GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)

GANTI TIKAR (ISTERI PENGGANTI)
Lembaran Baru


__ADS_3

Kini tinggal Mawar berduaan dengan Riyan. Suasana jadi makin kaku karena keduanya tak tahu harus mulai dari mana.


Mawar enggan bicara sedangkan Riyan malu untuk memulai percakapan. Tak perlu berandai-andai kalau Riyan tidak dengar ocehan Ayumi. Semua salah Riyan tak beri kesempatan Mawar bertanya dan ngerti pangkal masalah. Riyan terlalu egois mau menang sendiri.


"Besok kau kerja ya?" Riyan ulang berita basi. Padahal Royan sudah tahu kalau Mawar akan kerja di kantor Bagas. Sudah tahu masih bertanya lagi bukankah ini menunjukkan kebodohannya Riyan?


"Iya pak..." sahut Mawar pelan dan lembut.


"Kalau kau tak betah bisa pindah kerja di kantor aku. Aku akan beri tempat padamu."


Mawar tersenyum manis anggap tawaran Riyan hanya basa basi tutupi kebodohan sendiri.


"Tidak usah pak! Aku akan bekerja di tempat lain bila tak betah." tolak Mawar mengguncang batin Riyan.


Mawar merasa lebih bagus terus terang tak ingin dekat Riyan ketimbang beri harapan palsu. Mawar terlalu sedih pada pernikahan mereka maka betul ingin lupakan masa lalu.


"Kau belum maafkan Abang?" tanya Riyan


"Sudah kubilang aku sudah maafkan bapak. Antara kita sudah tak ada hubungan jadi batasi diri sendiri."


Riyan ingin sekali bongkar otak bawa laundry biar bebas dari pikiran buruk. Semua salah otak berpikiran negatif. Riyan sudah rasakan akibatnya suudzon pada orang baik. Sakit hati sendiri.


"Abang tetap ingin minta maaf karena telah dengar hasutan Ayumi. Abang berdosa padamu. Abang tak berani berharap lebih tapi jangan bikin Abang seperti orang asing."


Mawar menahan nafas sejenak sebelum menjawab semua pernyataan Riyan. Kalau dibilang sedih Mawar pasti sedih dianggap remeh oleh Riyan. Tapi apa dengan marah-marah akan kembalikan semua yang telah terjadi?


"Pak...lupakan semuanya. Aku tak ingin ungkit yang telah berlalu. Bapak telah tentukan pilihan pasti dengan sejuta pertimbangan."


"Tak bisakah kau hilangkan kata pak? Aku seperti orang sangat asing bagimu."


"Aku memang asing buat bapak. Saking asing bapak sampai tidak kenal aku. Aku si wanita nakal." kata Mawar dingin tak ingin kenal Riyan lebih jauh. Riyan telah menoreh luka mendalam di hati Mawar. Tak mungkin sembuh dalam sekejap mata. Mawar termasuk baik tidak cari masalah dengan Riyan.


"Kenapa omong begitu? Kau tahu itu semua tak benar. Itu hanya akalan Ayumi memisahkan kita. Dia berhasil."


"Hentikan semua ini pak! Kuminta jangan bahas lagi! Kita ini hanya orang asing tak perlu bahas hal tak penting."


Riyan terdiam dengar suara Mawar sedikit tinggi. Jelas sekali gadis itu gusar Riyan masih bolak balik cerita tak menyenangkan itu. Mawar berusaha melupakan cerita itu tapi Riyan ngotot mau buka cerita. Ini memicu rasa jengkel Mawar.


"Maafkan Abang!"


"Kuminta bapak jangan ganggu hidup aku lagi!" ketus Mawar melengos pergi. Tinggal Riyan nanar menatap punggung gadis terbalut busana muslim menghilang di balik pintu ke belakang.


Dada Riyan makin sesak diabaikan Mawar. Anak itu jarang umbar emosi. Semua orang yang dekat Mawar tahu kalau anak itu jarang marah. Riyan bisa pancing amarahnya pasti anak itu terluka hebat. Rasa menyesal makin bertumpuk di hati Riyan.


