
Semua mata mengarah pada Mawar menanti suara gadis ini. Salah hati Dahlia berdoa semoga Mawar tidak menerima lamaran Joko di saat ini. Kalau Mawar terima pupus lah sudah harapan menjadi isteri dari konglomerat kaya ini.
Mawar merasa seluruh badannya dihujam jutaan jarum runcing akibat tatapan penantian dari Joko dan keluarganya.
"Aku baru bercerai dari Pak Riyan. Apa pantas bicara soal pernikahan?" suara lembut Mawar akhirnya terdengar.
Dahlia dan Bu Tiara menghembus nafas lega Mawar tidak segera menerima lamaran Joko. Ini masih ada peluang buat Dahlia masuk ke dalam hidup orang kaya ini.
"Begini nak Joko! Kalau Mawar ragu melangkah lagi masih ada kakaknya yang lebih cantik. Ini anakku yang lain namanya Dahlia. Dia sudah siap dipinang." Bu Tiara lepaskan suara hati yang telah terpendam dari tadi.
Joko sama sekali tidak sedikitpun melirik ke arah Dahlia. Lelaki ini malah menatap mawar yang telah menolaknya lagi. Joko sudah menduga Mawar akan mengatakan hal demikian karena Joko tahu Mawar bukan wanita gampang ditaklukkan.
"Tidak boleh orang lain jadi mami aku selain mami Mawar." Bivendra yang menjawab permintaan Bu Tiara. Anak kecil ini terlanjur jatuh cinta kepada mawar untuk menjadi maminya. 100 wanita lain takkan mampu membuka pintu hatinya yang telah lama tertutup.
Bu Tiara menelan pil pahit mendapat penolakan dari anak Joko. Bu Tiara tahu kalau Bivendra adalah kunci dari keutuhan rumah tangga Joko.
"Adek sayang...Tante juga sayang padamu nanti! Tante dan Mawar sama saja karena kami adalah satu keluarga. Mawar belum siap untuk menjadi mami kamu maka tante akan menjadi ganti posisinya." Kini Dahlia pula bujuk Bivendra agar buka hati terima dia.
Bivendra buang muka tak mau tatap Dahlia sama halnya dengan Joko. Kedua anak bapak kompak tidak mau orang lain gantiin Mawar jadi mami Bivendra.
"Kita makan dulu! Ini cerita nanti!" Bu Hanif tengahi suasana tak enak ini. Bu Tiara dan Dahlia ngotot sementara Joko dan Bivendra menolak.
Satu persatu hidangan mulai disajikan di atas meja mendatangkan aneka bau makanan. Hidangan tersaji rata-rata makanan kelas atas. Dari penataan sudah menarik selera.
Ayumi yang sedang hamil tak dapat menahan diri untuk segera santap hidangan. Semuanya menggugah selera ibu hamil ini.
Yang lain sibuk pilih makanan cocok selera, hanya Bivendra tidak antusias isi perutnya dengan semua hidangan. Gadis cilik ini berpikir keras bagaimana bikin Mawar takluk dan menjadi maminya secara sah agama dan hukum.
Gadis cilik ini bangkit dari kursi berjalan ke meja kosong di sebelah mereka. Di atas meja kosong itu atas pot berisi setangkai bunga Mawar merah berdiri tegak hiasi meja kosong itu. Bivendra naik ke atas kursi lantas meraih bunga itu.
Hanya Mawar yang perhatikan apa dilakukan oleh anak itu. Mawar takut Bivendra jatuh dari kursi segera bangkit dekati anak kecil itu.
"Sedang apa sayang?" tegur Mawar membantu Bivendra turun dari kursi.
"Mami..."
"Ya sayang...kalau mau bunga ini kenapa tidak minta tolong sama mami. Hati-hati durinya! Nanti tanganmu terluka."
Bivendra bukannya kembali duduk bersama yang lain melainkan berlutut di depan Mawar sambil angsurkan bunga di tangannya ke arah Mawar.
Mawar dan yang lain terpana apa yang diinginkan oleh anak kecil itu. Bikin heboh semua orang saja.
