
Joko memeluk Bivendra menanti hasil operasi Mawar. Joko mengutuk semua perbuatan Erni yang dianggap telah keterlaluan. Teganya perempuan itu menyakiti orang yang mulai perlahan mengalir di dalam lubuk hati Joko.
Di tengah keheningan tiba-tiba terdengar suara kasar membentak Joko. Joko tersentak kaget di antara lamunan.
Riyan berdiri di depan Joko dengan sikap siaga hajar lelaki itu. Riyan tidak terima Mawar mengalami derita di tangan Joko. Dari awal Riyan tak setuju Mawar menikah dengan Joko. Joko bukanlah sosok pengayom mampu beri Mawar hati ceria. Joko terlalu kaku jadi manusia.
"Kau apakan Mawar?" bentak Riyan dengan mata merah menyala. Kedua tangan Riyan terkepal ingin hajar Joko dianggap penyebab derita Mawar.
Riyan lupa kalau dia juga telah menoreh luka menganga di hati Mawar. Sakit hati lebih pedih dibanding sakit fisik. Riyan hanya bisa omong di mulut tak tahu isi hati Mawar.
"Aku minta maaf keluarga aku telah sakiti Mawar. Aku akan bertanggung jawab untuk semuanya." kata Joko pelan tak berniat lawan Riyan. Perhatian Joko seratus persen tercurah pada Mawar. Hal lain tidak menarik hatinya lagi.
"Cuma ini? Mawar itu mantan istri aku dan lagi adik dari isteri aku. Kau pikir aku akan biarkan Mawar hidup menderita karena kamu?"
"Mawar itu juga calon isteri aku! Aku takkan biarkan dia menderita lagi. Aku sudah minta maaf atas semua ini. Aku sendiri tidak menyangka akan terjadi jadi hanya memalukan ini."
"Kau enyahlah dari hidup Mawar! Aku yang akan mengurus semuanya di sini. Kau pergi sejauh mungkin dari hidup Mawar." Riyan masih belum menurunkan nada suara yang tinggi. Lelaki ini lupa di mana dia berada. Amarah setinggi leher membuat Riyan melupakan segala kesopanan dan ketertiban umum.
"Nak Riyan...ini rumah sakit! Dan lagi Mawar sedang dioperasi. Apa pantas berbuat seperti preman pasar?" tegur Pak Hanif agak gerah pada tingkah laku Riyan. Tak seharusnya Riyan untuk kekuatan di tempat umum. Dan lagi Joko sudah minta maaf untuk kejadian ini.
Pak Hanif tahu kalau Joko juga tidak mengharap terjadinya peristiwa penusukan ini. Dalam keadaan demikian Pak Hanif lebih simpati kepada Joko yang lebih bijak menangani masalah ini.
Riyan menyurutkan langkah mundur ke belakang. Kata pak Hanif mengandung kebenaran. Mereka berada di rumah sakit bukan pasar. Mana lagi Mawar sedang jalani operasi untuk lihat usus yang terluka.
Kini semua diam total. Tak ada yang mau bersuara. Yang paling galau tentu Joko karena orang yang bakal segera jadi isterinya justru terkena musibah.
Hampir dua jam barulah pintu ruang operasi dibuka. Dua dokter keluar dari sana memberi senyum tanda aman.
Belum apa-apa Joko merasa lega. Senyum para dokter sudah beri tahu mereka kalau semua aman.
"Siapa suami nona cantik ini?" tanya dokter berusia lanjut ramah.
Joko dan Riyan kontan maju unjuk diri. Kedua dokter jadi bengong yang mana suami pasien.
"Ini..???"
"Oh...aku ini calon suami pasien pak dokter! Gimana calon isteri aku?"
"Tuhan maha pemurah. Hanya usus yang kena. Yang lain tak masalah. Istirahat seminggu juga akan pulih. Cuma harus rajin kontrol untuk pantau jahitan dalam usus. Kamu harap tak ada lagi kejadian ini. Tak boleh terulang lagi."
"Iya dok! Kami janji tak akan terulang lagi. Tempatkan dia di kamar terbaik."
"Tentu...tentu...anak muda! Darah kalian masih panas perlu didinginkan. Ok..kami permisi." dokter tua itu menepuk bahu Joko sebelum pergi.
__ADS_1
Joko mengangguk walau belum paham betul makna kalimat dokter itu. Asal nasehat bagus tetap diterima Joko dengan baik.
Semua lega tak terkecuali Bu Tiara. Sejahat apapun Bu Tiara tentu tak harap anak tirinya sampai celaka fatal. Masih ada hati nurani walaupun tipis.
"Alhamdulillah..." Bu Hanif panjatkan puji syukur pada kebesaran Ilahi telah beri kesembuhan pada Mawar. Mawar anak baik cuma nasibnya selalu apes. Semoga setelah ini semua berakhir. Waktunya Mawar meraih kebahagiaan.
