
Kalau bukan ingat janji pada Indy ingin rasanya Mawar tidak kembali ke kantor Indy. Sungguh memalukan diperebutkan dua lelaki dewasa.
"Dek Mawar...kok melamun terus?" tegur Riyan lihat Mawar tak bersemangat.
"Bisakah bapak tak usik aku lagi? Aku sangat lelah hadapi masalah ini. Kita bukan jodoh pak!" Mawar memelas pada Riyan agar dibebaskan dari semua beban perjodohan. Riyan sudah melepaskan kesempatan yang telah diberikan oleh Mawar. Maka Mawar tidak ingin memberi kesempatan kedua.
"Apa aku demikian buruk di matamu?"
Mawar membuang mata ke arah lain. Kalau boleh jujur Mawar ingin tumpahkan unek-unek di hati sedih tak dihargai Riyan. Tapi apa semua itu akan mengembalikan ke keadaan yang semula. Dibincang pun tidak akan jumpa titik temunya.
"Beri aku waktu menata hidupku pak! Aku seorang wanita. Punya harga diri. Bukan barang yang mau dibuang atau dipungut sesuka hati. Kumohon bapak jauhi aku!"
Riyan tak tega lihat manik-manik cairan sedang bergelantungan di pelupuk mata Mawar. Semua ini murni salah dia percaya pada karangan Ayumi. Riyan tidak saring cerita Ayumi langsung percaya. Sekarang telah terlanjur kacau.
"Maafkan aku bila kamu tersiksa berada di sampingku! Aku tak salahkan Ayumi bohongi aku. Aku yang tolol tak lihat rencana busuk kakakmu itu. Kita makan aku akan antar kamu ke kantor. Aku tak akan ganggu kamu lagi. Maafkan aku!"
Sebenarnya Mawar iba juga pada Riyan terperdaya oleh Ayumi. Kakaknya itu tak pernah berubah. Selalu licik terhadap Mawar.
"Terima kasih pak!"
Riyan mengangguk kecil terima ucapan Mawar. Dalam hati Riyan sakit dan sedih tak bisa jumpa Mawar lagi. Dia seorang lelaki sejati pasti akan tepat janji. Riyan cuma kasihan pada Rizky dan Arsy bila kangen pada Mawar. Untuk jumpa Mawar akan jadi moments langka bagi anaknya.
Riyan tepat janji antar Mawar kembali ke kantor dan langsung pergi. Laki ini berjanji takkan menyerah tapi tiarap dulu beri waktu pada Mawar untuk kaji ulang perasaannya.
Mawar bernafas lega Riyan telah janji tidak usik dia lagi. Kini dia bisa belajar lupakan kesedihan lebih giat lagi. Penyebab kesedihan dia telah raib dari netra. Mawar akan lebih gampang melanjutkan hidup tanpa harus mengingat kepada Riyan.
Sore hari Riyan tidak datang jemput Mawar lagi. Joko juga tidak tampak batang hidung membuat seluruh tubuh Mawar plong. Tanpa beban tanpa rasa kuatir.
Hari ini berlalu bagai hari paling bersejarah dalam hidup Mawar. Tenang tanpa diintai oleh kedua lelaki gila merongrong hidup Mawar.
Esok pagi hari Mawar telah dapat supir baru pengganti Riyan. Riyan tak muncul ganti pula Bagas. Mawar tidak keberatan pergi dengan Bagas karena antara dia dan Bagas bersih tanpa ada kasus selain si perusuh Naura.
Bagas senang jumpa Mawar lagi. Cukup lama mereka lose kontak karena Bagas sangat sibuk dengan proyek baru. Naura sangat pintar cari perhatian Bagas sampai bis melupakan Mawar.
Bagas tertawa senang lihat gadis yang telah isi hatinya dalam kondisi sehat. Di mata Bagas Mawar makin cantik dan menarik. Mawar makin matang sejak mengalami berbagai cobaan.
"Assalamualaikum nona cantik! Taksi anda telah datang jemput." olok Bagas membungkuk badan sopan.
Mawar tersipu malu diperlakukan sangat sopan oleh Bagas.