"Mami...Bivendra melamar mami untuk jadi mami Bivendra secara sah dan jadi isteri papi."
Joko bersorak dalam hati puji kepintaran Bivendra taklukkan Mawar. Namun Joko tetap pasang muka cool biar tak dianggap ajar Bivendra berbuat nekat. Joko memang tak ajar Bivendra untuk melamar Mawar. Itu murni inisiatif Bivendra sendiri. Anak ini mungkin sering nonton sinetron maka tahu cara melamar orang.
Mawar melongo tak tahu harus bagaimana. Anak kecil ini telah tulus menyatakan isi hati ingin Mawar menjadi ibu penggantinya. Mau tolak tak tega, terima jadi dilema.
"Bangkit dulu sayang! Malu dilihat orang. Nanti kita bicara di rumah ya sayang!" Mawar meraih Bivendra untuk bangun.
Bivendra bersikukuh tak mau bangun sebelum Mawar beri jawaban memuaskan. Mawar melihat kiri kanan takut orang memandangi adegan ini.
Apa yang ditakuti Mawar terjadi. Tamu-tamu di restoran menanti kelanjutan lamaran anak kecil pada Mawar. Beberapa orang ikut beri semangat pada Bivendra capai apa yang diinginkan.
"Ayo Mawar! Terima saja! Jangan kecewakan anak kecil!" bujuk Bu Hanif setuju Mawar masuk jadi isteri Joko. Joko lelaki sempurna pasti akan beri kebahagiaan buat Mawar.
"Terima...terima..."
__ADS_1
"Terima...terima..." suara dukungan terdengar sana sini timbulkan suara bising.
Dahlia komat Kamit berdoa semoga Mawar menolak. Semakin Mawar menolak semakin besar kesempatan Dahlia untuk menjadi istri Joko.
Pipi Mawar bersemu merah menahan malu jadi pusat perhatian. Ingin rasanya amblas ke bumi saja biar tak jadi pusat perhatian tamu lain.
Joko sendiri tak kalah deg-degan menanti jawaban Mawar. Ini akan jadi penentuan jalan hidupnya ke depan. Bivendra sayang pada Mawar maka jalannya akan mulus bersama Mawar.
"Kalau tak suka ya tolak! Tak usah sok penting! Aku siap ganti kamu kok! Mari sini sayang! Tante siap jadi mami kamu!" Dahlia bangkit bermaksud angkat badan kurus Bivendra dari lantai.
"Tidak...Endra hanya mau mami Mawar! Mami...jawab Endra!"
Mawar menarik nafas dalam-dalam menguatkan hati untuk beri jawaban terbaik buat Bivendra. Semoga Mawar tidak salah kali ini. Dia harus mantap dengan keputusannya menjawab permintaan Bivendra.
"Mami terima." Mawar menerima bunga dari tangan Bivendra lantas turunkan badan memeluk anak kurus itu.
Bivendra menangis dalam pelukan orang yang telah sukses curi perhatiannya. Bivendra akan putus asa bila Mawar menolak.
Tepuk tangan bergema bersama pernyataan Mawar terima lamaran Bivendra. Dukungan bergema sambut kejadian menarik ini.
Joko mengusap wajah bahagia anaknya berhasil melamar Mawar untuknya. Dia kalah gesit dari Bivendra. Anaknya lebih cerdik darinya bikin Mawar tak berdaya.
"Terima kasih mami. I love you!" Bivendra mencium pipi Mawar kiri kanan.
"Mami juga. Ayok sekarang kita makan!" Mawar mengangkat Bivendra yang kini patuh ikut Mawar kembali duduk.
Gadis cilik ini tak henti tatap wajah calon maminya. Wajah itu janjikan keteduhan. Hari bahagia impiannya telah tiba. Hari-hari sepi segera berlalu.
"Mawar kan baru bercerai mana boleh menikah. Bukankah harus tunggu empat bulan?" Bu Tiara bersuara kurang setuju Mawar menikah dengan Joko.
"Mawar dan Riyan tidak berhubungan badan maka tak ada masa Iddah." sahut pak Hanif yang tahu dari cerita Riyan tidak menyentuh Mawar.
