
Joko menahan Mawar untuk pergi. Joko tahu wanitanya ini sedang kesal padanya karena sembunyikan masalah kakak iparnya. Joko berani bersumpah tidak ada apa-apanya dengan kakak iparnya. Dia hanya menjaga isteri abangnya itu.
"Duduklah! Kita harus saling jujur bukan?" Joko memaksa Mawar duduk untuk jernihkan masalah mereka sebelum badai hampiri mereka.
Mawar duduk kembali dengan wajah judes. Ini kedua kali Joko melihat Mawar pasang wajah judes. Yang pertama waktu dia mau kawini Mawar secara tak sopan dan sekarang gara kakak ipar.
"Kuakui aku sering jalan dengan kakak ipar. Tapi murni hanya jalan tanpa hubungan intim. Kau pikir aku sudah gila main mata dengan isteri Abang sendiri?"
"Kalau aku tak tanya apa bapak mau jujur? Ketahuan baru ngaku. Kenapa tidak menikah dengannya saja? Kalian kan senasib sama-sama dikhianati pasangan sendiri. Mungkin kalian akan lebih serasi." ketus Mawar tak mau menatap wajah ganteng Joko.
"Bivendra tak suka padanya."
"Anak tak suka tapi bapaknya suka kan? Aku tak mau jadi pembatas buku kalian. Silahkan lanjutkan hubungan kalian! Kita batal nikah."
"Ya Allah...kapan aku bilang suka padanya? Kalau aku mau dari dulu sudah kunikahi dia! Aku menjaganya karena dia tak mau nikah lagi. Aku anggap dia kakak sendiri. Kamu adalah mami Bivendra maka otomatis kau isteri aku! Ayoklah Mawar! Aku janji takkan jalan dengan kakak ipar lagi walau apapun terjadi. Dia harus paham aku sudah punya keluarga. Aku akan pertemukan kalian untuk jernihkan masalah ini!" kata Joko panjang lebar agar Mawar tahu bahwa dia serius ingin berhubungan dengannya.
"Kita lihat nanti! Kita pulang saja! Aku tak suka susu coklat." Mawar sengaja bilang gitu agar tidak ikutan dengan kebiasaan Joko dan kakak iparnya. Mawar tak mau disamakan dengan kakak ipar Joko.
"Kau suka apa biar kupesankan yang lain? Ayoklah Mawar! Jangan kayak anak kecil! Kita semua sudah dewasa bisa memilah masalah. Dia hanya kakak ipar."
"Tak usah bahas itu lagi. Kepalaku sakit." tukas Mawar tetap tak terima Joko dekat dengan wanita lain apalagi seorang janda. Mawar tak mau ambil resiko main bumerang. Ini akan melukai diri sendiri.
"Bahas salah tak bahas juga salah. Kau tahu aku utamakan Bivendra! Selama Bivendra tak suka wanita manapun aku takkan menikah. Tidak gampang aku temukan wanita sayang Bivendra setulus hati. Aku tidak akan lewatkan kesempatan ini. Percayalah Mawar! Aku ilfil pada wanita sejak kejadian mendiang isteri aku! Banyak wanita coba terobos batas yang telah kubuat tapi tak satupun mendobrak batas itu sampai kamu muncul. Ijinkan aku menjagamu dan Bivendra!"
Hati Mawar sedikit melunak dengar pengakuan Joko. Mawar tak tahu itu jujur atau tidak tapi pancaran mata Joko siratkan kejujuran. Mawar harus coba beri kesempatan pada Joko untuk buktikan semua omongan. Dia harus jumpa kakak ipar Joko dulu. Siapa tahu Mawar telah salah sangka.
"Aku harus jumpa dia. Aku mau tahu reaksi dia lihat kita."
"Tak masalah. Kita memang harus jumpa dia supaya tak ada salah paham. Sekarang mau pesan apa?"
"Tidak usah...bapak minum saja susu kakak ipar kesayangan!" sindir Mawar bikin Joko tertawa sendiri. Cara marah Mawar tidak lazim. Marah tapi tetap lembut. Siapa takut padanya.
