
"Orang kaya kok cuma segini?" sindir Ayumi heran kamar Mawar ditata sangat sederhana.
"Aku yang minta kak! Aku tak mau banyak pernah pernik bikin kamar tampak sesak. Kakak silahkan lihat-lihat! Aku mau ganti pakaian dulu!" Mawar mencari pakaiannya. Pakaian lamanya telah duluan di bawa ke sini oleh Joko.
Joko memang gercep takut Mawar berubah pikiran karena wanita ini masih memikirkan nasib anak-anak Riyan. Selangkah dia lengah maka Riyan siap menyalipnya.
Ayumi membuka lemari pakaian Mawar satu persatu lihat apa isi dalam lemari. Jangan-jangan lemari itu hanya tempat kosong belum terisi oleh pakaian. Ayumi sudah berniat menertawakan mawar bila terbukti lemari itu kosong tanpa isi.
Mata terbelalak kaget melihat isi lemari yang penuh dengan busana muslim serta kerudung aneka warna. Tampaknya semua pakaian itu baru belum pernah tersentuh oleh tubuh siapapun termasuk Mawar. Mulut Ayumi sampai terbuka saking terpesona melihat pakaian-pakaian yang harganya tentu sangat mahal.
"Mawar...siapa yang beli pakaian ini?" tanya Ayumi masih dipenuhi oleh rasa kagum.
"Oh itu Pak Joko yang beli. Sebelumnya dia ada meminta seorang perancang mengukur tubuh aku dan selanjutnya aku tidak mengetahui apa yang dia lakukan. Aku juga baru tahu hari ini banyak pakaian di lemari aku." Mawar juga tak bisa menyembunyikan rasa kagum pada pakaian-pakaian yang tersimpan di dalam lemari. Tanpa sadar Mawar mengelus pakaian-pakaian yang harganya tidak dapat dia jangkau.
"Wah...nasibmu bagus Mawar! Mendapat ikan kelas kakap." ujar Dahlia ntah berupa pujian atau hanya sindiran belaka.
"Aku juga tak sangka perjalanan aku mentok di sini. Aku ganti pakaian dulu." Mawar meraih salah satu gaun berwarna cream gading serta hijab instan berwarna coklat muda.
Mawar membawa pakaian itu menuju ke salah satu pintu yang diduga adalah kamar mandi. Dasar Dahlia dan Ayumi kepo ingin mengetahui seluruh isi kamar Mawar segera mengikuti Mawar melihat bagaimana bentuk kamar mandi Mawar.
Kamar mandi bergaya Eropa dengan granit warna putih terang diselingi hiasan abstrak membuat kamar mandi itu lebih mirip ruang istirahat memanjakan tubuh.
Bathtub model setengah lingkaran lengkap dengan jaccuci. Bahkan ada mini bar untuk dinginkan kerongkongan bila terasa haus.
"Hebat kau Mawar. Kamu menjadi ratu di rumah ini. Seharusnya aku yang mendapat fasilitas ini tapi dasar apes aku harus terjebak pada Husein." kata Ayumi tak tak tahu seolah dia ratu kecantikan dunia. Semua orang terpesona jika melihatnya. Tapi toh akhirnya jatuh ke pelukan seorang pengangguran.
"Aku juga tak tahu kamar mandinya begini. Malahan aku tak nyaman mandi di sini. Kaca di mana-mana sehingga kita melototi tubuh sendiri. Kakak boleh keluar dulu? Aku ingin ganti pakaian." Mawar meminta kedua kakaknya keluar secara halus. Secara halus saja salah apalagi kalau mawar mengusir mereka dengan kasar.
Untunglah keduanya tidak sekejam kayak dulu. Mungkin ada sedikit perubahan pada kedua kakaknya setelah melihat nasib Mawar menjadi lebih baik berkat kesabarannya. Mereka juga harus belajar dari Mawar agar mendapat kehidupan yang lebih baik.
