
Mawar siap laksanakan kewajiban kembali bergabung dengan keluarga Riyan. Mawar merasa lebih segar setelah melapor pada Yang Maha Kuasa. Apalagi keadaan Arsy telah stabil. Mawar merasa lebih tenang untuk melanjutkan aktifitas.
Mawar hampiri Arsy sedangkan Riyan dan ibunya menunggu kehadiran Mawar sambil santai di sofa kecil. Riyan dan ibunya duduk berdampingan di tempat yang sempit. Untunglah tubuh Bu Alya tidak gede maka sofanya muat dua sosok tubuh manusia.
"Arsy sayang.. mama harus masuk kantor pagi ini. Siang nanti mama datang jenguk kamu lagi. Arsy mau dibawa apa?" tanya Mawar lembut.
"Arsy cuma mau Mama." sahut si kecil dengan mata agak suram karena Mawar harus pergi bekerja. Arsy sudah senang melihat Mawar ada. Namun harus pergi lagi.
"Ini kan ada mama. Siang nanti mama pasti datang tapi janji Arsy harus segera sembuh. Mama tak mau anak mama sakit tak bisa sekolah. Arsy kan mau jadi anak pintar kan?"
Arsy mengangguk iyakan kata Mawar. Kepala mengangguk tapi dalam hati tetap tak rela mamanya pergi jauh.
"Mama janji mau datang kan?"
"Tentu sayang...bohong itu dosa lho! Arsy harus minum air yang banyak dan makan makanan bergizi. Ok?"
"Iya ma...Arsy janji!"
"Ini baru anak mama!" Mawar mengecup pipi Arsy kiri kanan buat Arsy kegirangan juga geli. Ada senyum merekah di bibir mungil itu.
Bu Alya dan Riyan saling memandang berharap hubungan ini antara Arsy dan Mawar akan bawa dampak positif bagi Riyan. Riyan sangat berharap Mawar mau terima dia lagi.
Mawar dan Arsy bercanda riang sambil tunggu matahari menyingsing lebih tinggi. Langit mulai perlihatkan semburat jingga sangat indah di antara renang pagi.
Di antara waktu itu ponsel Mawar berbunyi ada panggilan minta dijawab. Mawar merogoh tas kecil berisi beberapa kartu serta ponselnya.
Mawar menjawab ponsel itu tanpa ragu diiringi tatapan heran Riyan. Siapa telepon di pagi buta begini. Ada hal sepenting apa harus hubungan di pagi buta.
"Halo assalamualaikum." sapa Mawar tetap dengan nada sopan mendayu.
"Waalaikumsalam... aku jemput kamu sekarang! Bersiaplah!"
"Tapi pak...ini masih pagi sekali."
"Bukankah kau janji pada Bivendra akan bantu dia pasang pita?"
"Oiya lupa...maaf! Aku ada di rumah sakit! Bapak jemput aku di sini. Aku akan kirim alamatnya." Mawar nyaris lupa lagi janji pada anak Joko. Terlalu banyak hal menyita perhatian Mawar sampai lupakan janji pada anak kecil.
Mawar sudah harus punya buku memo untuk catat semua kegiatan agar tak ada yang terlewatkan. Janji pada anak kecil paling berbahaya. Akibatnya bisa ke hal negatif. Seperti Arsy ini.
"Baik...kau tunggu di sana."
"Iya pak. Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Riyan merasa kerongkongan terganjal batu segede gajah. Tersumbat susah bernafas. Riyan yakin orang yang telepon Mawar adalah Joko majikan baru mantan isterinya itu. Kenapa hati Riyan kesal Mawar bikin janji dengan laki ini. Sampai di mana hubungan bos dan anak buah itu?
"Siapa dek Mawar?" tanya Riyan cemburu.
"Oh itu pak Joko! Aku ada janjian sama anaknya bantu pita rambut. Aku pergi dulu ya! Siang nanti aku akan datang lagi jenguk anak mama yang cantik." Mawar sengaja rayu Arsy biar tidak terbebani oleh kepergian Mawar. Wajah Arsy agak murung berhubung Mawar buat janji dengan anak lain.