"Waalaikumsalam.. bisa saja Mas Bagas ini! Nanti aku kasih bintang 5 biar taksinya makin lancar."
"Oh terimakasih... silahkan masuk ke dalam mobil! Kita berangkat ke tujuan. Jangan lupa bintang limanya ya!"
"Beres pak taksi ganteng! Bintang sepuluh juga kukasih. Aku bukan orang pelit."
"Ok...kita berangkat! Bismillahirrahmanirrahim." Bagas ngerti bersama wanita taat beragama dia harus religius biar dapat perhatian.
Bagas beri kode pasang safety belt sebelum berangkat. Bagas tidak seperti Riyan ambil kesempatan curi dekati Mawar. Bagas lebih Galant cuma beri kode.
Mawar bukan orang tolol harus diingatkan terusan soal sabuk pengaman tersebut. Gadis ini pasang sendiri sebelum Bagas bergerak seperti Riyan.
"Ok..." Bagas jalankan mobil setelah yakin bisa maju. Perlahan mobil tinggalkan rumah Indy yang makin sepi ditinggal pemilik.
Angin dingin AC mobil bikin suasana nyaman dalam mobil. Bagas sengaja tak hidupkan musik agar bisa ngobrol dengan Mawar. Suara musik akan ganggu obrolan mereka.
"Gimana bekerja di kantor mbak Indy?"
"Masih belajar...mas Bagas gimana? Lancar?"
"Alhamdulillah lancar! Banyak kerja maka tak kunjungi kamu. Mas minta maaf tak berkunjung."
"Tak apa mas! Tugas lebih penting kok! Mbak Indy ada kabar?"
__ADS_1
"Belum...mungkin siang nanti baru ada kabar. Mbak sebenarnya sayang pada suaminya tapi si bule keburu nikah lagi. Nikah tapi tetap butuh mbak! Cinta terlalu dalam."
"Harusnya kita bersyukur masih ada cinta begitu indah. Bukan hanya sekedar pemanis di bibir. Cinta mbak Indy dan suaminya tulus keluar dari lubuk hati. Jarang-jarang ada cinta seperti itu."
"Ada dong! Kau pasti akan dapatkan cinta itu. Oya...kenapa dengan Riyan? Kok dia minta aku antar jemput kamu? Dia sudah menyerah?"
Mawar susah sekali jawab pertanyaan Bagas. Riyan menyerah karena permintaan Mawar. Mawar sudah tak sanggup hadapi Riyan yang pantang mundur walau berkali ditolak.
Bagas tertawa lepas melihat Mawar tak sanggup menjawab pertanyaannya. Laki ini bukan tidak tahu kalau Riyan telah terpojok oleh Mawar.
"Aku akan antar jemput kamu. Tak usah pikir yang lain. Cukup fokus urus kantor mbak Indy. Kalau ada yang tak ngerti boleh hubung aku. Ok?"
"Iya mas. Terima kasih."
Bagas manggut senang dapat angin baik dari Mawar. Beberapa waktu ini Bagas terlalu sibuk sampai abaikan Mawar. Sekarang dia punya alasan jumpai Mawar. Tentu berdasarkan amanah sakti dari Indy.
Bagas menurunkan Mawar persis di depan pintu kantor. Kantor sudah terbuka siap telan setiap orang masuk ke dalam. Ada satpam tua bertugas jaga keamanan kantor. Dilihat dari fisiknya belum tentu mampu lawan penjahat namun yang harus dihargai semangat juang pak tua itu. Sudah tua masih mau bekerja.
Di jaman ini badan sehat pikiran waras dan masih muda sudah dihinggapi penyakit malas. Ada yang jadi preman, pengemis bahkan pengedar barang haram perusak masa depan generasi muda yakni narkoba.
Bagas tinggalkan Mawar menuju ke kantornya sendiri. Hati Bagas lega Riyan sudah mundur teratur dalam perang perebutan bidadari cantik. Sekarang dia bisa bernafas lega tidak ada pesaing lagi.
Bagas lupa kalau ada kandidat kuat siap bertarung di kancah perang. Orang itu jauh lebih kuat dari Riyan. Lebih teguh dari siapapun.