Joko anggap Mawar cemburu pada orang yang belum pernah dia temui. Joko tak tahu kalau Mawar sangat trauma pada para pelakor yang merusak rumah tangga orang. Mawar petik pelajaran daripada kejadian yang menimpa ibunya. Lebih baik tidak usah menjadi istri siapapun jika harus menanggung beban derita seumur hidup.
Joko tepat janji mengantar mawar pulang setelah mereka bicara dari hati ke hati.
__ADS_1
Bagi Joko menikahi Mawar adalah satu tanggung jawab penuh dan harus membahagiakan wanita itu. Joko yakin tidak ada masalah dengan kakak iparnya karena mereka selama ini tidak pernah membahas masalah pernikahan dan cinta. Mereka hanya saling ngobrol dan saling menyapa, itu saja.
Pagi subuh mawar telah bangun untuk review yang telah terjadi pada hidupnya. semua serba cepat dan ajaib. Seperti kena tongkat ajaib simsalabim dia akan segera menjadi istri daripada seorang lelaki tajir bernama Joko. Mawar sendiri tidak yakin bisa menjadi istri yang baik buat Joko karena di antara mereka tidak ada setitik perasaan. Mawar hanya bisa bertaruh semoga dia mendapat kebahagiaan daripada lelaki itu.
Seusai salat subuh Mawar bersiap-siap sarapan dan pergi ke kantor Indy. Mawar tetap harus melaksanakan amanah dari Indy mengurus kantornya. Mawar tak boleh melupakan kebaikan Indy dan John.
Di depan rumah sudah ada Riyan datang menjemput Mawar. Lelaki ini tepat janji akan bantu Mawar kelola perusahaan Indy. Selain membantu Riyan pasti mempunyai tujuan lain. Tak usah dibilang pasti untuk mencari simpati mawar kembali.
Pagi ini Riyan kelihatan sangat tampan dengan baju warna biru muda dan dasi warna biru gelap. Rambut disisir rapi ala anak muda. Tidak seperti om om sebeng ke kiri dengan satu galon minyak rambut.
Mawar akui kalau lelaki itu sangat tampan. Cuma pengakuan ini hanya bisa mengendap di dalam dada. Tak urung jantung Mawar berdebar-debar melihat kehadiran lelaki ini. Ada rasa bersalah di dalam hati mawar karena telah menerima lamaran Joko. Riyan pasti belum tahu kalau Joko telah lama melamar Mawar. Lamaran ini juga sangat mendadak.
"Selamat pagi nona cantik!" sapa Riyan dengan riang.
"Pagi pak..gimana anak-anak? Arsy sudah pulih sepenuhnya?" tanya Mawar seraya menutup pintu rumah berjalan ke arah mobil Riyan.
"Alhamdulillah sudah sehat. Dia rindu padamu! Kapan main ke rumah?"
Mawar tak jawab. Gadis ini masuk ke dalam kotak besi beroda ini. Dalam dua hari ini Mawar akan sibuk oleh rencana akad nikah. Apa ada waktu jumpa anak kakaknya itu?
Riyan menjalankan mobil setelah yakin Mawar telah duduk dengan aman. Safety belt telah terpasang lingkari tubuh wanita itu.
Keduanya diam hadirkan suasana kaku. Mawar ingin sampaikan bahwa dia akan menikahi Joko. Tapi lidah Mawar terasa kelu untuk munculkan suara yang pasti akan membuat Riyan kaget.
"Gimana orang tuamu dan pak Tuo?"
"Mereka di hotel.. mungkin berapa hari lagi baru pulang."
"Kurasa sebaiknya orang ini cepat pulang untuk menyelesaikan masalah Ayumi dengan Husein. Kalau ditunda terus perut Ayumi akan makin membesar dan memalukan."
Mawar setuju tapi sekarang mereka tak mungkin pergi sebelum rencana nikah Mawar selesai.
"Begini pak! Mereka tinggal ada alasannya."
"Oh? Masih ingin main? Aku bersedia membawa mereka jalan-jalan tetapi tidak membahas masalah kehamilan Ayumi. Aku sangat takut pada saudaramu itu. Mereka sangat mengerikan."