__ADS_1
"Mama takkan lupa pada Arsy kan?" Arsy masih belum yakin Mawar akan tepat janji.
"Yang mau lupa anak mama sayang siapa! Mama pasti datang. Mama harus segera bertugas ya!"
Dalam hati Riyan mengomeli trik licik Joko gunakan anaknya cari perhatian Mawar. Dia harus gunakan tak tik Joko jerat Mawar dengan dalih anak. Joko bisa Riyan pasti lebih bisa. Apa lagi dasarnya Mawar sayang pada Arsy dan Rizky. Lebih gampang gunakan kedua anak sebagai kartu truf bawa Mawar kembali ke pelukan.
Mawar mengecup kening Arsy sebelum pergi. Mata Arsy yang agak berkaca membuat Mawar jadi sedih. Tapi di satu pihak dia terlanjur dapat kepercayaan dari Bivendra. Anak itu lebih susah ditangani karena punya sifat tertutup. Sekali Mawar ingkar janji membuat jiwa anak ini makin rapuh. Apapun cara Mawar harus bayar janji pada pagi ini supaya Bivendra mau terbuka sedikit.
Mawar pamitan pada Bu Alya dan Riyan. Gadis ini bergegas turun ke parkiran tahu Joko bukan orang sabar. Seorang lelaki kaya raya rela jemput karyawan tentu hal luar biasa. Mawar tahu Joko lakukan semua ini karena Bivendra. Dia tak boleh Geer Joko punya niat lebih.
Mawar turun ke parkiran mencari sosok lelaki tinggi tegap yang bakal jemput dia. Belum tampak bayangan laki itu. Mawar terpaksa bersabar menunggu di depan halaman rumah sakit. Beginilah jadi bawahan. Sudah diminta tolong Mawar pula yang harus bersabar. Mawar mengelus dada hadapi orang kaya.
Kalau bukan ingat Bivendra ingin rasanya Mawar menolak direpotkan pagi begini. Dia masih belum mandi dan berbenah untuk bisa ke kantor. Mana lagi mata masih minta jatah istirahat. Semalam kurang puas tidur karena jaga Arsy. Pagi hari harus bayar janji pada anak lain lagi.
Satu mobil mewah warna putih berhenti persis di depan Mawar. Mobil berhenti tanpa ada gerakan. Mesin mobil masih menyala ntah mau beri kode apa.
Mawar tahu itu pasti Joko yang datang jemput. Orang itu diam dalam mobil tanpa gerakan maka Mawar pura-pura tak tahu di dalam mobil ada supir kaya raya sedang menanti seorang karyawan kecil.
Klakson mobil terdengar memecahkan ketenangan halaman parkiran rumah sakit. Bunyinya panjang seolah memaksa Mawar untuk cari tahu siapa pengemudi yang bunyikan klakson panjang.
Mawar masih bertahan tak mau menoleh sedikitpun ke pintu mobil. Mawar mau yang empunya keluar dari mobil nyatakan bahwa dia datang jemput anak orang. Bukan paksa anak orang patuh pada perintah bos.
Akhirnya Joko turun dari mobil unjuk badan supaya Mawar tahu siapa yang klakson. Laki itu kenakan baju lengan panjang agak tebal serta celana panjang dari kain karet. Gayanya santai sekali tak ada gelagat mau ke kantor.
Laki ini hanya berdiri di dekat pintu mobil tanpa hampiri Mawar. Joko perlihatkan keangkuhan orang kaya hakiki. Sifat ini yang paling tak disukai Mawar. Jangan pikir kaya bisa seenak perut pandang rendah pada orang. Kalau bukan demi Bivendra di anak pendiam Mawar tak ingin satu mobil dengan orang sok tajir. Tahu sekali dia orang kaya.
"Masih belum mau pisah dengan rumah sakit? Atau ada yang tertinggal di dalam?" ujar Joko dingin mirip es krem. Meleleh lembut namun dinginnya terasa.