Mawar masih segan masuk kantor gara-gara kejadian kemarin. Semoga saja hari ini tak ada gejolak yang bisa hancurkan reputasi dia.
Yuli menyambut Mawar dengan senyum simpul. Mawar tak tahu itu senyum menggoda atau senyum ngejek. Mawar tak berani definisi arti senyum Yuli. Yang penting Mawar positif thinking saja.
"Assalamualaikum." sapa Mawar duluan karena anggap Yuli senior walaupun dia berstatus sebagai adik bos.
"Waalaikumsalam nona cantik! Hari ini tutor kamu tak datang?"
"Tutor apa? Itu kan adik mbak Indy!" kilah Mawar berkelit dari ejekan Yuli.
"Oh...adik Bu Indy! Semua ganteng lho! Apa tidak mau bagi satu? Yang kemarin datang marah-marah itu. Orangnya keren dan ganteng. Kenalin dong!"
"Lajang? Duren?" kepo Yuli masih penasaran pada Joko. Insting Yuli cukup bisa diandalkan. Sekali lihat dia tahu barang bagus.
"Duren satu anak. Kalau kau suka boleh coba! Yang penting taklukkan anaknya dulu. Anak yang haus kasih sayang."
Mawar sedang bicarakan Bivendra pada Yuli. Siapa tahu Yuli cocok dengan Bivendra sehingga dia bisa bebas dari janji seorang mami.
Yuli mengelus dagu lancipnya kurang yakin bisa merayu anak kecil. Merayu cowok dia punya puluhan jurus tapi terhadap anak kecil dia angkat tangan.
"Apa harus rayu anak dulu?"
"Harus karena pak Joko bukan cari isteri melainkan cari mami untuk anaknya. Kak Yuli boleh coba kok! Aku setuju kakak kenalan sama anaknya."
Yuli meragukan kemampuan sendiri merayu anak kecil. Yuli paling malas dengar rengekan bocah. Apalagi yang rewel, bisa tersumbat kupingnya dengar teriakan anak kecil.
"Bokapnya ok tapi anaknya emoh! Masa aku sudah harus jaga anak semasa pengantin baru. Merusak suasana saja. Gimana dengan pak Riyan? Ada lowongan?"
"Ada...anak pak Riyan dua. Yang cewek sulit ditangani. Mendiang isterinya itu kakak aku." Mawar hanya ngaku adik ipar Riyan bukan mantan isteri. Mawar malas buka kisah lama dengan rekan baru. Tak semua orang akan beri tanggapan positif wanita dicerai suami tanpa sebab jelas.
"Oh...kenapa kamu tidak jadi ibu pengganti saja? Kamu ini orangnya lemah lembut pasti sanggup tangani bocil-bocil cerewet. Aku ini jarang bergaul sama anak kecil jadi semuanya terasa berat."
"Kak...kalau kelak kakak menikah pasti akan punya bocil juga. Jadi biasakan diri dengan bocil. Anak suami itu anak kita juga. Jangan di bedakan! Mereka malaikat dari surga." kata Mawar penuh kelembutan bikin Yuli merinding. Sedemikian sabar kah Mawar? Yuli takkan sesabar itu hadapi anak kecil.
"Aku pikir dulu. Oya... kita harus jumpa klien sebentar lagi! Mereka akan datang ke sini jumpa kamu. Kau siap?"
"Siap tak siap ya harus siap!"
Yuli tertawa dengar sahutan Mawar. Jawaban tidak akurat. Mawar ragu pada kemampuan sendiri. Beda dengan Indy yang selalu optimis hadapi klien. Mawar anak baru pasti punya kelemahan berhadapan dengan orang asing. Belum lagi Mawar belum ada gambaran tentang klien mereka.
__ADS_1
"Pembeli kita ini berasal dari negeri Jiran Brunei Darussalam. Konon katanya dia seorang kerabat kerajaan yang bergerak di bidang meubel. Mbak Indy sudah berapa kali kerjasama dan aman saja. Percaya deh! Kamu hanya angguk saja semua pasti beres."