Dahlia dan Ayumi segera keluar dari kamar Mawar tanpa bisa sembunyikan rasa iri hati. Keduanya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Mawar pada hari ke depan namun Mawar telah mengunci satu kehidupan yang layak di dalam kehidupan Joko. Soal materi Mawar pasti tidak akan kekurangan. Belum tahu soal asmara Joko. Keduanya tidak yakin kalau Joko bersih dari para parasit parasit penghisap darah.
Mawar ikut makan bersama keluarganya dari kampung. Semua tampak sumringah termasuk Bu Tiara. Bu Tiara harus belajar menerima Joko sebagai menantu walaupun bukan menantu anak kandungnya. Tidak ada yang bisa mengubah keadaan karena Joko telah menetapkan hati pada Mawar.
"Aku sebagai pak Tuo Mawar wakili keluarga ucapkan terima kasih pada nak Joko telah bersedia menerima Mawar. untuk selanjutnya mawar menjadi tanggung jawab nak Joko. Aku harap nak Joko memperlakukan Mawar dengan baik dan menyayanginya seumur hidup." kata Pak Hanif sebagai pembuka acara makan.
Joko segera berdiri membungkukkan badan menghormati keluarga Mawar tua maupun muda. Dengan begini mau Joko sedang memperlihatkan keteguhannya menjaga Mawar seumur hidup.
"Aku bersumpah akan jaga Mawar selamanya. Aku akan menjaganya sebagaimana aku menjaga anak aku." janji Joko membuat pak Hanif dan pak Hari lega.
Tidak lama lagi Mawar akan ditinggal sendirian tanpa sanak keluarga di kota besar ini. Jalau Joko berbuat sesuatu yang tidak pantas tak ada yang bisa melindungi Mawar. Maka itu keluarga Mawar berharap Joko bersungguh-sungguh menyayangi Mawar.
"Ayo kita mulai makan!" Bu Hanif bertindak sebagai tuan rumah meminta seluruh keluarga mulai menyantap hidangan.
__ADS_1
Mawar duduk di samping Bivendra mengambil anak itu makanan yang dia inginkan. Bivendra tentu saja menjadi orang yang paling bahagia saat ini. Cita-citanya untuk mendapat Mami yang baik telah terwujud. Semoga setelah menjadi maminya sikap Mawar tidak berubah.
Bivendra tidak akan menjadi anak tiri disiakan oleh Mawar. Biasa orang bilang ibu tiri itu kejam. Sayang pada ayah tak sayang pada anak tiri.
"Sayang mami mau makan apa?" tanya Mawar lembut membuat Bivendra makin nyaman.
"Apa saja asal mami yang kasih." sahut Bivendra manis.
"Ngak usah makan pedas ya! Mami takut nanti kamu sakit perut."
"Tentu saja. Endra memang tidak doyan pedas."
Joko perhatikan kalau Mawar mang curahkan seluruh perhatian pada Bivendra. Andai Mawar tetap pertahankan sikap ini kebahagiaan Bivendra telah lengkap.
"Besok kami harus pulang. Kami titip Mawar ya!" kata Bu Hanif.
"Tentu...pesawat sudah ku atur terbang langsung ke kampung kalian. Ijin terbang sudah kita kantongi. Kalian bisa tenang sampai ke kampung."
Hidung Bu Hanif kempas kempis bangga dapat menantu kaya raya. Dia sudah bisa berbual di kampung. Bisa punya bahan cerita untuk dijadikan gosip di antara emak-emak tetangga.
"Langsung mendarat di bandara kampung?" tanya Bu Tiara ikutan cari rasa bangga. Mau tak mau dia harus akui Joko sebagai menantu supaya punya bahan cerita.
"Iya...mungkin akan terbang lebih lama sedikit. Kita tak bisa transit Medan karena ijin langsung ke kampung." ucap Joko.