"Bayanganku tertinggal maka tunggu dia datang." sahut Mawar asalan. Gadis ini tak tahu jawabannya bikin bibir dingin itu sedikit naik. Naik tipis sekali. Orang tak perhatikan pasti tak tahu ada pergeseran bibir.
Mawar belum punya energi melawan maka memilih ikut perintah bosnya. Perut Mawar belum kena sogokan sarapan lezat maka belum ada tenaga adu mulut. Adu mulut juga bukan sifat Mawar. Baginya diam adalah emas. Emas jangan disiakan karena harganya mahal.
Mawar memutari kepala mobil berjalan ke arah pintu sebelah kiri. Gadis masuk tanpa protes. Biarlah dianggap merpati jinak mudah diatur. Mungkin Joko lupa merpati memang jinak namun dia punya sayap untuk terbang jauh.
Mobil melaju membelah jalan raya yang telah dipenuhi kenderaan walau belum macet. Jalan masih lancar meluncur tanpa hambatan kecuali kena lampu merah.
"Siapa sakit?" tanya Joko sewaktu mobil berhenti di lampu merah.
"Arsy anak pak Riyan! Demam tinggi tapi Alhamdulillah sekarang sudah aman."
"Mantan anak tiri ya?"
"Dia anak kakak aku. Tak ada mantan anak pak. Selamanya dia anak aku."
"Gitu ya? Ada rencana baikan?"
Mawar mengerjit alis tak suka Joko ikut campur urusan pribadinya. Dia hanya seorang pegawai yang tak ada hubungan dengan bos. Ngapain masuk dalam ranah pribadi. Dasar cowok kepo. Apa pula katanya es batu es dingin atau es beku. Kok mulutnya mirip emak suka usilin hidup orang.
"Aku punya rencana sendiri yang tak dipasang ke pamflet pengumuman pak!" kata Mawar tak senang Joko bertanya padanya tentang rencana ke depan.
Joko diam tak ladeni kekesalan Mawar. Suara Mawar memang lembut namun tetap terdengar ada nada tak sedap. Mungkin belum dibumbui penyedap rasa maka rasanya tak sedap.
__ADS_1
Mobil berjalan terus sampai di satu rumah gedongan berlantai tiga. Mata Mawar menatap nanar rumah seperti istana dalam dongeng. Kata mewah tak jauh dari kondisi rumah itu. Hanya orang punya uang lebih bisa tinggal di rumah semewah ini. Kalau dibanding dengan rumah Mawar di kampung seperti langit dan bumi. Gudang rumah ini mungkin lebih baik dari rumah Mawar.
Joko tak biarkan Mawar melamun lebih lama di teras rumahnya. Laki ini membuka pintu rumah yang memang tidak terkunci. Rumah ini seakan sudah tahu akan ada tamu datang pagi ini.
Joko duluan masuk menanggalkan sepatu diganti sandal rumahan. Laki ini menunjuk sandal bergambar kepala boneka kucing kepada Mawar.
"Buka sepatumu! Pakailah sandal pilihan Endra. Dia yang pilih sandal ini untukmu. Katanya dia beli khusus untukmu." Joko jelaskan mengapa dia menunjuk sandal itu. Ternyata ada pesan tersembunyi.
Mawar patuh saja copot sepatutnya ganti dengan sandal rumahan pilihan Bivendra. Gadis itu mau pilih sesuatu untuknya tanda gadis kecil itu perhatian pada Mawar. Mawar tak boleh siakan perhatian anak itu.
Mawar agak canggung masuk lebih dalam ke rumah itu. Semua perabotan mewah cuma berkesan suram. Tak ada aura adanya kegembiraan di dalam rumah ini. Yang ada hanya kekelaman serta rasa suram.
"Kamar Endra di lantai dua. Kau naik saja ke sana!" Joko mengiring Mawar ke tempat adanya tangga putar cukup luas. Meniti anak tangga tak perlu kuras tenaga karena setiap anak tangga dalam ketinggian standard.
