meja makan Endra dipaksa makan roti lagi."


Baru kali ini Mawar mendengar kalimat panjang dari bibir Bivendra. Bivendra tidak seburuk bayangan Mawar cuma anak ini jarang dapat perhatian maka jadi menutup diri. Dasarnya dia anak baik cuma mungkin Joko jarang interaksi membuat anak ini kurang suka sosialisasi.


"Ok..." Mawar ikuti permintaan Bivendra untuk ciptakan rasa aman di hati gadis kecil ini dulu. Anak ini harus percaya pada seseorang untuk dijadikan sandaran dan tempat tumpahkan isi hati. Mawar telah siapkan wadah untuk tampung unek-unek di hati si kecil.


Bivendra tampak suka masakan Mawar karena lain dari biasa dia makan. Semua orang akan bosan bila disuguhi makanan yang sama. Sekali-kali ganti selera rasanya tentu sangat lezat. Keduanya makan dengan lahap hingga kandas.


Mawar membersihkan mulut Bivendra dari sisa makanan serta bersihkan tangan anak itu dengan kain basah. Perlakuan lembut Mawar membuat hati Bivendra terasa hangat. Baru hari ini Bivendra mendapatkan perlakuan selembut ini dari seseorang. Rasa gelisah sedikit menguap berkat kesabaran Mawar.


"Sudah kenyang sayang?" tanya Mawar memberi segelas air minum pada Bivendra.


Anak itu mengangguk dengan cepat serta menatap Mawar dengan tatapan bening menghargai semua yang dilakukan oleh Mawar untuknya.


"Terima kasih kak!"


"Biven duduk sini ya! Kakak bersihkan dapurnya dulu. Sebentar lagi kamu harus ke sekolah. Belajar yang rajin ya! Kalau ada pelajaran kurang ngerti boleh tanya kakak. Kakak ini dulunya guru jadi paham soal pelajaran. Biven ada pelajaran tidak ngerti?"


Anak itu mengangguk. Ditanya soal pelajaran wajah anak ini jadi murung. Pasti banyak kelemahan Bivendra di beberapa bidang baru dia tampak murung.


"Ok...sekarang kita tidak bahas pelajaran. Biven cukup lapor pada kakak pelajaran sulit. Nanti kita pecahkan bersama. Ok?"


Lagi-lagi Mawar mendapat anggukan kecil. Mawar tidak menekan Bivendra soal pelajaran pagi ini. Biarlah semua berjalan perlahan capai titik tujuan. Mawar akan gunakan metode gandeng jalan santai capai hasil sempurna.


Mawar bantu Bivendra persiapkan diri pergi sekolah. Perlakuan Mawar tak ubah seorang ibu terhadap anak tercinta. Penuh kasih sayang dan kelembutan.


Keduanya segera turun ke ruangan bawah menanti seseorang antar Bivendra ke sekolah. Mawar juga harus segera pulang ke tempat Indy untuk bersiap berangkat kerja. Masa baru dia hari kerja sudah harus terlambat walau bukan keinginan dia. Hari ini dia pasti terlambat karena bolak balik butuh waktu.


Mawar bawa Bivendra ke ruang tamu menunggu sang papi keluar untuk bergabung. Mawar berencana pulang dengan taksi online agar tak ganggu pekerjaan Joko.


"Ya ampun Endra... kamu belum sarapan! Ayok segera makan!" terdengar suara nyaring membelah keheningan rumah Joko.


Bivendra segera bersembunyi di belakang punggung Mawar begitu melihat wanita berambut pirang itu muncul. Ntah mengapa Bivendra sangat takut pada orang itu sampai tubuhnya bergetar hebat. Mawar dapat rasakan betapa traumanya Bivendra terhadap orang ini.


Mawar menarik Bivendra ke pelukan melindungi anak itu dari rasa takut berlebihan. Wanita itu seperti bayangan setan di mata anak kecil itu.


"Maaf Bu...Bivendra sudah sarapan! Aku yang urus sarapan dia tadi." kata Mawar dengan nada tenang. Dia tak boleh terpancing ikutan ketakutan macam Bivendra. Dasar apa dia harus takut pada sesama manusia. Dia datang atas undangan Joko. Bukan kaum dia sendiri.

__ADS_1


"Kamu siapa? Pagi-pagi sudah keliaran di rumah kami." wanita itu meneliti Mawar dari atas kepala hingga ke ujung kaki dengan mata setajam pisau silet.


"Aku karyawan pak Joko. Aku diundang pak Joko untuk urus Bivendra. Ya kan sayang?" Mawar berlaku lembut pada Bivendra untuk hilangkan rasa takut anak itu.


"Kau diundang ke rumah kami? Apa maksudmu? Sejak kapan mas Joko suka pada daun muda model kamu. Sok berhijab rayu laki orang."


"Bu...aku ini murni karyawan pak Joko. Aku tak pernah merayu siapapun. Aku di sini karena janji pada Bivendra. Kalau ibu merasa terganggu aku minta maaf! Aku akan segera pergi." Mawar beri senyum pada Bivendra agar anak itu hilangkan rasa takut.