"Tak apa asal bisa pulang kampung. Kami harus segera urus pernikahan Ayumi dan Husien juga persiapan resepsi kalian. Ayah akan usaha atur semua biar sempurna."
Bagi Joko tak jadi masalah asal masih berada dalam lingkungan keluarga Mawar. Tak ada beda pak Hari dan pak Hanif.
"Maaf kami tak bisa hadiri pesta Ayumi. Di sini masih banyak yang harus kuurus sebelum ambil cuti panjang ke kampung Mawar."
"Tak apa. Cukup doa nak Joko saja." Pak Hari makin sayang pada menantunya yang satu ini. Sudah kaya pandai ambil hati orang tua.
"Pasti..."
Semua makan tanpa suara lagi. Mawar asyik dengan Bivendra. Seluruh perhatian Mawar tercurah pada anak tirinya itu. Mawar tak mau menimbulkan kesan Mawar hanya menikahi Joko. Menikah dengan duda harus tanggung resiko menikahi anaknya juga barulah jadi isteri sempurna.
"Nak Joko...jadi transfer uang kepada Mak Tuo Mawar?" tanya Bu Tiara secara tiba-tiba. Ntah angin apa bertiup mengingatkan Bu Tiara tentang uang pesta Mawar.
"Tentu saja...aku sudah serahkan semuanya pada Mak Tuo. Uangnya sudah masuk ke rekening Pak Tuo. Asisten aku sudah transfer. Kenapa? Apa jumlahnya kurang?"
Mawar malu bukan main dengar Bu Tiara ungkit masalah uang pesta. Dia sudah menolak jadi untuk apa ikut campur lagi.
"Tidak kurang..kupikir belum transfer maka aku ingin urus pesta Mawar. Bisa sekalian pesta Ayumi. Aku mau bikin pesta termewah di kampung. Pestanya kita gabung jadi satu. Kita katakan pesta Ayumi saja karena dia yang menetap di kampung. Katakan kalian numpang pesta!" Bu Tiara keluarkan muka badak beri usul aneh.
__ADS_1
Yang punya dana siapa yang numpang siapa. Sungguh otak mafia mau gunakan wajah orang jadi topeng kemegahan dia.
Bu Hanif agak kesal dengar adik iparnya mau serobot pesta keponakannya. Pertama menolak dan sekarang mau petik bunga di kebun orang hiasi rumahnya. Sungguh pemikiran licik.
"Tidak bisa...Mawar akan pesta di rumah aku! Aku sudah tetapkan hati dan tanggalnya. Dan lagi aku sudah suruh Marwah pesan peralatan pesta. Pesta Mawar tetap lanjut di rumah aku. Kau mau pesta ya pesta sendiri." potong Bu Hanif tak mau mengalah. Bu Hanif bukan tergiur uang Joko melainkan berikan keadilan pada Mawar. Mawar juga berhak dapat kemuliaan di mata masyarakat.
"Eh Mawar ini anak aku! Apa salahnya aku yang atur pestanya." Bu Tiara nyerocos agak tersinggung Bu Hanif tak mau mengalah.
Sekarang baru ngaku Mawar itu anaknya. Pengakuan ini tentu saja ada niat terselubung. Kalau tak ada keuntungan Bu Tiara mana mau rendah hati akui Mawar.
"Sudahlah Bu! Sudah ditetapkan pesta di rumah bang Hanif. Bukankah dari awal kamu sudah menolak? Kita terima saja. Ayumi kita buat pesta sendiri saja. Tak usah dibahas lagi." lerai pak Hari tak enak pada menantunya. Apa yang akan dipikirkan Joko tentang keluarga mereka. Bisa saja Joko mengira keluarga mereka gila harta.
Bu Tiara mendengus kesal pada Bu Hanif yang tidak mau menerima usulannya. Bu Tiara juga nyesel telah menolak pesta mawar di rumahnya. Coba kalau dari awal dia menerima Mawar maka yang menjadi primadona tentulah Ayumi. Dia bisa gunakan dana dari Joko untuk membuat pesta besar-besaran untuk Ayumi dan Mawar sebagai pengantin dampingan.