__ADS_1
"Aku minta maaf untuk mereka pak! Mungkin bapak harus tahu kalau aku..." mulut Mawar kembali terkunci tak tega lanjutkan omongan. Mawar tahu Riyan pasti kecewa bila dia utarakan rencana pernikahan dia dengan Joko.
"Kamu kenapa?" tanya Rian masih belum mencurigai apa-apa.
"Aku...aku akan menikah!"
"What? Menikah? Dengan siapa?" seru Riyan injak rem secara mendadak. Untung saja tidak terjadi kecelakaan karena gerakan reflek Riyan.
"Dengan pak Joko... Dia telah melamar aku pada ayah dan Pak tuo!"
"Dan kau terima?" tanya Riyan dengan nafas tersengal.
Suara klakson dari belakang meminta Riyan jalankan mobil bertalu-talu. Riyan terpaksa menepikan mobil di pinggir jalan. Laki ini tak sanggup jalankan mobil karena seluruh tubuhnya bergetar hebat. Riyan tak terima Mawar terima lamaran Joko si es beku.
Riyan masih mengharap Mawar kembali ke pelukan walau nanti. Riyan yakin akan menangkan hati Mawar suatu saat. Namun dia kalah cepat ditikung Joko dengan gesit.
"Maafkan aku pak!" lirih Mawar menyesal telah membuat Riyan kecewa. Namun mawar tidak bisa menghindari fakta dia telah menerima lamaran Joko melalui Bivendra.
"Mawar... Apa yang ada di pikiran kamu? Apa kamu sudah mengenal Joko seutuhnya? Dia itu orangnya sangat dingin dan kejam. Belum lagi skandal keluarganya yang sangat memalukan. Kenapa kamu ingin masuk ke dunia yang sangat tidak kamu kenal. Masih ada aku dan anak-anak. Mereka adalah anak-anak kamu anak-anak kakak kamu."
"Aku tahu...tapi Bivendra juga perlu aku! Aku sudah bilang pada Joko agar jangan batasi aku dengan anak-anak. Joko terima kehadiran anak-anak setiap saat."
"Ya Allah bukan itu maksudku! Gimana aku? Anak-anak ingin ingin bersamamu setiap saat bukan hanya sekedar mengunjungi kamu. Ayo kau batalkan rencana gila ini!" Riyan menggenggam tangan Mawar beri semangat untuk batalkan rencana menikah dengan Joko.
Riyan akan patah hati bila Mawar benaran menikah dengan Joko. Hati Riyan telah terbuka untuk Mawar walau dia pernah bersalah. Apa hukuman Mawar demikian kejam padanya.
"Tak bisa pak! Semua telah terlanjur jalan." Mawar menarik tangannya dari genggaman Riyan. Tidak elok Mawar main sentuhan dengan lelaki lain.
"Mawar...dengar aku! Katakan kau tak bisa menikah karena masa Iddah belum selesai."
"Pak Tuo sudah katakan tak ada masa Iddah karena kita tidak pernah berhubungan badan." kata Mawar pelan. Ada sedikit rasa sesal di hati telah terima lamaran Bivendra. Seharusnya dia berpikir lebih jauh sebelum menerima. Kini semua telah terlanjur. Apa mungkin dibatalkan?
"Ya Allah pak Tuo! Mawar...Abang mohon pertimbangkan sekali lagi rencana kamu. Ini bukan masalah sehari dua hari. Seumur hidup kamu akan terjebak di dunia tak kamu kenal. Kehidupan Joko tidak sederhana. Dia itu terkenal bertangan dingin tak pernah beri ampun pada lawan bisnis. Dia itu mafia."
Mawar makin ragu setelah dengar omongan Riyan. Apa Joko memang seburuk yang dikatakan Riyan. Namun di mata Mawar lelaki itu biasa saja. Orangnya memang dingin dan cuek tetapi dia sangat menyayangi anaknya. Itu sudah membuat Joko mendapat nilai dari hati Mawar.
__ADS_1
"Aku tak bisa pak! Semua keluarga sudah tahu kalau kami akan menikah. Akad nikah di sini dan pestanya akan dilaksanakan di kampung."
Riyan menyugar rambut hilang akal. Mengapa kehadiran orang tua Mawar mengubah semua skenario telah dia susun. Sungguh kacau.