Mawar tak tahu siapa wanita itu tapi Mawar yakin orang itu orang yang sangat berharga buat Joko. Mawar tak boleh turut campur urusan keluarga Joko. Dia hanya karyawan kecil di kantor. Tugasnya bekerja bukan bikin kacau rumah tangga orang.


Bivendra menarik rok Mawar tak ijinkan wanita ini pergi. Ada pancaran minta tolong di mata anak itu. Mawar menjadi dilema tak tahu harus berbuat apa.


"Biven mau kakak antar ke sekolah?" Mawar menyadari situasi tak memungkinkan dia tinggalkan Bivendra pada wanita itu. Anak ini terlalu takut pada wanita itu.


Bivendra iyakan tawaran Mawar. Gadis kecil ini memeluk pinggul Mawar dengan kedua belah tangan seakan tak ingin dipisahkan oleh Mawar.


"Endra...kau tak boleh ikut dengan orang asing. Sini ikut Tante sarapan dulu." wanita itu ulurkan tangan ingin meraih Bivendra dekat dia. Bivendra bukanya hampiri wanita itu malah bersembunyi kembali ke belakang Mawar. Kedua tangan anak ini memeluk Mawar dengan erat minta lindungan.


"Maaf Bu...Biven sedang ketakutan. Biar kuantar dia pagi ini! Ibu perlahan saja bujuk dia nanti."


Wanita itu berkacak pinggang menantang Mawar yang dia anggap lancang ikut campur urusan rumah tangga mereka.


"Kau ini siapa berani ajar aku? Aku mau bunuh anak ini urusan aku! Dia anak setan bawa sial. Anak perempuan tak bermoral. Keturunan orang tak setia untuk apa dididik baik. Dari dasar sudah tak bermoral." seru wanita ini berapi-api pada Mawar.


Melihat hal ini membuat Mawar makin yakin wanita ini bukan wanita berhati lembut. Orangnya sangat kejam pada anak kecil. Kesalahan orang dewasa dibebankan pada anak tak berdosa. Ini sungguh perbuatan orang tak punya hati nurani.


"Bu...apa pantas ibu berkata demikian di depan seorang anak kecil. Bivendra hanya seorang anak tak berdaya. Kita yang punya akal sehat harus lindungi mereka bukan sakiti mereka anak kecil. Terserah ibu mau bilang apa! Aku akan bawa Bivendra bersamaku!" Mawar menantang tak rela Bivendra disakiti lebih jauh.


"Dasar wanita setan! Beraninya kau rusak semua aturan rumah ini. Aku nyonya rumah ini. Terserah aku mau apakan anak setan ini!"


Mawar sungguh tak nyaman dengar setiap perkataan yang keluar dari mulut wanita berambut pirang itu. Mana ada orang tua didik anak dengan cara brutal. Kalau anak ikuta. brutal bukan salah anak itu karena dia telah dipertontonkan kekerasan.


"Ayo sayang! Kita ke sekolah." Mawar memilih mundur tak ladeni orang sedang kalap. Mawar yakin ini bukan ibu kandung Bivendra. Seorang ibu takkan keluarkan kalimat menyakiti perasaan seorang anak.


"Coba kau bawa dia! Kubunuh kalian detik ini juga! Kau belum tahu siapa aku ya?" teriak wanita itu bergema satu ruangan.


Bivendra makin ketakutan sampai menangis. Mawar bukan takut digertak tapi jaga perasaan anak kecil yang teraniaya. Mawar memeluk Bivendra makin erat benamkan kepala Bivendra ke perutnya.


Kalau bisa anak ini ingin sekali masuk ke dalam perut wanita mulia ini agar dilahirkan dari perut itu. Dengan demikian dia tidak usah menderita tekanan batin.


"Sedang apa kalian?" terdengar suara berat menegur keributan di pagi ini.


Joko muncul ntah dari mana sudah berpakaian rapi hendak ke kantor. Mata laki itu menatap ketiga wanita di ruangan ini silih berganti.


"Ach mas Joko! Wanita ini mengajar Endra jadi pelawan. Tak mau sarapan sesuai aturan biasa. Gimana dia sekolah dengan perut kosong?" wanita itu bermanja pada Joko dengan suara dibuat selembut mungkin.


"Biven sudah sarapan. Aku yang beri di sarapan. Dia sudah siap ke sekolah. Terhadap anak kecil tak perlu keras karena mereka adalah makhluk yang masih butuh kasih sayang. Memaki di depan anak bukanlah edukasi yang baik! Aku akan antar Bivendra ke sekolah. Assalamualaikum.." Mawar menarik tangan Bivendra berlalu dari depan Joko dan wanita itu.


Bivendra dengan patuh ikut Mawar keluar dari rumah. Joko melongo melihat keberanian Mawar menentang dia. Wanita itu tampak lemah lembut tapi jiwanya kokoh tak takut pada intimidasi.


"Tunggu...aku antar kalian!" seru Joko menahan langkah Mawar dan Bivendra.

__ADS_1


Wanita itu melongo tak percaya Joko merendahkan diri antar seorang karyawan walaupun ada Bivendra. Dirinya diabaikan Joko seperti angin tak bisa dilihat.


Joko mengejar Mawar yang telah duluan keluar bersama Bivendra. Laki itu tidak menunggu supir langsung keluarkan mobil antar secara pribadi.


__ADS_2