Mawar agak ragu naik walau telah dapat ijin dari tuan rumah. Mawar takut nanti mendadak muncul ibu baru Endra ataupun calon ibu Endra. Bisa salah paham pikir Mawar sedang goda Joko.
"Kenapa? Takut rumah ini ada makhluk halus?" Joko mencairkan keraguan Mawar.
"Apa nanti tak ada yang salah paham?" tanya Mawar lirih takut Joko tersinggung.
"Siapa yang salah paham? Rumah ini hanya ada aku dan Endra serta orang kerja. Tak ada makhluk bertaring isap darah."
Mawar mendelik diejek oleh Joko. Pikir Mawar takut hantu? Mawar lebih takut pada hantu tak melayang di atas tanah alias wanita Joko.
"Aku tak percaya hantu. Aku lebih percaya pada Tuhan. Bapak yakin nanti tak ada yang marah aku naik ke atas?" Mawar masih menawar keyakinan agar jangan ada konflik. Mawar sudah kenyang makan konflik soal lelaki. Saking kenyang mau muntah.
"Aku yang marah bila Endra terlambat sekolah. Ayok cepat bantu dia berberes!"
"Oh..." Mawar termakan omongan Joko segera ayunkan langkah satu persatu menapaki anak tangga. Saking nyaman Mawar tak sadar telah pindah ke lantai dua.
Lantai dua tampaknya memang dikhususkan untuk Bivendra. Semua dekorasi dibuat sesuai karakter anak-anak. Warnanya soft gambarkan pemiliknya cewek kecil.
Mata Mawar pintu yang bisa dijadikan referensi kamar si anak pendiam itu. Hanya putar kiri kanan mata Mawar menangkap satu pintu agak khusus dicat warna kuning muda lembut. Sungguh aneh pintu kamar dicat warna kuning. Pencinta warna kuning.
Tanpa ragu Mawar mengetuk pintu walau tahu pemiliknya anak kecil. Mawar tetap harus tunjukkan kesopanan agar Bivendra bisa belajar yang kebaikan.
Pintu terbuka tampak sosok kecil agak kurus berdiri di depan pintu. Anak itu lama menatap Mawar tak percaya kalau Mawar betulan datang di pagi hari.
"Hai selamat pagi sayang..." sapa Mawar mengelus pipi tirus Bivendra. Pipi itu dingin persis muka bapaknya.
Bivendra tidak jawab cuma bergeser badan ijinkan Mawar masuk ke kamarnya. Kamarnya rapi dan wangi buah jeruk. Bau yang sangat segar di penciuman. Mawar bawa langkah ke dalam kamar cukup luas itu.
"Biven sudah mandi sayang?"
Lagi-lagi anak itu tak jawab hanya beri satu anggukan kepala. Bagi Mawar itu sudah cukup lumayan dari pada diabaikan.
Bivendra mengeluarkan pita yang dibeli kemarin dan berikan pada Mawar tanpa keluarkan sepatah katapun. Mawar menerima pita itu di tangan.
"Mari kakak pasangkan. Kita kepang dulu ya baru pasangkan pitanya. Biven pasti lebih manis lagi. Ayo duduk biar kakak bantu!" Mawar membawa Bivendra ke bangku di dekat meja rias. Anak sekecil ini sudah ada meja rias sebagus ini. Dia yang sudah dewasa hanya ada kaca cermin dan meja kayu sederhana.
Bivendra sangat patuh pada Mawar. Tak ada penolakan pada permintaan Mawar. Gadis kecil ini duduk patuh biarkan Mawar permak rambutnya biar tampak ada kreasinya. Biasanya si Bibik hanya ikat ekor kuda. Tak ada seninya.
__ADS_1
Kini muncul Mawar beri rasa hangat serta perhatian. Bivendra tertarik pada kelembutan Mawar sampai tak mampu singkirkan pesona gadis berbudi luhur itu.
Tepatnya Bivendra jatuh cinta pada kelembutan Mawar.