Peluru telah ditembakkan tidak akan kembali ke majikannya. Bu Tiara sudah menolak maka sangat memalukan bila meminta dana itu setelah tahu dananya sangat besar.
Mawar tak sangka masih muncul konflik di hari bahagia dia. Sampai kapan Bu Tiara akan berhenti berulah. Belum puas Bu Tiara menghancurkan hidupnya. Andai Ayumi tidak buat karangan bohong mungkin sekarang dia hidup bahagia bersama Riyan. Tak perlu muncul banyak drama pelik membuat hari-hari Mawar selalu kelabu.
"Bu..apa yang sudah ditetapkan biarlah berjalan apa adanya. Kak Ayumi bisa bergabung di rumah Mak Tuo. Yang penting kak Ayumi menikah dulu." ujar Mawar tetap lembut seperti biasa. Orang yang mendengar suaranya terasa hangat dan nyaman. Tak ada kata kasar dari bibir Mawar walau selalu dapat perlakuan kasar.
"Siapa mau numpang pesta? Kami bisa pesta sendiri." Bu Tiara jual mahal tak terima anaknya jadi pengantin numpang. Harusnya yang numpang itu Mawar.
"Alhamdulillah sudah ada keputusan! Tak usah bahas lagi soal pesta. Setelah acara makan ini kita mau main ke mana?" tanya Mawar alihkan isu agar Bu Tiara tidak geram padanya.
"Tak usah...pulang ke hotel saja! Siapa lagi mau jalan. Aku tak sabar ingin pulang kampung dari pada tinggal di tempat tak nyaman." ketus Bu Tiara buang muka.
"Baik...nanti Anwar akan antar ibu balik ke hotel. Yang lain mau main atau jalan lagi sebelum pulang ke kampung?" tawar Joko masih baik hati.
"Mak Tuo jalan saja! Kau mau ajak Mak Tuo ke mana?"
"Terserah Mawar!"
Akhirnya ditetapkan Bu Tiara, pak Hari dan Ayumi balik ke hotel. Sedang Dahlia lebih pintar cari kesempatan ikut jalan. Berjalan dengan Joko dan Mawar tentu saja bukan sekedar jalan. Pasti ada sesuatu bisa diandalkan.
Pasangan pengantin yang baru nikah bukannya bermesraan di kamar melainkan memanjakan keluarga sebelum bertolak kembali ke kampung.
Joko sendiri langsung kawal keluarga isterinya. Joko bawa keluarga pak Hanif ke toko perhiasan milik keluarga Joko. Joko sengaja bawa mereka ke situ untuk beri oleh-oleh perhiasan buat para wanita.
Bu Hanif dan Dahlia tak henti kagum pada perhiasan yang tersusun rapi di kaca etalase. Semua berkilauan membuat silau mata para wanita.
Joko biarkan keempat orang itu kagumi semua pajangan perhiasan. Joko dan Bivendra duduk di sofa tamu biarkan keempat orang itu memilih perhiasan sesuai panggilan selera.
"Papi... bolehkah Endra pilih satu untuk mami?" tanya Bivendra melihat Mawar hanya cuci mata tanpa ada niat meminta. Bivendra paling tahu kalau maminya bukan wanita materialistis maka dia yang harus turun tangan pilih untuk Mawar.
__ADS_1
"Boleh..."
Bivendra meloncat senang berlari ke arah kaca etalase meneliti yang mana cocok untuk Mawar. Mawar selalu berpakaian tertutup. Punya perhiasan mahal juga takkan tampak dari luar. Bivendra pilih cincin bertatah berlian untuk Mawar. Di jari manis Mawar sudah ada cincin dari Joko. Cincin kawin yang mengikat dia pada lelaki itu.