"Apa? Bang Riyan tidak hubungan dengan Mawar? Cerita apa itu?" seru Ayumi tak percaya Riyan dan Mawar bisa menahan diri setelah sah menikah.
"Kak...jangan omong yang bukan-bukan! Kita makan dulu!" tukas Mawar tak enak statusnya jadi bahan topik.
"Dasar kamu ini! Pura-pura tolak lalu ngebet kawin. Sok suci pula!" sinis Ayumi iri hati.
"Sudah ..sudah ..itu urusan Nak Joko dan Mawar." lerai pak Hanif.
"Betul...setelah makan kita ke rumahku untuk bicarakan kelanjutannya. Aku akan melamar Mawar secara resmi. Tapi sekarang kita makan dulu." Joko ikut bicara tak mau Mawar jadi canggung di bahas kesuciannya di depan orang ramai.
Kata-kata Joko mengandung hipnotis. Semua terdiam fokus pada hidangan di meja. Masing-masing memilih makanan untuk diantar ke perut. Mawar sibuk layani calon anak sambungnya. Mawar berbuat gini biar Bivendra ada selera makan.
Harapan Mawar terwujud Bivendra makan dengan lahap. Hati anak ini sedang berbunga maka semuanya tampak indah.
Andai Riyan tahu Mawar telah terima lamaran Bivendra ntah bagaimana reaksi laki itu. Penyesalan bergoni-goni akan tersimpan dalam gudang hatinya. Penyesalan yang tak bisa dia bayar. Yang aking kasihan adalah kedua anak Riyan. Mereka berdua kehilangan ibu idaman. Bivendra yang beruntung dapat mami super baik.
Joko sudah sediakan mobil untuk angkut keluarga Mawar main ke rumahnya. Joko sengaja ajak keluarga Mawar ke tempatnya untuk kasih tahu Mawar bakal ratu dari istana mewahnya.
Hanya perempuan berhati emas berhak tinggal di rumah mewah itu. Dan orang itu adalah Mawar.
Komposisi duduk masih sama. Dua pasang suami isteri tua diantar dengan mobil mewah harga milyaran sedang kedua kakak Mawar nebeng pada Joko dan Mawar. Bivendra tetap lengket pada Mawar seperti biasa.
Dahlia dan Ayumi gemas pada nasib mujur Mawar gaet orang kaya dan ganteng pula. Awalnya sok jaim tolak laki kaya itu toh akhirnya terima. Dahlia sematkan gelar orang munafik pada Mawar.
"Pak kita ngak balik ke kantor?" tanya Mawar di sela perjalanan.
__ADS_1
"Hari ini tak usah lagi! Besok baru kerja lagi. Hari ini kita selesaikan masalah kita. Takutnya nanti ada orang jilat ludah sendiri."
Mawar merasa disindir Joko. Laki ini takut Mawar akan putar kenyataan menarik semua omongan tentang lamaran Bivendra. Joko bukan. tak kenal Mawar.
"Bapak ini..."
"Aduh mami! Kok pak lagi! Bukankah sudah janji panggil hubby? Kita sudah satu keluarga lho! Endra ngambek nanti lho!"
"Ampun tuan putri sayang. Mami sudah pikun. Mami lupa. Cerita pada mami gimana pelajaran hari ini?"
"Endra bisa kok! Hampir mirip seperti diajar mami. Nanti kita bikin pr lagi ya!"
"Siap!" Mawar mengelus pipi Bivendra lembut. Bivendra tertawa renyah begitu bahagia.
Di belakang Dahlia dan Ayumi seperti kambing congek saksikan interaksi keluarga kecil nan bahagia. Rasa benci dan iri bersatu dalam dada kedua orang itu.
Tak terasa mereka tiba di rumah Joko yang bikin keluarga Mawar terpana. Rumah segede istana raja terpapang jelas di depan mata mereka. Itu bukan rumah melainkan istana raja orang hebat.
Begitu masuk halaman rumah tampak puluhan mobil mewah terparkir di tempat khusus mobil. Semua mobil mahal produk kekinian.