"Berhubung Mawar sudah kondusif lebih baik kalian kembali ke hotel untuk istirahat. Untuk sementara semua rencana kita pending dulu. Kita tunggu mawar sehat baru kita bincangkan lagi masalah pernikahan kami." usul Joko tak mau membebani keluarga mawar dengan rencana yang belum matang ini.
Kali ini Dahlia tidak sibuk mengajukan diri menjadi pengganti Mawar. Joko bukanlah lelaki yang tepat untuk dijadikan suami karena sifatnya yang dingin tak suka pada wanita. Dahlia pasti takkan sanggup hidup dengan lelaki yang sifatnya seperti es batu.
"Apa tak lebih baik kita tunggu Mawar diantar ke ruang perawatan dulu?" tanya Pak Hanif merasa tak enak hati meninggalkan mawar dalam kondisi belum stabil sekali.
"Boleh pak Tuo! Itu lebih baik lagi. Kita lihat sama-sama keadaan Mawar. Aku minta maaf telah ingkar ajak kalian liburan ke villa."
Pak Hanif goyang tangan tak masalahkan soal liburan. Liburan bisa kapan saja asalkan masih di beri umur panjang.
"Tak usah pikirin itu. Kita tunggu bersama. Oya...kalian semua sudah makan?"
"Sudah...kami pesan di hotel!" sahut pak Hari.
"Baguslah! Endra lapar nak?" Joko teringat Bivendra belum makan karena kejadian mendadak. Rencana makan siang bersama jadi buyar gara-gara Erni berbuat nekat sakiti Mawar.
"Lapar juga Pi! Apa kita pergi makan dulu? Endra pingin makan."
"Kita tunggu mami dibawa ke ruang perawatan dulu ya! Setelah itu papi akan ajak Endra makan." janji Joko diiyakan oleh Bivendra.
"Pak Joko gimana kalau aku pergi cari makanan untuk nona Endra? Paling tidak snack pengganjal perut." tawar Anwar secara sukarela.
"Boleh... beli juga untuk semua yang ada di sini." perintah Joko langsung mendapat respon baik dari Anwar.
Lelaki ini berjalan tinggalkan tempat mereka menunggu Mawar. Dahlia mendapat ide ingin ikut jalan-jalan cari angin segar daripada berdiam diri di rumah sakit.
"Aku boleh ikut bantu pilih makanan?" seru Dahlia kencang kagetkan semua.
"Pergilah!" yang menyahut Bu Tiara. Perempuan tua ini selalu dahulukan anaknya. Semua yang terbaik selalu ingin dipersembahkan kepada anaknya. Itu tidak dapat disalahkan karena semua ibu selalu berharap dapat memberi sesuatu yang terbaik buat anaknya.
Dahlia berjingkrak kegirangan menyusul Anwar yang telah duluan melangkah pergi. Ayumi hanya bisa iri hati melihat keceriaan Dahlia bisa menikmati hari libur di ibukota. Sedangkan dirinya telah salah perhitungan berjalan di jalan yang salah. Rencana mau menjerat Riyan dengan alasan hamil justru berakibat dia harus menjadi istri dari seorang pengangguran.
"Ayok kita tunggu di luar sana! Sebentar lagi Mawar akan diantar ke ruangan." ajak Joko pada yang lain.
Joko membawa keluarga calon isterinya tinggalkan tempat operasi. Mereka harus tunggu di mana Mawar di tempatkan batu bisa bersama temui gadis itu.
Riyan menghela nafas dikalahkan Joko tanpa kekerasan. Riyan terbawa emosi dengar Mawar ditusuk oleh saudara Joko. Apa penyebab Mawar dilukai masih jadi misteri bagi Riyan. Riyan berjanji takkan maafkan orang nekat itu. Apapun terjadi Riyan akan tetap lindungi Mawar.
__ADS_1
Setengah jam kemudian Mawar didorong ke ruang VIP sesuai permintaan Joko. Joko telah meminta kamar terbaik tentu saja kamar VIP.
Ruangnya lumayan besar dibanding dengan ruang kelas dua. Di situ pasiennya cuma Mawar seorang. Fasilitas juga cukup bagus.
Mawar masih terbaring belum sadar di atas ranjang rumah sakit. Yang lain masing-masing cari tempat untuk manjakan kaki yang telah lelah akibat lama berdiri menunggu Mawar di bawa ke ruangan.
Orang tua yang didahulukan maka keempat orang tua mendapat jatah tempat duduk. Ayumi juga dapat tempat karena dia sedang hamil. Hanya Joko dan Riyan berdiri karena tempat duduk sudah ada penghuninya.
"Kapan dia sadar sus?" tanya Joko pada perawat yang tangani Mawar.
"Empat lima jam lagi. Kita tunggu saja karena nona ini bius total. Oya..nona ini kan pakai hijab jadi kusarankan kalian cari hijab tutupi rambutnya. Takutnya dia syok auratnya dilihat banyak orang."