Satu persatu penghuni rumah muncul bergabung di ruang makan. Termasuk Mawar yang sedang tidak laksanakan wajib sholat karena sedang halangan. Gadis itu membantu Bik Tun bereskan meja makan jamu keluarga Riyan.


Sikap Mawar jadi agak kaku setalah ngobrol dengan Riyan. Bu Alya menduga keduanya tak jumpa titik temu.


Setelah ngobrol keadaan makin kacau. Wajah Mawar sedikit kaku seperti menanggung beban. Pertama jumpa air muka gadis itu masih tenang menghanyutkan. Setelah ngobrol malah makin tidak kondusif.


Indy tidak open gimana hubungan Mawar dan Riyan. Indy malah berharap keduanya tidak pernah baikan biar Mawar tetap betah di rumahnya. Mawar bawa angin positif pada John. Anak berubah drastis sejak dibimbing Mawar.

__ADS_1


Arsy dan Rizky tidak mau lepaskan Mawar sedetikpun. Kedua anak itu mau ajak Mawar pulang ke rumah mereka. Keduanya anggap Mawar adalah mama sambung mereka yang mesti tinggal bersama mereka.


Sangat tak mungkin Mawar ikut dengan Riyan dan anak-anak. Mereka tak ada hubungan apa-apa lagi selain Mawar Mak bit dari anak Riyan. Bertamu saja Mawar ogah apalagi harus ikut masuk ke ruang rumah Riyan. Pokoknya Riyan sudah tamat dalam kamus Mawar.


Arsy menangis minta Mawar ikut ke rumah. Mawar agak repot membujuk Arsy agar tenang. Si kecil menangis makin menjadi tatkala Mawar memeluknya untuk beri rasa sayang. Dengan begini Arsy makin tak ingin kehilangan Mawar.


Rizky lebih anteng menahan diri untuk tidak ikutan cengeng seperti Arsy. Anak kecil mana ngerti situasi dalam kurang pas. Mawar bukan mama baru mereka lagi.


Riyan sedih sekali melihat keadaan anaknya. Semua berawal dari keegoisan dia. Kalau dia tidak terpengaruh oleh Ayumi tentu mereka adalah keluarga paling bahagia. Riyan harus lebih giat raih simpati Mawar lagi supaya kedua anaknya bisa berkumpul dengan mama baru mereka.


"Sayang...gimana kalau besok Arsy bobok di sini sama mama. Sekarang pulang dulu siapkan bekal untuk nginap di sini ya!" bujuk Mawar tidak kehabisan akal. Mawar terpaksa keluarkan jurus terakhir mengajak Arsy dan Rizky nginap di tempatnya. Mawar beranikan diri mengajak anak-anak itu walaupun tanpa persetujuan ini.


Indy pasti tidak akan melarang kedua anak Riyan nginap di tempatnya. Anaknya Riyan juga merupakan keponakan Indy.


"Betul ma? Arsy dan mas Iky boleh nginap sini?"


Mawar membersihkan air mata di pipi asi dengan lembut dan mengangguk-ngangguk bahwa dia tidak berbohong. Arsy dan Rizky boleh nginep di sana setiap saat.


"Sekarang Arsy ikut papa pulang dulu ya! Besok datang sini lagi. Mama selalu ada untuk anak Mama yang cantik."


Bu Alya sedih sekali melihat akibat perceraian Mawar dan Riyan. Yang jadi korban tetap anak-anak. Mereka dipisahkan dengan orang yang mereka cintai hanya gara-gara satu kata cerai. Andai Riyan masih kecil ingin rasanya Bu Alya mengambil rotan paling besar memukul pantatnya biar sadar bahwa yang dia lakukan itu adalah salah.


Akhirnya Arsy dan Rizky dibawa pulang oleh Riyan. Kedua anak itu mempunyai harapan bertemu lagi dengan mawar di esok hari. Untuk saat ini yang paling lega adalah John. Anak lajang ini menganggap semua pengacau telah pergi dari rumahnya maka mawar kembali menjadi miliknya pribadi.