"Angguk kayak ayam ngantuk? Beres apanya? Ketiduran ntar. Kita harus minta pendapat mas Bagas dulu."
"Silahkan!"
Mawar betul dilema jumpa klien pertama. Dia buta samasekali di dunia bisnis. Lebih baik tambah jadwal ngajar anak murid ketimbang harus jumpa orang asing. Mawar bisa apa bila diajak diskusi soal bisnis?
Mawar pilih minta pendapat Bagas ketimbang salah langkah. Indy belum juga kasih kabar sudah berada di Jerman atau belum.
Mawar tak tahu Bagas sudah tiba di kantornya atau belum. Takutnya laki itu terkena macet pada jam kerja gini. Semoga laki itu cepat tiba di kantor.
Mawar angkat telepon hubungi Bagas. Dalam hati Mawar berharap ada solusi dari Bagas. Dampingi dia jumpa klien kek. Mawar akan merasa aman bila ada keluarga Indy ikut dalam pekerjaan ini.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam... lha baru jumpa sudah telepon! Cepat banget kangennya!"
"Isshhh pede amat! Siapa lagi kangen. Sembarang analisa."
"Yee sewot benar... ada apa nona cantik? Mas siap dengar keluhan kamu."
"Kami mau jumpa klien. Mas Bagas ke sini dong! Aku takut."
"Takut apa? Kan ada Yuli. Aku kurang paham soal klien mbak Indy. Tapi aku akan usaha datang. Kau tunggu di sana! Jumpa di mana?"
"Katanya mereka datang ke sini! Mas ke sini ya!"
"Iya...mas juga belum sampai kantor! Macet sekali."
"Oh...aku merepotkan mas saja!"
"Untuk kamu apa yang tidak? Tunggu di situ saja! Aku akan putar kepala mobil."
"Terima kasih mas! Kutunggu kehadiran mas! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mawar menutup hp dengan lega. Bantuan telah datang. Perasaan Mawar sedikit tenang berkat janji Bagas.
Yuli yang menanti kabar dari Mawar ikutan tegang. Mawar perlu bimbingan tangan handal untuk ambil keputusan. Gadis itu pasti masih grogi.
Setengah jam menunggu Bagas belum juga tiba. Yuli dan Mawar harap-harap cemas kalau Bagas ingkar janji.
"Kak...klien kita jam berapa datang?"
"Katanya sih sekitar pukul sembilan! Tapi bisa mundur karena jalanan macet. Kamu tak usah cemas. Mas Bagas pasti datang kok. Ini kan usaha kakaknya."
Mawar meremas tangan masih ragu kalau Bagas tepat waktu datang ke kantor Indy. Sebentar-sebentar Mawar melirik jam di layar ponsel. Benda yang layarnya menunjukkan jam digital serasa berjalan sangat cepat. Maunya merayap kayak siput biar waktu ditentukan tidak cepat tiba.
Benda pipih di atas meja berdering memanggil pemilik angkat telepon. Mawar cepat-cepat angkat karena tertera nama Bagas.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.. sudah datang orangnya?"
"Belum mas! Mas di mana sih?" tanya Mawar harap cemas.
"Terjebak macet nona sayang! Mas akan usaha tiba secepatnya. Mas ada minta tolong pada Riyan karena dia berada di sekitar kantor kamu. Dia lebih ngerti soal kerja mbak Indy."
"Ya ampun mas! Ngak tulus amat bantu aku! Kok ajak pak Riyan?"
"Bukan ngajak nona tapi minta pertolongan pertama. Biar dia temani kamu duluan, aku tetap akan datang. Santai ya nona. Riyan datang hanya bantu kamu. Dia juga agak canggung ke tempat kamu tapi aku bujuk baru dia bersedia."
__ADS_1
Sesungguhnya Mawar jengkel pada Bagas sok pandai libatkan Riyan orang yang paling ingin dia hindari. Riyan sudah janji tak usik Mawar malah dapat kesempatan bersua muka.
Mawar mengomeli Bagas tidak peka pada keadaan. Mawar mendorong jauh Riyan si tolol Bagas malah sodorkan laki itu.