Joko baru tersadar kalau kerudung di kepala Mawar telah hilang. Rambut Mawar yang hitam legam jadi tontonan semua orang. Joko tak rela rambut Mawar yang indah jadi santapan mata Riyan. Itu hanya miliknya.
"Tutup saja pakai ini!" Bu Hanif keluarkan selendang dari sutera halus dari tas. Selendang ini sering digunakan untuk tutupi pundak Bu Hanif bila bepergian.
Joko bergerak cepat sebelum didahului Riyan. Joko tak tahu apa Riyan pernah lihat rambut Mawar atau tidak. Mereka pernah jadi suami isteri tapi tidak kontak fisik. Bisa jadi Riyan belum pernah lihat Mawar seutuhnya.
"Biar Ayumi saja!" kata pak Hanif tak izinkan Joko menyentuh mawar sebelum menjadi suaminya. Tetap saja ada batasan antara suami dan calon suami.
Joko mengerti maksud Pak Hanif segera serahkan selendang pada Ayumi. Ayumi merengut kurang senang harus baik hati pada adik tirinya. Namun wanita ini tidak bisa membantah perintah Pak Hanif. Apa yang diinginkan oleh Pak Hanif adalah hal yang sangat wajar sebagai seorang muslim taat.
Ayumi membalut kepala Mawar dengan selendang pembelian Bu Hanif. Dalam sekejap rambut Mawar yang hitam legam telah bersembunyi di balik selendang.
Perawat mengangguk senang karena telah membantu seorang muslimah menutupi apa yang tak boleh dilihat oleh lelaki asing. Perawat itu sendiri tidak mengenakan busana muslim karena belum mendapatkan hidayah untuk jadi muslim sejati.
"Ok.. aku tinggal dulu. Kalau ada apa-apa panggil aku. Dan kalau bisa tak usah terlalu ramai berada di ruangan karena akan pengaruhi sirkulasi udara." perawat itu melangkah pergi sambil memberi nasehat agar yang menjaga Mawar tidak ramai.
Yang paling berhak jaga Mawar adalah keluarga Mawar. Bahkan Joko tidak berhak menjaga gadis ini. Mereka belum sah jadi suami isteri maka Joko tak punya hak bersama gadis ini semalaman.
"Biar aku yang jaga Mawar! Di sini aku bicara bukan sebagai mantan suami melainkan Abang Mawar." ujar Riyan sebelum didahului Joko. Riyan takut Joko akan gunakan segala cara untuk tetap dekat dengan mantan isterinya itu. Riyan belum rela berikan Mawar kepada Joko. Sebelum janur kuning melengkung masih ada kesempatan buat Riyan untuk meraih Mawar kembali ke pelukan.
Riyan tidak akan menyerah sebelum Joko dan Mawar ijab kabul. Tuhan membuat tragedi ini terjadi mungkin sebagai petunjuk buat Riyan untuk mencoba mencuri perhatian Mawar lagi. Riyan harus pandai menggunakan kesempatan ini untuk memisahkan Joko dengan Mawar.
"Maaf Riyan. Aku ini adalah calon suami Mawar jadi aku wajib merawat Mawar. Dan lagi aku yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Kau tak usah takut aku akan berduaan dengan Mawar. Aku akan bayar seorang perawat khusus jaga Mawar dua puluh empat jam." kata Joko bisa baca pikiran Riyan.
Pak Hanif menghela nafas tak habis pikir dua lelaki dewasa ini asyik berseteru untuk seorang Mawar. Kapan konflik dua laki ini akan berakhir?
"Begini saja! Kita percayakan Mawar pada Nona perawat. Kalian boleh datang setiap saat untuk melihat kondisi Mawar tetapi tidak perlu tinggal lama di sini untuk menghindari gunjingan orang. Kasihan Mawar bila menjadi bahan pembicaraan." Pak Hanif memberi solusi terbaik untuk menghindari perseteruan makin mendalam antara dua lelaki ini.
Joko dan Riyan terdiam tak bisa mengatakan apapun lagi. Solusi yang diberikan oleh Pak Hanif adalah solusi yang paling adil dan diterima akal sehat.
"Ya begini saja!" Joko perlihatkan sikap dewasa tak mau membantah. Ini cukup adil buat mereka berdua. Keduanya sama-sama tidak mempunyai hak menjaga mawar selama 24 jam.
__ADS_1
"Aku pergi mencari perawat untuk rawat Mawar. Kita tetap harus minta ijin pada pihak rumah sakit." Joko keluar dari kamar diikuti oleh Bivendra. Bivendra merasa tidak nyaman bersama orang asing maka ikut ke mana papinya pergi.
Ntah kenapa Riyan merasa sangat lega bersama perginya Joko dari ruangan Mawar. Kegundahan di dalam hati sirna untuk sesaat. paling tidak Riyan bisa bernafas lega wanita yang dia cintai terbebas daripada lelaki berhati besi itu.