Rombongan Riyan meninggalkan rumah Indy menuju ke rumahnya. Tinggal Indy menatap gundah pada Riyan. Anaknya suka pada Mawar namun Riyan telah lewatkan gadis terbaik di dalam hidupnya. Indy lihat adik kandungnya si Bagas juga suka pada Mawar. Bisa saja kedua abang Adek ini merebut cinta Mawar. Bagas diuntungkan karena bisa lebih dekat dengan Mawar ketimbang Riyan.


"Kak...yok belajar!" John membuyar lamunan Mawar dari kepergian anak-anak Riyan.


"Tumben anak Jerman mau belajar?" olok Indy surprise anaknya jadi makin rajin.


"Apa mama tak tahu tadi di sekolah heboh gara John dapat nilai delapan setengah. Guru bilang John menyontek lalu John menantang guru ulangan ulang. Mama tahu nggak berapa nilai yang didapat John?"


Indy mengedik bahu pura tidak tertarik padahal dalam hati bersorak akhirnya anak bengal itu terpancing oleh nilai bagus.


"John dapat nilai sembilan di ujian ulang. Hebat kan anak mami?" John menepuk dada bangga dengan prestasi dicapai.


Indy ingin sekali berteriak girang anaknya telah capai nilai cukup sempurna. Namun Indy tak luapkan kegembiraan di depan anak biar sang anak tidak besar kepala.


"Oh...mami bangga. Makin rajin dong!" ujar Indy melirik Mawar. Tak usah digembar gembor Indy tahu ini hasil didikan tangan dingin Mawar. Gadis ini pantas dijuluki cewek maha sempurna. Cantik, pintar, lembut dan baik hati.


"Pasti dong! Sekarang mau belajar sejarah. Besok ujian lagi. Oya nilai sembilan tadi nilai matematika lho!" John lupa lapor kalau nilai bagusnya dari nilai pelajaran paling sulit seantero dunia.


"What? Matematika? Biasa nilaimu lima..." Indy tak bisa sembunyikan rasa kaget karena nilai John naik seperti roller coaster menukik ke atas. Indy geleng kepala yakin diri itu bukan mimpi dengar John dapat nilai sembilan.


"Yang benar nak?" Indy dekatkan wajah ke muka anaknya cari tahu anaknya bukan sedang berbohong.


John tertawa ngakak senang lihat maminya penasaran kalau nilainya berubah drastis. John harus berterima kasih pada Mawar yang sabar ajar dia dari awal. Mawar terangkan pelajaran SD agar John tahu dasar matematika. Terbukti ampuh isi John dengan rumus-rumus dari pelajaran dasar.


"Mami tunggu ya! John ambil kertas hasil ujian." John berlari ke atas ambil bukti dia tidak bohong.


Indy sangat berterima kasih pada Mawar telah bangkitkan semangat belajar anak satu-satunya. Guru les yang dia bayar tak mampu taklukkan John tapi seorang gadis lembut justru mampu taklukkan anak ini.

__ADS_1


"Terima kasih Mawar. Kau bagai bidadari buat aku!" Indy tak malu peluk Mawar ungkap rasa terima kasih pada gadis mulia ini.


"Ach mbak Indy kok ngomong gitu? Mbak sudah terima aku sudah merupakan karunia buatku! John jadi pintar karena kemauan dia sendiri. Dasarnya dia pintar kok cuma tak ada yang arahkan. Sekarang dia lagi kecanduan pujian guru. Biar dia begini dulu nanti kita jelaskan belajar itu bukan untuk dipuji melainkan untuk bekal di hari nanti. Menuntut ilmu setinggi langit."


"Wah ada acara mengharukan nih! Kak Mawar ini lucu. Ilmu itu bukan penjahat untuk Pa dituntut." John berlari kecil hampiri Indy dan Mawar sambil lontarkan gurauan membuat Indy geli. Ternyata John bisa juga bercanda. Pikir hanya bisa bikin onar.


"Ilmu kalau bukan dituntut lalu diapakan? Ditimba penuh?"