Pak Hanif heran untuk apa mobil sebanyak ini padahal yang aksi cuma satu orang yakni Joko. Apakah orang kaya memang begitu?
Joko ajak seluruh keluarga masuk ke dalam rumah yang cukup dikenal Mawar. Mawar sudah berapa kali datang sini sehingga sudah hafal lingkungan rumah ini walau tidak seluruh ruangan dijelajahi.
Ruang tamu sepi menyambut para tamu Joko. Semua benda berada dalam ruangan diam membisu walau didatangi tamu lumayan banyak.
"Silahkan duduk! Ini tempat tinggal aku dan kelak juga jadi tempat tinggal Mawar." Joko persilahkan tamunya duduk di sofa impor yang harga tentu keringkan kantong.
"Wah rumahmu bagus nak! Mawar beruntung bisa jadi nyonya rumah ini. Sudah saatnya Mawar bahagia." kata Bu Hanif terbawa arus kesedihan ingat nasib Mawar yang selalu sial.
"Aku yang beruntung dapat persunting gadis sebaik Mawar. Oya Mawar...tolong bikin air minum!" pinta Joko seolah sudah terbiasa pada Mawar.
"Iya pak..." sahut Mawar tak menunda langkah.
Bivendra mendengus marah dengar Mawar masih panggil Joko dengan sebutan pak. Bivendra pasang aksi mogok bicara.
Mawar tertawa terbiasa oleh sikap judes Bivendra, "Maaf sayang! Lupa... ayok pergi mandi dulu! Nanti mami nyusul kita lihat pr kamu! Ok?"
"Ya..." Bivendra angkat tas sekolah main ke lantai atas tempat dia lakukan aktifitas.
Bivendra naik ke lantai atas sementara Mawar ke dapur untuk hidangkan minuman buat tamu. Dahlia dan Ayumi memantau gerak gerik Mawar dengan jeli. Mawar tampaknya sudah akrab dengan lingkungan rumah Joko. Apa mungkin Mawar tinggal di rumah ini?
"Maaf...kita kembali ke lamaran saya! Apa aku harus melamar ke Aceh?"
Pak Hanif memandangi pak Hari selalu ayah juga wali Mawar. Keputusan tetap di tangan Pak Hari. Di mana dan kapan hanya pak Hati bisa tentukan. Termasuk soal mahar pernikahan Mawar dan Joko.
"Nak Joko tak perlu jauh ke Aceh! Kami di sini tergantung Mawar saja. Anggap saja kami setuju tapi tetap Mawar si pemilik badan yang tentukan." kata pak Hari bijaksana.
Joko setuju perkataan calon mertuanya. Semua memang tergantung Mawar. Mawar yang bisa tentukan pernikahannya. Pak Hari tak mau salah lagi menentukan masa depan anaknya. Mawar pernah gagal semoga kali ini tidak gagal lagi.
"Maharnya?" tanya Joko.
"Tunggu...kita sebagai umat Islam boleh poligami. Di sini kami menawarkan bak Joko nikahi anak kami berdua sekaligus biar kakak adik bisa saling berjaga. Bukankah lebih bahagia ada dua wanita siap layani nak Joko?" Bu Tiara kemukakan usul baru mau sodorkan Dahlia.
Joko tersenyum kecil sambil menggeleng, "Maaf Bu! Seumur hidup aku cukup satu wanita! Aku takut tak bisa berbuat adil antara dua wanita maka tak berniat poligami. Cukup Mawar saja! Aku dan anakku suka padanya. Kami akan bahagia tanpa kehadiran orang ketiga. Dalam poligami pasti tak ada keadilan." sahut Joko bikin Dahlia patah hati.
Tak bisa jadi istri utama tak masalah. Jadi isteri kedua juga boleh asal bisa jadi istri laki tajir ini. Dahlia yakin bisa geser posisi Mawar dalam rumah ini selama dia juga istri Joko. Mawar gampang diintimidasi.
__ADS_1
"Asal nak Joko niatkan baik semua pasti baik. Kami percaya nak Joko akan jaga kedua anak kami dengan baik."