"Idih mami ini? Ilmu bukan air ngapain di timba? Ilmu itu untuk dipelajari...nih hasil ujian John." John menyerahkan dua lembar hasil ujian agar Indy percaya dia tidak bohong.


Senyum di bibir Indy merekah bak bunga di musim semi. Merekah indah sekali bikin hati meleleh.


"Wah anak mami pintar banget! Semangat terus ya! Ayo pergi belajar! Mami dukung. Oya...mami mau jumpa klien dari luar negeri malam ini! Kau dan Mawar di rumah saja ya!"


"Ya mami...kapan mau temani John di rumah? Masak hanya kak Mawar?" keluh John agak sedih ditinggal pergi lagi. Kapan Indy ada waktu untuknya.


"Mami janji akan pulang secepatnya. Gimana kalau Minggu ini kita liburan? Kita pergi bertiga. Ok?"


John tak begitu semangat tanggapi ajakan Indy. Belum apa-apa John anggap itu rayuan untuk anak kecil. Janji dulu biar anak senang. Berhasil pergi atau tidak itu urusan ke sepuluh.


"Terserah mami deh!" John ngeloyor pergi tanpa gairah. Kegembiraan sesaat terhapus lagi oleh tugas Indy jumpa klien. Menurut John kerja maminya takkan usai bila hendak dituruti. Setiap malam ada saja acara jumpa klien dan rekan bisnis.


"John...kalau mami sibuk kak Mawar yang temani kamu. Kita bisa pergi berdua ataupun ajak Arsy dan Rizky. Kita bisa gembira." Mawar menghibur John dengan suara lembutnya.


"Kak Mawar janji?"


"Sejak kapan kak Mawar berbohong? Kak Mawar masih sayang hidung tak mau panjang kayak hidung Pinokio." gurau Mawar berusaha kembalikan keceriaan John.


John tertawa geli bayangkan hidung mancung Mawar berubah panjang. Aneh tidak ya?


"Pasti kak Mawar akan lebih cantik!"


Mawar merangkul John meninggalkan Indy supaya tidak berlarut dalam kesedihan. Indy makin bersyukur jumpa gadis sebaik Mawar. Tidak rugi ajak Mawar tinggal bersama. Ini semua berkat kegigihan Bagas bawa Mawar ke rumahnya.


Indy memberi senyum damai pada Mawar telah sukses kunci emosi John. Kini dia bisa berbisnis dengan tenang. John telah berada di tangan tepat.


Malam berlalu tenang. Mawar segera tidur setelah beri pelajaran pada John. Besok dia akan mulai lembaran baru menjadi karyawan Bagas. Hanya satu doa Mawar yakni mampu mengemban tugas dari Bagas nanti.


Pagi-pagi Bagas sudah datang menjemput Mawar pergi ke kantor barengan. Tempat Bagas cuma beda dua blok dari rumah Indy. Bagas tinggal bersama mamanya yang sudah menjanda cukup lama. Mama Bagas dan mama Riyan Kakak adik. Kedua sama-sama telah menjanda karena suami telah duluan karena suami telah dipanggil Yang Maha Kuasa.


Seperti biasa Mawar tetap kenakan busana muslim menutup aurat dari atas hingga bawah. Kerudung senada dengan busana menambah kecantikan Mawar sebagai gadis asal ujung pulau Sumatera.


Wajah Mawar berseri memantulkan cahaya cerah bikin mata para cowok Adem. Wanita begini idaman para cowok. Gadis yang pandai menjaga harkat sebagai umat muslim.


Mawar malu-malu kucing ditatap lama oleh Bagas. John yang melihat hal ini menjadi kesal kakak kesayangan dipandangi dalam oleh playboy kelas teri model Bagas.


"Om.. ntar kak Mawar aku luntur lho! Ayok cepat pergi sebelum kena macet."


"Kau ikut saja biar om antar ke sekolah!" Bagas berbaik hati mau antar John ke sekolah.


"Mau sogok ya? Ngak mempan om! Pergi sono! Jaga kakak aku jangan sampai lecet."

__ADS_1


__ADS_2